
🌷🌷🌷
Theo berjalan dengan hati-hati memasuki ruangan tempat Ana dirawat. Ia duduk di samping ranjang dengan mata berkaca-kaca. Beberapa hari ini, Ia begitu merindukan Ana. Tak tahunya itu karena ia punya firasat ada sesuatu yang terjadi dengan Ana. Padahal ia sudah berniat menjadi kakak yang baik, tapi apa yang dilakukannya? Ia abai terhadap Ana, sampai ia tak tahu bahwa Ana telah mengandung dan bahkan melahirkan.
“Ana-ku yang malang. Aku membuatmu pergi begitu jauh, tanpa teman, tanpa orang yang menyayangimu. Akulah yang memaksamu berdiri di ujung jurang dan kemudian mendorongmu jatuh ke dalamnya. Andai saja malam itu aku datang, andai malam itu aku mempercayai Ana, aku tak bisa lagi memutar waktu,” gumam Theo penuh sesal.
“Ana-ku telah begitu menderita. Jika ada yang bisa kulakukan untukmu, meski dengan nyawaku. Aku akan melakukannya. Jadi, bangunlah demi Kakakmu ini.”
“Ana, maafkan aku...” bisik Theo sambil menciumi tangan Ana. “bangunlah, aku di sini. Aku tidak bisa hidup tanpa mu. Bangunlah...”
“Kamu masih ingatkan janji kita. Kita akan hidup selayaknya saudara. Aku adalah kakakmu sekarang, jadi bangunlah. Kakakmu di sini merindukanmu. Kenapa kamu tidak meminta tolong pada Kakakmu ini jika kamu kesulitan. Aku bahkan akan memindahkan gunung untukmu jika kamu memintanya, kenapa kamu menyembunyikan kehamilan ini dari kakak dan menanggungnya seorang diri.” Theo begitu menyesal, meski sebagai kakak, tetap tak ada yang bisa dilakukannya untuk Ana. Ia begitu abai.
Theo merasakan gerakan kecil pada tangan Ana yang saat ini ada dalam genggamannya, seolah Ana sedang meresponsnya. Ia mengerti, sepertinya Ana merespons suaranya. “Ana, bangunlah, kakak punya kabar gembira untukmu. Kakak sekarang akan jadi calon ayah. Kelak saat kamu sembuh nanti mari kita piknik bersama, Kakak, kamu dan anak-anak, atau bagaimana kalau kita menjodohkan mereka saja. Jika kita memang tak seberuntung itu dalam perjodohan mungkin saja itu jodoh anak kita,” lanjutnya, meski kata-katanya tak begitu masuk akal, Theo tetap saja berbicara karena ia merasa Ana meresponsnya.
“Ana, aku merindukanmu. Bangunlah,” ucap Theo putus asa. Ia bangun dengan lemas. Waktu berkunjungnya telah habis. Tapi saat ia berlalu, ia melihat Thomas menunjuk-nunjuk Ana dari balik kaca. Theo segera menoleh ke arah Ana. Tak disangka-sangka ternyata Ana telah menunjukkan respons yang signifikan.
Thomas melihat Ana bergerak sedikit tangannya saat Theo mengajaknya berbicara. Ia merasa senang juga sedikit cemburu melihatnya. Apakah sebenarnya yang ditunggu Ana adalah Theo? Tapi gerakan jemari Ana itu tak lama, karena setelah itu Ana berhenti menggerakkan tangannya meski Theo masih terus berbicara.
__ADS_1
Thomas tertunduk lesu. Oh Tuhan, aku janji akan berusaha tegar dan menghilangkan rasa cemburuku yang berlebihan pada Ana. Tapi, tolonglah, beri kesempatan untukku sekali lagi, doanya dalam hati.
