
🌷🌷🌷
Anna beringsut ke kamar mandi dan menangis di sana. Thomas tidak mengejarnya, karena begitu hasratnya telah usai Thomas hanya diam terlentang menatap langit-langit kamar. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Akankah iba muncul di hatinya mendengar isak tangis Anna?
Lamat-lamat suara tangisan berganti dengan suara gemercik air pancuran. Mendengar suara gemercik air yang tenang membuat Thomas mengantuk dan jatuh tertidur dengan hanya sebagian selimut saja yang menutupi tubuhnya.
Anna menangis di antara tetesan air yang membasahinya. Ia menggosok kuat-kuat bekas merah di tubuhnya. Tak hanya itu, ia juga menyetel pancuran dengan volume terbesarnya juga suhu terpanasnya. Saking kuat dan panasnya air pancuran yang digunakannya, membuat tubuhnya malah terlihat memerah semua. Mungkin tubuhnya akan melepuh tapi ia tak peduli.
Anna ingin menghapus semua hal tentang hari ini, semua trauma buruk malam ini. Meski itu tidak akan pernah mungkin karena nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Tapi setidaknya ia ingin mencobanya.
Setelah kulitnya mulai keriput karena terlalu lama berada di bawah pancuran. Anna lalu meraih handuk dan keluar dari sana berbalut handuk. Dilihatnya Thomas tengah tertidur pulas di atas ranjang yang acak-acakan. Setitik bekas merah di seprai membuat hatinya bagai teriris sembilu, sakit sekali.
Anna memunguti pakaiannya dan memakainya dalam diam. Kali ini tak ada isak tangis. Ia berusaha tegar, ia harus menerima takdir buruknya dengan kuat.
Anna sadar tak akan ada seorang pun yang membantunya. Catherine, sahabatnya tak akan membantunya karena Thomas adalah saudaranya. Seperti kata pepatah darah lebih kental bukan. Apalagi mereka adalah orang kaya, mudah bagi mereka menutup masalah ini, semudah membalikkan telapak tangan.
Ada rasa putus asa bergelayut di benak Anna tatkala ia mengingat tunangannya. Akankah ia akan tetap bersama Theo? Mengingat sekarang dirinya telah ternoda.
Mama Theo yang berkepribadian kuno sepertinya tak akan memungkinkan Anna untuk bersama putranya. Sedangkan Theo, Anna yakin Theo tak akan mengejarnya karena lebih memilih Mamanya. Theo juga tak akan memilihnya yang miskin demi kekayaan yang akan lepas dari genggamannya.
Anna memungut tas bututnya. Satu satunya miliknya yang berharga. Bahkan lebih berharga dari dirinya saat ini.
Pelan tapi pasti Anna keluar dari kamar dengan langkah gontai. Rambutnya yang basah membasahi sebagian bajunya.
Cuaca yang dingin tak menyurutkan Anna berjalan menyusuri jalanan yang sepi karena malam sudah larut.
Tak berapa lama gadis itu menaiki taksi. Anna ingin segera menghilang membawa luka hatinya seorang diri.
Namun, kalau boleh jujur ada satu hal yang dibutuhkan Anna saat ini. Ia butuh pelukan yang hangat dan dapat menenangkan hatinya.
Akankah seseorang memeluknya di saat ia terpuruk seperti ini? Begitu memikirkan tentang seseorang terbersit Theo dalam pikirannya.
Anna tak yakin apakah ia bisa jujur mengenai ini pada Theo.
Hari sudah larut. Seyogianya malam ini Anna harus menemui Theo dan mamanya. Pasti saat ini mereka marah padanya karena tidak menepati janji. Atau mungkin kah mereka telah mencarinya?
Anna menggelengkan kepalanya. Jika memang Theo meminta seseorang menjaganya, maka kejadian malam ini seharusnya tak akan pernah terjadi. Atau jika mereka menemukannya, apakah itu sudah sangat terlambat untuknya. Tapi salahkah ia jika ia berharap Theo akan menerima apa pun kondisinya.
Anna sangat ingin percaya pada Theo namun dalam hati kecilnya, ia tak yakin dengan kelanjutan hubungannya kini. Meski tak yakin, Anna tetap menelepon Theo.
Meski kejadian ini bukan kesalahan Anna, tapi Anna juga tak bisa membohongi Theo dan meminta Theo bertanggung jawab atas apa yang bukan perbuatannya. Ia akan memberitahu Theo tentang apa yang menimpanya dengan jujur. Ia tidak akan menutupinya. Biarlah Theo yang memutuskan. Masihkah ia layak bersamanya.
"Halo, Anna," Theo langsung mengangkat teleponnya.
Anna ingin menangis mendengar suaranya. Betapa Anna merindukan Theo, tak apa meski hanya suaranya.
"Kamu ke mana saja?” tanya Theo sebelum Anna sempat membalas sapaannya. “Mama dan aku menunggumu dari tadi. Kenapa kamu tak datang? tak tahukah kamu mama sangat marah dan kecewa. Ia berpikir kamu tidak serius mengenai ini."
