Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
Episode 24


__ADS_3

🌻🌻🌻


“Menurutmu ... Senior Ryan bagaimana?” tanya Sissy dalam perjalanan kembali ke asrama mereka.


“Dia baik.”


“Apa kamu menyukainya?” tanya Sissy penasaran.


“Entahlah. Aku baru bertemu dengannya di luar kampus sekali ini. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku menyukainya secara romansa. Tapi Senior Ryan memang orangnya baik hati. Bukan hanya aku, tapi semua orang pun menyukai kebaikannya.”


“Ya, aku mengerti maksudmu. Siapa sih yang tidak terpesona padanya? Senior sangat tampan dan juga baik hati. Ditambah hari ini ia terlihat sangat panas dan seksi. Kalau anak-anak sekelas melihat Senior Ryan seperti tadi ... mereka pasti akan menggila.”


“Kamu bisa saja ... ”


“Apakah hatimu berdebar-debar saat bertemu Senior Ryan?” tanya Sissy penasaran.


“Hem, sedikit,” ujar Angel sembari tertawa kecil. Sebenarnya ia berbohong karena beberapa saat tadi dadanya serasa kena serangan jantung mendadak saking kencangnya debaran jantungnya. Namun ia tak akan memberitahukannya pada Sissy tentu saja.


“Malam ini kamu tidur sendiri?”


“Yep! Mau tidur di kamarku?”


“Boleh ....”


🌻🌻🌻


Keesokan harinya, Ryan mencetak fotonya dengan Angel. Wajahnya mengulas senyum saat memandangi hasil fotonya.


Akhirnya ia bisa berfoto dengan Angel, batin Ryan senang. Ia harus membingkainya sebagai kenang-kenangan.


Ryan memandang sekali lagi pada fotonya dan Angel. Senyum manis gadis itu saat bersamanya sangat nyata seolah senyuman itu sengaja ditujukan padanya. Ryan mendesah, andai mereka adalah sepasang kekasih, gumam Ryan berharap.


Ryan berharap tindakannya yang membingkai foto bersama Angel bukan termasuk tindakan yang melampaui batas dan masih bisa dimaafkan karena sejujurnya ia tahu pada dasarnya hubungan mereka belumlah sedekat yang diharapkan untuk bisa dipajang di satu pigura. Tapi ia memilih berpikir apa yang dilakukannya saat ini seperti sedang seseorang yang tengah memajang foto dengan idolanya. Bayangkan saja jika kamu sedang ngefans ke seseorang yang kamu kagumi, idolamu misalnya, dan kamu berkesempatan berfoto dengannya pastilah kamu akan memajang fotonya juga, kan?


Ryan berjalan ke lemari penyimpanan untuk mencari bingkai foto. Setelah menemukannya ia dengan tekun membingkai foto yang dibawanya. Saat Ryan tengah sibuk bekerja, seorang pria tua tampak mendekat ke arahnya.


“Lagi sibuk apa?” ujar sang pria tua tadi pada Ryan.


“Aku sedang memasang figura foto, Dad,” balas Ryan.


Ternyata pria tua tersebut adalah papa Ryan. Papa Ryan bernama Profesor Albert Eagle, dokter penyakit dalam ahli hematologi-onkologi medik. Orang awam memanggilnya dokter penyakit kanker. Prof Albert juga dosen di Maxwell University. Karena usianya yang sudah sepuh, Prof Albert berencana pensiun akhir tahun ajaran ini. Jadi ia banyak dibantu Ryan yang saat ini menjadi asistennya.


“Foto siapa?” tanya Albert penasaran sambil mendekat.

__ADS_1


Ryan ingin menyembunyikan foto yang dipegangnya dari papanya, tapi ia juga tak bisa benar-benar menyembunyikannya jika terpergok seperti ini. Jadi mau tak mau Ryan menunjukkannya.


Albert lantas duduk di samping putra semata wayangnya tersebut. Ia sedikit membetulkan letak kacamatanya sebelum mengangkat figura yang belum benar-benar terpasang dengan baik itu.