Tuhan seakan menjawab doanya, karena begitu Theo pergi, Thomas melihat dengan jelas kedua jari tangan Ana bergerak-gerak. Ia segera menunjuk-nunjuk dan memastikan Theo melihat apa yang dilihatnya. Thomas sendiri segera berlari memasuki ruangan untuk memberitahukan perawat yang ada di samping ruangan Ana. Ia begitu bahagia, akhirnya ada harapan baru. Ana telah sadar.
🌷🌷🌷
“Terima kasih,” ucap Thomas tulus. Karena entah hanya kebetulan atau memang sungguhan, kenyataannya Theo lah yang membangunkan Ana dari tidur panjangnya.
“Tak perlu berterima kasih, Ana adalah adikku sekarang. Jaga ia baik-baik atau aku akan membunuhmu nanti,” ucap Theo. Wendy segera mencubit lengan suaminya karena telah berbicara omong kosong.
“kamu bisa mengandalkanku," ucap Thomas.
Semua yang ada di sana ikut terkejut, termasuk Ny. Bella yang sibuk menelepon suami dan Putrinya untuk mengabarkan kondisi terbaru Ana.
“sayang, kamu tidak harus melakukan itu,” cegah Wendy.
“Ya, kamu tidak harus melakukannya,” kata Thomas membenarkan ucapan Wendy. “Aku memang mengharapkan bantuanmu untuk membantu mencarikan donor untuknya. Tapi kamu tak harus mendonorkan ginjalmu.”
__ADS_1
“Orang lain bahkan bisa mendonorkan ginjalnya untuk orang yang sama sekali tidak dikenalnya, kenapa aku tidak? Apalagi orang yang membutuhkannya adalah Ana, aku tak hanya mengenalnya, tapi dia juga amat berharga bagiku,” terang Theo.
Theo memandang Wendy yang berada di sampingnya, wajah Wendy seolah tidak terima dengan keputusan Suaminya. Mereka akan menyambut kehamilan pertamanya yang berharga kenapa Suaminya repot-repot mengurus istri orang. Mengurus pun tidak harus sejauh ini. “Ana sudah kuanggap sebagai Adikku saat ini, apalagi akulah yang menyebabkan semua hal buruk terjadi padanya, setidaknya biarkan aku melakukan ini. Aku tidak akan mati hanya dengan satu ginjal,” ujarnya. “Lagi pula, aku tidak bisa membayangkan jika wanita di sana adalah kamu, aku pun akan sangat bersyukur jika ada orang yang mau melakukannya untukmu.”
Wendy menghela napas sepertinya ia tidak bisa berdebat dengan suaminya. “Kamu tahu, Mama tak akan mengizinkanmu,” kata Wendy.
“Aku tak butuh izin Mama, aku butuh izinmu,” ucap Theo tegas. Setelah ia menuruti apa kata Mamanya berkali-kali, Cukup sudah. Ia sudah dewasa untuk bisa menentukan keputusannya.
Wendy tak bisa berkata-kata, dalam hatinya ia begitu takut akan kondisi Suaminya jika harus mendonorkan salah satu ginjalnya. Dilain pihak, ia teringat kata-kata Suaminya saat mengandaikan gadis yang ada di ranjang sana adalah ia, dan pria yang menangis ini adalah Suaminya. Terlebih lagi, ia harus memutus rasa bersalah Suaminya akan masa lalunya. Ia pun tak kuasa mengangguk. “Baiklah,” ujar Wendy akhirnya.
“Terima kasih, Sayang,” kata Theo sambil menggenggam tangan Istrinya.
“Aku akan mengatakan pada dokter nanti,” kata Thomas tatkala pasangan suami istri di depannya telah membuat keputusan, “saat dokter telah menyiapkan tesnya, aku akan mengabarimu nanti, semoga kali ini, ginjalnya cocok untuk Ana.”
Theo mengangguk, “baiklah kabari aku nanti”
“Aku tidak bisa membalas kebaikanmu, tapi sekali lagi terima kasih” ujar Thomas sambil melepas mereka pergi. Ia bersyukur ada titik terang untuk kesembuhan Ana.
__ADS_1
🌷🌷🌷