
🌻🌻🌻
Sinar lampu mobil menyinari pagar berwarna hitam di depan sebuah rumah mewah yang tampak sunyi. Hari menjelang tengah malam mungkin menjadi penyebab utamanya. Dengan raut wajah kantuk yang kentara petugas keamanan rumah tersebut melongok dengan penasaran siapa gerangan yang bertamu tengah malam seperti ini. Tak lama kemudian rasa penasarannya pun terjawab saat ia melihat seorang gadis berambut pirang keemasan tampak turun dari mobil. Gadis itu adalah Angelina Dunyan, nona muda pemilik rumah yang dijaganya.
Dengan tergopoh-gopoh pria itu keluar dari pos jaganya dan membukakan gerbang.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang," pamit Angel pada Ryan.
"Sama-sama," balas Ryan. "Kalau kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa menghubungiku kapan saja."
Angel mengangguk, "Aku juga minta maaf tidak mempersilakan mampir, hari sudah larut."
"Tak apa, aku mengerti. Masuklah."
Angel membungkukkan badannya berterima kasih lalu masuk lewat pintu yang dibuka untuknya.
"Thanks, Pak Dwen. Maaf sudah membangunkan Anda," sapa Angel sekaligus meminta maaf.
"Sudah kewajiban saja, Nona," balas Pak Dwen dengan ramah. Pak Dwen berusia 50-an dan masih setia menjaga rumah Angel sejak Angel masih sangat kecil.
Pak Dwen tersenyum ramah pada Angel sampai kulitnya yang mulai keriput berkumpul di sekitar pipinya, matanya ramah meneduhkan menatap Angel tanpa ada tendensi menggurui atau menghakimi kendati jam kepulangan nona mudanya sangat larut.
Angel balas tersenyum lalu berlalu ke arah rumah.
Saat Pak Dwen mendapatkan balasan atas senyumannya ia lantas mengunci pintu pagar dan kembali ke pos jaganya.
Angel berdiri di depan rumahnya dengan kebingungan karena ia tak membawa kunci. Haruskah ia lewat pintu belakang atau membangunkan semua orang dengan membunyikan pintu bel, batinnya. Belum selesai kebingungannya, pintu mendadak terbuka.
Angel harap-harap cemas, siapa yang membuka pintu untuknya? Akankah ia dimarahi karena pulang tengah malam? Tapi begitu ia melihat seseorang di balik pintu yang terbuka, ia segera menghamburkan diri memeluknya.
Anna yang mengetahui kepulangan Angel dari jendela kamarnya di lantai atas segera turun ke bawah untuk menyambut putrinya. Ia sedikit penasaran kenapa putrinya pulang selarut ini. Apakah sesuatu yang buruk menimpa temannya yang terlibat kecelakaan tadi siang. Tapi ia tak menyangka putrinya akan pulang ke rumah bukannya ke asrama. Begitu Angel berlari ke arahnya untuk memeluknya, Anna dengan sayang balik memeluk putrinya.
Angel sudah besar sekarang. Putrinya sudah jauh lebih tinggi darinya. Ia masih ingat jelas rasanya membantunya berjalan. Bagaimana ketakutannya saat itu saat membayangkan kelak putrinya akan berjalan pergi darinya. Tapi saat melihat putrinya kembali pulang saat ada sesuatu, Anna merasa ia adalah ibu yang terberkati.
Angel memeluk mamanya dengan erat. Ia rindu wangi mamanya. Ia rindu memeluknya. Ia rindu menceritakan semua hal pada mamanya seperti waktu kecil. Ia sadar, semakin ia dewasa, semakin ia melupakan peran orang tuanya. Ia sedikit bersimpati pada pemikiran Ryan yang ingin menghabiskan masa depannya mendampingi papanya yang sudah sepuh. Bisakah ia melakukan yang seperti itu sementara ia menjadi lebih jarang menghubungi mamanya saat ia berada di asrama.
"Masuklah, mama akan membuatkanmu cokelat panas."
Angel mengangguk dan melepas pelukannya.
"Aku akan ke kamarku," ujar Angel.
Mungkin kebanyakan orang memilih kamar di lantai atas karena bisa melihat banyak hal dari balik jendela, tapi berbeda dengan Angel. Gadis itu lebih suka kamar di lantai bawah, yang di bawah jendela kamarnya terdapat bunga mawar yang tumbuh rimbun. Ia menyukai saat bunga-bunga itu bermekaran dan wanginya memenuhi seluruh kamarnya.
Angel langsung membuka tirai berikut jendela kamarnya begitu ia tiba di dalam kamar. Sinar lampu taman memberi bias temaram ke dalam kamarnya.
