
🌷🌷🌷
3 bulan telah berlalu sejak Ana mengetahui kehamilannya, sekarang kandungannya telah memasuki bulan ke 4. Untunglah ada teman yang senantiasa membantunya, kalau tidak, Ana tidak yakin harus berbuat apa. Setiap senggang, Ana akan berkunjung ke rumah Lily, mengamati cara Lily merawat bayinya, hitung-hitung belajar lebih awal agar tidak merepotkan teman-temannya nanti.
Ana hanya bisa mengandalkan tabungan yang dimilikinya, ia tidak punya keahlian yang disa dikerjakan di sini. Kebanyakan pekerjaan di sini terpusat pada pengelolaan ikan dan Ana tidak sanggup berurusan dengan ikan. Kehamilannya memaksanya menjauhi ikan, setiap mencium bau amisnya, kepalanya akan pusing dan isi perutnya memaksa keluar, sungguh sangat menyiksanya, padahal ia butuh banyak uang untuk persalinannya nanti.
Kehamilannya pun cukup rewel, makanan yang diinginkan bayinya selalu makanan aneh yang tidak ada di pulau. Benar-benar bayi yang sedikit tidak sepertinya, padahal Ana mudah mabuk laut, hasilnya ia selalu meminta tolong pada warga yang hendak menyebrang pulau untuk memenuhi keinginannya itu.
Edward pulang dari bekerja saat Ana di rumah mereka, sedangkan bayinya, Adam, nampak tidur dengan nyenyak di dalam box bayi. Edward tengah ikut pekerjaan borongan membangun resort yang dulu pernah dibicarakan Evan.
"Aduh, lelahnya... " kata Edward sambil merebahkan kepalanya di atas dipan yang ada samping jendela ruang tengah.
"Bagaimana pekerjaannya?" tanya Ana.
"Meskipun bossnya baik hati, tapi kepala proyeknya demikian jahatnya. Sampai-sampai hendak ke toilet pun seakan kita sengaja menunda-nuda pengerjaan," kata Edward.
Ana manggut-manggut, "Oia, dengar-dengar saat beroperasi nanti akan banyak lowongan pekerjaan di hotel. Apakah sudah dibuka lowongan pekerjaan yang tersedia saat ini?
"Aku kurang tahu, besok akan aku tanyakan pada bossku saat jam istirahat."
"Terimakasih," jawab Ana. Ia hendak bekerja di sana, resort itu pasti membutuhkan banyak sekali pekerja baru. Jika Edward dekat dengan bossnya maka ia bisa masuk lewat koneksi juga. Ia benar-benar ingin pekerjaan ini. Paling tidak saat resort benar-benar telah resmi dibuka, bayinya sudah cukup besar untuk dititipkan.
Lily masuk ke ruangan, ia telah selesai mandi, "terimakasih Ana, aku akan meminta Edward mengantarmu," kata Lily sembari melihat ke arah suaminya. "Sepertinya, Edward harus mandi dulu."
__ADS_1
Sebenarnya Ana juga sudah ingin pulang, jika menunggu Edward selesai mandi akan lama, maka Ana pun pamit pulang, "aku pulang saja dulu, sekalian jalan-jalan, aku harus banyak bergerak untuk kesehatanku sendiri," kilah Ana.
Karena Edward yang belum siap dan Lily juga tak bisa mengantarnya, mereka pun melepas Ana pulang meski jalan kaki.
"Baiklah, Hati-hati di jalan, tunggu kabar dariku, ya!" kata Edward sambil mengantar Ana sampai pintu.
"Baiklah, aku butuh koneksimu dengan boss baik hati itu," jawab Ana sambil melangkahkan kaki keluar rumah.
🌷🌷🌷
"Ana, Dimanakah kamu? Aku merindukanmu," ujar Thomas disela mabuknya.
