Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
8


__ADS_3

🌷🌷🌷


Theo sudah duduk di bangku taman sebelum Anna pulang. Theo tidak ingin kehilangan momen bercengkerama dengan Anna. Apalagi semalam gadis itu mengabaikan telepon dan pesannya.


"Hai..." Sapa Theo pada Anna yang baru saja tiba. Anna duduk di samping Theo tanpa tersenyum. Sepertinya gadis itu sedang pusing memikirkan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Theo khawatir.


"Tidak ada hanya sedikit tidak enak badan."


"Mau kuperiksakan ke dokter?"


Ana menggeleng, tapi wajahnya terlihat lemas. Theo memeriksa kening Anna, suhunya tinggi, gadis ini demam. Theo langsung mengajak Anna ke mobilnya.


Alih-alih membawanya ke rumah sakit, Theo malah membawanya ke apartemen. Theo lebih percaya dokter pribadinya daripada dokter umum rumah sakit. Lagi pula seorang Theo tidak mungkin muncul di rumah sakit tanpa menimbulkan kehebohan.


Tak lama kemudian dokter pribadinya pun datang. Dr. Charles, seorang dokter yang sudah tua namun terlihat masih muda dari usianya. Dr. kepercayaan keluarganya sejak Theo kecil.


"Siapa yang sakit? Kamu terlihat sehat," tanya dr. Charles sambil hendak memeriksa Theo.


"Bukan aku Dok, tapi seseorang," Theo mengarahkan dr. Charles ke kamarnya.


"Aku sudah mengompresnya sebisaku sambil menunggu dokter datang," lanjut Theo.


Dokter Charles lalu memeriksa Anna, mengecek suhu tubuh dan tekanan darahnya.


"Tidak ada yang serius, hanya demam biasa, gadis ini pasti kecapaian," kata dr. Charles sambil memasangkan infus.


"Aku akan memasukkan obat demam lewat infus, sampai infusnya habis pasien akan berkeringat sebagai efek obatnya. Kompres hangat akan sangat membantu. Jangan lupa cek suhu tubuhnya secara berkala. Bila infus habis suhu tidak juga menurun bawa ke rumah sakit saja," saran dr. Charles.


Theo mangut-mangut.


"Siapa dia?" tanya Dokter Charles.


"Seseorang," Theo belum ingin menceritakan tentang Anna.


Dokter Charles hanya tersenyum.


"Rahasiakan dari mama ya, dokter," pinta Theo.


"Baiklah," rupanya dr. Charles cukup berbaik hati tidak menceritakannya pada orang tua Theo. Theo sudah cukup dewasa untuk menjaga seseorang. Menjaga seorang gadis. Hm, sebentar lagi pasti ada pesta pernikahan.


Setelah Dokter pergi, Theo berjaga di samping Ana mengompresnya, menjaga suhunya agar tetap stabil. Syukurlah setelah infusnya tinggal sepertiga, suhu tubuh Ana sudah turun. Theo bernafas lega. Di usapnya wajah Ana dengan lembut, apakah benar tidak ada seorang pun di samping gadis ini. Seseorang yang merawatnya ketika sakit. Seseorang yang menjaganya. Apakah mungkin baginya masuk ke hati Ana.

__ADS_1


🌷🌷🌷


Anna mengerjap-ngerjapkan matanya. Rasanya berat. Tapi ia juga merasa badannya ringan, terasa enteng, seperti habis istirahat panjang. Ia meraba keningnya dengan tangan kanannya karena terasa sesuatu di sana ternyata sebuah handuk.


"Handuk ... kenapa ada di sini?" tanyanya heran. Tapi begitu Anna menggerakkan tangan kirinya, ia menyadari ada selang infus terpasang di sana. Ia serta merta mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia berada di ruangan dengan nuansa hitam putih, terasa familier. "Ini kamar Theo."


Kecemasan melanda Anna sewaktu ia menyadari bahwa ia telah terbangun di kamar Theo. Kejadian kemarin terpergok orang tua Theo masih menyisakan trauma dan malu bagi Anna. Ia mencoba bangun dari tidurnya, sampai seseorang mencegahnya.


