Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
Episode 31


__ADS_3

🌻🌻🌻


Selepas mengantar Angel pulang ke rumahnya, Ryan tak lantas pulang karena tiba-tiba temannya mengajak bertemu di kafe 24 jam. Katanya ia mempunyai informasi penting mengenai identitas orang yang mengupload foto pertama kali di forum, fotonya dan Angel. Karena penasaran dan tak ingin pulang ke rumah setelah jam lewat tengah malam, Ryan menyanggupi.


Saat ia sudah sampai di tempat, ia melihat temannya belum datang jadi ia memilih tempat dan memesan minuman terlebih dahulu. Segelas kopi panas cukuplah untuk menemaninya menutup hari yang panjang.


Rasanya hari ini lebih menegangkan daripada saat ia pertama kali magang di rumah sakit. Ingatannya melayang saat ia mencari Angel yang tidak ada di pintu depan. Ia takut sesuatu terjadi pada gadis itu. Namun saat ia menemukannya, ternyata gadis itu hanya sedang melakukan panggilan video. Dan itu bukan sekedar panggilan video biasa, ia mendengar dengan jelas bahwa Angel mengatakan bahwa saat ini mereka berkencan. Hatinya langsung berbunga-bunga tanpa bisa ditahannya.


Ryan mendengar dengan jelas saat Angel mengatakan bahwa mereka berkencan. Hanya saja dari nada bicara juga ekspresi keterkejutan Angel saat ia memergokinya, harusnya ia sudah tahu apa arti ucapan itu. Meski ia tahu Angel tak tulus padanya, meski ia tahu kata-kata itu hanya diucapkan karena Angel emosi pada Dima tapi kenapa hatinya masih bisa berdebar saat mendengarnya.


"Ah, apa yang harus kulakukan? Kenapa cinta pertamaku harus seperti ini ... “ keluhnya seraya menghabiskan gelas kopinya.


Apakah harusnya ia tidak peduli dengan intonasi yang tak biasa itu? Atau apakah harusnya ia berpura-pura tidak mendengar dan berperilaku seolah tak terjadi apa-apa?


Sudut mata Ryan menangkap siluet seseorang yang tengah memasuki kafe dan nama teman Ryan adalah George. George adalah teman yang dulu sempat dekat Ryan karena mereka pernah berada dalam satu organisasi. Meski sudah lama tak saling berhubungan, George rupanya masih memperhatikannya. Buktinya saat mendengar rumornya di forum kampus, George tiba-tiba memintanya bertemu. Karena sudah lama tidak bertemu ditambah dengan tema yang sangat tak biasa, bagaimana ia bisa menolaknya?


"Sudah menunggu lama?" sapa George.


"Tidak juga, aku baru datang," jawab Ryan. "Kau mau minum apa?"


"Kopi," jawab George. Ia melepas jaket tebalnya sementara Ryan memesan kopi untuknya.


"Kau masih kurus saja," gurau Ryan.


"Dan kau semakin berotot," balas George.


"Kupikir kamu akan menunda pertemuannya esok hari, ternyata kamu lebih penasaran dari yang aku kira."


"Tidak terlalu, sih! Hanya saja aku tidak enak pulang tengah malam. Rasanya merepotkan semua orang jadinya. Kasihan Pak Amir juga."


Pak Amir adalah petugas keamanan di rumahnya. Sebenarnya bukan karena ia kasihan pada Pak Amir, tapi ia sengaja tak ingin menunjukkan wajah kusutnya pada papanya.

__ADS_1


"Terserah kau saja lah," balas George sembari menerima pesanannya yang telah tiba.


"Ngomong-ngomong tentang orang yang menyebarkan fotoku di forum, bagaimana kamu mengetahuinya?" tanya Ryan.


"Sebenarnya mudah saja, karena pemilik Cafe Lilac adalah pacarku, hehe ... "


"Oh ... " pemilik cafe tentunya punya akses cctv atau semacamnya, pikir Ryan.


"Aku melihat dari sudut pandang foto yang tersebar dan mengamati orang-orang yang berada di sana dan kau tebak apa yang kutemukan?" tanya George sembari menunjukkan ponselnya. "Bukankah ini gadis yang bersama pacarmu?"


Ryan memandang George saat temannya itu mengatakan 'pacarmu'


"Gebetanmu ... " ujar George memperbaiki kosa katanya.


Ryan pun menerima ponsel itu dan memutar video singkatnya.


"Bukankah ini gadis yang datang bersama gebetanmu itu?"


"Ya, entah siapa namanya. Bukankah itu gadis yang sama?"


Ryan memutarnya berkali-kali dan membandingkan foto yang beredar dari ponselnya sebagai pembanding. Sudut dan timingnya pas sehingga Ryan tak bisa menyangkalnya. Tapi bagaimana bisa Sissy pelakunya?


"Aku tidak percaya ini ... " ujar Ryan lemas seraya mengembalikan ponsel George. "Bisakah kau mengirimkan itu padaku?" pintanya. Sepertinya ia harus menunjukkannya pada Angel sehingga Angel bisa hati-hati pada gadis itu.


