
🌷🌷🌷
Ana mengusap cincin dijari manisnya dengan cemas sebelum melepaskannya dan menitipkannya pada Tunangannya. Ia begitu cemas karena saat ini ia hendak melakukan operasi. Thomas mengatakan padanya bahwa ada ginjal yang cocok untuknya, jadi ia begitu bersemangat tapi ia juga ketakutan, bagaimana jika semua tidak berjalan dengan lancar? Namun ia segera menepis itu.
“Bisakah aku bertemu dengannya sebelum operasi?” tanya Ana, “Aku ingin berucap terima kasih kepada orang itu.”
“Orang yang mendonor adalah anonim jadi ia tak ingin dikenal,” jawab Thomas berbohong. Karena ia tahu pasti siapa yang mendonorkan ginjalnya untuk Ana.
“Apakah aku mengenalnya?” tanya Ana lagi. Ia masih tak bisa menerima kalau ia tak bisa mengucapkan terima kasih secara benar.
“Aku pun tidak mengenalnya. Jadi aku tak yakin apakah kamu mengenalnya,” ujar Thomas. Ia sadar kata-kata yang diucapkannya sedikit ambigu jadi ia segera meralatnya dengan perkataan yang lain, semoga Ana tidak menyadarinya, “Jika aku mengenalnya atau bahkan melihatnya. Maka aku akan memberikannya imbalan yang besar untuknya karena telah merelakan miliknya untukmu.”
Ana menghela nafas. Sepertinya memang mustahil untuknya berterima kasih secara langsung. Rupanya ia tak menyadari kata-kata ambigu yang diucapkan Thomas.
__ADS_1
“Kamu bisa berterima kasih dengan cara hidup lebih baik dan melakukan banyak kebaikan,” saran Thomas.
“Ya, sepertinya kamu benar.”
“Setelah ginjal baru itu berfungsi dengan baik, dan kamu tidak lagi mengonsumsi obat-obatan. Kamu bisa menyusui Angel. Bukankah kamu sangat memimpikannya?”
Thomas benar, ia begitu merindukan bisa menyusui Angel. ASI miliknya tumpah ruah dan sangat menyedihkan baginya melihat Putrinya tidak bisa meminumnya karena banyaknya obat-obatan yang diminumnya.
Thomas mengamini doa Ana dan membiarkan perawat membawa Ana ke ruangan yang lain untuk mempersiapkan operasi transplantasi ginjal.
🌷🌷🌷
Tak jauh dari tempat mereka, di ruangan yang lain. Wendy dengan mata yang berurai air mata menangisi keputusan suaminya. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi selama operasi berlangsung dan Theo tak bisa kembali seperti dulu.
__ADS_1
“Jangan menangis lagi, aku melakukannya demi kemanusiaan dan demi rasa bersalahku,” ujar Theo menenangkan Istrinya yang terus menangis sesenggukan.
“Bagaimana kalau semua berakhir buruk? Bagaimana kalau kamu tidak kembali lagi?” ujar Istrinya. Kali ini nadanya berubah sedikit marah.
“Aku akan kembali lagi. Tidak mungkin aku meninggalkanmu dan anak kita. Jangan berpikir yang buruk. Doakan yang baik-baik saja. Kemarilah, biarkan aku memelukmu,” ujar Theo sambil memeluk Wendy. Tubuhnya ikut terguncang karena tubuh Wendy yang menahan tangis. Ia lalu menghadapkan Wendy ke arahnya. “Aku mencintaimu dan anak kita, jadi tunggu aku,” ujar Theo sambil mencium mesra Istrinya. Wendy tak kuasa menjawab hanya bisa mengangguk. Ia juga mencium perut Istrinya untuk terakhir kali. Meski ia tak berharap ada kesalahan dalam operasinya, tapi untuk berjaga-jaga ia telah menyiapkan surat wasiat untuk Istri dan anak mereka yang belum lahir, tentu saja tanpa sepengetahuan Wendy.
“Kamu harus janji untuk kembali dengan selamat,” ucap Wendy. Mulutnya masih bergetar karena air mata dan ketakutannya bahwa percakapan ini mungkin saja yang terakhir kali untuknya dan Theo.
“Sekarang, tunggu aku dikamar inap, ada sofa di sana dan kamu bisa istirahat. Aku membawa serta asistenku, jadi jika kamu butuh sesuatu cukup katakan saja padanya. Ingat jangan menunggu di depan ruang operasi, mungkin operasi ini akan menghabiskan 4jam atau lebih. Jangan membuat dirimu capek, bayinya mungkin akan kelelahan juga,” ucap Theo dengan sabar.
Wendy mengangguk, ia memeluk Suaminya sekali lagi dan mencium kedua pipi pria baik hati itu. Ia memandang sekali lagi Suaminya, Suaminya balas tersenyum. Hatinya tiba-tiba terasa kelu melihat senyum itu, ia berharap itu bukan terakhir kali ia melihat senyum indah Suaminya. Ia segera berlari keluar ruangan. Jika ia berlama-lama di sana, mungkin saja ia tak akan sanggup merelakan keputusan Suaminya. Apalagi mereka melakukannya diam-diam, mereka mengatakan pada orang tua masing-masing bahwa mereka akan pergi berlibur padahal sebenarnya hanya untuk menutupi Theo yang tengah melakukan operasi. Karena Theo akan membutuhkan banyak waktu untuk memulihkan kondisinya pasca operasi jadi ini pertaruhan yang besar untuk perusahaan mereka. Semoga semua berjalan dengan baik dan semuanya bisa kembali seperti sedia kala.
🌷🌷🌷
__ADS_1