
🌻🌻🌻
Brak ... Brak ...
Suara pintu kamar digedor dengan kencang membangunkan Angel yang tengah tertidur.
Angel yang tak terbiasa mendapatkan gedoran di pintu sejenak menatap langit-langit kamarnya. Ia bertanya-tanya, apakah ia masih terbawa mimpi? Tapi ketika ia mendengar suara Senior Ryan memanggilnya dari balik pintu, Angel langsung tersadar bahwa apa yang dialaminya saat ini bukanlah mimpi.
“Angel? Apa kau di dalam?” tanya Ryan dari balik pintu. “Apa aku dobrak saja?” tawar Ryan pada temannya.
Angel buru-buru bangun dari tidurnya dan segera membuka pintu. Begitu ia membukanya, ia melihat wajah-wajah panik di sana. Ada Senior Ryan dan Kak Gea, pengurus asramanya. Di balik keduanya ada wajah-wajah penasaran yang melongok dari pintu kamar masing-masing. Kendati hari ini akhir pekan ternyata lebih banyak orang yang tinggal di asrama dari biasanya.
“Ada apa?” tanya Angel.
“Oh, syukurlah kau tak apa,” ucap Ryan lega.
“Aku tak apa, tapi ada apa?” tanya Angel sekali lagi.
Gea memandang sekitar sebelum menjawab. Ia langsung menarik tangan Angel untuk kembali masuk ke dalam kamar dan memberi isyarat pada Ryan untuk menunggu mereka.
“Ada apa Kak Gea?” tanya Angel tak mengerti. Kenapa mereka harus membicarakannya di kamar seolah itu adalah sesuatu yang rahasia.
“Paula temanmu, bukan?”
“Ya,” jawab Angel. Ia tak mengerti kenapa Gea menanyakan tentang Paula. Dan ngomong-ngomong kenapa Paula belum tiba. Angel melongok sebentar ke arah jam dinding. Hari sudah menunjukkan siang hari, gumamnya. Ia harus menghubungi Paula segera jadi dengan tidak sabar ia menunggu Gea mengungkapkan kepentingannya.
"Paula sekarang di rumah sakit."
"Apa! Maksudku kenapa ia di rumah sakit?" tanya Angel tak mengerti.
"Sepertinya ia terlibat kecelakaan."
Sepertinya Angel belum sepenuhnya sadar dari tidurnya sehingga tidak paham maksud perkataan Gea. "Lalu?" tanya Angel lagi. Ia tak sabar menunggu kelanjutan ceritanya karena ia ingin segera menelepon Paula. Tapi, ia tiba-tiba menyadari sesuatu, "eh, tunggu. Bukan Paula yang sedang terlibat kecelakaan, bukan? Maksudku bukan Paula yang sedang terbaring sakit, kan?" tanyanya khawatir.
"Ya dan tidak," ujar Gea. Gadis berambut blonde sebahu itu mengedikkan bahunya.
"Lalu apa? Ayolah Kak Gea. Kenapa dengan Paula?" tanya Angel dengan nada kesal.
"Paula terlibat kecelakaan," ujar Gea.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Angel. Matanya membulat karena terkejut. Apakah itu yang membuat Paula tak juga datang menemuinya? batinnya. Tapi bagaimana bisa temannya terlibat kecelakaan.
"Hanya luka ringan. Saat ini ia sedang dirawat. Tapi orang yang terlibat kecelakaan dengannya dalam keadaan koma. Sepertinya setelah perawatan Paula akan ditahan untuk interogasi.
"Oh, God! sekarang bagaimana? aku harus ke sana sekarang," ujar Angel sambil merapikan rambut kusutnya.
"Ya, dan sebelum itu kau harus mengaktifkan nomormu. Kami kesulitan menghubungimu. Dan tentang rumormu mengenai Ryan dan Dima .... "
"Jangan percaya dengan rumor," sergah Angel memotong ucapan Gea. Ia segera mencari baju yang lebih pantas dari lemari dan membawanya ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Gea mendesah. Sebenarnya ia mau memberitahu Angel jika Ryan telah mengkonfirmasi secara sepihak bahwa Ryan tertarik pada Angel dan ingin berkencan dengan gadis itu. Ia tak tahu keputusan Ryan yang ingin melindungi Angel dari fans Dima akan berjalan baik atau malah akan memperburuk keadaan. Sebaiknya ia tidak ikut campur, gumamnya.
