Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
Episode 4


__ADS_3

🌻🌻🌻


Setelah kejadian hari itu Dima memutuskan menjadi penggemar Angel. Bahkan ia telah mendeklarasikan diri sebagai suami masa depan Angel.


Tentu saja Angel menolaknya mentah-mentah. Di samping kenyataan yang menyelamatkan mereka berdua adalah Papanya. Alasan lain ia tak akan menjadikan Dima pacarnya apalagi suami masa depannya adalah Dima yang lebih muda darinya. Terang saja itu sangat memalukan saat Angel sudah sekolah dasar, Dima masih TK.


Namun bukan Dima jika ia menyerah begitu saja. Ia tak kehabisan akal, ia yang memang sangat cerdas langsung melakukan percepatan demi bisa sekelas dengan Angel.


Karena terus merasa terganggu akhirnya Angel mengizinkan Dima mendekatinya dengan syarat sebagai pesuruhnya. Bahkan sampai saat ini status Dima belum berubah. Ia hanyalah seorang pesuruh yang merangkap sebagai bodyguard di mata Angel.


Meski keduanya hanya tuan dan bodyguard nyatanya Angel belum pernah punya kekasih dan itu selalu menjadi sebuah harapan bagi Dima.


🌻🌻🌻


"Uh, ng..."


Suara erangan membangunkan Angel dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya sebelum benar-benar terjaga, ia sedikit terkejut saat menyadari bahwa ia masih berada di perpustakaan.


"Ah, pasti ia ketiduran tapi ini suara siapa?" gumamnya.


Bukannya ia tengah sendirian? batinnya bertanya-tanya .


Angel lantas menoleh ke arah sumber suara. Ia terkejut melihat Dima tidur di kursi dan mengerang. Apakah Dima tengah mimpi buruk? Ia mengesampingkan keterkejutannya dan segera bangkit untuk membangunkan Dima.


"Dim, bangun..." Angel menepuk pipi Dima berkali-kali.


"Ugh..." erangannya semakin menjadi.


Angel mendekatkan wajahnya dan berbisik, "Dima, bangun. Aku akan meninggalkanmu jika kamu tak bangun."


Biasanya jika Angel membisikkan ini, ia selalu sukses membuat Dima terbangun. Tapi kali ini berbeda, meski wajah Dima berpeluh, Dima tetap terpejam.


Angel terus berusaha membangunkan Dima, meski cukup lama akhirnya ia berhasil juga.


Dima membuka matanya, ia sedikit tersentak melihat Angel yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Angel..." ucap Dima antara sadar dan tidak. Ia senang ada Angel begitu ia membuka mata. Mimpinya sangat menakutkan, hanya Angel yang tahu kalau ia masih sering mimpi seperti ini.


"Untunglah ada dirimu, aku takut sekali," ujar Dima sembari mendudukkan Angel dalam pangkuannya dan memeluknya erat.


"Apakah kamu mimpi tentang kejadian itu lagi?" tanya Angel. Kejadian yang dimaksudnya adalah saat Dima tenggelam.

__ADS_1


"Mungkin, aku tak bisa menjelaskan secara pasti mimpiku. Tapi itu sangat menakutkan."


"Sudah tak apa, ada aku di sini," Angel berucap lembut sembari membelai punggung Dima.


"Angel?"


"Ya"


"Boleh aku menciummu?"


Elusan di punggung Dima langsung berubah pukulan.


"Hei, seenaknya saja."


"Kamu juga seenaknya saja mencuri ciuman pertamaku hanya karena kamu penasaran rasanya berciuman," sindir Dima. Tapi tentu saja dalam hatinya ia senang karena mereka saling berbagi ciuman pertama.


🌻🌻🌻


Angel merona mendengarnya. Ingatannya melayang saat pesta prom night dulu, ia melihat semua temannya saling berciuman dengan pasangannya. Ada rasa penasaran dihatinya bagaimana rasanya berciuman. Ia tak punya pacar dan belum berniat punya pacar. Akan tetapi jika ia ingin mencobanya sekarang ia tidak mungkin melakukannya dengan sembarang orang.


Dari sekian banyak pria, pilihannya jatuh pada partner dansanya, Dima. Dima tidak punya pacar sama sepertinya, Dima yang selalu melakukan semua hal untuknya pasti akan mau melakukannya. Di saat ada keinginan yang menggebu dan ada objek sepenurut Dima. Rasanya semua menjadi mungkin.


"Dima, apa kamu pernah berciuman?" tanyanya pada partner dansanya yang malam ini tampak luar biasa tampan dengan tuksedo hitamnya.


Bukan hanya sekedar populer tapi lebih seperti prince charming yang hanya bisa dilihat dan tak bisa dimiliki. Tentu saja tak ada yang bisa memiliki prince charming ini karena prince charming ini hanya mencintai seorang saja, yaitu Angelina.


Mereka sering bertengkar karena sikap posesif Dima pada Angel. Dima yang seperti bayangan bagi Angel menyulitkannya berkencan jadi ia tak pernah berkencan dengan siapa pun. Ya, meski ia tak akan kesepian karena ia mempunyai banyak pria di kehidupannya seperti HRD, adik kembar tiganya dalam tanda kutip dan Dima. Siapa pun yang berkencan dengannya harus berhadapan dengan 4 cowok itu.


