Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
Episode 2


__ADS_3

🌻🌻🌻


Dima memakai pakaiannya dengan terburu-buru sembari berupaya menghubungi Hans, adik kandung Angel. Mungkin saja gadis itu sedang berada di rumah.


"Uh...! Siapa?" Tanya Hans dari seberang telepon. Suaranya terdengar tak jelas. Sepertinya Hans sudah terlelap sampai tak sempat melihat layar teleponnya untuk mengecek siapa yang menelepon.


"Aku Dima. Apakah Angel di rumah malam ini?"


"Oh, Kak Dima! Tidak, Kak Angel tidak di rumah. Ada apa?"


"Aku hanya merindukannya," jawab Dima sekenanya lalu menutup telepon. Dima meraih tas ransel dan memasukkan apa pun yang menurutnya penting ke dalamnya.


Dima mengendap-endap keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah tangga. Rumah dalam keadaan sunyi karena malam sudah mendekati dini hari.


Dima pasti tidak akan diperbolehkan keluar oleh penjaga rumahnya jika ia mengendarai mobilnya jadi ia mengendap lewat taman belakang dan menaiki pagar dengan menenteng sepeda lipatnya. Ia harus menemukan Angel tanpa menimbulkan keributan.


Dima mengetatkan jaketnya dan mulai mengayuh sepedanya ke arah kampus.


Gerimis membasahi wajah tampannya saat ia melenggang di jalanan yang sepi. Mata hitamnya menyipit untuk memfokuskan pandangannya yang sedikit terganggu oleh tetesan hujan.


Rambut tanggungnya berkibar saat ia mempercepat laju sepedanya agar lebih cepat sampai. Untungnya jarak rumahnya tidak terlalu jauh dari kompleks Universitasnya.

__ADS_1


Dima melambatkan laju sepedanya saat ia mendekati gerbang. Suasana kampus tampak sangat sepi dan lengang. Pos jaga juga tampak sepi tak ada petugas keamanan yang terlihat, mungkin karena hari sudah menjelang pagi.


Dima lantas merogoh sesuatu dari saku jaketnya. Sesuatu yang selama ini telah dipercayai anak-anak sebagai rumor.


Dima mengeluarkan selembar kartu berwarna hitam yang mengkilat. Kartu yang dikenal sebagai master key itu didapatnya dari Papanya sebagai hadiah kelulusan. Ia sebisa mungkin menghindari memakainya tapi kali ini ia sungguh membutuhkannya.


Ada jeda sebentar sebelum pintu pagar terbuka. Dima menuntun sepedanya dengan hati-hati memasuki gerbang yang terbuka sebelum menutupnya kembali. Ia mungkin terciduk cctv tapi ia yakin tak akan ada yang mengecek cctv keamanan kampus dini hari begini.


Dima mengayuh sepedanya ke arah gedung perpustakaan dan memarkir sepedanya di depan pintu. Ia kembali mengeluarkan master key miliknya untuk membuka gedung perpustakaan.


Wajahnya terlihat khawatir. Ia berharap tak ada sesuatu yang buruk dengan Angel. Jika ia tak bisa menemukan gadis itu di perpustakaan, ia akan mengerahkan petugas keamanan kampus untuk menemukannya.


Dima tampak lancar melangkah dalam gelap karena ia telah terbiasa berada di perpustakaan. Ia sering ke sini bersama Angel bahkan sebelum keduanya resmi kuliah di sini. Pun ia tahu di mana tempat favorit Angel di perpustakaan.


Ia berharap Angel ada di sana, mungkin mengerjakan tugas, tertidur atau semacamnya.


Rupanya apa yang terjadi tampak seperti dugaannya.


🌻🌻🌻


Dima menghela napas penuh kelegaan kala melihat gadisnya tampak terlelap dengan damai. Terasa percuma mengkhawatirkan seseorang ketika yang dikhawatirkan malah asyik tertidur.

__ADS_1


Apa Angel begitu mencintai perpustakaan sampai memutuskan tidur di sini? Dan apa apaan memeluk buku se-erat itu?


"Andai aku buku itu," gumam Dima sembari melepas jaket yang dikenakannya. Ia membalik jaketnya sehingga bagian yang kering berada di luar. Ia menggulung jaketnya dan menempatkannya di atas sofa sebagai bantalan.


Dengan hati-hati Dima mengambil buku tebal dari pelukan Angel, ia menempatkan tangannya di bawah tubuh kurus Angel dan memindahkannya ke sofa.


Angel masih tidur dengan lelapnya seolah tak ada masalah yang berarti.


"Bagaimana bisa kamu tidur di sembarang tempat," ujar Dima sembari merapikan rambut yang menutupi wajah gadisnya.


"Kamu sungguh sangat cantik meski sedang tertidur," gumam Dima. Ia sangat ingin mendaratkan ciuman di sana tapi ia tak bisa melakukannya.


Dima menghela napas, andai Angel benar gadisnya. Andai cintanya tak bertepuk sebelah tangan.


Dima lantas mengeluarkan selimut dari tas ranselnya dan menyelimuti Angel.


"Tidurlah yang nyenyak. Meski kamu tidak percaya pada cintaku. Aku akan selau menjagamu."


Dima merebahkan dirinya di kursi yang awalnya ditempati Angel. Ia kembali terkenang masa di mana ia jatuh cinta dengan Angel. Rasanya cintanya telah dimulai lama sekali.


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2