Angel meletakkan tas kecilnya di atas meja lalu duduk di tepi ranjang sembari melihat pemandangan taman yang senantiasa dirawat dengan penuh cinta oleh mamanya.
"Kenapa kamu tidak menyalakan lampu?" tanya Anna ketika ia masuk ke dalam kamar sembari membawakan segelas cokelat panas.
"Aku sedang ingin seperti ini," jawab Angel.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Anna sembari menutup pintu kamar. Ia meletakkan gelas tersebut di atas nakas dan memeluk putrinya.
"Apa terjadi sesuatu, Sayang? Bagaimana kabarmu?"
Alih-alih menjawab pertanyaan, Angel malah menangis sesenggukan.
"Apa sesuatu terjadi pada temanmu?" tanya Anna menduga-duga.
Angel menggeleng.
"Hari ini aku telah melakukan kesalahan," ucap Angel di sela isak tangisnya.
Anna menunggu Angel menceritakan permasalahannya tapi setelah beberapa lama ia tak mendengar apa-apa.
"Minumlah cokelatnya dan kamu akan merasa lebih baik."
Angel menurut.
"Mama siap mendengarkan kapan pun jika kamu ingin bercerita."
"Ma, bisakah tidur bersamaku malam ini?" tanya Angel tiba-tiba.
"Hm, tentu saja. Tapi biarkan aku memberi tahu papamu sebelum ia kelimpungan mencariku."
"Hm, tentu saja. Hanya saja papa mungkin tidak akan bisa tidur tanpa mama. Kalian selalu sangat mesra," ujar Angel setengah menggoda mamanya.
"Tunggu saja! Kamu juga akan begitu jika bersama orang yang kamu cintai," balas Anna. Putrinya sudah besar sampai bisa mengomentari hubungan orang tuanya. Hanya saja rasanya aneh digoda anak sendiri.
🌻🌻🌻
Tubuh Dima rasanya terbakar amarah saat mendengar pengakuan Angel. Gadis itu mengucapkannya dengan mulutnya sendiri dan Dima melihatnya dengan jelas. Ia tak ingin mendengar lagi. Ia begitu marah.
"Brengsek!" umpat Dima seraya melempar ponsel yang dipegangnya.
Ponsel itu menabrak tembok dan memantul ke arah vas bunga yang berada tak jauh dari sana. Vas itu langsung oleng saat mendapat dorongan dan melayang jatuh ke lantai yang keras. Suaranya nyaring menggema seiring vas yang hancur berkeping-keping. Semua bunga yang berada di dalamnya berhamburan dan air mengalir membasahi lantai.
Sepasang kekasih yang kebetulan lewat di sana ikut terpenjarat kaget. Sang wanita yang semula hanya terdiam karena kaget langsung menjerit saat salah satu pecahan vas melesat ke arahnya dan melukai kakinya hingga berdarah.
Dima sejenak terpaku menyadari kelakuannya tapi sebelum ia dapat meresponsnya pacar wanita tersebut telah melayangkan tinjunya ke arah Dima.
Dima yang tidak siap karena terkejut langsung tersungkur. Tapi saat Dima terkapar di lantai, pria itu tetap tak berhenti malahan menarik krah baju Dima supaya Dima kembali berdiri. Tiba-tiba Dima merasa pasrah jika ia harus berakhir dipukuli. Apa bedanya jika badannya sakit, baginya hatinya lebih sakit lagi. Ia ingin mengubur semua kenangan buruknya hari ini. Baginya hidupnya berakhir hari ini.
Pria itu kembali melayangkan tinjunya. Namun, saat pria tersebut ingin melayangkan tinjunya kembali, ia menahannya. Emosinya hilang saat melihat pria muda di hadapannya tampak tak berdaya dengan mata merah yang membengkak dan ekspresi sedih. Rasanya ia menjadi bersimpati tapi kaki indah pacarnya akan membekas karena luka itu.
"Ganti rugi pengobatan untuknya!" ujarnya tegas pada Dima.
Dima mengangguk menyetujui dan dengan sedikit kesulitan ia berusaha mengeluarkan dompet dari saku celananya.
Namun belum selesai urusan kompensasi antara Dima dan pria itu, Tonny datang dan langsung mencengkeram bagian belakang kaos yang dikenakan pria itu.
