Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
41


__ADS_3

🌷🌷🌷


“Besok Ana dan Angel, Putriku, akan pulang ke rumah,” ujar Thomas pada Theo. Malam ini ia menemani Theo cek kesehatan secara umum, tes darah, tes fungsi ginjal, dan tes kecocokan. Ia berharap ginjal Theo cocok untuk Ana karena golongan darah mereka sama-sama A+. Peluang kecocokannya cukup besar.


Theo hanya mendengarkannya tanpa berkomentar, sulit baginya ikut merasa bahagia jika seharusnya yang berada di posisi Thomas adalah dirinya. Meski kondisi saat ini sudah tak sama lagi karena ia telah memiliki Wendy dan calon buah hati mereka namun, siapa sih yang tidak sakit hati. Rasanya luka itu masih ada dan tanpa perasaan, Thomas malah menabur garam di atas lukanya. Ia mengetatkan rahangnya berusaha merespons dengan sedikit anggukan dan fokus berganti pakaian. Ia meluangkan waktunya setelah bekerja untuk melakukan tes kesehatan. Ia berharap ginjalnya cocok untuk Ana karena ia berhutang kebahagiaan untuk Ana jadi ia berharap bisa menukar ginjalnya untuk kebahagiaan gadis itu kelak. Jika tidak, mungkin selamanya ia akan dihantui perasaan bersalah.


Sadar Theo tak terlalu merespons kabar bahagianya, Thomas lalu balik menanyakan perihal Wendy, istri Theo. “Bagaimana kabar Wendy, apa ia sehat? Kenapa ia tidak ikut kemari?” tanya Thomas basa-basi.


“Ia sehat, aku memang sengaja melarangnya datang ke rumah sakit. Ibu hamil tak boleh terlalu sering berada di tempat seperti ini, karena banyak bakteri tak terlihat di sini dan itu tidak baik kesehatannya. Aku harus menjaganya dengan baik dan calon anakku juga,” jawab Theo.


Theo tidak bermaksud menyindir tapi rupanya Thomas berpikiran lain, apalagi ia menyadari bahwa ia tak pernah ada selama masa kehamilan Ana. “Hm, iya, di sini memang tidak terlalu bagus,” jawab Thomas. Suasana berubah menjadi canggung, lalu ia mengubah topiknya. “Apa kamu akan langsung pulang?” tanyanya.

__ADS_1


“Ya,” jawab Theo pendek.


“Apa kamu mau berpamitan pada Ana?” tanya Thomas.


Theo menggeleng, “aku harus segera pulang atau Wendy akan khawatir. Aku juga berniat membelikannya kue kering untuk mengatasi mualnya. Aku takut waktuku tak sempat,” terang Theo. Ia berusaha menolak tawaran Thomas dengan halus. Ia belum siap bertemu Ana.


Lagi-lagi Thomas menanggapinya dengan berbeda. Ia merasa Theo sedang mengejeknya. “Ya, baiklah. Terima kasih atas bantuanmu, aku dan Ana berhutang budi padamu,” jawab Thomas akhirnya.


Thomas mengangkat satu alisnya keheranan dengan sikap Theo, kenapa kalau ia mengatakannya pada Ana. Bukankah mestinya bagus jika Ana mengerti agar ia dan Ana bisa mengucapkan terima kasih dengan benar. Tapi sejujurnya ia belum sempat mengatakannya pada Ana, terlebih hasil kecocokannya belum keluar dan ia tak ingin Ana berharap terlalu banyak dan itu akan membuat Ana kecewa. “Aku belum sempat mengatakannya, tapi ya, aku akan mengatakannya. Hanya saja kemarin aku cukup sibuk jadi belum punya waktu untuk mengobrolkan itu,” jawab Thomas jujur. Ia sedikit malu karena belum mengatakan pengorbanan Theo pada Ana. Tapi apa boleh buat, kemarin ia terlalu bahagia dengan kenyataan bahwa ia dan Ana sekarang bersama, jadiia melupakan hal ini.


“Oh, Syukurlah!” gumam Theo.

__ADS_1


Thomas tentu saja merasa heran kenapa Theo merasa baik-baik saja ketika ia belum mengatakan perihal ini pada Ana. Ia penasaran alasannya, jadi ia memandang Thomas dengan tatapan bertanya.


“Cocok atau tidaknya ginjalku dengan Ana, kuharap kamu tidak mengatakan apa pun pada Ana mengenai aku. Jika cocok, katakan saja orang yang mendonor adalah anonim.”


“Kenapa?” tanya Thomas tak mengerti.


“Aku berhutang kebahagiaan padanya,” jawab Theo singkat. Ia lantas menepuk bahu Thomas dan berlalu.


Thomas yang terbengong-bengong mencoba mencerna kalimat Theo. Tapi begitu ia ingin menanyakan kembali ternyata Theo telah keluar dari ruangan. Ia bergegas membuntuti tapi ternyata Theo telah hilang dari pandangan. Ia mengusap rambut pirangnya dengan bingung sambil menghela nafas. Jujur saat melihat Theo tadi, ia sedikit menyesal telah merebut Ana dari Theo. Rasanya ia melihat bagaimana dalamnya perasaan Theo pada Ana. Tapi tentu saja ia tak bisa mundur begitu saja saat ini. Ia memilih bertindak egois karena saat ini ia dan Angel, Putrinya sangat membutuhkan Ana.


🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2