Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
Episode 7


__ADS_3

🌻🌻🌻


"Bagaimana dokter?" tanya Theo saat dr. James selesai memeriksa. Ia terus saja meremas tangannya dengan khawatir.


"Tuan muda hanya demam biasa."


"Benarkah?" tanya Wendy lega. Theo juga lega mendengarnya.


"Tapi bagaimana bisa Dima sampai demam?" tanya Theo tidak mengerti. "Apakah ia terkena demam berdarah atau semacamnya."


"Bukan, ini hanya demam biasa. Mungkin tuan muda kehujanan semalam."


"Semalam ia tak kemana-mana. Ia tidur di rumah. Aku mengeceknya sendiri. Iya kan, Sayang," ujar Theo sembari menoleh ke arah istrinya. Ia ta habis pikir dengan penjelasan dokter.


"Hm, terdengar aneh jika semalam ia tidak kehujanan," ujar dr.Β James sambil mengangguk. "Oia, lihatlah matanya yang sembab. Mungkin saja Tuan Muda tengah patah hati."


"Hm, sungguh kah begitu?" tanya Wendy tak percaya. Ia saling berpandangan dengan Theo yang hanya menggelengkan kepalanya. Bagaimana ya... setahu mereka Dima tidak punya pacar. Pacarnya, bukan, gadis yang ditaksirnya dari kecil hanya seorang yaitu Angelina. Dan setahu mereka, gadis itu tetaplah Angelina dan belum berubah sampai detik ini. Mungkinkah Angel sudah punya pacar dan Dima patah hati?


"Ya, Tuan muda mungkin hanya butuh liburan," ujar sang dokter sembari membereskan perlengkapannya. Dr James berperawakan pendek dengan tubuh gempal, orangnya ramah dan senyumnya menenangkan.


"Sungguh kah obatnya liburan?" tanya Theo tak percaya.


"Ya, meskipun demamnya nanti sore telah mereda tuan muda akan tetap merasa tak bersemangat. Saat itu tawarilah liburan. Aku menjamin, itu akan membuatnya lebih baik," ujar sang dokter dengan mimik meyakinkan.


Meskipun tak begitu mengerti, keduanya tetap mengiyakan saran dari dr. James.


Sebelum berpamitan dr. James meresepkan vitamin dan meminta mereka memberi perhatian ekstra pada Dima.


Selepas kepergian dr. James, Wendy juga meminta suaminya kembali bekerja.


"Dima tidak dalam kondisi kritis. Lebih baik kamu bekerja biar aku yang menjaganya."


"Apa tidak apa?"


"Tentu saja tidak apa"


"Uhm, baiklah. Aku berangkat sekarang," ujar Theo sembari mencium mesra istrinya.


"Jika terjadi sesuatu aku akan segera mengabari mu," ujar Wendy sembari memberi pelukan.


"Kamu jangan lupa sarapan," pesan Theo pada istrinya.


"Baiklah."


"Papa pergi dulu, Nak. Cepat sembuh," ujar Theo sembari membelai lembut kening putranya. Ia menyempatkan melempar senyum mesra ke arah istrinya sebelum menutup pintu kamar.


🌻🌻🌻


Selepas suaminya pergi, Wendy segera duduk di samping ranjang sambil berkata sendiri.

__ADS_1


"Kamu mungkin bisa membohongi dr. James dan Papa. Tapi kamu tidak bisa membohongi Mama. Mama tahu kamu sudah bangun."


Dima langsung menarik selimutnya menutupi kepalanya begitu mendengar ucapan Mamanya.


"Sekarang ceritakan pada Mama apa yang terjadi denganmu dan Angel. Kenapa dengan kalian? apa kalian bertengkar? apa Angel telah punya pacar? ceritakan pada Mama, mungkin Mama bisa membantumu."


"Aku ingin sendirian," ujar Dima dari balik selimut.


"Mau Mama panggilkan Angel?" ujar Wendy menakut nakuti. Lagian setiap Dima sakit Angel lah yang mengurusnya. Tapi jika Angel ada kaitannya dengan ini Dima pasti lebih memilih bercerita padanya daripada bertemu dengan Angel itu sendiri.


"Ma, jangan memanggilnya," pinta Dima dengan wajah kesal. Ia melempar selimutnya sampai kaki.


"Jadi katakan apa masalahnya."


"Huh, bisakah aku tidak cerita? Aku sudah besar," tawar Dima.


"Jika kamu tidak mau, Mama akan memanggilnya, plus fotomu yang mengenaskan."


"Mama... jangan setega itu padaku..."


"Katakan atau tidak," ancam Wendy sembari memegang ponselnya.


"Ah, baik baik, aku menyerah. Aku akan menceritakannya."


"Baiklah."


"Mama, taruh ponselnya di atas meja!" pinta Dima sambil menunjuk nakas di samping ranjang. Mamanya sangat pintar memanipulasi, plus mamanya selalu tahu jika ia berbohong. Ia tak mau mengambil resiko dan memilih menjauhkan ponsel itu dari mamanya.