"Aku minta maaf," jawab Anna terbata-bata.
__ADS_1
"Ya sudahlah. Aku sudah menenangkan mama tadi. Bagaimana kabarmu? Apa yang terjadi denganmu sehingga kamu menghilang begitu saja. Telepon juga di matikan."
"Theo, bisakah kamu menemui ku sekarang. Ada yang ingin kukatakan."
"Tapi Ana saat ini sudah larut malam. Kita bertemu besok saja bagaimana," tawar Theo. Jujur saja Theo masih sedikit jengkel karena Anna menghilang tiba-tiba. Ditambah saat ini Theo sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat.
"Malam ini bisakah," pinta Anna lagi.
“Tapi ini sudah tengah malam!”
“Ya, bisakah?” Anna sudah ingin menangis lagi.
"Suaramu terdengar aneh Anna. Apa terjadi sesuatu?" Theo akhirnya menyadari ada yang tak beres dengan Anna.
"Aku ... " Anna tak sanggup meneruskan kata-katanya lagi.
"Baiklah tenangkan dirimu. Jangan menangis. Esok pagi sekali aku akan menemuimu. Saat ini sudah malam tidurlah," ujar Theo akhirnya.
Theo telah mempertimbangkannya dengan teliti. Jika ia keluar malam ini keselamatannya bisa dalam bahaya. Sebagai penerus Maxwell Company, nyawanya sebanding dengan ribuan nyawa yang bergantung di bawah perusahaannya. Theo tak bisa gegabah dengan keputusannya.
Anna putus asa ketika Theo menolak bertemu. Bagi Anna saat ini Theo adalah satu-satunya harapan tapi harapan itu seolah menjauh dan tak bisa lagi diharapkannya.
Rasa kepercayaan diri Anna pun pupus sudah. Saat Theo menolak datang detik itu pulalah Anna sudah menyerah akan masa depan hubungannya. Ketika harga dirinya sudah tercabik-cabik, masihkah layak jika Anna mengemis belas kasih cinta. Anna menarik nafas panjang dan dalam. Keputusannya sudah bulat. Ia telah memutuskan untuk berpisah.
"Theo, dengarkan aku. Ada hal yang terjadi di luar kuasaku. Sebaiknya kita berpisah saja. Aku minta maaf," ucap Anna dengan suara bergetar.
Meski Anna memutuskan untuk berpisah tapi jauh di lubuk hatinya, ia sangat berharap Theo menolak perpisahan yang ia ajukan.
"Aku ada di jembatan, di samping taman kota."
"Apa yang kamu lakukan di sana tengah malam begini?” Theo terkejut mendengarnya. Semua terasa tidak benar. Apakah ini perangkap untuknya? Tapi apa pun itu, ia tak bisa membiarkan Anna di sana malam-malam begini.
Theo menghela nafas, ia menyerah, “Baiklah aku akan ke sana. Jangan ke mana-mana! Jangan melakukan apa pun. Aku akan datang menjemputmu," Theo sedikit takut Anna bertindak buruk semisal terjun dari atas jembatan atau hal-hal aneh yang lain.
Theo lantas mengganti pakaiannya dan bergegas keluar apartemen. Namun begitu Theo membuka pintu, mamanya sudah berdiri di depan pintu dengan mata marah seolah menahan emosi.
Ups! Theo lupa bahwa ia belum memperbaiki setelan keamanan apartemennya. Pasti mamanya marah karena membunyikan bel berkali-kali tanpa sepengetahuannya.
"Ada apa, Ma?" tanya Theo. Ia kaget Mamanya mendadak ada di depan pintunya malam-malam begini.
"Masuk!" Perintah mamanya tanpa menjawab pertanyaan Theo.
Theo yang hendak menyusul Anna kembali masuk ke apartemen dan duduk di sofa ruang tamu. Tangannya memainkan kunci mobil dengan tak sabar. Theo teringat Anna yang menunggunya di jembatan.
"Aku menolak gadis itu!" ucap Mama Theo tiba-tiba.
"Ha ... " Theo melongo. Theo tahu gadis itu yang dimaksud mamanya adalah Ana. Bukankah sangat konyol menjadikan kemarahan karena tidak hadirnya Anna malam ini sebagai alasan tidak menyetujui hubungan mereka.
"Ma, kita sudah pernah membahasnya. Aku mau Anna. Mama sudah setuju kenapa sekarang seperti ini?" tanya Theo tanpa bisa menyembunyikan kekecewaannya.
__ADS_1
"Aku menyetujuinya sebelum tahu ini." Mama Theo menyodorkan ponsel yang dipegangnya kepada Theo.
Theo menerimanya dengan enggan. Namun begitu melihat foto-foto yang ada Theo terhenyak di sofa empuk miliknya. Rasanya ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Hanya saja meski sudah di zoom sedemikian rupa sosok dalam rangkaian foto ini benar-benar Anna yang dikenalnya. Tanpa keraguan sedikit pun Theo bisa mengatakan bahwa sosok dalam rangkaian foto ini benar adalah tunangannya.
