
🌷🌷🌷
Thomas ditemani seorang perawat berjumpa Putrinya untuk pertama kalinya sejak Putrinya dipindahkan kemari. Ia hanya melihat sekilas paras Putrinya saat di pulau. Tapi kali ini ia bisa melihatnya dengan jelas di balik kotak kaca.
Thomas sedikit tak tega melihat kondisi Putrinya, ditangannya terdapat selang dan di ujung jarinya ada semacam penjepit untuk mendeteksi jantungnya. Untunglah Bayinya tumbuh dengan kuat dan sehat, tidak mengalami kelainan ataupun kekurangan, bayinya hanya butuh sedikit tambahan bobot tubuh dan mengembangkan paru-parunya agar siap bernapas tanpa menggunakan alat bantu.
Bayi Perempuan itu sangat cantik dengan tubuh mungilnya, wajahnya kombinasi antara Ana dan Thomas. Rambut pirangnya yang lebat menurun dari Papanya, kulit dan posturnya yang panjang untuk ukuran bayi pasti juga pasti berasal dari Papanya. Tapi ia memiliki hidung, warna mata dan bentuk bibir persis dengan Mamanya, meski saat ini Thomas tak bisa melihat warna mata coklatnya karena bayi itu tengah tertidur lelap.
“Tetap kuat, Sayang untuk Mama dan Papa,” bisik Thomas sambil menempatkan jarinya di kaca, ia ingin menyapa Putrinya, tapi Putrinya hanya tertidur dengan lelapnya dan bernafas dengan pelan penuh kedamaian.
“Kamu secantik Mamamu, bagaimana aku memanggilmu? Kita tunggu Mamamu ya, ia pasti telah menyiapkan nama yang indah untukmu.” Nama yang ditulis di boks adalah nama belakang keluarga Ana. Dan nama belakang Ana, Marie Hayden, dari nama Annamarie Hayden.
“Apakah dia menangis saat malam, Suster?” tanyanya pada perawat di sampingnya.
__ADS_1
“Sama sekali tidak, bayi ini sangat penurut, ia sangat kuat dan tidak rewel,” Jawab Suster itu. Suster yang terlihat masih muda itu terlihat sedikit terganggu dengan paras tampan Thomas. Bahkan meski dengan jubah steril khusus, visual Thomas tetap tak tertahankan. Thomas malahan terlihat menawan seumpama model yang sedang Suting iklan kesehatan.
“Tolong jaga dia dengan baik, Suster,” pinta Thomas. “Aku harus kembali kepada Mamanya, aku ingin berada di sana ketika ia siuman.”
Suster itu hanya bisa mengangguk dengan permintaan Thomas. Sungguh malang nasib pria tampan ini, pikirnya.
Thomas berlalu pergi meninggalkan buah hatinya, tapi sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi pada Putrinya. Ia berharap Putrinya tetap kaut, sekuat Mamanya.
🌷🌷🌷
Theo sangat takjub. Ternyata saat ini ia adalah calon Ayah. Ia memandang istrinya dengan tatapan berbinar bahagia, ia merasa bersalah pada istrinya karena baru saja ia telah larut pada nostalgia masa lalu padahal ditangannya sendiri sudah ada tanggung jawab yang harus dipukulnya sebagai kepala keluarga.
“Terima kasih, Istriku,” ucapnya tulus pada Wendy yang masih berbaring di ranjang periksa.
__ADS_1
Wendy balik tersenyum manis dengan menggenggam tangan suaminya, akhirnya ia bisa mengambil hati suaminya dengan kehamilan ini. Bayi ini mungkin dikirim Tuhan untuk melengkapi kebahagiaan keduanya dan mengikat keduanya lebih erat lagi sebagai keluarga kecil yang utuh. Bayi ini juga sebagai penerus yang dibanggakan bagi kedua perusahaan besar yang menjadi milik keluarga mereka.
Usai keluar dari praktik dokter keduanya berjalan dengan bahagia selayaknya orang habis mendapat lotre besar. Theo bahkan sudah mulai protektif dan menjaga Wendy. Ia membawakan tas Wendy dan memintanya untuk berganti sepatu flat agar tidak membahayakannya dan membuatnya tetap aman dan nyaman.
Tapi waktu seolah berhenti sejenak saat Theo merasa mengenal seseorang yang baru saja berjalan melewatinya dari arah lorong. Theo berinisiatif memanggilnya Tapi seseorang itu terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak melihat Theo meski mereka berjalan ke arah yang sama.
“Thomas...” panggil Theo, sedangkan yang dipanggil seolah tak mendengar panggilannya. Ia melihat sekilas plakat yang terpasang di ujung gang, kamar bayi. Ia terkejut. Untuk apa Thomas ke kamar bayi, mungkinkah? “Thomas...!” panggil Theo sembari memegang pundak Thomas.
Thomas terlihat terkejut ketika melihat Theo menyapanya bersama istrinya di rumah sakit. Ia sedang terlarut dalam pikirannya sendiri tentang apa yang harus dilakukan ke depannya sehingga ia sama sekali tak awas dengan sekitar. Ia tengah memikirkan kesembuhan Ana, Ana membutuhkan donor ginjal atau selamanya ia akan bergantung hidup dengan cuci darah. Sementara ginjalnya dan keluarganya tak ada yang cocok.
Thomas memandang Theo yang tengah memandangnya dengan tatapan anehnya. Sudah tahukah ia dengan apa yang terjadi dengan Ana? Batinnya. Thomas menghela nafas. Haruskah ia meminta Theo untuk membantunya, sudikah?
🌷🌷🌷
__ADS_1
Jempol dulu