Mungkin itu akan menjadi kisah masa lalu karena saat ini ia telah menjadi mahasiswi dan tinggal di asrama. Ia telah bebas dari gangguan terbesarnya itu dan bersiap punya pacar.


Dima berjalan mendekat ke arah Angel dan melingkarkan satu tangannya ke pinggang mungil sang gadis.


Malam ini Angel sangat cantik mengenakan gaun warna pink keunguan yang membuatnya tampak seperti peri. Rambut pirangnya yang panjang tertata rapi dengan kepangan yang rumit dan tentunya sangat indah. Ada beberapa untaian rambut yang sengaja dibiarkan menjuntai menghiasi pelipisnya yang membuat Dima begitu gemas ingin menyentuhnya. Pendek kata, malam ini Angel luar biasa cantik dan sangat memesona.


Dima tak tahan untuk menggodanya, "Bukankah kita sudah sering melakukannya?" ujarnya dengan wajah bersungguh-sungguh.


Angel memiringkan bibirnya, "dalam mimpimu."


"Kenapa? apa kamu ingin mencobanya?" tanya Dima lagi. Ia tahu Angel tidak pernah melakukannya. Begitu juga dengannya. Tapi jika Angel bertanya berarti Angel menginginkannya dan ia tak mau ciuman pertama Angel jatuh pada orang selain dirinya.


Dima melakukan gerakan dansa ringan yang mengarahkan mereka keluar dari lantai dansa. Beruntung mereka mengadakan acara prom night mereka dengan meminjam aula kampus Maxwell University, bukan di Maxwell High School.

__ADS_1


Saat ini Dima punya master key Maxwell University, master key yang bisa digunakannya membuka semua pintu di area kampusnya. Papanya berbaik hati memberikan itu padanya sebagai hadiah kelulusannya. Tak tahunya itu akan berguna hari ini.


Angel seolah tak sadar bagaimana Dima membimbingnya, tahu-tahu ia telah berada di sebuah ruangan sunyi yang gelap. Ia tak bisa mengira-ngira jarak mereka berada dari tempat pesta karena suara hingar-bingar pesta seolah terdengar sangat jauh.


Dima mendudukkan Angel di atas meja lalu ia berdiri di depannya.


"Katakan sekali lagi mengenai ciuman itu?" tanya Dima dengan nada memerintah.


"A... Aku hanya penasaran," ujar Angel terbata-bata. Untung Dima tak menyalakan lampu karena saat ini wajahnya serasa terbakar seperti kepiting rebus saking malunya.


"Penasaran?" ulang Dima. Bahkan dalam gelap Angel bisa melihat alis Dima yang tertarik ke atas.


"Ah, sudahlah. Mari kita kembali. Lagipula di mana ini?" ucap Angel mengalihkan topik pembicaraan. Tapi bukan Dima namanya jika ia menyerah begitu saja.


Dima mengarahkan jemarinya pada untaian rambut Angel yang menjuntai yang dari awal sudah sangat ingin dipegangnya. Ah, rasanya hatinya ingin meledak penuh cinta. Ia begitu mencintai Angel, peri cantiknya.


"Itu... sebenarnya aku penasaran bagaimana rasanya..." ujar Angel jujur. Ia tertunduk malu.


"Memohonlah... aku akan mengabulkannya," ujar Dima dengan nada yang dibuat serendah mungkin. Ia bahkan telah mendekatkan bibirnya agar Angel merasakan embusan hangat nafasnya, menggodanya, melihat sejauh mana garis pertahanannya.


Angel merasa mabuk meski ia tak minum alkohol. Ia merasa mabuk karena godaan Dima. Ah, dari mana Dima belajar merayu seorang gadis.


Persetan! Angel tak bisa menahannya lagi. Ia segera mendaratkan bibirnya pada bibir Dima.


Keduanya tersentak kaget dengan tindakan yang tiba-tiba itu.


Keduanya membeku sejenak, tapi tak lama karena Dima balas mendaratkan bibirnya dan mendominasi permainan.


Keduanya tampak saling berpandangan dengan tatapan penasaran dan malu-malu, namun sepertinya rasa penasaran masih melingkupi keduanya karena malam itu keduanya menghabiskan semalaman mencoba berbagai variasi dan gaya ciuman. Keduanya terus berciuman sampai pesta prom night berakhir. Untung pesta dilakukan malam hari, jadi teman-temannya tak bisa melihat betapa bengkak bibir keduanya.


Kejadian malam itu merupakan sebuah kenangan yang lucu dan indah bagi keduanya yang tak akan bisa mereka lupakan.


🌻🌻🌻


Hal itu mungkin terjadi dahulu saat mereka berdua sama-sama terbawa suasana. Tapi apa-apaan Dima meminta ciuman yang lain sekarang. Angel segera bangkit dari pangkuan Dima tapi pria itu menahan Angel.


"Bagaimana kalau pelukan. Aku tidak akan meminta ciuman, tapi beri aku pelukan," pinta Dima dengan wajah memelas.


Angel merasa susah menolaknya jadi ia menurutinya. Ia mungkin tidak melihat karena memunggungi Dima. Tapi meski dalam kegelapan, Dima terlihat berkaca-kaca kala ia memeluk Angel.


Oh, Tuhan. Ia mencintai gadis ini.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2