Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
29


__ADS_3

🌷🌷🌷


Dug dug....


Brak...


Dug dug...


“Argh... Siapa yang berisik sepagi ini,” keluh Ana. Ia segera bangun dari tidurnya dengan malas, semalam ia tidur larut karena acara di rumahnya sekarang ia harus bangun pagi karena suara berisik di halaman rumahnya. Akan tetapi saat ia membuka pintu depan, ia dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


“Hai, Ana!” sapa Thomas. Tangan kanannya memegang cangkul dan ada lubang yang cukup besar telah digali olehnya.


Ana langsung melotot melihatnya, “apa yang kamu lakukan dengan halamanku,” kata Ana tak habis pikir. Ia segera turun ke halaman menemui Thomas. Sedangkan Thomas menyambut Ana dengan senyum manis di wajah tampannya, wajah berpeluhnya tampak semringah melihat Ana.


“Apa yang kamu lakukan sepagi ini,” ucap Ana, ia hendak marah tapi melihat wajah Thomas mengulas senyum membuatnya tak bisa marah padanya, apalagi melihat wajah Thomas yang berpeluh keringat. “Ada yang kamu lakukan dengan membuat lubang besar itu?” kata Ana sambil menunjuk lubang besar yang dibuat Thomas. Wajahnya langsung sedih saat melihat semua tanaman yang ditanamnya dengan susah payah tertimbun tanah bekas galian, kali ini ia ingin menangis karena melihat usahanya yang sia-sia.


“Aku hendak membuatkanmu kolam ikan, juga taman yang indah untukmu. Pemandangan yang bagus bisa membantumu rileks dan itu bagus untuk kehamilanmu,” kata Thomas. Ia berteduh di bawah naungan pohon cemara udang yang rindang.


“Lalu kenapa kamu menimbun semua tanamanku?” ujar Ana kecewa.


“Tidak, aku memindahkannya di sana,” Thomas menunjuk deretan polybag di bawah jendela dapur.


“Oh, ya sudah,” ujar Ana keki sendiri. Karena merasa malu dengan tuduhannya, Ana lantas berbaik hati menawari Thomas sarapan. “Sudahkah kamu sarapan?”


Thomas menggeleng, ia ingin Ana membuatkannya sarapan. Tapi, itu hanya keinginannya, kenyataannya ia sudah menyiapkan sarapan dan berharap ia bisa sarapan bersama Ana. “Aku sudah membeli sarapan,” katanya sambil menunjuk beberapa kotak di atas meja yang ada di teras, “jika kamu berkenan sarapan bersama, aku belum sarapan,” ucap Thomas malu-malu.


Ana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sepertinya pria ini sengaja. Tapi mau bagaimana lagi ia terlanjur menawarinya. “Baiklah,” ucap Ana akhirnya, “kamu pergilah bersih-bersih, biar aku menyiapkan makanannya.”


Thomas mengangguk mengiyakan sambil menunggu Ana masuk ke dalam rumah, saat Ana sudah tak terlihat ia lantas berteriak kegirangan, tentu saja dengan suara yang dipelankan “Asyik...!”


🌷🌷🌷


Mereka makan dalam diam, rasanya banyak yang ingin Ana ucapkan tapi ia bingung memulai dari mana, sedang Thomas sesekali mencuri pandang ke arahnya. Bukan Ana tidak tahu tapi ia tak tahu harus merespons apa, untung saja ia ingat terakhir kali ia ingin tahu kabar Chaty, ia akan menanyakannya sekarang.

__ADS_1


“Apa kabar Chaty?”


“Chaty sehat, ia selalu marah padaku karena tidak menceritakan tentangmu. Aku sangat ingin memberitahunya tapi aku telah berjanji padamu. Sekarang maukah kamu memberi sedikit kelonggaran dan menemuinya?”


Ana menghela nafas sambil memandang perut buncitnya, ia mengernyit, bagaimana ia bisa menceritakan ini pada Chaty.


Thomas yang melihat Ana memandangi perutnya segera paham, “aku minta maaf telah membuat hidupmu berantakan. Aku tahu tak ada yang bisa kulakukan lagi untuk kembali ke masa lalu,”


“Aku hanya tak tahu harus cerita apa pada Chaty mengenai kehamilanku. Demi Tuhan, sekarang aku hamil keponakannya,” Keluh Ana frustasi.


“Ana, izinkan aku merawatmu, merawat kehamilanmu, soal kamu mau menerimaku atau tidak aku akan menyerahkan sepenuhnya padamu. Meskipun aku ayah biologis dari janin ini, aku dengan kerelaan hati menyerahkan semua keputusan padamu.”


Ana memandang pria di depannya, memang benar Thomas adalah ayah dari bayi ini dan seharusnya ia memang wajib bertanggung jawab sepenuhnya atas bayi yang dikandung Ana, tapi haruskah Ana menerimanya? Ia merasa sedikit takut dan juga sedikit bingung. Di sisi lain ia butuh seseorang yang merawatnya karena semakin besar kandungannya semakin susah baginya mengerjakan urusan rumah tangga, ia juga semakin cepat lelah, ia tak bisa lagi dengan leluasa memijit kakinya yang bengkak, ia tak mungkin meminta tolong Evan atau Lily. Di sisi lain, ia ketakutan dengan motif tersembunyi yang disembunyikan oleh Thomas, “aku akan memikirkannya,” ujar Ana akhirnya.


