
🌻🌻🌻
Ryan sengaja datang lebih awal dari waktu perjanjiannya dengan Angel. Ia sedikit antusias bisa bertemu gadis itu di luar jam kuliah. Jujur sangat susah baginya untuk bisa dekat dengan Angel. Di samping karena ia termasuk orang yang pemalu, pasti selalu ada Dima yang selalu berada di samping Angel. Siapa yang tak kenal Dima? Bocah yang 5 tahun lebih muda darinya itu adalah pemilik Maxwell University, pemilik kampusnya. Dima sangat tampan dan lebih segala-galanya dari Ryan. Siapa yang berani mendekati Angel jika lawanmu bukan orang yang bisa kamu kalahkan?
Ryan bersyukur semester ini Dima tidak berada di sekitar Angel. Pun tak berada di sekitar kampus lagi. Rumornya mereka telah berpisah. Dan rumor itu memungkinkan Ryan untuk mendekati Angel. Paling tidak ia yang awalnya tidak mungkin bisa dekat dengan Angel sekarang bisa berkenalan dan sebentar lagi mereka akan ngobrol berdua. Ia sudah tak sabar.
Namun saat tak sengaja melihat ke jendela cafe yang lebar, ia melihat Angel datang dengan seorang teman. Meski sedikit kecewa karena tidak bisa berduaan, Ryan tidak akan menunjukkannya. Ia memilih berpura-pura sibuk dengan ponselnya seolah tidak mengetahui bahwa Angel dan temannya telah datang.
“Maaf kami terlambat,” ujar Angel saat ia telah tiba di meja Ryan.
Ryan pura-pura terkejut dan mendongak. Ia langsung mengulas senyum begitu melihat Angel tiba. Gadis itu luar biasa cantik dari dekat. Dan rambutnya ... Uh, manisnya, batin Ryan. Ingin sekali ia mengabadikan penampilan Angel saat ini tapi tentu saja ia tak mungkin melakukannya karena itu sangat tidak sopan.
“Tak apa. Aku juga baru tiba,” jawab Ryan. Ia bergegas mempersilakan kedua tamunya duduk dan mulai memesan minum.
Angel dan Sissy saling berpandangan sebelum duduk. Keduanya sepakat dalam diam bahwa Senior Ryan luar biasa tampan di luar kampus. Atau Senior Ryan memang sengaja mengubah penampilannya untuk pertemuan kali ini? Siapa yang tahu.
“Mau minum apa? Cola? Kopi? Smoothies?” tawar Ryan.
“Minum Senior, boleh? Habisnya senior hot sekali ... “ ujar Sissy cepat.
Angel langsung menyenggol temannya yang bermulut lebar itu. “Hentikan!” desisnya.
Anehnya Ryan malah tertawa, “terima kasih, kalian berdua juga sangat cantik,” balas Ryan sambil tersenyum. Tetapi matanya memandang lekat hanya pada Angel. Matanya menyiratkan senyum kagum pada kecantikan gadis incarannya itu. Apakah Angel sengaja berdandan untuknya? Batin Ryan, ia sudah sangat senang hanya dengan memikirkan kemungkinan itu.
“Senior mengatakan cantik tapi Senior hanya memandangi Angel. Aku sedikit sedih,” ujar Sissy sembari memasang wajah pura-pura sakit hati.
Ryan langsung salah tingkah karena terpergok memandangi Angel cukup lama. Wajahnya langsung bersemu merah, semerah kaos yang dikenakannya.
“Baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian ... “ ujar Sissy sembari bangun dari kursinya.
“Hei, kau mau ke mana?” tanya Angel pada Sissy yang telah bangun dari kursinya. Apa-apaan Sissy ini. Mau meninggalkannya sendirian? Jangan harap ia akan memaafkannya.
“Aku mau ke toilet sebentar,” balas Sissy.
“Oh, baiklah. Kau mau pesan apa?” tanya Angel sebelum Sissy benar-benar pergi.
“Cokelat saja.”
