Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
20


__ADS_3

🌷🌷🌷


Ana berjalan gontai keluar dari klinik. Evan yang menunggunya di parkiran langsung paham. Tanpa bertanya apapun pada Ana, Evan lantas membuka pintu mobilnya. Ana masuk ke dalam mobil dalam diam. Wajahnya terlihat sedih. Teranglah sudah bahwa saat ini Ana tengah mengandung buah hati Thomas. Ana tak bisa berfikir lagi. Ana sungguh tak sanggup memikirkannya.


"Mau mampir ke tempat lain? " Tawar Evan.


Ana menggeleng.


"Aku ingin pulang"


"Apa rencanamu selanjutnya? " Tanya Evan sembari menyetir pulang.


"Aku... Aku akan membesarkannya"


"Apakah kamu akan memberitahu ayah bayi ini bahwa kamu mengandung sekarang. Membesarkan anak bukan perkara mudah, kamu tidak boleh berfikir egois, bukan hanya untuk kebaikanmu saja tapi juga kebaikan anak ini kelak"


"Entahlah. Aku belum sanggup memikirkan ke arah sana"


"Bagiamana kalau kita ke rumah Lily, Lily sudah berpengalaman ia bisa memberitahumu cara menghadapi kehamilan ini. Trisemester pertama sangatlah berat." Saran Evan.


"Baiklah, saat ini yang paling penting bagiku adalah dukungan kalian. Aku mungkin takkan bisa melewati ini tanpa kalian"


"Apa kamu sudah makan? " Tanya Evan mengalihkan pembicaraan.


"Aku tidak selera. " Jawab Ana kelu. Sejak mual muntahnya di pagi hari. Ana tak sedikitpun berselera makan. Yang di fikirkan Ana seharian adalah apakah benar ia hamil ataukah tidak. Saat ini setelah Ana tahu bahwa ia hamil, rasa-rasanya selera makan Ana hilang sudah. Ana hampir tak terfikir kan untuk makan.


"Hemmm.... Kita mampir toserba dulu aku akan membelikanmu biskuit. Makanlah di pagi hari sebelum bangun dari tidur agar perutmu terasa nyaman. Ku dengar itu bagus untuk mengurangi morning sickness" Kata Evan.


"Baiklah" Jawab Ana pendek. Ana sedikit bimbang untuk memberi tahu Thomas. apakah tidak apa untuk memberitahu Thomas tentang kehamilan ini. Tapi apa yang terjadi saat Thomas sudah tahu?


"Apakah artinya Aku ingin Thomas menikahiku? Aku tidak siap untuk itu. Maafkan ibu nak" Ujar Ana sembari mengelus perut datarnya.


Evan melihat Ana sudah tertidur saat evan kembali dari toko. Wajahnya terlihat lelah.


"Ana, kuatkan dirimu, masih ada aku lily dan Edward. Kami akan berusaha semampunya untuk membantumu melewati masalah ini" Evan meneruskan perjalanan tanpa membangunkan Ana. Evan akan membangunkannya saat mereka sampai.


"Ana, bangunlah. Kita sudah sampai" Evan membangunkan Ana dengan lembut. Hari ini pasti sangat berat bagi Ana.


Ana bangun dengan sedikit bingung. Ana bertanya-tanya saat ini ia sedang berada dimana. Setelah mengingat sebentar Ana menyadari bahwa mereka sudah sampai di rumah Lily. Pasti Ana ketiduran tadi.


Edward yang tengah berada di teras rumahnya menghampiri mereka.


"Kalian tumben sekali. Masuklah. Lily... Lily... Evan dan Ana datang" Panggil Edwards saat melihat Lily dan Evan keluar dari mobil. Edward sedikit terkejut dengan kedatangan mereka. Karena mereka datang mendadak Edward belum sempat mempersiapkan sesuatu untuk menyambut mereka.


