Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
19


__ADS_3

🌷🌷🌷


"Hubungi aku jika kamu butuh sesuatu. Jangan pernah segan meminta tolong padaku. Ana, kamu selalu mendapat tempat di hatiku" Kata Theo sambil menyerahkan kartu bisnis pada Ana. Ana menerimanya dengan sedih. Air matanya berlinang memandang Theo.


"Kamu juga selalu mendapat tempat di hatiku " Jawab Ana.


Theo lantas memeluk Ana. Ana balik memeluk Theo. Meski pelukan ini menandai akhir hubungan cinta mereka, tak urung Ana dan Theo merasa lega, hubungan mereka berakhir dengan baik tanpa saling membenci.


Theo mengecup kening Ana dengan sayang.


"Jangan lupa menghubungiku, aku saudaramu sekarang. Ingat panggil aku, Kak Theo,jadi jangan pernah berfikir bahwa kamu sendirian"


Ana mengangguk.


"Terimakasih" Gumam Ana. Theo memang selalu sebaik ini. Ana bersyukur pernah mengenalnya.


Theo melangkah keluar rumah. Tapi buru-buru kembali masuk ke dalam dan menyodorkan hapenya.


"Beri aku nomermu, aku tak yakin kamu akan menghubungiku"


Ana tersenyum tingkah polah Theo mengingatkan Ana sewaktu dulu Theo juga pernah memaksa Ana untuk memberi tahu nomernya.


Ana mengetik sebentar.


"Sudah"


Theo tak langsung percaya lantas menelfon balik nomer yang di tulis Ana. Suara telfon terdengar nyaring dari dalam rumah.


Theo tersenyum dan melangkah ke luar. Theo lega masalah ini sudah berakhir. Namun ada sedikit kekhawatiran pada diri Theo mengenai Thomas. Thomas mungkin tidak bisa menyelesaikan krisis ini dan berakhir di psikiater, namun Theo tidak berencana membocorkan alamat Ana. Theo ingin Thomas merasakan karmanya terlebih dulu.


🌷🌷🌷


Ana sedang makan malam saat Evan tergolong gopoh ke rumahnya. Ana sedikit terkejut dengan kedatangannya bukankah Evan berencana memulainya besok kenapa datang malam ini.


"Ada apa Evan? " Tanya Ana.


"Ah, aku dengar gosip ada pria yang datang kesini tadi pagi. Aku... Aku ingin tahu apakah kamu baik baik saja. "


"Ya, apakah kamu sudah makan? Bagaimana kalau makan bersamaku"


"Hmm kalau tak merepotkan" Jawab Evan malu-malu.


Ana menyiapkan hidangan yang masih tersisa untuk Evan, Ana hanya memasak porsi secukupnya. Baginya yang hanya hidup sendirian bahkan jika ia tak masak tak akan jadi masalah.


"Siapa pria yang datang tadi pagi? Apakah dia mantan tunanganmu itu? " Tanya Evan sedikit cemburu.


"Hmm iya, dia kemari untuk menyelesaikan hubungan ini dengan baik" Jawab Ana.


"Oh syukurlah"


"Kenapa? " Tanya Ana.


"Hahaha aku sedikit cemburu, untunglah bukan pria yang datang untuk bersaing denganku. Hahaha... " Evan menertawakan kecemburuan nya.


"Makanlah dan cepat pulang. Aku ingin tidur lebih awal" Ungkap Ana.


"Apa kamu ingin mengusir ku? Aku bahkan belum selesai makan."


"Oke kutunggu sampai kamu selesai" Jawab Ana. Bersamaan dengan itu ponsel Ana berdering. Ada pesan datang.


~Kakak sudah sampai di rumah. 😊. Kamu jangan lupa makan malam~Bunyi pesan dari Theo. Ana tersenyum sekilas. Theo benar-benar ingin mengubahnya menjadi hubungan kakak adik.


"Kenapa tersenyum. Siapa yang menghubungimu? "


"Hm kakakku"


"Kamu tidak punya kakak" kata Evan sambil menyelesaikan makannya.


"Ya kakak tidak selalu harus saudara bukan! " Kilah Ana. Jujur saja sikap posesif Evan sedikit membuat Ana tak nyaman. Bahkan Ana belum benar resmi jadi kekasihnya.


"Hm baiklah. Oia jangan lupa bangun pagi. Besok pagi aku menjemputmu untuk melihat sunrise. "


"Oh benarkah! " Kata Ana antusias.


"Tentu saja. Sunrise yang paling indah. "

__ADS_1


Ana manggut manggut.


"Good night Ana. " Pamit Evan.


"Good night" Balas Ana sambil menunggu mobil Evan menghilang dari pandangan.


Ana melihat handphonenya, ia belum membalas chat Theo.