"Aduh anak ini, hari masih sore sudah mabuk," keluh Soni sambil mengajak temannya pulang ke rumah sewaan mereka. Om Arthur, Papa Thomas memintanya secara pribadi untuk menemani Thomas di pulau kecil ini. Meski proyek ini dikerjakan oleh papanya yang notabene, ia juga harus berkecimpung di sini, tapi kalau boleh memilih, ia lebih memilih bekerja di kantor daripada di tempat antah berantah ini.
"Siapakah Ana itu? Kenapa hidupmu menjadi suram hanya karena gadis bernama Ana. Seolah tak ada gadis lain lagi." tanya Soni pada Thomas dalam perjalanan kembali.
"Dia, aku mencintainya... " racau Thomas.
"Kalau memang kamu mencintainya kenapa tidak menemuinya, malah membuang-buang waktu mabuk di sini." Soni merasa aneh dengan kelakuan temannya, bukankah lebih baik untuknya mengejar cintanya bukan melakukan hal gak guna seperti ini.
"Aku tidak tahu di mana bisa menemuinya. Dia melarangku untuk menemuinya, aku harus apa?"
"Aih, bodohnya anak ini!"
__ADS_1
🌷🌷🌷
Hari sudah larut tapi Ana kesulitan melanjutkan tidurnya. Bayangan tentang Thomas tiba-tiba menghinggapi pikirannya. Ia sedikit penasaran apa yang dilakukan pria itu sekarang? Pasti dia hidup dengan baik, kan! Ana sedikit merindukan Thomas.
Ana lantas mencoba mencari tahu kegiatan Thomas lewat instagram, ia hanya penasaran! kilahnya mencari pembenaran.
Nama instagram milik Thomas masih belum berubah, THOMCAR. Ana lantas menemukannya dengan sekali pencarian. Ia sedikit surprise saat mendapati Thomas tak mengunggah banyak foto. Tak ada foto kendaraan modifikasinya. Hanya foto pemandangan langit dan laut, disertai caption perasaan rindu pada seseorang.
Ada sedikit rasa kecewa menggelayutinya saat ia melihat Thomas hidup dengan baik, apalagi komentar para gadis banyak memenuhi Ig-nya. Ana merasakan seorang diri sekarang, perbuatan Thomas membuatnya menanggung kehamilan ini. Meski ia mencintai bayi yang dikandungnya, tapi kalau boleh memilih ia ingin memiliki kehidupan normal dan hamil setelah melangsungkan pernikahan yang penuh kebahagiaan. Ia ingin bayinya memiliki keluarga lengkap yang mencintainya.
Puas melihat galeri Thomas, Ana lantas mencari galeri milik sahabatnya, Chaterine. Ia merindukan sahabatnya itu. Instagram Chaty berisi lebih banyak foto, oh, ternyata Chaty sudah bertunangan. Ia ikut senang dengan kebahagiaan temannya dan ikut menyukai postingannya. Tangannya terhenti kala melihat fotonya diunggah di galeri sahabatnya, ia lantas menggeser layar ke bawah dan membaca caption yang ditulis untuknya.
Ana, jika kamu membaca caption ini, aku ingin kamu tahu bahwa aku merindukanmu.
Dimanapun kamu saat ini, aku akan selalu mendoakan yang terbaik.
Tolong hubungi aku agar aku tahu kamu baik-baik saja.
Ana menghapus air mata yang mengalir dipipinya, ia juga merindukan Chaterine. Ana mencoba mengiri DM pada Chaty, yang ternyata malah penuh berisi pesan Chaty untuknya. Ana tersenyum sedih, "jika masalah ini tidak menyangkut thomas, aku akan dengan senang hati membagi kisahku padamu,"Â batinnya sambil mengurungkan diri untuk mengirim DM.
Ana mengenyahkan rasa bersalahnya akan Chaty, dan mencoba mencari kesibukan lain. Hmm ia sedang ingin makan malam, sepertinya ia sangat lapar malam ini, padahal tadi sore ia juga telah makan banyak. Ah, berat badanku! keluhnya.
🌷🌷🌷
__ADS_1