
🌻🌻🌻
“Kalian kembali? Mama baru saja akan menyuruh seseorang untuk menjemput kalian,” ujar Wendy kala melihat Angel dan Dima datang beriringan.
“Tadi aku lupa membawa ini, jadi aku mengambilnya di mobil. Ini dari mama, semoga Dima cepat sembuh,” ujar Angel. Ia mengabaikan Dima dan mendekat ke arah Tante Wendy yang tersenyum.
Wendy mengambil bingkisan itu dan memeluk Angel hangat. Ia sudah lama tidak melihat Angel. Namun senyum di wajahnya langsung menghilang tatkala ia melihat wajah pucat Dima.
“Kamu kenapa, Sayang. Wajahmu pucat sekali.” Wendy bergegas mendekat.
“Ma, aku ingin pergi besok!”
“Apa?” Wendy menguang pernyataannya. Ia menggelengkan kepalanya karena ia sedikit kurang paham maksud Dima. Tapi saat ia akhirnya mengerti arti perkataan itu, ia bertanya sekali lagi untuk memastikan. “Kau yakin?”
“Ya!”
“Baiklah! Jika kamu sudah membuat keputusan, Mama akan mengaturnya untukmu.”
“Pergi? Pergi ke mana?” tanya Angel. Ia tak sadar telah ikut campur. Ia terbiasa melakukannya karena Dima akan selalu menjawab pertanyaannya. Tapi tidak untuk kali ini. Dima bahkan tidak menoleh ke arahnya.
“Aku harus kembali untuk beristirahat,” pamit Dima.
“Mama akan mengantarmu ... ”
Dima tersenyum ke arah mamanya, “aku akan kembali sendiri.”
“Baiklah kalau begitu.”
Dima melihat melewati mamanya ke arah gadis berambut merah yang duduk dengan canggung di ruang tamu, “Thanks, Paula, karena sudah menjengukku. Aku merasa lebih baik sekarang.”
“Um, Ya. Sama-sama,” jawab Paula sedikit takut. Entah kenapa ucapan terima kasih itu, seolah terdengar hanya formalitas. Karena dengan sekali lihat, ia tahu Dima sedang tidak baik. Apalagi dengan percakapan yang membingungkan barusan, atmosfer di ruang tamu ini langsung berubah canggung dan kaku.
Setelah mengucapkan terima kasih, Dima segera berbalik kembali ke kamarnya.
“Um, Dima. Apa yang kamu maksudkan dengan pergi?” tanya Angel lagi. Ia tak terbiasa diabaikan Dima.
Dima yang telah berjalan pergi sejenak menghentikan langkahnya, namun bukan untuk menoleh kembali ke arah Angel dan menjawab pertanyaannya. Dima berhenti karena melihat papanya di depannya.
“Kau sudah bertemu temanmu?”
Dima mengangguk, “aku sedikit lelah, aku akan beristirahat.”
__ADS_1
“Oh! Papa akan mengantarmu,” ujar Theo. Ia melihat putranya memang tampak pucat. Sejujurnya Dima mungkin menguatkan dirinya untuk bertemu Angel.
Dima tampak menggeleng dan meneruskan langkahnya.
“Biar aku saja,” ujar Wendy. “Kamu kemarilah temani Angel. Kalian sudah lama tidak bertemu,” lanjut Wendy.
Tanpa menunggu jawaban suaminya, Wendy segera bergegas ke arah Dima. Ia merasa putranya butuh dirinya untuk menenangkannya. Ia menduga keputusan Dima yang mendadak akan pergi besok, berkaitan dengan pembicaraan Dima dengan Angel barusan, dan ia yakin pembicaraan itu tidak berjalan lancar.
Selagi mereka berdebat, rupanya sesuatu tengah terjadi. Dan mereka baru menyadarinya sesaat setelah Angel berteriak.
“Dimaaaa ... ”
Dan suara tubuh menimpa lantai yang keras mengiringi teriakan histeris Angel.
Waktu seolah berhenti sejenak dengan teriakan Angel yang tiba-tiba itu. Semua orang di ruangan dibuat terpaku dan tercengang namun tak cukup cepat untuk meresponsnya. Mereka hanya bisa mengalihkan pandang antara Angel yang berteriak dan apa yang diteriakkan oleh Angel, yaitu Dima.