~Aku barusan sudah makan malam. Oia aku harus tidur lebih awal besok pagi aku ada kencan dan melihat sunrise~


~apakah dia pria yang baik? ~


~dia teman kecilku dulu~


~oh baiklah, jangan lupa untuk mengenalkannya padaku~


~okai kapan-kapan kalau ada waktu~


~siap! Ya sudah good night, tidur yang nyenyak~


~good night, kak Theo ~


Balas Ana. Ana merebahkan dirinya di ranjang kamarnya. Hari ini terasa sangat panjang. Ana memasrahkan nasibnya pada sang pencipta. Semoga kebahagiaannya benar-benar akan datang.


🌷🌷🌷


Ana tak yakin apakah ia masih bermimpi atau sudah terbangun, Ana tak bisa mengingatnya dengan jelas. Yang pasti saat ini Ana tengah berada di kamar mandi memuntahkan semua isi perutnya. Rasa sakit karena harus memuntahkan isi perutnya yang kosong. Di tambah rasa pahit di mulutnya membuat Ana tak berdaya.


Keningnya berkerut menahan nyeri di kepalanya. Oh Tuhan apakah aku sedang bermimpi. Ana lantas mencubit tangannya.


"Oh ini terasa menyakitkan. Apakah benar ini morning sickness. Ya Tuhan apakah benar aku hamil." Air mata yang menggenang di matanya telah berubah menjadi air mata. Ana menangis.


Hiks... Huhu... Hu....


Ana menangis dengan tersedu-sedu. Setelah semua kejadian ini. Ana sudah tak sanggup lagi kenapa Tuhan masih saja memberinya cobaan. Apakah belum cukup derita yang di alaminya. Apakah benar Tuhan menyayanginya.


Ana mengusap air matanya yang menetes. Ana teringat janjinya dengan Evan. Ana lantas bangun dan membasuh wajahnya berulang kali untuk menghilangkan bengkak di matanya. Ana lantas memakai make-up tebal untuk menutupi wajahnya yang pucat dan menyamarkan sedikit bengkak merah di bagian ujung hidung dan matanya.


Ana memandang wajahnya di cermin. Ana sudah siap untuk merasakan kebahagiaannya meski hanya untuk pagi ini. Tak lama kemudian Evan telah datang mengetuk pintunya.


🌷🌷🌷


Evan mengenakan kaos polo warna putih dan celana pendek selutut. Warna kulitnya yang coklat nampak menawan di balik warna putih bajunya.


Evan balik tersenyum. Ana sangat cantik pagi ini, apakah Ana sengaja berhias diri untuknya. Evan sungguh tersanjung.


"Bagiaman tidurmu? Nyenyak kah? " Tanya Evan basa basi.


"Tentu saja" Jawab Ana sembari melingkarkan tangannya di lengan Evan. Meski Evan akan mengutuknya karena ini tapi Ana sungguh sangat ingin melakukannya untuk terakhir kali.


Evan berbunga-bunga menyambut Ana. Setelah 15 menit berkendara mereka sampai di tepi pantai. Ana mengingat tempat ini tapi Ana tak menyangka tempat ini bisa seindah pagi ini.


Semburat mentari terlihat menghiasi cakrawala.


"Untunglah cuaca cerah, kalau tidak kita tak akan bisa melihat matahari terbit" Kata Evan pada Ana. Tapi Ana seolah tak mendengarnya Ana berjalan ke atas tebing di bibir pantai sambil menghadap ke timur. Gaun panjangnya tertiup angin dan melambai dengan indahnya.


Evan tak bisa menahan diri memotret Ana dengan kamera ponselnya. Siluet Ana dengan rambutnya yang berkibar tertiup angin sangatlah cantik di matanya. Evan benar-benar mengaguminya. Sejak kapan Ana tumbuh secantik ini. Ketika Evan mengambil fotonya pas Ana memandangnya. Tapi Evan melihat Ana tercapture sedang diam tidak tersenyum. Evan sedikit tercekat. Ada apa. Evan memastikan lagi dengan melihat Ana. Ana balik tersenyum dan melambai ke arahnya. Evan lantas mendekat.


"Sudah puas memotret nya. Duduklah disini dan kita nikmati mataharinya" Kata Ana.


"Ana, apa ada masalah. Sepertinya kamu tidak bahagia. " Tanya Evan sangat peka.


"Evan, aku sangat ingin bahagia. Tapi... " Ana tak melanjutkan ucapannya.


"Tapi apa, apakah kamu tidak bahagia denganku? "


"Bukan. bukan begitu aku hanya bertanya tanya kenapa takdirku seolah aku tidak bisa bahagia"


"Aku akan membuatmu bahagia" Janji Evan.


"Evan, aku minta maaf. Ternyata aku tidak bisa melakukan ini bersamamu" Kata Ana akhirnya.