"Oi, masuklah. Aku akan memanggil Lily"


Evan merangkul Ana dan mengajaknya masuk. Rumah Lily terlihat masih setengah jadi karena banyak pengerjaannya yang terlihat terhenti ditengah. tapi melihat kontruksi nya seperti memang sengaja di design seperti rumah yang Unfinished.


Ana dan Evan langsung masuk ke ruang tengah seolah rumah mereka sendiri. Tapi sebenarnya tujuan kedatangan mereka adalah memberitahukan sesuatu yang serius jadi mereka tidak mungkin mendiskusikannya di teras atau di ruang tamu.


Lily keluar dari kamar dengan rambut yang acak-acakan, Lily baru saja dibangunkan dari tidurnya. Meski begitu wajahnya terlihat bahagia menyambut Evan dan Ana.


"Kalian datang, wah surprise sekali. Maaf aku ketiduran. Maklumlah sudah mulai merasa malas ngapa-ngapain" Ujar lily.


"Ngobrol saja dulu aku akan menyiapkan cemilan. " Pamit Edward.


"Hei, kenapa dengan kalian kenapa kalian berdua terlihat murung. " Tegur Lily.


"Hm sebenarnya saat ini Ana tengah ada masalah. Jadi kami kesini ingin meminta bantuan kalian" Ujar Evan mewakili Ana.


Lily memandang Ana dengan khawatir.


"Apa terjadi sesuatu yang buruk padamu? " Tanya Lily. Wajahnya terlihat khawatir.


Ana menggeleng.


"Aku tidak bisa mengatakan ini buruk atau tidak. Tapi aku tidak bisa menangani ini sendirian." Jawab Ana jujur.


"Katakan saja, kami akan membantumu. Apa yang bisa kami lakukan. Katakan saja apa yang terjadi sebenarnya" Desak Lily tak sabar.


"Aku hamil".


Cukup dua kata dari Ana sudah bisa membuat Lily terhenyak di kursinya. Lily terkejut bukan kepalang. Benarkah yang di dengarnya ini.

__ADS_1


"Apa.. " Tanya Lily lagi memastikan dirinya apa ia tak salah dengar


"Ya, kamu tidak salah dengar" Ujar Evan yang tak ingin Ana mengulangi perkataanya.


Lily menutup mulutnya yang menganga karena terkejut. Benarkah!  Apa benar begitu! Rasanya tak mungkin, aku tak pernah melihatnya bersama pria. Evan kah! Batin Lily sambil melotot ke arah Evan.


"Aku berharap itu aku, sayangnya bukan aku" Kata Evan yang paham maksud lily yang melotot ke arahnya.


Lily melihat ke arah Ana, tapi gadis itu hanya diam. Lily tak sanggup bertanya lagi. Lily tak bisa menghakimi Ana tentang apa pun yang terjadi di masalalu. Saat ini Ana membutuhkan mereka. Lily lantas mendekat ke arah Ana dan memeluknya.


Edward yang tiba-tiba masuk  sambil membawa minuman dan makanan melihat suasana sedikit aneh di antara ketiganya tak bisa menahan diri untuk tak bertanya.


"Apa yang terjadi? " Tanya Edward.


" Hus" Lily memberi isyarat pada Edward untuk diam. Lily juga memberi isyarat pada Evan untuk membawa Edward pergi keluar dengan nada ini masalah tentang wanita. Para pria tolong menyingkir. Lily harus melakukan pembicaraan mendalam dengan Ana.


Edward masih berdiri kebingungan. Lily yang sudah tak sabar lantas mengajak Ana ke kamar tamu di bagian ujung rumahnya.


"Apa yang terjadi? " Tanya Edward pada Evan saat para gadis telah pergi. "Bukankah kamu kemarin mengatakan akan mengejar Ana secara terang-terangan. Lantas ada apa. Sepertinya kali ini juga tidak berhasil ya! " Kata Edward setelah melihat wajah Evan yang datar.