"Woa, stop dulu Anna. Kamu masih terlalu lemah," kata Theo yang tahu-tahu sudah ada di sampingnya, menahannya untuk bangun. Anna tidak melihat Theo muncul, mungkin ia keluar dari pintu kloset di samping ranjang.


"Kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya Ana pada Theo yang sudah duduk di samping ranjangnya. Rambut Theo masih terlihat basah, pasti Theo habis mandi. Aroma harum sabun yang di pakai Theo juga masih kuat tercium.


"Maaf karena telah membawamu kesini tanpa persetujuan mu," jawab Theo sambil meminta maaf. "Aku hanya ingin merawat mu."


"Sekarang aku baik-baik saja, bisa lepaskan ini" kata Anna sambil menunjuk infus yang terpasang di sampingnya.


"Baiklah, tunggu sebentar," jawab Theo sambil mencari sesuatu di laci yang ada di samping tempat tidur. Rupanya Theo mencari plester. Dengan hati-hati Theo mencabut jarum yang ada tangan Anna, lalu menutupinya dengan plester. Setelah selesai dengan Anna, Theo dengan cekatan merapikan sisa tabung dan selang infus, mengumpulkannya menjadi satu dan membungkusnya dalam kantong.


Anna hanya bisa memandangi Theo sampai selesai. Begitu Theo selesai, Anna langsung bangun dari tidurnya. Tapi begitu Anna membuka selimut.


"Argh ... " teriak Anna saat ia menyadari bahwa ia tidak lagi memakai pakaiannya. Serta merta ia langsung menutup kembali selimutnya. Ia hanya memakai kaos oblong yang sangat besar, yang diduganya milik Theo, tanpa sesuatu di dalamnya.


Siapa lagi yang melepas bajunya kalau bukan Theo. Anna langsung memandang Theo dengan sorot mata meminta penjelasan.


Tapi meskipun dengan cahaya lampu yang temaram, Theo mengakui dalam hati bahwa ia masih bisa melihat siluet tubuh indah Anna.


Anna memutar bola matanya karena kesal setelah mendengar penjelasan Theo. Theo mencuri ciuman pertamanya dan sekarang melihat tubuhnya. Sebenarnya apa yang di pikirkan pria itu, pikirnya.


"Sekarang berikan pakaianku," tuntut Anna yang sekarang sudah duduk sambil mengangkat selimut di atas dadanya.


"Aku mencucinya."


"Hm ... " Anna mendengus kesal. Susah baginya untuk berpikir positif. Ia merasa Theo melakukannya dengan suatu motif.


"Aku punya pakaian wanita, jika kamu mau, tapi aku tidak punya pakaian dalam wanita dan punyamu belum kering. Bagaimana kalau sementara memakai kausku saja, cukup besar untukmu," tawar Theo pada Anna.


"Seharusnya pakaikan aku kaos yang warna hitam saja, jangan warna putih seperti ini," kata Ana sambil menunjuk kaos yang di pakaiannya.


Theo menelan ludah melihat pemandangan itu. Tapi Theo langsung buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil berdehem tidak nyaman.


"Baiklah, pergilah ke kamar mandi setelah itu kamu bisa memilih apa pun yang kamu suka di kloset. Aku akan menyiapkan sarapan," kata Theo yang langsung keluar dari kamarnya, membiarkan Anna menyelesaikan urusannya.


Sepeninggal Theo, Anna bergegas ke kamar mandi. Ia melepas kaos oblongnya di depan cermin besar di kamar mandi. Ia memandang pantulan tubuhnya yang ramping.

__ADS_1


Selama ini Anna tak pernah berpikir untuk memuaskan dirinya, tapi hari di mana Anna harus menyalurkan hasratnya akhirnya tiba juga.


