Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
Episode 16


__ADS_3

🌻🌻🌻


“Aku sudah menanyakannya pada Daniel,” ujar Paula saat ia dan Angel berdua sudah bersiap-siap tidur.


“Tentang apa?”


“Tentu saja tentang Dima. Siapa lagi?”


“Jadi alasan pertemuan tadi karena Dima? Kupikir kamu benar-benar mau menghiburku dengan mempertemukanku dengan adik-adikku ... “ balas Angel. Ia memiringkan tubuhnya ke arah ranjang Paula.


Paula menatap langit-langit sambil memeluk boneka ulat bulu miliknya. “Tentu saja aku melakukannya demi kamu. Tapi aku juga punya misi sendiri.”


“Ew, baiklah! Lalu apa katanya?” tanya Angel sambil menatap ngeri pada boneka ulat itu.


Boneka itu sangat panjang untuk ukuran ulat, sekitar 1 meter, mungkin lebih. Angel tak pernah berupaya mengukurnya karena melihatnya saja membuatnya geli. Kendati boneka itu berwarna pink dengan gradasi warna yang indah di tiap bulatannya, Angel tak pernah menganggap boneka itu imut. Apalagi saat ia melihat antena di kepala juga jumlah kakinya yang banyak, duh ia tak tahu seaneh apa selera temannya itu.


“Orang tuanya bahkan tidak memberitahukan kepergian Dima padanya.”


“Sungguh?” tanya Angel keheranan.


“Tapi, apa benar begitu? Apa kau tak berpikir Daniel berbohong?”


“Menurutku tidak. Kau bisa lihat betapa kurusnya Daniel.”


“Iya, sih!”


“Dima ke mana ya? Bahkan adiknya saja tidak diberitahu. Hm ...”


“Kenapa kau tidak tanya saja pada orang tuanya Dima, kelihatannya kalian dekat,” usul Paula.


“Dekat, sih! Tapi Daniel yang jelas-jelas putranya sendiri juga adik kandung Dima saja tidak diberitahu, apalagi aku!”


“Hahaha ... iya juga, sih! Atau kau bisa meminta orang tuamu yang menanyakannya?”

__ADS_1


“Hah! Usul apa itu. Jangan mengada-ada. Aku tak ingin melibatkan orang tua dalam masalahku.”


“Heh, bukan itu maksudku ... “


“Lalu apa?”


“Kau cukup bilang pada orang tuamu seolah kamu bergumam tentang Dima. Kenapa Dima tidak kuliah, begitu saja. Aku yakin orang tuamu yang akan menanyakannya pada orang tua Dima dengan senatural mungkin karena mereka tidak tahu masalahnya.” Paula berbinar begitu membayangkan skenario yang dibuatnya.


“Heh, usulmu itu!”


“Kenapa bagus, kan! Kampus kita tanpa Dima terasa kurang. Ayolah ... setidaknya jangan sampai hubunganmu berakhir di tengah jalan seperti ini.”


“Hubungan apa? Kami tidak punya hubungan seperti yang kau bayangkan itu,” elak Angel.


Paula mencebik. “Aku akan membuatmu sadar dengan perasaanmu.”


“Kami tidak seperti itu!” tandas Angel.


“Ayolah ... !”


“Baiklah jika kamu tidak mengakuinya, boleh kutanya sesuatu tapi jawab dengan jujur.”


“OK!”


“Dengan siapa kau melakukan ciuman pertama?”


Angel mengaga, ia tak percaya dengan pertayaannya.


“Ya, ya ...! tak perlu dijawab. Dengan ekspresimu saja aku sudah tahu jawabannya.”


“Heh! Kau curang! Aku belum menjawabnya,” jerit Angel.


“Ok, tak perlu dijawab. Sekarang lanjut ke pertanyaan terakhir. Yang tadi tak perlu dijawab, cukup jawab yang ini!”

__ADS_1


“Ok!” sahut Angel menyanggupi.


“Bagaimana dengan malam pertama? Taruhan, kamu juga melakukannya dengan bocah itu!”


Kali ini bukannya jawaban yang didapat Paula. Malahan Angel yang langsung melemparnya dengan guling.


“Wah reaksinya kasar sekali! Iya bukan, sih!”


“Aku akan menyiksamu kalau bukan karena boneka ulat bulu itu.”


“Wah, bonekaku penyelamat,” ujar Paula sambil menciumi kepala bonekanya. Dua antena bonekanya bergerak-gerak lucu saat Paula melakukannya.


“Awas kalau kau membuat gosip aneh tentang kami karena kami sungguh tidak melakukannya!”


“OH ... “ ujar Paula dengan ekspresi anehnya. Ulat bulunya juga ikut berekspresi aneh.


“Hei, kenapa dengan ekspresimu? Aku mengatakan yang sejujurnya tahu!”


“Baiklah ... ayo tidur!”


“Hei, aku tidak pernah melakukannya,” ujar Angel masih berusaha meyakinkan temannya.


“Aku tahu, ayo tidur!” ujar Paula sembari memadamkan lampu di atas nakas.


“Hm ... “ Angel tak puas dengan jawaban temannya. Meskipun ia yakin Paula adalah temannya, tetap saja ia takut temannya mengkhianatinya.


“Oia, Angel. Kenapa sih kamu tidak menerima Dima? Menurutku dia sempurna! Jika itu aku, meskipun Dima hanya bermain-main denganku aku akan tetap melakukannya. Apalagi Dima yang hanya mencintaimu. Kamu sungguh menyia-nyiakan ketulusan hati seorang Dima, sayang sekali!”


“Jangan menghakimiku!” umpat Angel. Ia menutup matanya dengan penutup bergambar kelinci miliknya.


“Ya sudah, aku minta maaf. Kuharap kamu menemukan yang terbaik bagimu, segera ... ” ujar Paula. Ia sedikit kecewa pada Angel yang mengabaikan Dima. Jika memang Angel tidak menyukai Dima. Maka sebentar lagi Angel pasti sudah punya pacar baru. Hmm, betapa kasihannya Dima, batinnya sambil memejamkan mata.


Sedangkan Angel yang terbaring di ranjangnya seolah sudah terlelap nyatanya masih belum bisa memicingkan matanya. Rupanya ia tengah memikirkan usul Paula.

__ADS_1


Sepertinya tidak akan masalah jika ia meminta mamanya mencari tahu, karena seingatnya hubungan mamanya dan papa Dima sangat dekat, pikir Angel. Ya, paling tidak ia ingin tahu alasan dibalik menghilangnya Dima. Semoga saja ...


🌻🌻🌻


__ADS_2