“Baiklah,” jawab Thomas. Setidaknya, ia tidak benar-benar ditolak.


“Chaty, bisakah aku menemuinya?” tanya Ana, ia teringat saran Evan jika ia tak bisa memecahkan masalah ini, maka ia harus menceritakannya pada Chaty.


“Tentu saja!” jawab Thomas. “Aku akan mempertemukan kalian.”


“Aku memang tidak diwajibkan datang bekerja setiap hari, bahkan mestinya aku tidak perlu datang ke sini sama sekali, tapi karena tinggal di kota juga tak ada kamu, jadi aku memilih di sini. Untunglah, keputusanku tepat, aku tak menyangka bisa bertemu denganmu di sini, aku benar-benar bersyukur. Sejujurnya aku berpikir, andai saat ini aku tak bertemu denganmu, mungkinkah selamanya aku tak bisa bertemu denganmu dan juga anakku,” ujar Thomas, ia tak kuasa meneteskan air matanya, beberapa bulan setelah kepergian Ana adalah hal tersulit yang harus dilaluinya, Thomas segera menghapus air mata di pipinya, ia tak ingin larut dalam kesedihan yang melingkupinya ketika kebahagiaan telah ada di hadapannya.


Namun tidak dengan Ana, gadis itu benar-benar menangis, sungguhkah keputusannya menjauhi Thomas adalah keputusan terbaiknya, jika selama ini ia memikirkan masalah ini dari sudut pandangnya, sudahkah ia memikirkan dari sudut pandang Thomas.


Thomas segera berlutut di depan Ana, “jangan menangis, aku minta maaf.”


“Aku juga minta maaf, karena tak pernah memikirkan masalah ini dari sudut pandangmu. Aku merasa bahwa akulah yang tersiksa, bahwa akulah yang teraniaya, akulah korbannya, tapi saat melihatmu aku tersadar, bahwa kita berdua sama-sama korban, kita sama-sama tersiksa, sama-sama ter-sakiti. Aku tak bisa lagi menyalahkanmu setelah kamu berusaha demikian keras untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi sedangkan aku hanya bisa lari dari kenyataan ini, lari dari masalah dan pura-pura memaafkan seolah tak pernah terjadi apa-apa.”


“Sudahlah, aku tak apa, jangan pernah merasa bersalah karenaku. Karena semua yang kualami adalah akibat dari perbuatanku sendiri. Aku akan tetap seperti aku yang dahulu jikalau aku tak bisa melampaui masalah ini, aku tak akan pernah dewasa.”


“Tapi kamu menghabiskan waktumu untuk berobat karena depresi.”


“Bagaimana kamu tahu hal itu?” tanya Thomas terkejut, ia tak pernah sedikit pun mengungkit ini di hadapan Ana, bagaimana Ana bisa mengetahuinya.

__ADS_1


“Hem, Evan yang memberitahuku, ia mendengarnya dari Soni.”


“Ah, Soni bermulut besar.”


“Apakah kamu bersungguh-sungguh mau merawatku dan bayi ini?” tanya Ana memastikan.


“Ya,” jawab Thomas mantap tanpa keraguan sedikit pun.


“Bahkan meski aku tak bisa memberikan hatiku, apakah kamu masih akan melakukannya?”


“Ya, dengan atau tanpa cintamu aku berjanji akan merawatmu dan anak ini setulus hatiku.”


“Baiklah, aku akan memberimu kesempatan.”


“Sungguhkah?” tanya Thomas sedikit tak percaya.


“Ya, tapi kamu harus ingat satu hal.”


“Apa itu?”


“Sekali kamu membuat kesalahan, maka tak akan ada lagi maaf untukmu. Kamu harus ingat itu.”


“Ya, aku akan mengingatnya,” jawab Thomas. Ia tak sengaja memandang perut Ana yang membuncit di hadapannya, ia ingin mengelusnya. Namun keinginan itu segera ditepisnya, Ia sudah mendapat semua yang bisa didapatkannya, ia tak akan menuntut hal lain lagi, cukuplah membuat Ana nyaman dengan keberadaannya.


Namun meski hanya sedetik ternyata Ana melihat keinginan Thomas, ia tak sampai hati berlaku seolah-olah tak melihatnya. “Apakah kamu ingin mengelusnya?” tawar Ana.


Thomas memandang Ana dengan tatapan tak percaya, sungguhkah tawaran ini? “bolehkah?” tanya Thomas memastikan.


Ana mengangguk dan tersenyum. Setelah mendapatkan izin dari Ana, Thomas segera menempatkan kedua tangannya di atas perut Ana, perutnya terasa keras dan sedikit lembut bersamaan, ada geliat yang terasa, “oh, bayinya bergerak,” ucap Thomas terharu dan senang. Namun Thomas merasa belum cukup, ia lantas menempatkan kepalanya di atas perut Ana untuk memastikan gerakan yang dirasakan tangannya. “Bayinya menendang, ia sedang menyapaku Ana, ia menyapaku.”


Ana menutup mulutnya menahan tawa akibat kelakuan Thomas yang absurd. Bahagia ternyata sederhana, cukup bisa berkumpul dengan orang yang dicintai maka urusan yang lain biarlah Tuhan yang mengaturnya.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Jika suka ceritanya, tolong jempolnya.


Jempol di sini anonim. Jadi, silent reader jangan lupa jempolnya.


__ADS_2