“Wah, siapa gadis ini? Apa dia kekasihmu?” tanya Albert begitu melihat foto itu. Ia terkejut putranya tengah memasang foto dengan seorang gadis. Apalagi sampai foto tersebut dibingkai segala. “Tapi rasa-rasanya wajah gadis itu familier,” lanjutnya.


Ryan menggaruk rambutnya dengan ekspresi malu. Papanya pasti familier dengan wajah Angel karena ia sempat mengajarnya.


“Bukankah gadis ini Angelina?” tebak Albert.


Ryan hanya tertawa saat papanya menebak dengan benar.


“Apa kamu berpacaran dengannya?” tanya Albert.


“Bukan, hubungan kami belum sedekat itu,” sanggah Ryan.


“Well, pasti kamu menyukainya?”


“Hehehe ... ya, aku menyukainya,” jawab Ryan jujur. Ia termasuk orang yang sangat dekat dengan papanya jadi sebisa mungkin ia tak ingin berbohong padanya. Kedekatan itu kemungkinan karena ia tak pernah bertemu mamanya sejak ia lahir, ia hanya mendengar kisah mamanya dari papanya.


“Angel anak yang baik, papa juga menyukainya. Sangat menyenangkan jika ia bisa menjadi bagian dari keluarga kita. Semangat, Nak!” ujar Albert menyemangati.


“Thanks, Dad!” balas Ryan.


“Sangat menyenangkan melihatmu bersemangat tentang wanita,” ujar Albert.


“Mungkin dulunya aku belum menemukan seseorang yang cocok saja,” balas Ryan sedikit malu. Dulunya ia sempat tak ingin berurusan dengan wanita karena ia ingin merawat papanya agar papanya bisa hidup lebih lama menemaninya. Rupanya saat itu ia hanya belum menemukan orang yang menarik hatinya.


“Maafkan Daddy karena telah egois membesarkanmu sendirian meski Daddy tahu, Daddy sudah semakin tua saat kamu dewasa,” ujar Albert dengan nada sendu.


“Tidak, Dad! Aku bersyukur Daddy memutuskan melahirkanku ke dunia. Kalau tidak, siapa yang akan menemani Daddy saat ini?” balas Ryan. Ia merasa sedih jika papanya kembali mengungkit tentang usianya yang sepuh. Padahal Ryan tak mempermasalahkan semua itu. Ryan bangga pada papanya. “Akhirnya sudah selesai,” ujar Ryan sambil memandang hasil pekerjaannya.


“Daddy sudah sarapan?” tanya Ryan.


“Ini mau mengajakmu sarapan karena Nancy sudah selesai menyiapkan masakannya,” jawab Albert.


Nancy atau Bibi Nancy, begitu Ryan menyapanya adalah juru masak di rumah mereka. Tak hanya juru masak, keluarga Bibi Nancy juga sudah seperti keluarga bagi mereka. Bibi Nancy sudah bekerja untuk keluarga Ryan untuk waktu yang lama. Meski Albert telah membuatkan mereka rumah yang lain, tapi Bibi Nancy dan suaminya lebih memilih menetap di rumah kecil di halaman samping rumah Ryan.


Dua putra Bibi Nancy sudah bekerja, jadi keduanya memilih tinggal di rumah lain yang dibuatkan Albert untuk orang tua mereka.


Menurut yang Ryan dengar, Bibi Nancy berhutang budi pada papanya. Jadi Bibi Nancy masih ingin terus melayani keluarga Ryan sampai ia tak sanggup bekerja lagi.


Ryan tidak tahu hutang budi apa itu, karena setiap ia bertanya pada papanya, papanya enggan menceritakan dengan detail. Pun jika ia bertanya pada Bibi Nancy, jawabannya juga sangat rancu, seperti hutang budi nyawa atau semacamnya.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan mengembalikan ini terlebih dahulu,” pamit Ryan.


“Oia, Dad. Sepertinya aku membutuhkan koleksi buku di perpustakaan Daddy sebagai hadiah. Apakah boleh?” tanya Ryan sebelum papanya berlalu.


“Buku-buku itu sekarang milikmu. Kamu bisa melakukan apa pun terhadapnya,” ujar Albert.


