
🌷🌷🌷
“Kita berhenti di sini sebentar,” pinta Ana pada Thomas yang saat ini sedang mendorong kursi roda miliknya. Thomas menurut dan mereka berhenti di bawah naungan pohon besar berbunga merah muda, ada bangku taman di bawah pohon itu sehingga Thomas bisa duduk di sana sementara ia duduk di kursi roda miliknya.
Ana terlihat sibuk memandangi pemandangan sekitar sehingga beberapa menit pertama mereka berada di sana, mereka hanya duduk dalam diam.
Thomas sendiri tidak berani memulai perbincangan, dan lebih memilih ikut memandangi pemandangan taman yang indah. Meski tentu saja ia tak akan bisa memandangi keindahan taman dengan tenang sementara ada Ana yang hanya terdiam di sampingnya.
Awan terlihat cerah pagi ini. Bunga-bunga bermekaran indah berwarna-warni membawa kedamaian. Angin sepoi-sepoi membawa harumnya semerbak bunga yang bermekaran membuat mereka berdua sejenak terbuai dengan aromanya.
Ana menghirup aroma wangi itu dalam-dalam. Ia butuh merelakskan tubuhnya sebelum memulai pembicaraan penting ini dengan Thomas.
“Terima kasih, telah menyelamatkanku,” ujar Ana memulai percakapan. Ia menoleh sebentar kepada pria di sampingnya sebelum kemudian kembali melihat ke depan. Ada seorang pasien wanita yang sudah tua lewat di depan mereka, wanita yang duduk di kursi roda itu didorong dengan mesra oleh pasangannya. Terlihat pasangan tua itu saling menyayangi meski usia mereka telah senja.
Thomas sejenak terpaku melihat pemandangan itu, akankah ia akan tua bersama Ana. Tapi tentu saja ia tak berani berharap banyak, meski ia telah diberi kesempatan untuk memberi nama putrinya, tapi bagaimana dengan perasaan Ana? Ia tak bisa memaksakan perasaannya pada Ana. Ia sudah rela jika hari ini Ana memintanya untuk menjauhi gadis itu dan menjaga Putrinya dari kejauhan.
Ana segera memegang tangan Thomas ketika pria itu tidak menjawab perkataannya. “Terima kasih karena telah menyelamatkanku,” Ana mengulangi perkataannya.
Thomas sejenak tersentak karena terkejut saat Ana memegang tangannya, hatinya pun ikut berdegup kencang, sangat jarang momen Ana menyentuhnya. Tapi ketika Ana mengucapkan terima kasih, Thomas segera menepis tangan Ana. Hatinya tiba-tiba membeku. Seseorang akan mengucapkan terima kasih saat akan pergi, kan! Batinnya sedih. “Kamu tak perlu berterima kasih. Aku melakukannya karena kewajibanku. Aku bahkan telah lalai menjagamu dan Bayi Angel.”
“Aku tahu itu tidak benar. Kalau bukan karenamu, saat ini tak akan ada Bayi Angel ataupun aku. Ya, meskipun aku tak yakin akankah nyawaku bertahan lama kali ini,” ucap Ana mengenang. Ketika ia tahu ginjalnya bermasalah, ia harus mengutarakan semua unek-uneknya sebelum semua terlambat.
“Aku sudah menuntut mereka karena kelalaiannya membuat nyawamu terancam,” kata Thomas.
Ana menoleh pada pria di sampingnya, ia ingin memegang tangan Thomas lagi, tapi ia takut ditepis oleh pria itu. “Hei, tak perlu menuntut mereka. Seharusnya kamu membantu mereka supaya bisa membesarkan rumahsakit yang ada di pulau sehingga tak akan ada lagi korban sepertiku. Kamu pastinya tahu jam kerja mereka terlalu panjang sampai mereka kelelahan. Lagi pula mereka telah menyelamatkanku. Kumohon jangan melakukannya,” pinta Ana.
__ADS_1
“Tapi, karena mereka pula, aku bisa kehilanganmu dan Bayi Angel,” sergah Thomas.
“Aish, kenapa kamu menjadi pendendam,” ujar Ana memarahi Thomas. “Aku hanya harus cuci darah dengan rutin. Aku tidak apa-apa. Aku sudah bisa bertemu denganmu dan Bayi Angel, aku sudah bahagia.”
“Apakah kamu bahagia bertemu denganku?” tanya Thomas memastikan. Hari ini begitu banyak kejutan, ia sama sekali belum membiasakan hatinya.