__ADS_1
Secepat kilat, Angel telah berganti pakaian. Ia segera meraih ponselnya yang ternyata telah mati karena kehabisan baterai, pasti ponselnya telah mendapat banyak panggilan sehingga benar-benar padam padahal sebelumnya tidak pernah sekalipun baterainya low.
Angel segera mencari power bank dari laci meja belajar Paula. Setahu Angel, Paula selalu siap sedia dengan power bank untuk mengakomodir hobi main game-nya.
"Oia, Angel. Bisakah kamu menyediakan pengacara untuk membantu Paula?" pinta Gea.
"Hm, tentu!" jawab Angel spontan. Ia akan meminta tolong papanya.
"Hm, syukurlah. Sepertinya Paula berurusan dengan keluarga kaya. Aku tak yakin kecelakaan itu salah siapa, tapi orang seperti Paula akan sangat dirugikan jika menyangkut orang kaya."
"Aku mengerti. Bisa berangkat sekarang?" tanya Angel yang langsung membuka pintu.
"Kau sudah siap?" tanya Ryan begitu Angel membuka pintu. Ia sudah siap menunggu sedari tadi.
Angel mengangguk. Ia menunggu Gea keluar dari kamarnya sebelum mengunci pintu.
Angel terlihat sibuk menyambungkan power bank pada ponselnya sedangkan Ryan dan Gea hanya diam dalam perjalanan ke tempat parkir.
Beberapa pasang mata mengintip dari celah-celah pintu yang tidak tertutup sempurna, rata-rata mereka penasaran dengan apa yang terjadi tapi mereka enggan menonjolkan diri karena mata tajam Gea melirik sadis ke arah mereka. Bukan tanpa Sebab Gea terpilih menjadi pengurus asrama. Gea terkenal karena sikap disiplinnya. Itulah kenapa ketika bagian shift Gea tiba, tak banyak penghuni asrama yang berani melakukan pelanggaran.
"Bagaimana kejadiannya?" tanya Angel begitu mereka sudah berada di dalam mobil.
"Aku diberitahu temanku jika temanmu terlibat kecelakaan. Kebetulan temanku magang di rumah sakit rujukan," ujar Ryan memulai ceritanya. "Jadi berdasarkan permintaan Paula, temanku memintaku menghubungimu. Begitu nomormu tidak bisa dihubungi, aku menjadi tak tenang takut terjadi sesuatu. Akhirnya aku meminta tolong Gea," paparnya sembari mengemudikan mobil.
"Apakah keluarganya sudah dihubungi?" tanya Angel lagi. Ia mulai menyetel tombol power ponselnya, ia harus menghubungi papanya.
"Pihak rumah sakit telah menghubunginya," jawab
🌻🌻🌻
Ketika mereka telah tiba di rumah sakit, mereka tidak mendapati Paula di ranjangnya. Hanya terdapat ibu dari Paula yang menangis dan adik perempuan Paula yang kecil tampak ketakutan, Angel mengenali mereka karena mempunyai rambut merah yang sama dengan Paula. Sementara tak jauh dari tempat keluarga Paula berada tampak seorang wanita terlihat marah-marah pada mereka.
"Tanggung jawab kamu! anakmu yang membuat anakku koma! mana dia sekarang? jangan menyembunyikannya!" umpat wanita itu dengan nada berapi-api.
"Ada apa ini?" tanya Angel.
"Siapa ini? apakah kamu orang yang akan bertanggungjawab?" tanya wanita itu dengan angkuhnya. Angel hanya diam tak menggubris omongan wanita itu karena ia tahu tak ada gunanya meladeni orang marah jadi ia lebih memilih menenangkan ibu Paula yang terus menangis. Hanya saja Ryan yang tidak terima jika Angel juga ikut kena marah.
"Belum ada yang tahu siapa yang harus bertanggungjawab atas kejadian ini jadi tolong untuk menjaga mulut Anda, Nyonya!" ujar Ryan dengan nada tegasnya. "Pengacara kami sedang dalam perjalanan ke sini dan Anda bisa bicara dengannya!" ancamnya. Posturnya yang tinggi sedikit mengintimidasi sehingga wanita itu memilih pergi dengan marah-marah.
"Aku akan menuntut kalian semua!" ancam wanita itu sebelum pergi.
Ryan menghela nafas lega karena wanita itu memilih pergi. Memang benar orang yang dihadapinya adalah orang kaya tapi orang kaya pun harusnya punya tata krama dan tak mentang-mentang kaya. Apalagi dalam hal ini keduanya juga sama-sama menjadi korban.
