
🌻🌻🌻
Keesokan harinya Dima tak masuk kuliah, juga esoknya, dan keesokannya lagi.
Angel cukup jengah karena semua orang bertanya padanya kenapa Dima tidak kuliah.
Angel tentu saja mengatakan jika Dima tengah sakit, tapi ia tak mungkin terus-terusan mengatakan jawaban itu. Belum lagi jika orang-orang mengajukan pertanyaan kedua. Sakit apa yang diderita Dima sehingga ia tak berangkat kuliah berhari-hari? Parahkah? Kroniskah? Menularkah?
Dan Angel juga putus asa karena sejak malam itu ia tidak bisa menghubungi Dima. Meski ia sedikit lega karena bukan hanya dirinya yang tidak bisa menghubungi Dima tapi juga semua teman-teman Dima yang lain. Itu berarti Dima bukan berniat menghindarinya sendirian.
Angel menatap layar ponselnya dengan lesu. Ponselnya tak pernah sesepi ini. Pasti akan ada Dima yang menghubunginya mulai pagi hingga malam. Tak pernah sekalipun Dima lambat membalas chatnya, bahkan Dima masih tetap menghubunginya meski terkadang ia mengabaikannya.
“Kau tidak ke kantin?” tanya Sissy.
Angel memberi tatapan lemah pada gadis berkulit cokelat itu. Ia memang lapar tapi ia tak bersemangat.
“Ayo ... ” desak Sissy. Ia sedikit iritasi melihat temannya yang tak bersemangat.
“Kau lapar, bukan?” tanya Sissy lagi.
Angel mengangguk.
“Yuk, ah! Kau kan tidak benar-benar naksir Dima, kenapa kamu ikutan lemas hanya karena Dima berhenti mengejarmu.”
Angel menggeleng dengan pilihan kata-katanya. Tapi Sissy ada benarnya.
“OK!” balas Angel. Ia akhirnya menyetujui ajakannya.
Setelah memilih tempat, Sissy dan Angel mulai menghabiskan makan siangnya bersama.
Angel memakan makanannya dengan tenang sampai Sissy menyenggolnya.
“Ada apa?”
“Mungkin hanya perasaanku saja atau memang seperti ini, rasanya banyak pria memandangmu ... ” bisik Sissy.
Setelah mendengarnya, Angel spontan mendongak dan secara tak sengaja ia melihat beberapa pasang mata memandangnya. Tapi meski terpergok olehnya sebagian dari pria itu bukannya malu-malu seperti biasa jika seseorang sedang terpergok, banyak dari mereka malah melempar senyum ke arahnya.
Angel dengan canggung kembali merunduk.
“Sissy, apa kau melihat ada yang aneh dengan penampilanku? Kenapa mereka tersenyum ke arahku? Apa mereka sedang menertawakan sesuatu tentangku?” tanya Angel sambil berbisik. Ia tak terbiasa memperhatikan sekitarnya karena ia selalu berlindung dibalik Dima. Dima yang melakukan semua untuknya, seperti bersosialisasi misalnya.
__ADS_1
“Hm, kurasa tidak. Menurutku kamu terlihat baik. Terlihat perfect seperti biasa.”
“Lalu kenapa mereka melihatku?”
“Hm, entahlah. Bukankah mereka memang selalu memandangmu sebelum ini?”
“Kurasa tidak.”
“Kurasa iya. Hanya saja kamu tidak sempat memperhatikannya karena disampingmu sudah ada orang sesempurna Dima. Ngomong-ngomong soal Dima. Apa dia sedang cuti kuliah?”
“Mungkin ... “ jawab Angel sekenanya. Sejujurnya ia sendiri tidak tahu, jadi lebih aman baginya untuk menjawab ‘mungkin’.
“Biar kutebak, apa kamu juga tidak bisa menghubunginya seperti teman-teman Dima yang lain?”
Tebakan Sissy sepertinya benar karena detik berikutnya Angel langsung berhenti mengunyah begitu mendengarnya.
Sejujurnya Angel malu mengakuinya. Tapi ia merasa sangat kecewa karena pertemanan mereka sejak kecil hingga sebesar ini seolah tak berbekas.
Siapa yang tidak sakit hati jika ia disamakan dengan teman-teman yang bahkan belum genap setahun dikenalnya?
Mengingat riwayat perkenalan mereka yang sudah bertahun-tahun, seharusnya Dima menghubunginya dan berpamitan dengan benar, atau jika Dima begitu enggan untuk berpamitan paling tidak harusnya Dima membiarkannya menghubunginya. Angel sungguh tak habis pikir!
Tentunya pikiran itu hanya ada dibenaknya karena Angel tak mungkin mengatakan itu, atau gosip lain akan menyebar. Ia lantas memasang senyum manis tanpa dosa dan mengajukan pernyataan lain sebagai pengalihan.
Sissy tertawa, “tentu saja! Siapa di sini yang tidak mengenal kalian? Kalian pasangan yang fenomenal.”
“Benarkah?” Angel balik bertanya. Ia tak pernah tahu bahwa hubungannya dengan Dima fenomenal. Ia penasaran apakah teman-temannya tahu bahwa cinta Dima hanya bertepuk sebelah tangan?
“Kau itu sangat beruntung, Angel. Dima itu hanya menyukaimu seorang. Dima yang begitu populer, tampan dan kaya bisa saja berkencan dengan gadis mana saja secara bergiliran. Gadis-gadis yang, aku yakin, akan rela melakukan apa pun hanya demi bisa dekat dengan Dima. Tapi Dima tidak melakukannya, ia tetap setia bersamamu. Gadis mana saja yang melihatnya pasti iri denganmu.”