"Gadis itu pergi menginap di hotel dengan kakak dari temannya. Mengkhianatimu bahkan sesudah kalian bertunangan. Apa pun alasannya mama akan menolak gadis ini. Jangan sekali-kali kamu pergi menemuinya. Kamu harus memilih mama atau gadis yang mengkhianatimu," ujar Mama Theo ketus.
"Tapi ... " Theo hendak mengelak. Tapi begitu mengingat percakapannya barusan dengan Anna. Semua menjadi masuk akal.
Theo bergegas pergi ke kamar dan menelepon Anna untuk memastikan.
Anna langsung mengangkat teleponnya pada dering pertama. Sepertinya ia memang sangat menantikan kedatangan Theo.
"Anna ... " Theo terdiam tak mampu meneruskan ucapannya. Jujur saja hatinya sakit sekali. Bahkan dirinya dengan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menodai Anna. Tapi apa balasannya? Gadis itu malah tidur dengan pria lain. Dari awal Theo lah yang terlalu picik. Mana ada gadis perawan zaman sekarang? Yang ada hanya Theo telah tertipu oleh tampang lugu Anna.
“Theo, kamu di mana? sudah sampaikah?" tanya Anna. Suaranya terdengar kecil dan tak berdaya.
"Benarkah ini?" tanya Theo masih berusaha tenang. Meski Theo berusaha tenang tak urung juga suaranya bergetar menahan emosi.
Anna langsung tercekat. Secepat itukah Theo mengetahui apa yang terjadi padanya? Anna tak bisa berkata-kata lagi. Masih perlukah penjelasannya sekarang? Karena ia yakin apa pun yang akan ia ucapkan tak akan berpengaruh pada keputusan Theo nanti. Anna lantas menangis saat ia menyadari ketidakberdayaannya.
Theo sangat kecewa mendengar tangisan Anna. Karena dengan tangisan Anna, Theo tahu bahwa yang dilihatnya dalam foto benarlah apa yang dilakukan Anna malam ini.
"Aku menyesal. Aku tak bisa melanjutkan ini," ujar Theo akhirnya. Suara tangis Anna di seberang telepon terdengar memilukan. Theo sudah tak sanggup mendengarnya lagi, tangisan Anna seperti sebuah kebohongan bagi Theo.
"Aku tak tahu kamu akan mengkhianati ku. Aku minta maaf. Aku harap kamu tidak menghubungiku lagi. Semua tentang kita biarlah berakhir malam ini," ujar Theo mantap. Sebagai pebisnis, Theo lebih percaya apa yang dilihatnya daripada apa yang sekedar terucap lewat kata-kata.
"Tidakkah kamu ingin penjelasan dariku?" tanya Anna putus asa.
"Tak perlu! bukti foto-foto yang mama berikan lebih bisa dipercaya daripada sekedar penjelasanmu," ujar Theo marah. Kali ini kata-kata Theo menjadi semakin ketus.
Anna sadar tak ada lagi yang bisa di harapkan dari hubungan ini. "Aku mengerti," ujar Anna akhirnya.
"Cincin itu tak perlu dikembalikan. Ambil saja jika kau mau. Atau buang saja sekalian," ucap Theo. Kata-katanya menjadi semakin menyakitkan untuk didengar.
"Selamat tinggal! Semoga kamu bahagia," pamit Anna yang lantas menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Theo.
Anna menggenggam ponsel bututnya. Ia marah karena Theo bahkan menolak untuk sekedar mendengarkan penjelasannya. Ia juga sedih karena kali ini pasti kali terakhir ia berbicara dengan Theo.
“Aku ingin pergi jauh! Aku tak ingin berkaitan dengan orang-orang ini lagi. Aku ingin menjauh sejauh-sejauhnya. Sejauh yang aku bisa,” ujarnya sambil menangis.
Anna menyeka air matanya. Ia menggenggam erat ponsel lama papanya, satu-satunya alat penghubung antara dirinya dan mereka. Jika ia ingin menapaki masa depan, ia harus membuang masa lalunya.
"Maafkan aku Pa, aku harus membuang ini. Aku harus membuangnya agar aku bisa menatap ke depan," ujar Anna sambil menjatuhkan ponselnya dari atas jembatan.
Sebelum menyentuh permukaan air, ponsel itu sempat berdering sekali sebelum benar-benar rusak terendam air. Anna tak pernah tahu, juga sudah tak mau tahu. Ia sudah tak peduli lagi.
Bagi Anna malam ini kisahnya telah berakhir. Jika ia masih ingin berjalan maju maka ia harus meninggalkan semuanya di belakang.
Hari sudah menjelang pagi saat Anna melangkahkan kakinya ke arah kereta bawah tanah.
__ADS_1
"Selamat tinggal kisah cintaku," ujar Anna untuk terakhir kalinya.
🌷🌷🌷