Petugas keamanan club berhamburan datang bersamaan dengan Tonny tapi Tonny memberi isyarat dengan pasti bahwa ia akan mengurus urusannya sendiri jadi para petugas keamanan itu hanya memantau di tepi sambil menunggu perkembangannya. Mereka sadar ada orang-orang tertentu yang bahkan sulit tersentuh hukum jadi mereka tidak mau sembarangan bertindak kalau tidak mau celaka.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" tanya Tonny dengan suara menggeram. Tangannya mencengkeram kaos itu dengan cukup kuat. Pria pembuat masalah ini setinggi dirinya. Meski tak sebesar dirinya, ia akan sedikit kerepotan kalau pria itu memberontak
Pria itu terkejut dengan ancaman yang datang tiba-tiba. Serta merta ia melepas pegangannya pada Dima. Ia hendak menoleh ke arah orang yang mencengkeramnya tapi cengkeraman itu terlalu kuat untuknya sehingga ia tak bisa menoleh ke belakang.
"Bocah ini melukai pacarku dan aku memberinya pelajaran," jawab pria itu.
Tonny melirik ke arah wanita yang berdiri tak jauh darinya. Ada luka kecil di kaki kiri wanita itu. Tonny segera mengamati kondisi sekitar untuk melihat situasinya. Pecahan vas bertebaran dan ponsel Dima tergenang oleh air tumpahan isi vas.
"Dim!" panggil Tonny. Ia ingin melihat wajah Dima dan memastikan apa sepupunya terluka.
Dima menengadah. Terlihat sudut bibirnya yang sobek dan pipinya yang memar.
"Aku melempar ponselku dan mengenai vas hingga terjatuh. Pecahan vasnya melukai wanita itu. Benar, aku yang melakukannya. Aku minta maaf," ujar Dima menjelaskan. Ia juga minta maaf pada sepupunya karena membuatnya terlibat masalah.
Tonny melepaskan cengkeramannya begitu mendengar penjelasan Dima.
Pria itu segera menjauh dari Tonny begitu cengkeraman pada punggungnya terlepas. Ia sedikit takut pada pria itu jadi ia mendekat ke arah pacarnya.
"Aku minta maaf atas nama sepupuku. Mengenai kejadian yang menimpa kekasihmu, aku akan bertanggung jawab penuh dengan pengobatan terbaik hingga luka itu tak berbekas," ujar Tonny. Nada suaranya berubah ramah.
"Baguslah, jadi aku tak perlu khawatir," balas pria itu lega.
"Will, siapkan ganti rugi dan pengobatan terbaik untuk nona itu," perintah Tonny pada William. William adalah seorang pengacara dan ia orang yang sangat bisa diandalkan karena pekerjaannya yang rapi. William juga pengacara di kantor Tonny, dan ia adalah orang yang berkomitmen tak mengambil pekerjaan di luar urusan kantor karena itu melelahkan. Tapi terkadang ia melakukannya sesekali, tentu saja dengan bayaran yang sepadan. Baiknya lagi William lebih sering mematok harga teman untuk Tonny.
"Ya, baik-baik. Jangan lupa membayarku," ujar William sembari mendatangi wanita itu dan membuat kesepakatan.
Sementara William sibuk dengan wanita itu, Tonny mengecek keadaan Dima.
"Kau baik-baik saja. Wajahmu terluka?"
"Uhm, ya. Sedikit. Itu memang salahku," balas Dima pasrah.
"William, apa kau sudah selesai?" tanya Tonny dengan ekspresi kaku. Nadanya pun menjadi lebih tinggi jauh berbeda dari tadi.
"Ya!" balas William. Ia ingin tahu apa yang direncanakan temannya. Ia akan sangat heran jika Tonny berhenti hanya dengan ganti rugi sementara sepupunya babak belur.
"Ajukan tuntutan pada pria itu atas dugaan penganiayaan!" seru Tonny.
"Eh!"
Semua orang tiba-tiba terkejut akan keputusan Tonny. Rata-rata mereka mengira kejadian ini akan berlalu setelah wanita itu mendapatkan kompensasi.
"Baik ... " balas William. Nada suaranya yang riang terdengar seperti horor bagi pria itu.
"Tidak bisa begitu," ujar pria itu. "Aku melukainya karena ia lebih dulu melukai pacarku. Aku hanya memberinya pelajaran, tidak lebih!” lanjutnya membela diri. Namun upayanya malah membuat Tonny semakin marah.
Tonny menaikkan satu alisnya menahan emosi, "Tuntut ia dengan pasal terberat di kelasnya. Aku akan memberimu bonus jika kamu bisa melakukannya," ujar Tonny sembari mengajak Dima pergi.
"Aku minta maaf!" ujar pria itu memelas dan hendak mengikuti Tonny tapi William segera menghalanginya.
"Kita akan segera bertemu lagi," ujar William sembari memberinya kartu identitas dan berlalu mengikuti Tonny.
__ADS_1
🌻🌻🌻