Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
Episode 8


__ADS_3

🌻🌻🌻


Perkuliahan pagi telah berakhir, para mahasiswa tumpah ruah di kantin kampus yang nyaman untuk mengisi perut mereka setelah sepagi penuh mengisi otak mereka. Ada sebagian dari mereka yang memilih mengerjakan tugas di perpustakaan, sebagian lagi berdiskusi di taman, ada sebagian kecil yang kembali ke asrama mencuri waktu untuk tidur siang.


Semua orang sibuk melakukan rutinitas kesehariannya kecuali seseorang. Ia adalah Angel.


Angel tengah duduk di dalam kelas dan termenung. Ia terlihat memasang wajah tak sabar sembari berkali-kali menoleh ke pintu kelasnya menunggu seseorang. Ya, ada seseorang yang selalu menjemput dan menemaninya saat istirahat siang.


Biasanya ia akan ke kantin bersama dan menghabiskan waktu di perpustakaan. Tapi hari ini seseorang itu tidak datang. Dima tak datang.


Angel mengenang kejadian semalam. Mungkinkah Dima benar-benar menjauhinya?


Ya, bagus sih kalau Dima paham apa yang disampaikannya semalam, pikir Angel. Tapi apa Dima tak bisa pamit lebih dulu? kenapa tiba-tiba main menghilang begitu saja.


Angel yang sedikit tak terima mencoba menelepon Dima. Meski berulang kali ia menelepon tetapi Dima tetap tidak mengangkat teleponnya, dan itu membuatnya kesal.


Angel yang sedang bertekad lantas mendatangi gedung bagian ekonomi untuk mencari Dima. Tapi ia dibuat terkejut dengan jawaban teman-temannya.


"Dima? Hm, dia tidak pergi kuliah, tuh!" ujar Scott. Scott adalah salah satu teman Dima yang Angel tahu biasanya mengerjakan tugas dengan Dima.


"Kau yakin?" tanya Angel. Ia sedikit menyangsikan pengakuan Scott. Setahunya, Dima tak pernah bolos untuk urusan pendidikan. Bocah itu berdedikasi tinggi dalam hal menuntut ilmu.


"Tentu saja, kamu bisa menanyakannya pada yang lain jika kamu tidak percaya," ungkap Scott.


"Ah, begitu ya..." ujar Angel dengan nada kecewa.


"Apakah ia tidak memberitahumu sebelumnya?" tanya Scott dengan wajah keheranan.


Angel menggeleng.


"Aneh ya? sangat tidak seperti biasanya. Apakah kalian bertengkar?"


"Entahlah!" ujar Angel sambil pamit pergi.


Tapi Angel tak kehabisan akal, ia menelepon Daniel, adik Dima.

__ADS_1


"Halo, Kak Angel ada apa?" jawab Daniel begitu teleponnya tersambung.


"Oh, halo Daniel. Apa kabar?" tanya Angel basa basi.


"Baik. Ada apa kak?" tanya Daniel lagi. Ia merasa tumben Kak Angel menghubunginya, bukan menghubungi Hans yang saat ini tengah bersamanya.


"Hm, kenapa Dima tidak masuk kuliah?"


"Oh, itu. Kak Dima sedang sakit?"


"Sakit?"


"Iya. Kak Dima demam."


"Oh, ya sudah kalau begitu. Nanti sepulang kuliah aku akan menjenguknya. Sudah dulu, ya. Salam untuk Hans dan Richard."


Angel menutup teleponnya dengan perasaan aneh.


Dima sakit? Pikirnya terheran-heran.


“Ah, pasti ia kehujanan semalam,” gumamnya sembari melangkahkan kakinya kembali ke kelas untuk pelajaran selanjutnya. Ia telah melewatkan jam makan siang.


🌻🌻🌻


Angel menggeleng.


"Dima tak datang?" tanya Sissy. Ia cukup hafal kebiasaan teman sekelasnya itu.


"Ya, ia sakit," jawab Angel dengan nada tak bersemangat.


"Oh, pantesan. Kalian kan selalu bersama. Rasanya pasti canggung jika ke kantin tanpanya."


Perkataan Sissy mungkin biasa saja tetapi Angel yang sedang sensitif merasa sedikit sewot.


"Apaan, sih! Kami kan cuma teman," ujar Angel.

__ADS_1


Meski telah menegaskan hubungannya dengan Dima. Namun, selama kelas berlangsung Angel tak fokus kuliah, ia selalu terpikirkan Dima. Ia bimbang antara menjenguknya atau membiarkannya dan pura-pura tidak tahu. Dima mungkin saja sengaja menghindarinya karena semalam ia telah menolaknya mentah-mentah.


Setelah memikirkan masak-masak sepanjang jam perkuliahan, akhirnya ia memutuskan untuk menjenguk Dima.


Angel bergegas kembali ke asrama begitu kuliahnya selesai. Sampai di asrama, ternyata Paula juga telah di kamarnya. teman sekamarnya itu terlihat segar sehabis mandi.


"Kau kembali?" sapa Paula. "Kamu dari mana semalam?" tanyanya. Semalam ia sudah tidur saat Angel pulang dan tadi pagi ia belum sempat menanyakannya karena ia buru-buru berangkat kuliah untuk kelas pagi.


"Aku ketiduran di perpustakaan,?" jawab Angel sembari melempar tasnya ke atas ranjang.


"Benarkah? Apa Dima mencarimu semalam?"


Angel mengangguk dan berganti pakaian siap-siap mandi.


"Oh, syukurlah. Kuharap kamu tidak marah karena aku yang meneleponnya. Aku mengkhawatirkanmu semalaman."


"Tak apa, terima kasih telah mengkhawatirkanku," jawab Angel. Ia belum lama sekamar dengan Paula, jadi ia mungkin belum cukup dekat dengan gadis itu. Tapi gadis itu telah kerepotan semalaman hanya demi mengkhawatirkannya, rasanya mereka bisa menjadi teman akrab di masa depan.


"Kamu terlihat letih, apa kamu sakit?" tanya Paula. Ia memandang lurus ke arah Angel.


"Bukan aku yang sakit, tapi Dima," ujar Angel.


"Dima?" Paula terkejut mendengarnya. Apakah semalam ia telah menyuruh orang sakit untuk mencari Angel? Sungguh kelakuannya tidak bisa dibenarkan.


"Ya, semalam ia kehujanan."


"Begitu, ya. Aku lega mendengarnya, kupikir aku telah menyuruh orang yang sedang sakit mencarimu semalaman,” ujar Paula. “Apa kau akan menjenguknya?" tanyanya.


"Ya."


"Bisakah kau mengajakku," pinta Paula dengan nada memelas. Ia tak akrab dengan Dima sampai harus menjenguknya kala sakit. Tapi, ia merasa bertanggung jawab atas sakitnya Dima.


"Boleh, sejujurnya aku ingin menawarimu. Berhubung kamu menawarkan diri jadi mari kita menjenguknya. Tunggu aku mandi dulu," ujar Angel sembari masuk ke kamar mandi.


"Baiklah. Sejujurnya aku ikut merasa bersalah karena sepertinya ia jatuh sakit gara-gara aku. Semoga Dima cepat sembuh," ujar Paula.

__ADS_1


“Oke, aku mandi dulu. Kamu bersiap-siaplah,” sahut Angel dari kamar mandi.


🌻🌻🌻


__ADS_2