
🌻🌻🌻
Angel bergelung di ranjangnya. Ia sama sekali tak bisa menyipitkan matanya. Bisa jadi karena ia baru saja bangun setelah tertidur pulas dari sore. Tapi ia tahu pasti alasan sebenarnya ia kesulitan melanjutkan tidur adalah sikap aneh Dima dan ciumannya.
Jujur saja bulu kuduknya masih terasa meremang dengan ciuman itu.
Apa-apaan Dima itu? sangat tidak seperti biasanya, batinnya. Ia berusaha menghalau pikiran-pikiran aneh dari benaknya dan menaikkan selimutnya untuk kembali tidur.
Jika Angel langsung tidur lain halnya dengan Dima. Ia memilih mandi di bawah pancuran. Pikirannya melayang pada kejadian yang baru saja di alaminya.
Apakah memang perasaannya selama ini hanya sebuah obsesi yang tak nyata? ujarnya bertanya-tanya. Rasanya pertanyaan itu terdengar aneh baginya yang telah mencintai Angel bertahun-tahun.
Meskipun Angel mengatakan perasaannya tak nyata tapi kenapa rasa sakitnya sangat nyata.
Di bawah pancuran yang membasahinya ia menangis dalam diam. Bisakah ia melepas cintanya begitu saja? Bagaimana jika ia menjadi gila setelahnya?
Papanya pernah berkata padanya, "jika kamu mencintai seseorang kejarlah cintanya sampai kau lelah. Karena mungkin saja itulah kesempatan terakhirmu. Tapi adakalanya kamu harus belajar menyerah karena mungkin saja cintamu lebih bahagia tanpamu."
Apakah Angel lebih bahagia tanpaku? tanyanya bingung. Ia menolak percaya bahwa cintanya tak pernah dianggap.
Dima tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Saat ini ia seperti pria yang barusan putus cinta. Beginikah sakitnya putus cinta?
🌻🌻🌻
Sinar mentari tampak cerah memberi kehangatan dan menyinari sebuah ruang makan di ruang makan keluarga Maxwell.
Keluarga Maxwell memulai aktivitas paginya dengan sarapan bersama. Theo, sang kepala keluarga, memandang satu kursi kosong di meja makannya. Ia beralih memandang istrinya, Wendy dan putra bungsunya, Daniel.
__ADS_1
"Di mana Dima? Kenapa tidak ikut sarapan?" tanya Theo. Ia sedikit heran dengan absennya putra sulungnya tersebut. Dima tak pernah melewatkan sarapan.
"Biar aku yang memanggilnya, Pa," Daniel menawarkan diri. Ia yang telah memakai seragam sekolah berwarna hijau miliknya, bergegas naik ke lantai atas menuju kamar kakaknya.
Daniel mengetuk pintu kamar terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar, mungkin saja kakaknya sedang ganti baju, tapi meski ia telah mengetuk pintu berkali-kali tetap tak ada sahutan dari kakaknya.
"Kak, aku langsung masuk ya?" izin Daniel sembari membuka pintu. Ia melihat kakaknya meringkuk dalam selimut. Tidak biasanya kakaknya begini. Ia lalu mendekat untuk membangunkannya.
"Kak, cepat bangun? dipanggil Papa untuk sarapan."
Dima tetap tak bergeming.
"Nanti Papa marah, tauk!"
Dima tak menjawab. Padahal Dima paling menurut dengan perintah Papa tapi kenapa ia tak menjawab?
Daniel menyibakkan selimut yang menutupi tubuh kakaknya, terlihat kakaknya sedang tertidur.
Kenapa kakaknya masih tertidur jam segini? tidakkah kakaknya berangkat kuliah? Daniel menggoyang lengan kakaknya tapi begitu tangannya menyentuh lengan itu, ia langsung menarik tangannya dengan cepat. Tubuh kakaknya sangat panas seolah terbakar, kakaknya sedang demam.
Oh, tidak. Aku harus memberitahu Mama dan Papa, pikir Daniel cepat. Ia segera berlari dan berteriak dari lantai atas.
"Ma, Pa, Kak Dima sakit. Tubuhnya sangat panas," teriak Daniel.
Theo dan Wendy langsung berhamburan dari ruang makan dan tergopoh-gopoh menyusul ke lantai atas.
"Panas bagaimana? kemarin ia baik-baik saja," tanya Wendy sambil menaiki tangga dengan cepat. Sedangkan Theo lebih cepat lagi, ia telah mendahului mereka dan sampai di kamar Dima terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Nak?" tanyanya sembari menyentuh kening putra sulungnya. Suhu tubuhnya sangat tinggi bahkan tangannya serasa ikut terbakar saat menyentuhnya.
"Sayang, tolong telepon dr. James," pintanya pada Wendy, istrinya.
Dr. James adalah putra dr. Charles yang dulunya juga dokter pribadi keluarga Theo.
"Aku sedang melakukannya," ujar Wendy yang dengan cepat mulai menelepon.
"Daniel, sepertinya Papa tidak bisa mengantarmu. Kamu sarapan lah terlebih dahulu nanti Papa akan meminta Pak Eric mengantarmu." Pak Eric adalah sopir pribadi keluarga Theo.
"Baiklah. Nanti kabari aku perkembangan Kak Dima ya."
"Tentu saja," ujar Theo sembari memeluk putranya.
"Theo, kamu turunlah sekalian menemani Daniel sarapan, biar aku yang menjaga Dima," ujar Wendy pada Theo. "Lagi pula tak ada bisa kita lakukan sampai dokter datang. Sekalian tolong perintahkan pelayan untuk membawakan kompres ke sini."
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku akan sarapan nanti."
"Baiklah. Ayo, Daniel. Papa juga harus melakukan panggilan telepon." Theo harus memberitahu asistennya untuk menghandle situasi di kantor karena ia akan telat bekerja. Kalau kondisi Dima lebih buruk setelah pemeriksaan, maka ia akan absen bekerja hari ini.
"Ma, aku berangkat sekolah dulu ya," ujar Daniel sembari mencium pipi Mamanya. "Semoga Kak Dima cepat sembuh."
"Terima kasih, Sayang."
Wendy memandang mereka sampai pintu tertutup lalu fokus pada Dima. Putra sulungnya adalah orang yang sangat berhati-hati dan disiplin. Akan tetapi setiap Dima sakit, ia selalu saja khawatir, ia takut kejadian seperti waktu kecil dulu menimpa putranya kembali. Putranya mengidap penyakit Celiac yang membuatnya tidak bisa menoleransi kandungan gluten. Dahulu ia hampir kehilangan Dima karena penyakit ini. Semoga demam kali ini bukan karena penyakitnya tapi hanya sekedar demam biasa.
__ADS_1
🌻🌻🌻