"Kenapa? Bukankah kamu sudah berjanji membiarkan aku untuk mencobanya" Kata Evan tak mengerti.


"Tapi situasinya tak memungkinkan lagi. Aku minta maaf Evan. Ini di luar kuasaku"

__ADS_1


"Apakah mantan tunanganmu yang memintamu kembali? " Tanya Evan dengan nada sarkas.


Ana menggeleng.


"Evan, sekarang aku hamil"


"Apa! " Evan seolah tak percaya apa yang di dengarnya. "Apa kamu hamil anak tunanganmu? "


Ana menggeleng.


"Lalu anak siapa? "


"Ceritanya rumit"


"Tak apa anak siapa pun itu, kita masih bisa bersama kan Ana. Aku akan membesarkannya juga" Kata Evan.


Ana tak bisa menjawabnya hanya menangis sesenggukan. Ana akan jujur pada Evan.


"Malam itu kakak dari sahabatku menghamili ku, tunangan ku lantas memutuskan ku. Aku tak berani cerita pada sahabatku makanya aku melarikan diri. Aku ingin menghapus semua masalalu itu dan memulainya denganmu tapi pagi ini aku menyadari bahwa aku hamil. Evan bisakah seseorang hamil dengan mudahnya. "


"Entahlah" Jawab Evan tak tahu pasti harus merespon seperti apa. Kenyataan yang di katakan Ana membuat hatinya sakit. Gadis pujaannya telah mengandung bayi orang lain. Meski Evan menerima Ana akankah hatinya setulus itu pada bayinya juga.


"Kenapa takdir ini demikian kejamnya. Apa salahku.... Huuuu huuu... Hiks "


Evan merangkul Ana.


"Mungkin kita sebaiknya memeriksakan nya dengan teliti. Siapa tahu kamu tidak benar-benar hamil"


Ana mendongak ke arah Evan.


"Kamu juga bisa menggugurkan nya jika kamu tak sanggup membesarkannya" Kata Evan memberi solusi. Ya meski solusinya terdengar kejam.


Ana menggeleng.


"Aku akan mempertahankannya. Nasibku memang malang tapi aku tak mungkin membuang bayi ini. Aku tak bisa membuatnya tidak di inginkan. Aku tak akan menjadi seperti ibuku yang membuangku dulu"


"Ayo kita besarkan bayi ini bersama. " Tawar Evan.


"Evan, aku tahu kamu menyukaiku, tapi aku tak akan membuatmu bertanggungjawab karena ini bukan kesalahanmu. Biarlah aku membesarkannya sendiri. Biarlah huuu... Huuuu... "


"Jangan menangis lagi. Jika kamu menolakku karena bayi ini aku tak apa. Jadi jangan menangis lagi. Aku akan membantumu sebisaku. Jadi tolong jangan menangis lagi" Pinta Evan. Evan tak tega melihat Ana menangis. Tangisannya sungguh terdengar memilukan.


Hati Evan remuk sekali. Evan berharap kisahnya di mulai dengan indah pagi ini tapi bahkan sebelum di mulai kisahnya telah layu sebelum berkembang.


"Baiklah, ayo pulang. Bajumu sangat tipis nanti kamu masuk angin. Nanti malam aku akan mengantarmu ke klinik. Sudah jangan menangis lagi" Kata Evan sambil menyeka air mata di pipi Ana.


Ana memandang Evan penuh arti. Kenapa begitu banyak pria baik yang tak bisa di jangkau nya. Kondisi selalu tak memungkinkannya. Tak hanya Theo tapi sekarang Evan juga.


Evan mengecup kening Ana untuk menenangkannya.


"Masih ada aku, jangan khawatir selama aku masih jomblo aku akan mengurusmu" Gurau Evan.


Ana tersenyum sedikit menanggapi gurauan Evan.


"Aku berjanji tak akan merepotkanmu dan membiarkanmu berkencan" Kata Ana


"Hoho... " Ujar Evan.


"Sudah sudah ayo kita memotret sunrise ini sebelum matahari tinggi. Hey kamera handphone mu kan sangat bagus. Kenapa di biarkan menganggur. Kamu harus mengambil foto yang bayak. Karena sebentar lagi tempat ini tak akan ada lagi dan berubah menjadi resort"


"Benarkah"


"Iya, pembebasan lahan bahkan sudah selesai, tinggal membangunnya saja. "


"Woah, kalau begitu ayo berburu foto" Ujar Ana antusias. Evan selalu tahu membuat seasana hatinya membaik. Terimaksih Evan.


🌷🌷🌷


Jangan lupa like dan koment.


Jika tidak Author akan mogok.


Hahahhaha....


😅😅😅

__ADS_1


__ADS_2