Dima mendongak seakan mencegah air matanya agar tidak menetes.


"Angel..." Dima menggigit bibirnya, ia berat menceritakannya. Ia tahu keluarganya dan keluarga Angel sangat dekat, ia tak ingin perasaannya mempengaruhi hubungan yang sudah terjalin belasan tahun.


Wendy hanya diam tak menyela. Saat ini ia berusaha menjadi pendengar yang baik.


"Angel menolakku lagi. Penolakan yang sebenarnya."


Wendy menaikkan satu alisnya sebagai tanda bahwa ia tak mengerti.


Dima menarik nafas dalam sebelum menceritakan kronologi kejadian semalam, tentunya ia melewati cerita yang berkaitan dengan adegan ciuman perpisahan itu.


"Hatiku sakit, aku sungguh mencintainya. Sungguh sungguh mencintainya. Mungkinkah sebenarnya aku hanya terobsesi? apakah perasaanku hanya sebuah ilusi? Aku masih ingin mencintainya, bolehkah?"


Wendy tak menjawabnya, ia lebih memilih memeluk Dima memberi ketenangan.


Dima menangis dalam pelukan mamanya. Mamanya adalah orang yang paling tahu semua pengorbanannya. Bagaimana ia belajar dengan keras demi percepatan agar bisa sekelas dengan Angel. Bagaimana Dima menjemput Angel setiap hari, menemaninya, selalu ada untuknya, melakukan semua hal untuknya. Bahkan jika bukan karena nasehat papanya, ia pasti merelakan jurusan bisnis favoritnya dan memilih jurusan dokter seperti Angel.


"Jika kamu lebih menyukai bisnis, maka pilihlah bisnis. Kamu tidak harus menjadi dokter demi bisa selalu didekatnya. Ada banyak hal yang bisa kamu lakukan dengan bisnis. Kamu bisa membangun rumah sakit untuk Angel misalnya," itulah yang dikatakan papanya. Papanya tak pernah melarangnya mendekati Angel meskipun papanya tahu cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Sayang," panggil Wendy sembari memegang kedua pipi Dima dan menghapus air mata di pipinya. "Itu benar jika kamu tidak bisa memaksakan perasaanmu. Mungkin Angel ada benarnya ketika mengatakan perasaanmu hanya sebuah obsesi karena kalian selalu bersama sedari kecil. Untuk saat ini ada baiknya kalian saling menjauh barang sebentar saja untuk saling mengkaji perasaan masing-masing. Kamu akan tahu perasaanmu yang sebenarnya jika kalian berjauhan, akankah itu sebuah perasaan yang tulus ataukah hanya sebuah obsesi semata," terang Wendy panjang lebar.

__ADS_1


Dima mengerjapkan matanya mengkaji saran mamanya. Saran mamanya terdengar masuk akal. Memang benar ia tidak pernah sekalipun meninggalkan Angel dan selalu berada dekat dengannya. Mungkin saja itu yang menyebabkan Angel terbiasa dengannya dan terlalu nyaman dengan keberadaanya. Bisa saja Angel baru akan merasakan kehilangan jika ia tak ada disekitarnya.


Dima mengangguk-angguk membenarkan saran mamanya.


"Aku harus pergi ke mana? liburan?"


"Hm, liburan mungkin terlalu singkat. Apalagi jika liburan kamu selalu memikirkan oleh-oleh untuk Angel."


"Mama ada saran?"


"Ada sih"


"Apa?"


"Ayo sarapan dulu!"


"Hm, padahal lagi nanggung banget, Ma!"


"Kamu cuma penasaran atau penasaran banget?"


"Ih, Mama! Aku penasaran banget tauk!"


"Baiklah, berarti kita sarapan dulu."


"Uh, Mama... aku tak bisa menunggu sampai sarapan."


"Bagaimana ya? Mama harus sarapan. Apa kamu mau mendengar ide Mama sambil sarapan?"


"Argh... Baiklah baiklah...." Dima tertunduk kesal diperdayai Mamanya.


"Kita sarapan di bawah atau mau Mama antar kesini makanannya."


"Kita sarapan di bawah saja."


"Beneran sudah sembuh, nih!"


"Uh, mama ngledek ya...!"


"Tidak," balas Wendy sambil mengangkat bahunya.


"Baiklah aku bersih-bersih dulu," ujar Dima sembari turun dari ranjangnya.


"Mama tunggu di bawah ya!" ujar Wendy sambil beranjak dari duduknya bersiap pergi.


Dima langsung menahan mamanya dan memeluknya.


"Apaan sih anak ini, sudah besar juga!"


"Terima kasih, Ma. Aku menyayangimu."

__ADS_1


"Sama-sama, Sayang!"


🌻🌻🌻


__ADS_2