"Seharusnya kali ini berhasil. Hanya saja selalu saja ada penghalang nya. Kali ini bahkan Tuhan pun tak berpihak kepadaku." Jawab Evan sedih.


"Apa yang terjadi" Tanya Edward sambil duduk di kursinya dan menyalakan TV.


"Ana hamil"


"Eeehh.... " Remot yang dipegang Edward sampai jatuh karena apa yang di ucapkan Evan sangat mengejutkannya. Mereka bertiga mengenal Ana dengan baik. Ana bukan type gadis seperti itu. "Siapa yang melakukannya. Bukan kamu kan! " Kata Edward.


"Aku harap itu aku!" Ujar Evan sedikit kecewa.


Edward tentu saja tahu bukan Evan yang melakukannya. Pasti Ana telah melakukan suatu kesalahan dan pulang untuk melarikan diri dari itu. Tapi meski begitu Edward percaya bahwa Ana bukan gadis seperti itu, pasti ada sesuatu yang salah disini. Edward menepuk bahu Evan menenangkan.


"Jika memang belum jodoh, sabar ya! Mungkin saat ini kamu harus benar-benar menyerah. Mungkin takdir kalian hanya sebatas sahabat. Oia, Apa ini ada hubungannya dengan tunangan yang di bicarakan Ana terakhir kali kita bertemu itu"


Evan menggeleng. "Akan mudah jika itu tunangannya. Tapi si brengsek ini kakak dari sahabatnya. Si brengsek ini mengambil semuanya dari Ana. Aku ingin tahu siapa orangnya. Pasti akan ku bunuh di tempat! " Umpat Evan.


"Aish... Sungguh malang nasib Ana" Edward tak bisa memikirkannya lagi. Pantas saja masalah ini tidak mudah untuk di hadapi.


Setelah satu jam menunggu akhirnya Lily pun keluar dari kamar.


"Baiklah. Telfon aku jika ia sudah bisa pindah ke rumahnya. Ya, aku akan merawatnya di sela sela kesibukanmu tentu saja. "  Janji Evan.


"Apa Ana menceritakan padamu detail kejadiannya?" Tanya Evan.


"Tidak. Ana sepertinya trauma mengenai itu. Aku jadi tidak bisa bertanya lagi. Ya sudah kamu pulanglah."


"Kamu mengusir ku? " Tanya Evan.


"Ya". Jawab Lily sambil duduk di samping suaminya.


" Aish.... Seharusnya kamu membiarkanku menginap juga" Gurau Evan. "Oia aku tadi membelikan Ana biskuit. Tolong nanti berikan padanya " Kata Evan sambil menunjuk belanjaan di atas meja.


"Evan" Panggil Lily sebelum Evan pergi.


"Hati-hati di jalan"


🌷🌷🌷


Satu bulan berlalu setelah malam itu. Thomas sudah merasa lebih baik setelah menjalani pengobatannya. Thomas bahkan sudah membuat banyak kemajuan dengan bisnisnya. Thomas sudah mengirimkan seluruh gaji pertamanya pada Ana. Meskipun uang yang sebelumnya bahkan tidak di seutuhnya.


Nomer Thomas masihlah menjadi nomer yang terdaftar pada kartu  yang di berikannya pada Ana. Jadi semua transaksi otomatis akan ada pemberitahuan ke nomor Thomas.


"Ana... Bagaimana kabarmu? " Gumam Thomas sambil memandang cakrawala dari jendela kamarnya.


Tok tok...


Thomas melihat ke arah pintu yang diketuk. Oh rupanya Chaty tengah bertamu ke kantornya.


"Ada apa? " Tanya Thomas sambil menghentikan pekerjaanya.


"Aku akan bertunangan, bisakah kamu mencarikan Ana sebelum itu" Kata chaty.


"Andai aku tahu kemana dia pergi" Ujar Thomas lesu.

__ADS_1


"Theo tahu" Kata Chaty tiba-tiba.


