
🌷🌷🌷
Jam kerja telah selesai, para pekerja satu persatu telah meninggalkan area pembangunan, tak terkecuali Edward. Namun, ia tidak bisa langsung pulang karena mobilnya mengalami masalah dan harus diservise untuk sementara waktu. Ia berulang kali mengecek ponselnya karena sudah terlanjur00 meminta Evan menjemputnya, karena janji itu pulalah ia telah ditinggal pulang sesama rekan pekerja yang lain, ia tak menyangka Evan akan butuh waktu yang lama untuk menjemputnya.
"Evan, masih lama kah?" tanya Edward tak sabar, ia menelepon temannya sambil jalan kaki.
"Aku akan ke sana, tunggu aku, aku baru saja selesai," jawab Evan. Ada sedikit masalah pada mesin di pabrik, ia harus memperbaikinya lebih dulu.
"Baiklah, kutunggu." jawab Edward sambil menghentikan langkahnya dan menunggu di pinggir jalan.
Tin tin...
Sebuah mobil berhenti di depan Edward dan seseorang didalam mobil menurunkan kaca dan menyapa Edward. Edward mengenali siapa yang menyapanya, ternyata bossnya, Pak Thomas.
"Ed, kenapa belum pulang?" sapa Thomas.
"Aku menunggu temanku menjemputku."
"Bagaimana kalau aku saja yang mengantarkan," tawar Thomas.
"Terimakasih, Pak, sebentar lagi temanku akan datang."
"Tidak usah sungkan," paksa Thomas.
"Tidak apa, temanku sudah di perjalanan ke mari," kilah Edward, menolak dengan halus. Lagipula memang Evan sudah dalam perjalanan menjemputnya.
"Kalau begitu aku akan menemanimu menunggunya," ucap Thomas sembari mematikan mobil dan keluar menghampiri Edward yang duduk di atas batu.
Edward hendak menolak tapi Thomas sudah keluar dari mobilnya, bossnya sangat baik hati padanya.
"Aku merepotkan Pak Thomas," ucap Edward sambil mempersilakan Thomas duduk disampingnya.
"Panggil saja Thomas jika kita sedang tidak bekerja," pinta Thomas.
"Ngomong-ngomong, weekend begini apa Pak Thomas tidak kembali ke kota?" tanya Edward memulai percakapan. Ia masih merasa sungkan memanggilnya dengan nama.
Thomas menggeleng, "tidak ada yang menungguku di rumah meski aku pulang," ujarnya sambil tersenyum kecut.
Edward merasa tak enak karena menanyakan topik itu dan ingin merubah topiknya, tapi ternyata Thomas masih meneruskan kalimatnya.
"Jika ada seseorang yang mengatakan padamu untuk tidak menemuinya, apa yang akan kamu lakukan, apakah kamu akan terus menemuinya seperti orang gila ataukah kamu harus menyerah dan melupakannya?"
Pertanyaan Thomas cukup sulit untuk dijawab, tapi Edward tetap berusaha menjawabnya, "terkadang seseorang harus belajar untuk benar-benar menyerah. Tapi sebelum benar-benar menyerah, aku harus memastikan apakah penolakan itu sungguh kata-kata yang diucapkan dari hati ataukah hanya emosi sesaat karena situasi yang emosional. Paling tidak seseorang yang pernah memulai sesuatu dengan cara yang baik, maka ia punya kewajiban untuk mengakhiri dengan cara yang baik. Setidaknya itu yang akan aku lakukan."
Thomas mengangguk-angguk, ia ingin tetap berhubungan baik dengan Ana, ia merindukannya.
"Ya, hanya saja aku tidak tahu ia berada di mana sekarang, haha... " ujar Thomas sambil tertawa.
Edward menghela nafas, tawa bossnya terdengar menyedihkan, sungguh kasihan.
"Oia, bagaimana kalau akhir pekan ini berkunjung ke rumahku, bakar ikan." usul Edward, setelah mendengar curhatan bossnya, ia merasa sedikit kasihan pada bossnya. Ia bisa mengundang Ana dan Evan, dan membuat suasana sedikit ramai
"Terdengar menyenangkan. Aku akan mengajak Soni kalau boleh."
"Pak Soni? tentu saja boleh." Akan ada Pak Soni. Wah, Pak Soni adalah boss juga di sini. Edward sangat senang akan banyak orang penting bertamu di rumahnya, ia harus mempersiapkan acaranya dengan teliti.
__ADS_1
Thomas lantas bertukar nomor dengan Edward agar memudahkannya menghubungi nanti saat menanyakan alamat rumah.
Dari kejauhan ada mobil mendekat ke tempat mereka, seperti tahu temannya menjemput Edward lantas pamit karena jemputannya sudah datang. Thomas pun menunggu Edward berlalu baru lanjut meneruskan perjalanannya pulang.