Detik berikutnya saat mereka sadar, Dima telah tergeletak pingsan di lantai sebelum Theo maupun Wendy dapat menyelamatkannya.
Suasana langsung kacau oleh jerit histeris Wendy dan para pelayan.
Theo yang berada lebih dekat dengan Dima, langsung menghambur ke arahnya. Ia merengkuh putranya dalam pangkuannya dan berusaha membangunkannya.
Tangannya bergetar hebat, dengan terbata-bata Theo meminta orang di sekelilingnya memanggil dokter.
Di tengah kekacauan, Wendy menyempatkan diri untuk meminta Angel agar kembali. Ia memutuskan akan menghentikan semua hal tentang Angel dari kehidupan putranya.
Cukup sekali ia berhutang budi pada Angel karena telah menyelamatkan Dima sewaktu kecil, dan dia tidak berharap Angel bermain-main dengan nyawa putranya saat ia besar.
🌻🌻🌻
Semua terjadi begitu cepat dan saat ini Angel dan Paula sudah dalam perjalanan kembali ke asrama mereka.
Angel masih terngiang tubuh Dima yang tak berdaya dalam gendongan Om Theo.
Apakah ia terlalu kejam? Apakah Dima benar-benar sakit karenanya? Apakah Dima akan baik-baik saja? Apakah Dima akan benar-benar menjauhinya? Batinnya bertanya-tanya.
Angel tak yakin, tapi ia harus menguatkan dirinya. Ini demi Dima juga!
Paula melirik ke arah Angel di sampingnya yang tengah melamun.
“Kau baik-baik saja?” tanya Paula. Ya, meski ia tahu Angel tidak akan baik-baik saja.
__ADS_1
“Ya, begitulah!”
“Kira-kira Dima mau ke mana, ya?” Paula merujuk pada pembicaraan Dima dan mamanya.
Angel menggeleng.
“Sepertinya pembicaraan kalian tidak berakhir baik,” Paula ingin mengutuk mulutnya karena sok ingin tahu. Tapi ia tak bisa menahan diri dengan rasa penasarannya tatkala peristiwa itu terjadi tepat di depannya.
Angel mendesah, “apa tindakanku salah?” tanyanya.
Paula yang tak mengerti duduk permasalahannya hanya bisa menjawabnya dengan jawaban netral yang tidak memihak.
“Menurutku itu tidak selalu, terkadang itu tergantung dari sudut pandang siapa. Suatu perbuatan bisa mempunyai tafsir yang berbeda berdasarkan sudut pandang orang yang berbeda.”
“Aku melakukannya demi kebaikan Dima.”
“Tapi kalau boleh jujur, Dima terlihat tersiksa karena itu.”
“Ya. Aku bisa melihatnya. Aku juga ikut tersiksa saat melihatnya seperti itu. Tapi aku harus melakukannya. Aku ingin Dima sadar.”
“Sepertinya itu terlalu kejam untuknya. Kupikir, kalian saling menyukai. Maksudku, kalian terlihat saling menyukai.”
“Apakah begitu? Aku tidak berpikir begitu.”
“Bagaimana, ya! Aku selalu melihatmu tersenyum lebar saat bersamanya. Kamu juga sering membicarakannya. Kupikir tanpa sadar kamu mencintainya.”
Angel melengos, ia tak sependapat dengan Paula. Ia hanya sudah terbiasa bersama Dima.
Mungkin hal itu pulalah yang membuat Angel tak sadar bahwa bocah ingusan itu sekarang telah dewasa! Dan perasaan cinta monyet itu ikut berubah menjadi obsesi.
Ketika Angel tak menyahut, Paula pun berinisiatif menyudahi percakapannya. Namun sebelum itu, ia ingin temannya tahu apa yang dilihatnya sesaat ketika Dima pingsan, “Kau melihat ekspresi orang tua Dima saat Dima pingsan? Sungguh menyakitkan! Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan hati mereka.”
Angel mencelos. Ia melewatkan ekspresi Tante Wendy dan Om Theo karena ia hanya fokus pada Dima.
Meski pedas, ucapan Paula ada benarnya.
“Ah! Aku stress sekali!” keluh Angel. Hari ini sangat berat baginya.
“Hahaha ... maaf, aku malah memperburuk suasana hatimu. Oke, sebentar lagi kita sampai. Kau bisa mandi air hangat untuk melepas stress.”
“Uh, kuharap kau benar!”
__ADS_1
🌻🌻🌻