Thomas tak heran jika Theo tahu, Theo adalah pemilik perusahaan besar mudah saja baginya untuk menemukan Ana. Lagipula Theo dulunya tunangan Ana. Bukan tak mungkin mereka masih berhubungan baik. Sedangakan Thomas sama sekali bukan apa-apa bagi Ana.


"Ana melarangku menemuinya, bagaimana bisa aku menemuinya"


"Memohonlah pada Theo agar kamu bisa bertemu dengannya, Brengsek! " Ujar Chaty marah sambil keluar dari ruangan.


Thomas menghela nafas panjang. Sejak kasus menghilangnya Ana, Chaterine sama sekali tak pernah menganggapnya sebagai saudara lagi. Setiap Chaty berkata sesuatu pastilah ada imbuhan kata-kata kasar seperti brengsek, sialan dll. Thomas bukannya tak ingin menemui Ana, tapi Thomas tak sanggup menghadapi Ana. Thomas belum siap. Bagaimana jika Thomas melakukan kesalahan lagi saat bertemu Ana. Thomas menggelengkan kepala mencoba mengenyahkan ketakutannya.


Hari sudah sangat larut saat Thomas menyudahi pekerjaanya. Thomas berniat mengambil alih pengerjaan hotel terbaru yang jadi proyek tahun ini. Meski Thomas anak baru tapi ia yakin ia bisa melakukannya. Thomas butuh banyak pekerjaan agar ia melupakan semua tentang Ana untuk sementara.


Kali ini Thomas termenung mengingat ucapan Chaty tentang Theo. Hm apa aku harus memohon pada Theo untuk mempertemukanku dengan Ana. Aku sangat merindukan Ana.


🌷🌷🌷


Dan disinilah Thomas saat ini, menelusuri jejak Theo di bar favoritnya. Thomas terlalu gugup untuk bertemu Theo tapi tetap saja Thomas mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencari keberadaan Theo.


Gadis-gadis yang melihat mangsa setampan Thomas lantas mendekat dan mulai bergelayut manja mencari perhatian. Thomas yang sudah lama menjauhi ini tentu saja sangat tidak nyaman. Thomas sudah mengenyahkan semua gadis-gadis dengan sopan tapi tetap saja mereka datang seperti lalat.


"Tidak cukupkah Ana menjadi korbanmu. sekarang kamu sudah jatuh ke pelukan banyak gadis. " Sebuah suara menyeruak dari belakang Thomas membuat Thomas membeku. Tanpa menoleh pun Thomas tahu Theo tengah berada di belakangnya.


"Aku kesini mencarimu" Ujar Thomas sambil menoleh ke belakang. Thomas bahkan menghempaskan salah satu gadis yang menggelayut di lengan kirinya.


Theo berdiri dengan rambut gelapnya yang rapi. Posturnya yang lebih tinggi dari Thomas mengintimidasi Thomas yang memang sudah merasa gugup.


"Ikuti aku, kita akan membicarakannya di tempat lain. " Perintah Theo. Thomas lantas mengekor di belakangnya.


"Ada apa mencariku? " Tanya Theo sedikit acuh saat mereka sudah berada di ruangan yang di pesan Theo . Pertanyaan Theo tentu saja sekedar basa basi karena Theo sudah bisa memprediksi bahwa Thomas akan datang. Chaty sudah lebih dulu datang tapi Theo menolak memberitahunya. Theo mengatakan akan memberitahu alamat Ana jika Thomas datang kepadanya.


"Pertemukan aku dengan Ana " Ujar Thomas to the point. Theo hanya memandang Thomas yang tak merespon permohonannya. Theo malah asik memutar gelas wine nya.


Thomas menunggu dengan sabar.


"Kamu tidak cukup berharga untuk ku pertemukan dengan Ana" Jawab Theo datar sambil menyesap minumannya.


"Aku... " Thomas tak bisa menjawabnya. Thomas memang tak cukup berharga untuk itu. Rasa sedih langsung melingkupinya. Thomas kecewa dan sedikit putus asa.


