
🌷🌷🌷
Thomas tak ingat lagi apa yang terjadi belakangan ini, yang jelas sejak Ana dipindahkan ke rumahsakit besar yang ada di kota, tak sekali pun ia meninggalkan Ana. Bahkan untuk menjenguk Putrinya sekalipun. Ia hanya bisa duduk di samping Ana, menungguinya bangun.
Edward, Lily dan Evan tidak bisa mengikuti mereka ke kota, jadi yang mengurusnya dan Putrinya sekarang adalah keluarganya. Apalagi sekarang Putrinya masih berada di inkubator. Harus membutuhkan perhatian ekstra.
Ny. Bella memandang Putranya dengan iba, begitu besar cinta Putranya pada Ana sampai Thomas solah tak bisa hidup tanpa Ana. Wajahnya lesu dan tak terawat karena kurang istirahat. Thomas menjaga Ana yang tengah koma tanpa putus asa.
“Datanglah menengok Putrimu. Biar Mama yang menjaga Ana,” ujar Ny. Bella. “Ana pasti mengharapkan kamu menengok Putrinya. kamu bisa menceritakan pada Ana bagaimana keadaan Putrinya, siapa tahu itu akan membuatnya lebih cepat sadar,” bujuk Ny. Bella.
Thomas memandang Mamanya, “benarkah?” tanyanya.
“Ya, tentu saja. Ketika kamu melihat Putrimu untuk pertama kalinya, kamu akan tahu betapa cantiknya dia.”
“Baiklah,” kata Thomas akhirnya. “Jaga Ana untukku.”
__ADS_1
“Pakai sopir Mama, biar kamu bisa istirahat di mobil. Mandilah yang bersih dan berpakaianlah yang bagus. Kamu harus terlihat tampan untuk Putrimu.”
“Baik, Ma. Aku mencintaimu, Terima kasih telah ada untukku.”
Thomas menyadari bahwa ia memang tak bisa istirahat meski hanya sejenak. Tidak, jika Ana belum siuman. Tapi saat ini ia telah diingatkan bahwa sekarang ia telah menjadi seorang Ayah. Ia punya putri yang juga membutuhkannya, meskipun ia bersikeras bersama Ana, tapi putrinya juga membutuhkannya. Mungkin ini seperti yang dikatakan oleh Chaty, ia bisa mengacaukan kesempatan kedua yang diberikan Tuhan padanya dengan tidak menghargai Putrinya. Ia sangat berterima kasih atas nasehat Mamanya sehingga ia tidak terjerumus pada kesalahan yang hampir saja akan dilakukannya.
🌷🌷🌷
Suasana senja yang indah terlihat sangat meneduhkan bagi siapa pun yang melihatnya, tak terkecuali Theo. Ia memandang keindahan itu lewat jendela kantornya yang berada di ketinggian. Meskipun Amber, asistennya, sudah minta izin beberapa waktu yang lalu untuk pulang, tapi ia sendiri masih belum ingin pulang, ia masih ingin di kantor sampai sedikit lebih malam lagi. Bukan karena ia sedang bertengkar dengan istrinya, tapi ia sedang memikirkan Ana. Gadis itu tak mengindahkan teleponnya beberapa hari ini meski ia meneleponnya setiap hari. Dan hari ini telepon itu telah mati dan tak tersambung lagi, ketakutannya kehilangan Ana terasa sama seperti malam itu. Ia ingin sekali segera terbang ke pulau untuk mengetahui keadaan gadis itu. Tapi tentu saja itu hanya keinginannya yang tidak akan bisa dipenuhinya saat ini. Apalagi setelah ia mendengar kabar kehamilan istrinya, ia tak bisa meninggalkan istrinya begitu saja. Ia telah berjanji mengecek kehamilan ini di rumah sakit.
“Ana, bagaimana kabarmu?” gumamnya. “Apakah kamu juga melihat keindahan sore ini?”
“Ana adalah Adikku, Ana adalah saudaraku,” gumamnya berulang-ulang. ia berharap dengan mengulang-ulang mantra itu, ia mengubah kenyataan bahwa ia tidak sedang menyukai Ana sebagai kekasih. Ia ingin mengubahnya menjadi rasa sayang sesama keluarga. Namun ternyata tak semudah yang di ucapkan.
“Lala.... Lala...” suara dering telepon membuyarkan lamunannya tentang masa lalunya dengan Ana. Ia berjalan ke arah meja tempat ponselnya berada ternyata istrinya menelepon.
__ADS_1
“Halo...” kata Theo begitu ia mengangkat teleponnya.
“Kamu ingat untuk mengantarku memeriksakan kehamilan ini, kan?” tanya Wendy. Sejak mendengar kabar tentang kehamilannya, rasa-rasanya respons suaminya tak seperti bayangannya tentang bagaimana seharusnya seorang suami merespons kehamilan istrinya seperti yang biasa ia lihat di sinetron. Atau kah jangan-jangan suaminya masih belum siap dengan kehamilannya ini dan masih belum berpikir untuk punya anak? Tapi tante sudah sangat menginginkan cucu. Bagaimana bisa ia mengacuhkan keinginan orang tua juga mertuanya dan juga keinginannya. Mungkin hanya perasaanku saja, batin Wendy. Bisa saja suaminya menyuruhnya untuk tidak terlalu bahagia sebelum dokter menyatakan kehamilannya melalui pemeriksaan USG.
“Aku tidak melupakannya, memang ada yang harus aku urus terlebih dahulu sebelum libur akhir pekan,” jawab Theo.
“Apa aku harus menjemputmu di kantor?” tanya Wendy.
“Tidak perlu, kita berjumpa di rumahsakit. Minta antar sopir dan pulang nanti bersamaku,” jawab Theo. Ia harus memutar arah dan berbalik jika harus menjemput istrinya. Lebih efektif jika mereka bertemu di rumahsakit saja.
“Baiklah, sampai bertemu nanti, Sayang.”
“Iya, sampai nanti juga, Sayang,” jawab Theo dengan kaku. Meski sudah menikah beberapa bulan tapi ia masih belum terbiasa untuk memanggil sayang pada wanita selain Ana.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Crazy up?
JEMPOL