"Tentu saja!"


"Tapi bagaimana bisa kamu memikirkan membantuku sampai segitunya? Maksudku kita bahkan sudah jarang bertemu dan kamu masih berpikir untuk membantuku. Ya, aku merasa berterima kasih, kau tahu."


"Meski kita jarang bertemu, kau dan aku pernah sangat dekat. Dan aku tak akan melupakanmu karena ikut membantu merawat papaku di rumah sakit. Ya, meski saat ini papaku tidak bisa bertahan sampai hari ini. Toh, tetap saja kamu tak pernah perhitungan tentang apa pun demi kemanusiaan. Lagi pula dalam kasus ini, aku dalam kapasitas bisa membantumu meski sedikit."


Papa George pernah mengalami komplikasi diabetes dan Ryan membantunya membersihkan lukanya. Itu bukan sesuatu yang berat buat Ryan. Apalagi seperti kata George itu demi kemanusiaan dan ia punya kapasitas untuk membantunya sebagai mahasiswa kedokteran.

__ADS_1


"Lalu apa yang akan kamu lakukan mengenai gadis itu?"


"Entahlah, aku akan membiarkan Angel untuk membuat keputusan karena ia adalah korban yang sesungguhnya di sini. Bayangkan, temanmu melakukan itu? rasanya seperti dikhianati saja. Aku tak tahu apa motif Sissy melakukannya. Apa hanya sekedar iseng atau hanya untuk senang-senang atau yang lainnya. Hanya saja lihatlah efek kelakuannya itu. Sungguh mengerikan!"


"Bagaimana jika kamu melaporkannya pada komite disiplin kampus atas tindakannya yang menyebarluaskan gosip murahan di forum. Kamu kan anak teladan, Angel juga. Bahkan Dima sang pemilik kampus ikut terbawa-bawa."


"Kurasa aku harus meminta pendapat Angel mengenai itu. Soalnya ia yang paling dirugikan di sini. Ia dituduh macam-macam, disangkut pautkan pada asumsi tak berdasar. Ia juga harus menghadapi celaan fans-fans Dima. Bayangkan saja, masalah ini menyangkut Dima! Kau kenal Dima, kan! Maksudku siapa sih yang tidak mengenalnya."


"Kau benar! Siapa sih yang tidak mengenal Dima. Siapa sangka bocah itu demikian beruntung. Bayangkan saja bocah semuda itu menjadi pemilik Maxwell University? Dan Maxwell University bukan hanya sekedar kampus biasa, bukan? Kuharap kamu tidak terlibat masalah dengannya selama kamu masih berstatus mahasiswa di Maxwell."


"Ya! Karena jika ia tidak menyukaiku, bisa-bisa aku langsung di DO dari kampus tanpa alasan yang jelas. Padahal aku berencana melanjutkan kuliahku untuk spesialisasi setelah lulus. Semoga semua baik-baik saja," pungkas Ryan.


"Oia, katanya Dima magang di kota lain? Apa benar ia telah putus dengan Angel? maksudku kau tidak sedang bermain api dengan pacar orang, kan?" tanya George setengah bercanda.


"Kau seperti tak kenal aku saja. Aku ini orangnya baik hati, tahu," gurau Ryan.


"Haha ... kau benar. Aku sampai tak percaya kalau kau terlibat skandal. Tapi aku senang akhirnya kamu tertarik pada wanita. Kupikir kamu mungkin penyuka sesama. Ya, tak masalah juga bagiku jika kamu penyuka sesama. Yang jelas kau tetap temanku."


"Haha ... thanks. Aku menghargai niatmu. Yang jelas aku orang yang lurus."


Mereka berakhir membicarakan banyak hal dengan berbagai topik dari mulai masa lalu, masa kini hingga masa depan. Keduanya baru berhenti ngobrol saat hari menjelang pagi.


"Thanks atas bantuannya," ucap Ryan. "Kapan-kapan aku akan mentraktirmu."


"Siap, Bro! Dan katakan saja jika kamu butuh bantuan. Aku akan dengan senang hati membantu."


"Hoho, baiklah! sampai ketemu lagi!" ujar Ryan. Ia menunggu sampai kendaraan temannya berlalu sebelum ia juga pergi. Tapi saat ia hendak pergi, sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Ia urung menyalakan mobilnya saat melihat siapa yang mengirimkan pesan.


"Sepertinya kita harus bicara, hubungi aku jika Senior ada waktu. Bagaimana kalau kutraktir makan malam?"


Senyum terulas di bibir Ryan saat melihat Angel mengiriminya pesan. Ia tak mau menebak-nebak apa yang ingin dibicarakan Angel. Apakah itu sebuah kabar baik ataukah kabar buruk. Ia akan mengesampingkan kekhawatirannya untuk nanti. Saat ini ia hanya ingin menyimpan kegembiraan dan rasa rindu pada Angel, tak kurang dan tak lebih. Ia sudah puas hanya dengan itu. Urusan ditolak atau diterima, ia akan menyerahkan semua keputusannya pada Angel. Tapi ia tetap akan berdoa untuk yang terbaik bagi kisah cintanya.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2