
🌻🌻🌻
“Kau berdandan cantik. Mau ke mana?” tanya Sissy saat ia ke kamar Angel.
“Aku mau keluar sebentar.”
“Keluar ke mana? Lalu di mana Paula?” tanya Sissy lagi sembari mengedarkan pandangannya di ranjang kosong di bagian sisi kamar.
“Dia pulang kampung. Besok kan minggu. Ia kangen rumah katanya.”
“Lalu kamu mau pergi ke mana? Percuma dong aku membawa banyak makanan.” Seyogianya Sissy hendak menghabiskan Sabtu malamnya seperti biasa bersama Paula dan Sissy. Tapi sepertinya kedua temannya mempunyai agenda masing-masing tanpa memberitahunya.
“Hm, aku akan pulang cepat,” janji Angel. Ia mulai mengikat rambut panjangnya.
“Kamu ... Bagaimana bisa kau berdandan begini saat tengah keluar?” tahu-tahu Sissy sedikit terkejut dengan penampilan temannya. “Biar kutebak ... kau akan ketemu Senior Ryan bukan?”
Angel tak menjawab, tapi ia cukup salah tingkah saat Sissy menebaknya dengan benar. Sissy pasti akan menggodanya jika ia bilang bahwa sore ini ia keluar untuk bertemu senior Ryan.
Sissy berdiri berkacak pinggang sembari mengamati penampilan Angel. Saat ini temannya memakai rok pendek girly warna pink pucat yang dipadukan dengan kemeja tanpa lengan warna broken white yang dimasukkan.
Tak ada yang salah dengan penampilan Angel. Baju itu terlihat manis. Tapi saat Sissy melihat Angel mengikat rambutnya, hm ia pikir, itulah yang menyebabkan kerancuan ini.
“Tuan putri, izinkan aku menata rambutmu ... “
“Tak perlu. Aku hanya harus mengikatnya,” tolak Angel. Ia tak mau terlihat seperti sedang berdandan demi pertemuan ini.
“Aku akan mengikatnya seperti maumu, tapi aku akan menambahkan braids di sini. Omong-omong, aku suka rambut ikalmu,” ujar Sissy yang tanpa menunggu persetujuan Angel langsung mulai mengerjakan untaian kepangan rambut temannya itu.
Angel hanya bisa pasrah. Semoga model rambutnya nanti tidak terlalu menonjol. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian.
Sissy membuat kepangan besar di bagian tepi rambut Angel. Setelah selesai ia lantas menyambung ujung kepangan itu dengan keseluruhan rambut yang tersisa dan membuat ikatan besar di belakang. Rambut ikal yang merumbai di belakang dipadu dengan kepangan yang rapi membuat penampilan Angel menjadi sangat manis. Sempurna!
“OMG, Angel. Kamu cantik sekali,” puji Sissy. Ia mondar-mandir di depan Angel untuk mengagumi karyanya.
“Tetap tak secantik kulit cokelatmu,” balas Angel balik memuji. “Kamu yakin penampilanku tidak terlalu wow, gitu.”
“Tentu saja ini penampilan yang wow. Tapi penampilan seperti ini sangat lumrah untuk dipakai saat hang out. Kecantikanmu meningkat dua kali lipat. Taruhan, Senior Ryan pasti akan menembakmu di tempat.”
“Hei hei ... Hentikan lamunanmu itu. Aku tidak sedang menggoda Senior Ryan. Awas kalau kamu mulai membuat rumor.”
“Haha ... Tentu saja aku akan diam saja. Tapi semua hal tentang Senior Ryan pasti menyenangkan untuk dibahas.”
“Terserah kau saja jika hendak membahasnya,” ujar Angel pasrah. Tapi kemudian ia mendapatkan ide untuk mengurangi gosip yang beredar. “Btw, apa tidak sebaiknya kamu ikut aku? Aku jadi terpikirkan tentang rumor jika aku hanya bertemu berdua dengan Senior Ryan. Bagaimana? Mau, ya ... Daripada kamu sedang tidak ngapa-ngapain.”
“Aku dapat apa nih jika dipaksa ikut?”
“Aish, matrenya ... Bagaimana bisa calon dokter sematre kamu.”
“Ya, aku kan tidak semakmur kamu. Btw, aku dapat apa nih.”
“Ya, nanti aku traktir deh!”
“Boleh ... “
__ADS_1
“Berangkat sekarang? Atau kamu mau sekalian ganti baju?” tanya Angel.
Saat ini Sissy tengah memakai celana panjang dengan kaos lengan pendek dan jaket yang diikat di pinggang. Rambut hitamnya diikat tinggi dengan ekor rambut yang dikepang terbaik. Sissy terlihat sedikit tomboi dan juga manis.