"Aku Angel, teman sekamar Paula di asrama," ujar Angel mengenalkan diri. Ia juga mengenalkan Ryan dan Gea.
"Panggil aku Tante Aliya dan ini putri bungsuku, Poppy," ujar ibu Paula memperkenalkan diri.
"Di mana Paula saat ini?" tanya Angel.
Tante Aliya kembali menangis seolah ia telah diingatkan kembali kepada hal yang sedari membuatnya sedih.
__ADS_1
"Tadi ia di sini. Tapi tiba-tiba tangannya membengkak besar. Saat dokter melakukan pemeriksaan, mereka mengatakan Paula mengalami patah lengan dan harus segera dioperasi. Sekarang Paula sedang menunggu penanganan lebih lanjut."
Angel segera memeluk Poppy, adik perempuan Paula. "Kak Paula pasti akan baik-baik saja. Tetap berdoa ya, Sayang."
Gadis kecil itu mengangguk.
"Aku akan mengurus pembayarannya," ujar Angel tiba-tiba.
"Terima kasih, Nak Angel. Suamiku sudah mengurusnya."
"Tidak! Tidak bisa seperti itu. Aku yang akan membayarnya," ujar Angel bersikeras. Ia segera meminta Gea menemaninya. Tapi sejurus kemudian Ryan mengekor mereka.
"Aku yang akan tinggal di sini karena sebentar lagi pengacara keluargaku tiba. Kak Gea bisa kembali ke asrama bersama Senior Ryan."
"Aku akan menemanimu," ujar Ryan cepat.
Gea yang tanggap bahwa Ryan ingin bersama Angel langsung mengerti, "Ok, aku akan kembali ke asrama."
"Tapi Kak Gea jadi harus pulang sendiri. Apa Senior Ryan tidak mau mengantarkan Kak Gea dulu?"
"Tidak perlu, aku bisa naik taksi," tolak Gea.
"Baiklah ... terima kasih ya, Kak Gea," ujar Angel seraya memeluk Gea. “Apakah Kak Gea membawa uang? Biar kubantu membayar taksi,” ujar Angel sembari mengeluarkan beberapa lembar uang. “Pasti Kak Gea terburu-buru ke sini, terimalah,” ujar Angel sambil menyelipkan uang dalam genggaman Gea.
Gea terlihat ingin menolaknya tapi memang benar ia sedang tidak membawa uang. Jangankan uang, ponsel pun lupa. Ryan telah meminta tolong padanya dengan sangat mendadak sampai-sampai ia tak sempat membawa apa-apa. “Aku akan menggantinya besok-besok,” ujar Gea akhirnya.
“Tentu,” jawab Angel sembari tersenyum. “Kapan-kapan traktir aku dan Paula saat ia sudah sembuh."
"Tak masalah! Kamu juga jaga kesehatan. Jika besok kamu tidak bisa masuk kuliah, biar aku yang membantumu membuatkan izin."
"Tentu. Sekali lagi Terima kasih ya, Kak Gea."
Setelah Gea pergi, Angel membayar biaya tagihan medis Paula yang ternyata sudah dibayar sebagian oleh papa Paula. Angel pun meminta bagian kasir untuk mengalihkan pembayaran atas namanya. Ia ingin membantu membiayai perawatan medis temannya.
Ryan melihat nominal yang cukup besar yang dibayar Angel, tak tahan untuk tidak berkomentar.
"Kau punya uang sebanyak itu? apa itu uang sakumu?" tanya Ryan penasaran.
"Hm, iya. Tapi uang sakuku tidak serta merta sebanyak ini," sanggah Angel. "Aku selalu mendapat uang saku tiap bulan, tapi karena aku terbiasa mendapat fasilitas dari Dima jadi itu tak pernah terpakai dan tahu-tahu sudah terkumpul sedemikian banyak. Tak kusangka aku bisa memakainya di saat yang tepat."
"Aku jadi iri pada Dima," ujar Ryan.
"Kenapa?"
"Karena ia lebih dulu bertemu kamu."
"Apa hubungannya?" tanya Angel tak mengerti.
"Ya, kuharap kamu mau menerimaku," ujar Ryan sembari tersenyum.
Angel ingin menolak pernyataan Ryan dengan halus dan mengatakan bahwa ia tidak ingin punya hubungan seperti itu, tapi pengacara keluarganya telah tiba. Mau tak mau, ia harus mengesampingkan masalah pribadinya dan membahas masalah hukum yang akan menimpa temannya nanti.
__ADS_1
🌻🌻🌻