🌷🌷🌷
Ana meletakkan puding buah yang dibuatnya ke dalam kulkas, tentunya setelah menunggu menyesuaikan suhu puding dengan suhu ruangan, setelah selasai ia beralih menghias brownis yang baru di angkatnya dari panggangan. Ana melihat ke arah jam, hari sudah menjelang sore. Ia lantas mengerjakan hiasannya dengan cepat. Tak perlu membuatnya seindah mungkin, cukup menghiasinya dengan sedikit butter cream dan keju, lagipula kue ini hanya untuk acara makan-makan biasa, bukan kue ulangtahun.
Lily mengatakan boss Edward akan datang ke rumahnya sehingga ia meminta Ana membuatkan kue dan puding untuk makan ini. Menjamu tamu memang penting apalagi tamu khusus, begitu katanya.
Jika Ana kebagian membuat kue, maka lain kali dengan Evan, Evan diminta mencarikan ikan segar dan kerang. Edward mungkin sedikit berlebihan, karena yang datang hanya dua orang, ditambah mereka berempat, tapi bagaimanapun juga, Ana sedikit paham karena yang datang adalah bos baik hati yang selalu diceritakan Edward.
"Baiklah, kue telah selesai," ujar Ana sambil memasukkannya ke dalam kotak dengan hati-hati.
Sekarang waktunya bersiap, ia harus datang lebih awal dan membantu Lily menjaga Adam sementara mereka bersiap.
"Siapa yang akan menjemputku?" Ana bertanya di grup chat mereka.
Evan: Aku
Me: Baiklah, datang lebih cepat, oke
Evan: Siap! Oia, Ed, bagaimana dengan minumannya, apakah kamu sudah menyiapkannya?
Lily: Boss Edward yang akan membawanya
Me: Oh, dia sungguh baik!
Edward: Tentu saja, bossku memang baik hati.
Me: Sending foto puding dan kue. Puding dan kue sudah siap.
Lily: Terimakasih Ana.
Me: Aku akan membuatkan khusus untukmu Evan.
Me: Sama-sama. Baiklah, aku akan bersiap-siap.
Evan: 👍
Ana mematut dirinya di cermin, memastikan penampilannya bagus malam ini, tak perlu terlihat cantik dan menarik perhatian, %lia hanya ingin memberikan kesan good looking meski dengan perut buncitnya. Ana mengelus perutnya, ia harus merekam moment ini. Dengan sedikit bergaya di depan cermin Ana mengambil beberapa foto, Ia memasang senyum manis sembari memegang perut buncitnya.
Ana harus banyak berfoto mulai sekarang, ia harus mempunyai banyak koleksi untuk diperlihatkan pada anaknya nanti, bagaimana saat anaknya masih dalam kandungan. Ia tersenyum membayangkan sebentar lagi ia akan punya anak, kedepannya ia tak akan sendirian lagi.
Ana merapikan rambutnya yang sudah panjang dan mengikat rambutnya kebelakang dengan sedikit memberi poni sebagai pemanis dikeningnya. Malam ini ia memakai baju longgar yang nyaman, dan sweater bulu warna abu yang hangat, ia harus menjaga suhu tubuhnya dari dinginnya malam.
🌷🌷🌷
"Apakah mereka masih lama?" tanya Lily tak sabar. Ia sudah bosan mendengar cerita suaminya tentang betapa keren dan baik hati bossnya itu. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri, sekeren itukah boss suaminya.
"Mereka mampir sebentar membeli minuman," jawab Edward.
"Baiklah, aku akan mulai membakar ikannya," kata Evan.
"Oia, aku akan mengambil puding di kulkas. Sekalian ke kamar mandi," kata Ana, semakin besar kehamilannya semakin membuatnya susah menahan kencing terlalu lama. Ia seolah ke kamar mandi lebih sering.
__ADS_1
Brmmm...
Suara lembut mobil mewah parkir di seberang jalan. Edward yang mengenalinya sebagai mobil Thomas lantas berdiri mendekat ke arah mereka dan menyambutnya.
"Selamat datang," sapa Edward sambil menyalami keduanya, Thomas dan Soni.
Malam ini Thomas terlihat tampan dengan kaos polo hitam dan celana pendek yang juga berwarna hitam. Rambut pirangnya tertutup topi hitam yang dipakainya secara terbalik, mata birunya seolah ikut tersenyum dengan sambutan hangat Edward.
Sedangkan Soni berpakaian lebih rapi dengan kemeja garis warna navy yang hanya dikancingkan sebagian, dipadukan dengan celana panjang warna khaki. Rambutnya yang kecoklatan ditata sekenanya, meski begitu Soni terlihat sangat tampan.
Lily sampai melongo tak percaya bahwa boss Edward benar-benar keren seperti gambaran suaminya selama ini, Lily sampai merasa ada artis yang datang ke rumahnya.
Edward mengenalkan istrinya dan juga Evan, ia mencari Ana tapi tidak ada, jadi ia hanya bisa berkata bahwa temanku yang lain masih di dalam rumah.
Thomas memasuki pekarangan rumah Edward sambil menjunjung tas kresek berisi minuman. Senyumnya mengembang lebar melihat keramahan Edward, dilihatnya Lily, istri Edward menggendong putra mereka yang tengah tertidur. Evan, teman Edward yang tengah membakar ikan menghampirinya dan mengulurkan tangan berkenalan.
