Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
46


__ADS_3

🌷🌷🌷


Thomas mengetuk-ngetuk kakinya ke lantai dengan tak sabar, para tamu terdengar kasak-kusuk saling berbicara, terdengar seperti lebah yang begitu mengganggu suasana hatinya. Satu dua orang tamu menunjuk ke arahnya sambil berbisik-bisik membuatnya tak nyaman. Tapi apa boleh di kata ia telah menunggu terlalu lama di tengah jalan menanti kedatangan Pengantinnya. Jangankan orang lain dirinya pun merasa resah dengan penantian ini. Apakah keputusannya salah karena telah membiarkan Theo menjadi pria yang akan mengantar Ana? Theo berdalih sebagai saudara, tapi ia tahu dengan mereka tak punya ikatan saudara sungguhan, kenapa ia memperbolehkannya? Rutuknya menyalahkan diri sendiri. Apakah kali ini Ana akan meninggalkannya dan Angel? Apakah Theo juga akan meninggalkan Wendy dan calon buah hati mereka? Kenapa aku begitu toleran dan memberi kepercayaan pada Theo?


Thomas menaruh harapan besar pada Ana dan percaya padanya. Tapi semua kemungkinan bisa saja terjadi. Thomas menghela napas panjang, apakah ia telah melupakan kenyataan bahwa dulunya Theo dan Ana saling mencintai? Bagaimana kalau mereka kembali bersama? Bagaimana jika Theo meminta Ana kembali dan jika Ana menyetujuinya, maka Ana akan pergi meninggalkannya. Pemikiran-pemikiran liar ini membuatnya tak tenang.


Wajah tak tenang Thomas juga diamini oleh keluarganya. Bahkan si kecil Angel juga terlihat tak nyaman karena menunggu terlalu lama. Wajah cemas juga ditunjukkan oleh Wendy yang notabene istri sah Theo. Dengan terus memegangi perut buncitnya, Wendy terus-terusan menoleh ke arah pintu utama. Pasti banyak pikiran yang bergelayut di benak Wendy sama seperti pikirannya. Ia benar-benar tak sabar untuk menunggu lebih lama lagi. Kasak-kusuk para tamu juga ikut memperkeruh suasana hatinya yang galau. Akhirnya karena tak sabar menunggu Thomas pun menyuruh seorang pelayan untuk memanggil Ana supaya bergegas, tapi belum sempat ia berbicara pada pelayan, ia menyadari ruangan yang tadinya ramai menjadi hening secara tiba-tiba. Ia pun menoleh ke arah pintu utama.


Thomas melihat Ana dan Theo berjalan beriringan dengan lengan yang saling bergelayut berjalan pelan ke arahnya. Tak terperi rasa senang hatinya melihat Ana datang, ia sangat bahagia. Ana terlihat cantik dengan busana pengantinnya. Baginya Ana selalu cantik. Tapi saat Ana tengah mengenakan gaun pengantin dan menjadi calon Pengantinnya, kecantikan Ana bahkan menyilaukannya. Ia beralih memandang pria di samping Ana, hatinya meringis pedih melihat mata Theo yang memerah. Pasti mereka menghabiskan waktu yang cukup lama untuk sampai ke sini karena Theo. Ia berpura-pura tak melihat kesedihan yang membayang dimata Theo dan memasang wajah penuh senyuman sembari memandang lurus ke arah calon Istrinya yang juga tengah memandangnya dengan senyum manis tersungging di bibir cantiknya.

__ADS_1


Thomas berusaha mengenyahkan perasaan bersalah yang bergelayut dihatinya. kalau bukan karena dirinya yang egois, pasangan pengantin dalam pernikahan hari ini adalah Theo dan Ana. Keegoisannya telah mengubah takdir banyak orang. Ia tak bisa memutar masa lalu tapi ia berharap Theo bisa bahagia dengan jalan hidupnya, dengan keluarga kecilnya juga dengan masa depannya, begitu pun dirinya.


Tiba saatnya Theo dan Ana berhenti di depan Thomas. Dalam momen ini Theo harus menyerahkan padanya sebagai penganti laki-lakinya. Namun, Theo hanya berdiri di sana. Sepertinya Theo sedikit hilang fokus, Theo tak kunjung menyerahkan Ana padanya. Ia teringat mata Theo yang memerah, ia tak sampai hati mengambil paksa genggaman tangan Ana dari tangan Theo, jadi ia menunggu dengan sabar. Ia ingin Theo dengan kerelaan hati menyerahkan Ana padanya. Ia melihat mata Theo nanar menatap sekitar. Setelah sepersekian detik menunggu, akhirnya Theo menyerahkan Ana padanya. “Terima kasih,” ujarnya pada Theo. Ia lalu menempatkan tangan Ana pada lengannya dan berbalik membawa Ana ke pelaminan. Tanpa menoleh lagi ke belakang, Thomas membawa Ana bersamanya. Bukan karena ia tak ingin melihat respons Theo tapi ia takut hatinya goyah dan menyerah melihat kesedihan itu. Theo adalah bagian dari masa lalu dan ia adalah orang yang akan menjadi masa depan Istrinya. Ia harus membiasakan itu.


Pasangan pengantin baru itu berhenti berjalan saat tiba di pelaminan. Mereka berdua berdiri saling berhadapan di depan semua orang. Orang-orang terlihat menunggu ciuman pertama mereka sebagai pasangan suami istri. Tapi rupanya Thomas tak ingin berbagi adegan ciumannya di depan banyak orang.


“Aku tidak mau orang-orang melihat ketika aku menciummu,” bisik Thomas.


Saat bibir Ana menyentuh bibirnya, detik berikutnya Thomas segera mengambil alih ciuman itu. Ia begitu merindukan ciuman ini. Ia tak pernah tahu bahwa ciuman setelah menikah adalah ciuman paling indah. Ciuman ini adalah ciuman terindah yang pernah dirasakannya. Perasaan lega, perasaan tenang, perasaan nyaman, perasaan aman, perasaan dicintai, seolah semua kesulitan di masa depan yang membentang tak berarti lagi baginya karena saat ini ada Ana di sampingnya.

__ADS_1


Tepuk tangan mengiringi ciuman mereka. Thomas segera melepaskan ciumannya dan memandang Istrinya, matanya berkaca-kaca tak percaya bahwa saat ini Ana telah menjadi Istrinya.


Ana dengan lembut mengusap air mata yang menetes di pipi Suaminya. “Jangan menangis,” ujar Ana.


“Aku menangis bahagia,” ujar Thomas terbata-bata, “aku tak percaya bahwa saat ini kamu telah menjadi Istriku.”


“Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu percaya?” ini bukan pertanyaan. Ana sungguh berharap Suaminya mempercayai momen ini.


“Anna, Hug me...”

__ADS_1


🌷🌷🌷


__ADS_2