“Siap,” balas Angel. Ia yang ditinggal berdua dengan Ryan sedikit gugup. Jujur saja ini pengalaman pertamanya berdua dengan pria lain selain Dima.
“Kau mau minum apa, Angel?” tanya Ryan.
“Cokelat sama seperti Sissy.”
__ADS_1
“Hm, baiklah. Aku juga suka cokelat. Aku akan memesan 3 cokelat.”
Ryan melambai kepada seorang pelayan di dekat mereka untuk memesan minuman dan makanan ringan. Selesai dengan pesanannya, ia kembali fokus pada gadis di depannya. “Jadi apa yang bisa kubantu?”
“Bantu aku membeli bukunya,” jawab Angel.
“Buku yang kemarin?” tanya Ryan lagi.
“Iya, aku kesulitan mendapatkannya karena di sana tertulis persyaratan untuk membelinya seperti harus dengan izin dokter terkait atau organisasi yang berwenang. Dengan tingkatanku yang masih rendah aku tidak akan mendapatkan izin maupun koneksi untuk izin itu. Jadi aku berpikir jika aku tidak bisa mungkin Senior Ryan bisa.”
“Apa kau mau makan malam denganku jika aku mendapatkan bukunya,” tawar Ryan dengan sedikit berharap. Sejujurnya ia ingin membantu dengan tulus, tapi ia juga tak mungkin melewatkan kesempatan ini. Makan malam dengan Angel? Dalam tidur pun ia tak berani memimpikannya.
Sejenak Angel tak mampu berkata-kata.
“Maafkan aku ...” ujar Ryan serba salah saat melihat Angel yang terdiam. “Aku sedikit lancang,” lanjutnya. Ia takut Angel menjadi tidak nyaman karenanya.
Angel menyentuh garis rambutnya sembari berpikir sejenak.
Kali ini giliran Ryan yang terpaku. Saat ia melihat Angel menyentuh rambutnya, ia seakan melihat dewi. Angel sangat cantik. Pantas saja gadis ini dijuluki primadona fakultas mereka. Primadona yang hanya bisa kau pandangi karena jika kamu ingin mendekatinya, siap-siap berhadapan dengan Dima. Konsekuensi berhadapan dengan Dima yang adalah pemilik kampus mereka adalah, kamu bisa saja dikeluarkan secara sepihak tanpa kamu sadari.
Angel memandang Ryan sekali lagi sebelum menjawabnya, “Aku akan mentraktir Senior sebagai ucapan terima kasih,” ujar Angel akhirnya.
Tapi Ryan yang telah terhipnotis oleh kecantikan Angel, bukannya menjawab malah berujar tentang kecantikan gadis di depannya, “Kamu sangat cantik,” ucap Ryan tanpa sadar.
“Thanks,” jawab Angel. Jantungnya tiba-tiba berdebar dan wajahnya telah bersemu merah karena malu.
“Ah ... “ Ryan juga terlihat malu setelah sadar dengan apa yang tak sengaja diucapkannya barusan.
Angel hanya bisa menggigit bibirnya tak tahu harus berkata apa, pengalaman ini terasa baru baginya. Anehnya, meski ia baru pertama kali mengalaminya, jantungnya terasa berdebar-berdebar. Mungkinkah jantungnya bermasalah?
“Aku minta maaf, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mengagumimu. Mungkin aku terdengar seperti pria perayu tapi jujur saja, biasanya aku orangnya pemalu,” ujar Ryan sambil sesekali mencuri pandang.
Angel hanya bisa mengangguk tanpa menjawab, ia bingung harus merespons apa. Pria yang dekat dengannya tidak pernah seperti ini. Dima tidak pernah memujinya seperti ini. Dima mungkin pernah memujinya tapi ia tak pernah merasa berdebar-debar seperti saat ini.
Angel memberanikan diri mencuri pandang ke arah Ryan.
Seperti kata Sissy sebelumnya, Ryan yang saat ini memakai T-shirt merah terlihat hot, bahkan di mata Angel yang terbiasa melihat wajah tampan Dima.