“Aku cukup puas dengan ini,” balas Sissy. Ia yang masih jomblo sering kesepian karena teman sekamarnya biasanya pergi kencan Sabtu malam. Jadi ia sering menghabiskan malam minggunya di kamar Angel. Meski dulu Angel sangat dekat dengan Dima. Tapi saat di asrama Angel lebih sering menghabiskan watu dengan mereka daripada keluar untuk bertemu Dima. “Bagaimana dengan makanannya?” tanya Sissy lagi. Ia telah membeli banyak untuk mereka bertiga.
“Bawa saja. Pertemuanku dengan Senior Ryan hanya sebentar. Selepas itu kita bisa memakannya di taman.”
“Bolehlah! Sesama jomblowati akan menghabiskan malam minggu berkualitas bersama.”
“Haha ... “ Angel hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah temannya.
“Tapi ngomong-ngomong kita naik apa?” tanya Sissy. “Aku bukan orang sini jadi aku kesulitan mendapatkan mobil.”
“Aku orang sini tapi aku tidak punya mobil. Aku tak pernah terpikirkan sebelumnya jika aku membutuhkan mobil. Aku terbiasa ke mana-mana dengan Dima,” jawab Angel. “Tapi tenang saja, aku janjian di Cafe Lilac. Tempatnya cukup dekat jika ditempuh dengan jalan kaki.”
Angel menghela nafas dalam, rasanya ia baru sadar bahwa hidupnya selama ini memang tergantung dengan Dima. Entahlah bagaimana ia bisa hidup tanpa Dima setelah ini.
“Angel? Kamu kan sangat kaya, kamu cantik dan kamu juga populer. Apa kamu tidak malu jalan kaki?” tanya Sissy saat mereka mulai berjalan di samping rimbunnya pepohonan di jalur hijau kampusnya.
Maxwell University memang dikelilingi oleh banyak taman dan pohon. Setiap kanan kiri jalan disediakan trotoar khusus jalan kaki yang nyaman dan rimbun. Sangat teduh saat siang hari. Ada banyak kursi yang disediakan di sepanjang jalan yang diperuntukkan bagi siapa saja untuk sejenak berhenti dan menikmati hembusan angin dan hijaunya alam. Kampus mereka selalu tahu bagaimana meredakan stress dengan pemandangan alam yang indah.
“Malu? Kenapa harus malu?” ujar Angel tak mengerti. “Mumpung masih punya kaki, bukankah gunanya kaki memang untuk berjalan? Lagi pula jalan kaki lebih baik dan juga bagus untuk kesehatan? Kamu kan calon dokter masa tidak tahu, sih!”
“Aish, kamu tahu bukan itu maksud pertanyaanku.”
“Dulu mamaku sering memintaku menemaninya ke panti asuhan. Ada banyak anak kurang beruntung di sana, ada banyak yang ditinggalkan keluarganya. Ada juga yang sengaja ditinggalkan karena tubuhnya tidak sempurna. Mama selalu mengingatkan karena kita berkesempatan menjadi beruntung, jadilah orang yang kuat, tidak boleh manja. Ingatlah pada yang kurang beruntung itu, meski mereka dikaruniai banyak kekurangan tapi rasa syukurnya seharusnya menyadarkan kita untuk tidak lupa diri dan sering berbagi.”
“Kapan-kapan deh ... Paula sudah pernah ke rumah. Ia sudah bertemu Mama, Papa, adik dan juga adik sepupuku.”
“Paula? Sungguhan? Beruntungnya ... aku jadi iri.”
“Kapan-kapan deh ke rumahku. Bersama Paula juga. Mungkin sekali-kali menginap di rumahku. Meski ranjangku cukup kecil, tapi cukuplah untuk kita bertiga.”
“Sungguhan ... duh, tak sabar. Kapan itu? Minggu depan? Liburan semester?”
“Ya, kapanpun itu jika memungkinkan.”
“Yeah, sip! Tak sabar menunggunya.”
Angel merangkul temannya dengan gemas. Sissy sedikit lebih pendek dari Angel. Jadi Angel sangat suka merangkulnya. Sissy sangat lucu dan imut.
Tak hanya Angel yang suka merangkul Sissy melainkan Paula juga. Terkadang mereka berebut untuk memeluk Sissy. Jadi saat mereka berjalan bertiga, Sissy lebih sering berada di tengah. Di samping karena keimutannya itu, di antara mereka bertiga hanya Sissy yang banyak omong jadi Sissy sudah seperti juru bicara bagi mereka. Sangat berbeda dari kesan pertama saat Angel mengenalnya, dulu gadis itu sangat pemalu dan juga pendiam. Angel sampai tak tega untuk tidak mengajaknya berkenalan.