Theo yang melihat perubahan mimik wajah Thomas menjadi sedikit panik. Apakah selama ini Thomas selalu mengutuk dirinya karena itu. Theo juga paham tak ada yang lebih menyakitkan dari ungkapan "tidak cukup berharga".


Aih, haruskah aku ikut menghukumnya juga. Theo sudah melihat bahwa Thomas sudah cukup tersiksa. Theo lantas sedikit mengalah.


"Untuk apa kamu menemui Ana? " Tanya Theo dengan serius sambil meletakkan gelasnya. Asisten Theo duduk tak jauh dari bossnya.


"Aku merindukannya. Rasanya hatiku ingin meledak karena rindu. Aku menyesali perbuatan ku. Ternyata lebih baik membiarkannya bahagia bersamamu asal aku masih bisa melihat Ana. Aku bersalah. Aku... Aku mencintainya. Ku mohon pertemukan aku dengan Ana" Kata Thomas putus asa.


Theo bisa melihat keputusasaan di matanya. Wajah Thomas juga terlihat lebih tirus dan wajahnya seolah menahan beban berat yang terlihat. Ya, beban kerinduan yang tak terlihat. Theo melihat Thomas dengan tatapan iri. Theo iri melihatnya yang ternyata rasa cinta Thomas pada Ana lebih besar dari rasa cinta Theo pada Ana.


Theo bahkan tak bisa mengorbankan hartanya untuk Ana. Theo tak bisa menempatkan Ana di atas Mamanya. Theo juga tak bisa melihat kekurangan Ana, yang bahkan kekurangan itu bukan salah Ana sama sekali. Hanya kesalah pahaman. Theo menarik nafas dalam. Suasana  hiruk pikuk musik di luar sedikit mengganggu. Theo biasanya tak mempermasalahkannya tapi saat ini Theo merasa tak nyaman dengan kebisingannya. Theo memang suka kesini tapi lebih untuk menjamu tamu. bukan hobinya sama sekali menghabiskan malam dalam keramaian.


"Jika kamu bisa mendapatkan proyek pengadaan hotel itu. Aku akan memberitahumu alamat Ana. Aku akan mengantarmu kesana bila perlu. Jadi buktikan bahwa kamu layak menemui Ana" Ujar Theo akhirnya.


"Benarkah" Wajah Thomas dengan wajah berbinar. Tak sia-sia Thomas bekerja keras, ternyata pekerjaannya akan mempertemukannya dengan Ana.


Theo mengangguk


"Baik, aku akan bekerja keras. Aku akan melakukannya semaksimal mungkin. Aku akan membuktikannya padamu bahwa aku layak menemui Ana. "


"Well, sampai jumpa kalau begitu. Temui aku kalau kamu sudah mendapatkan proyeknya." Ujar Theo lantas berdiri di ikuti asistennya. Semua yang sudah di katakannya telah di katakannya, sekarang Theo sudah bersiap pergi.


"Terimakasih" Kata Thomas sebelum Theo berlalu. Thomas sampai meneteskan air mata bahagia, akhirnya ada jalan untuk mengobati kerinduannya.


Theo yang melihat Thomas meneteskan air mata segera mengalihkan pandangannya dan berlalu. Namun sebelum mencapai pintu Theo memperingatkan Thomas.


"Thomas, sebaiknya kamu jangan mengecewakanku, kalau tidak, aku yang akan membuat perhitungan denganmu dan aku bukanlah orang yang welas asih seperti Ana. Camkan itu! "


Thomas memandang kepergian Theo sambil berucap terimaksih dengan lirih. Syarat yang di minta Theo cukup berat. Thomas hanya orang baru yang mengandalkan koneksi dari orangtuanya. Thomas harus bekerja keras untuk bisa membuktikan dirinya.


"Ana, tunggu aku"


🌷🌷🌷


Jangan lupa like dan koment.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2