Rambut cokelat Ryan yang terbiasa rapi tampak sedikit berantakan dan itu membuatnya terlihat panas. Tubuh kekar yang biasa tersembunyi dibalik kemeja longgar sekarang tampak menonjol seksi tak tertahankan.
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Sissy yang tahu-tahu sudah kembali.
“Kami membahas tentang buku,” jawab Angel cepat. Ia tak ingin Sissy curiga padanya.
__ADS_1
“Buku?”
“Ya, Angel memintaku membantunya mendapatkan buku baru,” timpal Ryan.
Obrolan mereka terhenti oleh pelayan yang mengantarkan pesanan mereka. Bertiga dengan Sissy, obrolan mereka berlanjut tanpa kendala sampai tak terasa hari telah beranjak malam. Gelas cokelat di meja mereka telah kosong.
Kendati belum ingin berpisah, Ryan merasa harus berpamitan karena ia sudah ada janji dengan temannya.
“Terima kasih sudah mentraktir kami,” ujar Angel sopan setelah Ryan memaksa membayar minuman mereka.
Sissy ikut mengangguk berterima kasih.
“Jika kamu merasa berterima kasih, bagaimana jika berfoto denganku sebagai ucapan terima kasih? Ngomong-ngomong, aku penggemarmu.”
“Berdua?” tanya Angel sedikit keberatan. Ia datang berdua dengan temannya, bagaimana bisa temannya hanya sebagai pelengkap di sini. Sepertinya ini tidak benar.
“Hm, kita bisa melakukan wefie,” balas Ryan cepat. Bagaimanapun juga ia harus mendapatkan foto Angel. Meski tidak bisa berdua, bertiga pun tak masalah.
Sissy hanya tertawa ketika melihat Ryan yang gugup. Sepertinya ia benar-benar hanya sebagai obat nyamuk di sini.
Ryan segera berdiri di samping Angel dan mengeluarkan ponselnya.
Namun, saat Sissy melihat Ryan dan Angel yang berdiri bersebelahan, mau tak mau ia dibuat takjub oleh visual keduanya. Betapa keduanya sangat serasi bersebelahan.
“Serius, kalian berdua sangat serasi bersebelahan. Biar kufoto dulu sebelum kita wifie,” ujar Sissy sembari mengeluarkan ponselnya. Tapi sepertinya Ryan lebih cepat. Ia telah mengulurkan ponselnya pertanda sangat ingin berfoto berdua.
Sissy menerima ponsel Ryan sembari tertawa. Sepertinya, seniornya benar-benar jatuh hati pada temannya.
Mereka menghabiskan beberapa menit berfoto dengan berbagai gaya di backdrop yang disediakan di Cafe Lilac. Mereka saling bergantian berfoto, Ryan berdua dengan Angel, Ryan bersama Sissy, dan Sissy bersama Angel. Terakhir mereka melakukan wefie dengan gembira.
Ryan menunggu sejenak di depan kafe sampai Angel dan temannya menghilang dari tikungan. Dan tanpa menunggu lama ia langsung mendapatkan tepukan hangat di pundaknya dari beberapa temannya yang telah melihatnya sedari tadi.
“Aku penasaran itu kamu atau bukan, dan ternyata teman kita sudah mendapatkan gebetan,” gurau Liam, teman Ryan yang berambut keriting.
“Dan lagi, gadis itu Angelina ... wow! Dewi di fakultas kedokteran. Sepertinya pengagumnya yang lain harus gigit jari,” ujar seorang teman Ryan yang lain.
“Traktiran donk, yang sudah jadian,” sahut yang lain.
“Awas ya, kalau kalian bikin gosip. Aku tak akan membantu tugas akhirmu,” ancam Ryan. “Tapi ya, aku akan mentraktir kalian meski kami belum jadian.”
“Gitu, donk!”
“Yuk, ah! Sudah ditunggu sama yang lain,” ajak Ryan.
__ADS_1
🌻🌻🌻