Anna mengisi penuh bathtub dan masuk ke dalamnya dengan menyenderkan badannya di samping. Dengan bau harum sabun seperti yang di pakai Theo membuat Anna berimajinasi tentang Theo. Sepertinya ia mulai jatuh hati pada pria itu.


🌷🌷🌷


Anna berharap ada kaos berwarna pink atau kuning cerah di gantungan baju Theo tapi Theo tidak akan pernah mengoleksi kaos warna tersebut. Anna mencoba memakai kaos abu-abu tapi terlalu pendek seperti memakai gaun mini. Ia memilih lagi. Dan pilihannya jatuh pada kemeja warna hitam. Ana menggulung lengan kemejanya yang panjang agar tidak menutupi tangan mungilnya.


Anna mematut diri di cermin, kemeja ini cukup panjang hampir mencapai lututnya. Dan warna hitamnya menutupi siluet tubuh telanjangnya. Tidak transparan jadi melihat sekilas tak ada yang tahu kalau ia tak mengenakan sesuatu di dalamnya. Anna merapikan rambutnya sedikit lalu keluar menemui Theo.


Theo cukup terkejut mendapati pilihan baju yang di kenakan Anna. Kemeja hitamnya terlihat sangat cocok dipakai olehnya. Meskipun terlihat kebesaran tapi Anna terlihat sangat manis mengenakan itu. Hanya butuh sabuk yang dilingkarkan di perutnya baju itu tampak stylish untuk gadis semungil Anna.


Karena Theo terus memandangnya, Anna jadi salah tingkah.


"Apa aku terlihat buruk?" tanya Anna.


"Tidak, justru kamu terlihat sangat manis, kamu terlihat sangat cocok. Warna hitamnya juga sangat pantas untuk kulit putihmu," puji Theo.


Anna hanya tersenyum sambil berucap terima kasih. Ia lalu duduk di meja makan. Di hadapannya tersaji roti isi daging dan segelas jus alpukat.


"Kuharap kamu suka masakanku," ucap Theo sambil mempersilakan Anna mencoba masakannya.


"Aku pasti suka, masakanmu lezat kok," jawab Anna jujur. Meskipun terlihat sederhana, ia tahu semua makanan yang di masak Theo terbuat dari bahan-bahan organik terbaik di kelasnya.


Mereka lalu sarapan dalam diam, hanya sesekali saling melempar pandang lalu sibuk dengan makanan masing-masing.


"Mau menonton film? aku punya koleksi beberapa film bagus," tawar Theo begitu mereka selesai sarapan.


Theo masih ingin sedikit lebih lama bersama Ana. Tak ada ide terbaik selain duduk di samping Ana untuk beberapa jam ke depan. Padahal Theo tidak punya banyak koleksi film hanya punya film action, kartun anak-anak, dan film semi. Theo tidak punya koleksi film romantis untuk di tontonnya dengan Anna.


"Kamu tidak bekerja?" tanya Anna.


"Sesekali libur tak apa, aku ingin menemanimu."


"Jangan buat aku menjadi terbebani, bekerjalah aku tidak apa-apa," kata Anna sungguh-sungguh.


"Aku sedang tidak ingin bekerja," jawab Theo lagi.


"Hm, baiklah," kata Ana akhirnya. Karena dalam hatinya Anna juga belum mau berpisah dengan Theo.


Anna masih ingin menghabiskan waktu bersama Theo, jadi Anna menerima tawaran menonton film di apartemen Theo. Urusan yang lain biar lah mereka pikirkan nanti.


Theo memandu Ana ke bioskop mini miliknya, menyuruh Ana memilih film sedangkan ia akan menyiapkan makanan. Tak lupa pula Theo mengunci pintu apartemennya dengan password baru dan mematikan suara bel masuk. Theo sedang tidak ingin di ganggu gugat, ia hanya ingin bersama Anna tanpa gangguan. Theo tidak ingin kedatangan tamu lain apalagi orang tuanya. Cukup sekali saja mamanya mengacaukan kencannya kemarin. Tidak untuk hari ini.

__ADS_1


🌷🌷🌷


__ADS_2