Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
44


__ADS_3

🌷🌷🌷


*Aku mencintaimu, mencintaimu dengan segenap hatiku...


Aku membutuhkanmu, membutuhkanmu sepanjang usiaku...


Aku menyayangimu, menyayangimu lebih dari hidupku...


Aku merindukanmu, merindukanmu dengan begitu dalam...


Kamu segalanya untukku,


Kamu pelita hatiku,


Kamu lah separuh jiwaku,


Kamu duniaku,


pusat kebahagiaanku,


kamu adalah pemilik ruang dihatiku.


Anna, Kekasihku...


Peluk aku dengan cinta dan kasihmu,


Sepanjang hidupmu, sepanjang hayatmu,

__ADS_1


Anna, kekasihku...


Pernikahan ini bukan pengikat untukmu, tapi lebih sebagai bukti kebebasan untukmu...


Aku ingin kamu merasa bebas mencintai dan dicintai


Merasa bebas merindukan dan dirindukan


Merasa bebas menjaga dan dijaga


Aku ingin kamu tahu bahwa aku selalu melakukan yang terbaik demi kebahagiaanmu.


Jika kau lelah bersandarlah,


Jika kau sedih menangislah,


Karena aku akan selalu ada untukmu


Jika kamu mencintaiku...


Maka datanglah...


Aku menunggumu di altar cinta dengan malaikat kecil kita...


Datanglah, Sayang peluk kami*...


Ttd,

__ADS_1


Thomas dan Angel


Dengan tandatangan dan cap jempol mungil Angel di bawah surat itu.


Ana ingin menangis karena bahagia, tapi make up cantik miliknya bisa luntur terkena air matanya. Ana menarik nafas berulang kali menenangkan diri. Ia lantas memandang penyampai pesan sambil tersenyum. Penyampai pesan itu adalah orang yang akan membawanya ke altar pernikahan. Ana mungkin tak melihatnya dengan jelas tapi pria tampan di depannya ini seolah berpura-pura tersenyum. Ana pasti tak melihatnya karena ia terlalu bahagia, tapi mungkin tidak bagi pria di depannya.


Theo berdiri di depan Ana sedikit menjauh ke arah pintu, matanya berkabut melihat kebahagiaan Ana, hatinya merasa sedikit sesak, serasa mau meledak, tapi ditahannya. Ia pun diliputi kecemasan, tak ada bedanya dengan Ana hanya saja dengan sumber kecemasan yang berbeda. Setelan jas hitam rapi yang dipakainya membuatnya sedikit berkeringat. Ia tak menyangka keputusannya menjadi Kakak yang akan membawa Adiknya ke pelaminan sekarang berubah menjadi tugas yang berat. Theo memaksa dirinya tersenyum dan mengedikkan bahunya mengindikasikan pada Ana untuk segera bergegas.


Ana, yang saat ini memakai gaun pengantinnya yang indah berwarna putih dihiasi payet kristal yang berkilau, segera menjangkau buket bunga dan berjalan ke arah Theo, wajahnya riang karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan keluarga kecilnya yang juga orang terkasihnya. Ia segera menghampiri Theo yang sebelumnya datang membawa buket bunga dan surat dari Thomas untuknya.


Theo berdiri di depan Ana. Tinggi badannya yang menjulang mengintimidasi, untungnya dengan high heel yang dikenakan Ana, kesenjangan badan itu sedikit terpangkas. Ia memandang Ana sambil bergumam pelan, cukup pelan untuk didengar orang lain. Tapi cukup bagi Ana untuk mendengarnya dengan jelas, “Ana, selamat menempuh hidup baru,” ujar Theo. Suaranya parau, seolah menahan sedih. Matanya berkabut oleh perasaan ingin menangis.


“Terima kasih,” jawab Ana pendek. Ia mendengar dengan jelas nada suara Theo yang bergetar. Ana tertunduk, ia tak berani menghadap ke arah Theo. Bagaimanapun juga, jika semua berjalan dengan benar saat ini pengantin pria dalam pernikahannya adalah Theo. Dan sekarang melihat Theo yang mengantarnya ke pelaminan rasa tak nyaman itu muncul kembali.


Theo mendekat ke arah Ana dan mencium kening gadis itu. Tangannya kaku menempel di badannya, ia tak hendak membuat keributan dengan memeluk pengantin orang lain. Jika ia bisa menahan tangannya untuk tetap diam tapi tidak dengan air matanya, air mata itu lolos juga dari matanya yang berkabut. Ia tak bisa menjelaskan perasaannya saat ini. Yang jelas ia sangat menyesal. Dan penyesalan itu selalu datang belakangan bukan.


Ana sedikit terkejut dengan perlakuan Theo, tapi gadis itu tidak bergeming dan menerima ciuman di keningnya.


“Berbahagialah,” ujar Theo sembari menyudahi ciuman singkatnya. Kali ini suaranya telah berubah serak. Ia tak bisa menyembunyikan bahwa saat ini ia menangis. Seharusnya saat ini ia berjalan ke pelaminan bersama Ana untuk menikah, bukan untuk menikahkan gadis itu dengan orang lain. Hatinya sangat sedih dan ia tak bisa menutupi itu, tidak, meskipun itu di depan Ana.


Ana lantas melingkarkan tangannya ke tubuh pria di depannya ini. Ia merasakan tubuh itu berguncang oleh tangisan. “Terima kasih atas semua hal yang kamu berikan padaku, atas semua masa lalu yang indah itu, aku berharap kita masih bisa bahagia dengan jalan masing-masing,” ujar Ana. Namun ucapan terima kasih darinya tak mengurangi suara isak pria di depannya ini.


“Ana maafkan aku,” ujar Theo. Meskipun kata maaf itu berulang kali dilontarkannya, tapi kata itu tak bisa mengembalikan masa lalu dan tak bisa memperbaiki kesalahannya. Ia segera menghapus air mata di pipinya, pasti sangat memalukan menangis di hari bahagia orang lain. Tapi dilihatnya Ana dengan penuh pengertian menunggunya lebih tenang, tak ada rasa menyalahkan yang terpancar dari mata gadis itu. Theo segera menenangkan diri dan kembali ke kenyataan. Sekarang ia sudah punya Wendy dan calon buah hati mereka. Tak ada yang lebih pengecut lebih dari dirinya jika ia sampai menelantarkan Wendy untuk mengejar cintanya secara egois.


Setelah Theo lebih tenang, ia segera melonggarkan lengannya dan membiarkan Ana bergelayut di sana. Kali ini ia telah memantapkan hati melepas kisah cintanya. Dan ia tak pernah sekalipun merasa menyesal telah mengenal Ana. Baginya Ana dan kisah cintanya akan selalu mendapat tempat spesial dihatinya.


🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2