Edward melihat Ana keluar dari rumah dengan membawa baki berisi puding yang didinginkannya, "Oh, dan ini temanku yang lain, Ana."
Mendengar kata Ana disebut, Thomas langsung merasa jantungnya berhenti berdetak. Buru-buru dilihatnya orang yang bernama Ana.
Saat Thomas melihat Ana yang dimaksud Edward, ia lantas tanpa sadar melepas tas kresek dari tangannya, suara botol pecah terdengar nyaring memecah suasana, semua pandangan mengarah pada Thomas dengan keheranan, ada apa dengannya sampai menjatuhkan botol minuman yang dibawanya? Adam yang mendengar suara gaduh tiba-tiba langsung terbangun dengan tangisannya yang nyaring.
Meski diiringi tatapan keheranan dari semua yang hadir dan tangisan Adam yang melengking, Thomas sedikitpun tak peduli karena pandangannya saat ini terfokus pada Ana. Setelah berbulan-bulan merindukannya, akhirnya ia menemukan Ana, akhirnya kerinduannya bisa terobati, akhirnya penantiannya tak sia-sia, akhirnya...
"Ana" panggil Thomas.
Mereka yang memperhatikan keanehan Thomas lantas berbalik memandang Ana karena Thomas ternyata mengenal Ana. Sedangakan Ana terlihat tak kalah terkejut dari mereka, tubuhnya bahkan sedikit terhuyung sehingga ia harus berpegangan pada pagar teras rumah agar tak terjatuh.
Soni yang mengetahui bahwa temannya sangat merindukan Ana, ikut ternganga tak percaya. Gadis yang dicari temannya ternyata seorang wanita petite dengan perut membuncit. Ada apa sebenarnya ini? pikirnya bingung.
Thomas dengan langkah tetap menghampiri Ana, berharap bisa memeluknya.
Tapi sebelum ia sampai, Evan lebih dulu berdiri menghadangnya. Thomas dengan marah melayangkan tinju ke arah Evan yang menghalanginya. Soni yang melihat Thomas akan melakukan perkelahian segera menarik kerah temannya sehingga Thomas terjangkang ke arahnya sebelum tinjunya melayang ke wajah Evan.
Melihat kekacauan yang terjadi Edward segera meminta Evan membawa Ana kembali masuk ke rumah. Lily yang masih sibuk menenangkan putranya, terlihat bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi. Meski tak paham detailnya, ia segera membawa putranya ke dalam rumah.
Tinggalah Edward menghadapi kedua tamunya meminta penjelasan. Thomas yang dari awal pandangannya tertuju pada Ana, meronta-ronta dari penjagaan Soni. Edward menghela nafas, berarti orang dalam curhatan bossnya adalah Ana, ia tak menyangka bumi sungguh demikian sempit. Boss yang dianggapnya baik hati, ternyata pria yang menyakiti Ana, rasa sakit hati dan keinginan balas dendam merasuki pikirannya.
Karena ia melihat Thomas yang masih ngotot ingin menemui Ana membuat Edward naik pitam, ia lantas melayangkan tinjunya ke wajah Thomas, cukup keras untuk membuat Thomas sadar. Soni yang tak menyangka temannya ditinju bercencana membalas dendam, tapi langsung dicegah oleh Thomas.
Sambil memegangi wajahnya yang sakit akibat bogem mentah dari Edward, Thomas memandang Edward dengan tatapan memelas, mimik yang penuh senyum beberapa menit yang lalu telah lenyap, berganti dengan wajah penuh rindu dan kesedihan.
"Aku minta maaf," kata Thomas dengan suara parau. "Tolong tanyakan untukku, maukah Ana memberiku kesempatan bertemu dengannya. Tanyakan padanya bolehkah aku menemuinya lagi?" pintanya pada Edward, matanya telah memerah dan air mata telah jatuh dipipinya.
Edward merasa sedih atas kejadian yang menimpa bossnya dengan Ana, bagaimanapun juga pria tak akan semudah itu menangis. Tapi Thomas bahkan tak perlu repot-repot menutupi air mata darinya. Edward tak kuasa menjawab hanya mengangguk.
Thomas memandang rumah Edward sekali lagi sebelum pergi. Ia berharap Ana melihatnya, tapi rumah itu tertutup rapat, hanya Evan yang memandangnya dari balik jendela.
"Ana, tolong beri aku kesempatan sekali saja" ucap Thomas dengan sedikit keras berharap Ana mendengarnya.
Soni lantas merangkul temannya dan mengajaknya pergi, karena ia tahu Thomas tak ingin pergi setelah mengetahui seseorang yang selalu dirindukannya ternyata berada di sini. Soni menguatkan temannya untuk terus melangkah.
"Sorry, Edward atas minumannya," kata Soni saat melihat minuman yang mereka bawa telah pecah akibat ulah Thomas. "lain kali aku akan mentraktirmu."
🌷🌷🌷
__ADS_1
#pengguna Novel toon bisa vote pake poin.
selamat membaca, maaf updatenya suka semaunya.