Tin ... Tin ...
Suara klakson membuyarkan obrolan kecil mereka.
Sebuah mobil hitam yang bagus berhenti di samping jalan.
“Siapa itu?” tanya Sissy.
“Mungkin seseorang yang hendak menanyakan jalan,” gumam Angel.
__ADS_1
“Mana ada yang seperti itu? Ini kan bukan jalan umum. Dan lagi mustahil ada yang menanyakan jalan saat hari sudah sore seperti ini,” balas Sissy.
Kendati tidak merasa mengenal pemilik mobil, keduanya tetap menunggu pemilik mobil sekiranya ada yang orang itu butuhkan. Setelah kaca mobil diturunkan mereka bisa melihat seorang pemuda tampan berambut navy gelap tengah memandang mereka sembari tersenyum.
“Butuh tumpangan?” pria bermata hitam itu menawarkan bantuan.
“Tentu saja ... “ jawab Sissy spontan.
Angel yang tidak merasa mengenalnya langsung menyenggol lengan temannya, “apa kau mengenalnya, Sissy. Jangan dengan mudah menerima bantuan jika kamu tidak mengenalnya,” ujar Angel khawatir.
“Aku mengenalnya. Dia Jared Stone. Siswa yang ikut Olimpiade di sini kemarin.”
“Hai, Kak Sissy. Masuklah .... ” Jared mempersilakan Angel dan Sissy.
“Apa kabar, Jared. Apa yang kamu lakukan di kampus jam segini? Kamu kan masih anak sekolah,” tanya Sissy begitu mereka telah masuk ke mobil.
Jared tertawa kecil mendengarnya. “Aku hendak bertemu teman. Tapi ternyata ia magang di kota lain semester ini.”
“Sungguh? Kasihan sekali kalian tidak bisa bertemu. Lantas kenapa kamu tidak menghubunginya? Lebih mudah daripada harus mencarinya di sini.”
“Kupikir aku akan memberinya kejutan. Saat Olimpiade kemarin aku masih sempat bertemu dan ia tak sedikitpun membahas tentang magang Jadi aku sedikit terkejut jika ia tidak ada di kampus.”
“Anak jurusan apa temanmu itu?” tanya Sissy lagi.
“Jurusan Bisnis. Kak Angel juga mengenalnya.”
“Kau mengenalku?” tanya Angel yang sedari tadi hanya diam mendengar percakapan Jared dan Sissy.
“Tentu saja!”
“Tapi aku tidak mengenalmu, maksudku aku tidak pernah melihatmu sebelumnya,” jawab Angel jujur. Ia memang tidak mungkin mengenal balik semua orang yang mengenalnya, bukan!
“Aku temannya Dima.”
Angel menautkan alisnya. "Dima? Sungguh!"
“Ya, kami sempat sekelas sebelum Dima mengikuti percepatan agar bisa sekelas dengan Kak Angel. Btw, apa Kak Angel tahu sekarang Dima di mana?”
“Kita sudah sampai ... “ ujar Sissy menghentikan percakapan mereka. Sissy merasa atmosfir telah berubah setelah Jared mengatakan bahwa ia adalah teman Dima. Jadi ia harus menghindari berlama-lama dengan Jared. “Terima kasih, Jared. Sudah memberi tumpangan.”
“Sama-sama, Kak Sissy,” balas Jared sembari menoleh ke kursi penumpang. “Oia, Kak Angel katakan pada Dima, aku mencarinya," pesannya pada Angel.
Angel tak tahu harus menjawab apa. Jadi ia hanya mengangguk tanpa mengiyakan, “terima kasih tumpangannya, Jared,” ujar Angel sebelum turun dari mobil.
Angel mendengus. Cukup sudah ia diingatkan tentang betapa ia ingin menghubungi Dima. Sekarang ditambah orang lain menitipkan pesan. Awas saja kalau ia bertemu Dima nanti ia akan memukulnya.
“Kau tak apa, Angel?” tanya Sissy begitu melihat wajah kesal Angel.
“Aku mau tanya padamu. Hubungan apa yang kamu lihat antara aku dan Dima?”
“Jujur saja sulit mengatakannya karena aku tahu kamu bukan kekasih Dima. Tapi siapa pun yang melihat kalian pasti menyangka bahwa kamu kekasihnya Dima. Kamu tak bisa menyalahkan itu. Kalian sangat dekat. Jika kamu terganggu dengan itu, kamu perlu dekat dengan pria lain untuk menghapus image Dima dari sampingmu, dengan Senior Ryan misalnya. Ngomong-ngomong bukankah itu Senior Ryan ... “ ujar Sissy sambil menunjuk seseorang yang sudah duduk di dalam Cafe.
🌻🌻🌻
__ADS_1