“Sungguh! Aku cukup tersanjung,” jawab Angel. Ia ingin menyudahi ini. Tapi sepertinya Sissy belum berhenti, ia masih belum berhenti mengeluarkan unek-uneknya
“Aku tidak mengatakan kamu tidak cantik. Kamu luar biasa cantik kok. Cowok-cowok pun rela antre demi bisa dekat denganmu. Hanya saja bagi kami para gadis fans berat Dima, kami berharap kamu memberikan kami kesempatan.”
“Hahaha ... “ Angel tertawa kencang saat mendengar kesimpulan akhir dari pidato panjang Sissy.
“Hm, aku hanya mewakili orang-orang. Aku pribadi tidak seperti itu. Aku setia kawan, sungguh!”
Angel mengangguk mengerti tapi sampai mereka melanjutkan perkuliahan selanjutnya ia masih tak bisa menyembunyikan tawanya untuk menggoda Sissy.
🌻🌻🌻
__ADS_1
“Kau terlihat bahagia, apa terjadi sesuatu?” tanya Paula saat melihat Angel masuk kamar dengan wajah berbinar.
“Aku mendengar sesuatu yang lucu hari ini.”
“Apa itu?” tanya Paula. Ia yang tengah menonton drama Korea sampai mencopot headphone miliknya agar bisa mendengar penjelasan Angel dengan lebih jelas.
Beberapa hari terakhir Paula telah melihat Angel versi putus asa. Ia memilih pura-pura tidak melihat Angel saat ia menangis diam-diam tengah malam. Menurutnya terkadang seseorang memang harus menangis untuk melepaskan kesedihannya. Namun, Ia menjadi sedikit khawatir saat melihat temannya tertawa. Ia penasaran hal lucu apa yang bisa membuat Angel tertawa. Ia harap temannya tidak jadi gila.
“Kau tahu, sepertinya para gadis terlihat senang saat Dima dan aku saling menjauh. Katanya aku telah memberi peluang para gadis untuk dekat Dima.”
“Hm, aku tak pernah berpikir demikian,” jawab Paula. “Bagiku kalian terlalu cocok sampai aku tak bisa menemukan celahnya. Ya, kecuali kenyataan saat ini hubungan kalian mungkin tidak sama lagi. Btw, aku tidak melihat lucunya di mana.”
“Ya, lucu saja! Dari awal Dima bukan milik siapa-siapa, kenapa harus menunggu kami tidak lagi dekat agar orang-orang bisa mendekatinya.”
Angel yang telah berganti pakaian santai mendekat ke arah Paula dan melihat film apa yang ditontonnya. Ia ingin menonton filmnya juga.
“Kau tak apa?” tanya Paula hati-hati saat temannya telah duduk di ranjangnya.
“Apa maksudnya? Tentu saja aku baik-baik saja!” sergah Angel. Ia lalu mengalihkan perhatian Paula. “Kau melihat drama apa? Aku juga mau lihat,” Angel menekan tombol pause untuk melanjutkan dramanya. Tapi kabel headphone yang terpasang membuat suaranya tidak keluar meski film telah terputar.
“Aku tahu kamu tidak baik-baik saja. Aku melihatmu menangis tiap malam,” ujar Paula.
Angel speechless. Ia membeku sejenak tak mampu berkata-kata. Ia tak menduga Paula memperhatikannya padahal ia berusaha menangis dalam diam.
Sepertinya Paula memang peduli padanya. Meski telah memergokinya, Paula tidak langsung menegurnya dan melarangnya menangis. Temannya itu malah memberinya waktu sampai ia cukup tenang untuk diajak bicara.
Angel menghela nafas saat mengingat alasannya menangis. Apa lagi kalau bukan hal yang berkenaan dengan Dima. Dima selalu mengiriminya pesan selamat malam secara rutin tapi saat Dima tidak melakukannya lagi, Angel merasa kehilangan. Kenyataan bahwa ia harus membiasakan diri tanpa Dima membuatnya tak bisa membendung air matanya. Ia merasa seperti gadis yang putus cinta. Hatinya sakit tapi ia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya mengenai itu.
Saat Angel hanya diam tidak menjawab pertanyaannya, Paula sadar mungkin malam ini bukan saatnya ia menanyakan itu. Tapi sebelum ia mencabut kabelnya, tak disangka ternyata Angel menjawabnya.
“Aku merindukannya. Aku merindukan Dima.”
Paula membeku sejenak, ia tak percaya dengan pengakuan Angel barusan. Sungguhkah? Apa ia tidak salah dengar?
“Aku sangat merindukannya,” ulang Angel. Suaranya serak. Ia sudah ingin menangis tapi ia berusaha menyelesaikan kalimatnya. “Aku tak bisa hidup tanpanya. Aku tak terbiasa tanpanya. Aku harus bagaimana?” suara seraknya telah berubah menjadi isak tangis. Kali ini ia tak lagi berusaha menyembunyikan kesedihannya. Ia tahu Paula peduli padanya jadi ia ingin membagi beban hatinya.
Paula memilih diam meski sebenarnya ada satu hal yang ingin diungkapkannya pada Angel. Menurutnya, Angel telah jatuh cinta pada Dima namun sepertinya Angel terlambat menyadarinya. Ditambah Angel sendirilah yang meminta Dima pergi setelah bertahun-tahun mencoba.
Paula mendesah. Ia tak sanggup mengatakannya saat ini karena ia tak ingin menggurui juga tak ingin memaksakan pendapatnya.
Jika seseorang telah menjauh, memang benar kita akan merindukannya. Tapi apa makna rindu itu? Paula berharap suatu saat temannya bisa menemukan arti dari kerinduan itu.
__ADS_1
Paula membuka lebar kedua tangannya dan memeluk Angel. Ia berharap pelukannya bisa meringankan beban hati temannya itu.
🌻🌻🌻