“Uhm, thanks Dad!” ujar Ryan senang. Ia tak perlu bingung memikirkan tentang buku yang dijanjikannya pada Angel. Ryan pun bergegas ke kamarnya karena papanya telah menunggunya untuk sarapan.


Sampai di kamar Ryan teringat bahwa ia belum mengirimkan foto-foto kemarin kepada Angel. Ia membuka ponselnya dan sedikit terkejut dengan banyaknya notifikasi yang muncul. Tapi ia mengabaikannya dan memilih mengirimkan file foto terlebih dahulu kepada Angel sebelum melihat notifikasi itu.


Saat ia kembali fokus pada notifikasi yang sangat banyak di ponselnya. Ia dibuat terkejut dengan apa yang menantinya.


“Astaga! Apa ini?” gumamnya bingung. Fotonya dan Angel kemarin telah tersebar di berbagai forum perkuliahan yang diikutinya. Rata-rata mengucapkan selamat dan rasa iri bahwa mereka akhirnya berkencan. Ada pula narasi panjang yang mengaitkan hubungan mereka dengan Dima.


Astaga, sepertinya ia telah menggali kuburannya sendiri, batin Ryan.


🌻🌻🌻


“Kau sudah siap?” tanya Tonny dari lantai bawah. Ia telah siap menunggu Dima untuk minum bersama. Sepertinya ini akan menjadi pengalaman pertama bagi sepupunya sehingga ia butuh berhari-hari untuk merayu Dima supaya mau pergi. Entah angin apa yang membuat adiknya mau diajak minum.


“Ya ...” sahut Dima. Ia menuruni tangga sambil mengancingkan lengan kemeja panjangnya.


Tonny mengulas senyum saat melihat penampilan sepupunya. Bukan karena itu tampilan yang buruk, hanya saja Dima terlihat sangat rapi seperti hendak berangkat kuliah.


“Kenapa denganku memang?” tanya Dima saat Tonny tersenyum sedikit jahil.


“Tidak, kamu hanya cukup rapi. Ngomong-ngomong, kita hendak ke club bukan ke kampus, hehehe ....”


Dima memanyunkan bibirnya. Saat ini Dima memakai kemeja lengan panjang berwarna hitam dengan motif garis serta dipadukan dengan celana jins hitam yang rapi. Menurutnya tidak ada yang salah dengan penampilannya.


Hanya saja saat Dima melihat tampilan sepupunya, ia tahu kenapa Tonny mengatakan bahwa penampilannya sangat rapi. Tonny telah siap menunggunya dengan setelan santai, kaos putih press body serta ripped jins yang sobek di beberapa bagian. Rambut hitamnya dibiarkannya sekenanya namun justru itu yang membuat tampilannya menjadi sedikit liar. Dima dibuat takjub dengan penampilan Tonny saat ini. Jika melihat penampilan sepupunya yang sangat rapi saat ke kantor dengan perbandingan penampilannya saat ini, orang yang tidak begitu mengenalnya akan ragu bahwa kedua orang yang saling berbeda penampilan itu adalah orang yang sama. Hm, Dima tak tahu harus berkomentar apa melihat pakaian sepupunya.


“Kau harus melipatnya ke atas seperti ini alih-alih mengancingkannya,” ujar Tonny yang lantas membantu Dima melipat lengan bajunya.


Dima sedikit tidak nyaman dengan lengan baju yang dilipat karena itu sama sekali tidak rapi, tapi ia membiarkan sepupunya melakukannya. Ia pikir Tonny lebih tahu darinya dalam urusan ini.


“Baiklah, kau sudah siap?” tanya Tonny.


Dima mengangguk. Ketika mereka telah mengendarai mobil, Dima kembali mengingatkan sepupunya tentang janji yang dibuatnya sebelum ia setuju pergi ke club, “janji, ya ... jika aku mabuk jangan biarkan aku melakukan apa pun yang akan kusesali. Dan juga aku juga benci perempuan, jauhkan mereka dariku.”


“Siap! Kita tak akan ke diskotek jika kamu tak menyukainya. Dan aku janji tak akan mabuk karena aku harus menyetir dan juga menjagamu.”


“Uhm, trims.”

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2