“Tentu saja!” jawab Ana cepat. Ia telah memikirkan perasaannya untuk waktu yang cukup lama. Ia telah mengenal Thomas jauh sebelum ia mengenal Theo. Jujur saja ia telah menyukai Thomas sejak pandangan pertama, pria itu begitu baik padanya, membantunya, selalu ada untuknya. Tapi, ia harus mengubur perasaannya menjadi rasa sayang akan saudara. Tentu saja karena Thomas adalah saudara dari sahabatnya. Kemudian Theo datang ke kehidupannya. Theo menjaganya dengan sungguh-sungguh, memberinya pengalaman yang tak pernah ia alami sebelumnya. Tapi kesalahan terbesar Theo yang tak bisa dimaafkan oleh Ana adalah karena malam itu Theo tidak mempercayainya.
Mungkin keputusannya saat ini agak terpengaruh dengan perkataan Soni mengenai Thomas yang mengalami kesulitan setelah malam itu. Tapi terlepas dari itu, apakah cinta butuh alasan? Sepertinya tidak. Ia tak membutuhkan alasan lain untuk menerima Thomas. Pria itu telah menunjukkan semua yang bisa dilakukannya tanpa dipinta, pria itu telah melewati penyesalan yang tak berujung, pria itu terus saja menempel padanya meski ia telah menolaknya berkali-kali, dan pria itu jugalah yang telah menyelamatkan nyawanya dan Bayi Angel.
Pria itu tak sedetik pun meninggalkan ranjangnya saat ia sakit, pria itu sering menangis dalam diam saat menungguinya dan langsung tersenyum ketika ia terjaga, pria itu telah menunjukkan semua cinta miliknya, bagaimana ia bisa mengabaikannya? Meski kesalahan Thomas setinggi gunung, tetap saja ia tak bisa membencinya. Malahan rasa cintanya pada pria itu menjadi demikian dalam dari waktu ke waktu. Dan hari ini ia melihat pria di sampingnya ini menangis. Saat Thomas memilih sedikit lama di kamar sebelum ia melakukan cuci darah, ia meminta pada perawat untuk diam sejenak di depan pintu yang tertutup. Tak tahunya ia melihat pria itu menangis. Apakah dirinya begitu penting sampai Thomas menangis berkali-kali untuknya? Rasanya ia tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk memberitahukan perasaan terpendamnya sebelum pria ini makin tenggelam dalam cintanya seorang diri.
Ana mengenang momen saat Thomas begitu bahagia memberi nama pada Putrinya. Sejujurnya itu adalah tes terakhir untuk Thomas, ternyata pria itu tanpa keraguan telah menyiapkan nama untuk Putrinya, pun tak memaksakan nama itu meski ia tengah tak sadarkan diri. Thomas begitu menghormatinya, bagaimana ia tidak?
“Aku bahagia bertemu denganmu,” ucap Ana. Ia memandang Thomas sembari tersenyum manis.
Thomas segera menepuk-nepuk pipinya berusaha menyadarkannya dari mimpi. “Mimpikah aku?” ucapnya sendiri.
“Kamu tidak sedang bermimpi,” kata Ana sembari memberanikan diri menyentuh lengan Thomas. Ia berharap kali ini Thomas tidak menepis lengannya.
Thomas segera beralih dan berjongkok di depan Ana, tangannya memegang tangan Ana sambil menatap wanita di depannya dengan tatapan sedikit bingung dan penuh harap, ia berucap, “kamu jangan mempermainkanku lagi, katakan apa maksudmu?”
“Kamu mau aku mengatakan apa?” tanya Ana. Ia masih saja menggoda Thomas.
“Oh, God!” seru Thomas frustasi. “Kamu tahu dengan pasti apa yang kumaksudkan.”
__ADS_1
“Aku tidak tahu apa maksudmu,” kata Ana berpura-pura. “Kamu ingin aku mengatakan apa memangnya?”
Thomas sungguh tidak sabar lagi. Ia segera memegang tangan Ana dan memandang wanita itu dengan penuh kesungguhan, “katakan bahwa kamu mencintaiku.”
Ana balik memandang pria yang berlutut di depannya. “Aku mencintaimu,” ucapnya.
Thomas berkaca-kaca tatkala mendengarnya. Tidakkah ia salah dengar? “tolong katakan sekali lagi,” pintanya.
“Aku mencintaimu.”
“Tolong sekali lagi,” pinta Thomas. Ia masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.
“Thomas, aku mencintaimu," kata Ana. Ia masih tak melepas pandangan matanya pada Thomas. Sesulit itukah percaya pada perkataannya. Pasti sangat berat bagi pria itu selama ini.
Thomas langsung memeluk Ana sambil menangis. “Aku juga mencintaimu,” ucapnya di sela isak tangis.
Ana mengusap punggung Thomas untuk menenangkannya. “Hei, jangan memelukku terlalu erat, jahitanku terasa sakit,” kata Ana.
“Oh, maaf, maaf,” ucap Thomas sambil melepaskan pelukannya. Wajah bersalahnya mengulas senyum. Senyum termanis yang akan selalu diingat Ana sampai ia tua nanti.
🌷🌷🌷
JEMPOL
Terima kasih untuk Vote dan Follow-nya ya!
__ADS_1