
🌷🌷🌷
Soni menatap temannya dengan bingung, sudah 1 jam berlalu dan temannya hanya membisu menatap gelapnya malam. Suara deru ombak memecah keheningan, mengisyaratkan keberadaan pantai yang berada tak jauh dari rumah sewaan mereka.
"Setelah kamu mengetahui keberadaan Ana, sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Soni membuka percakapan. Jujur saja kalau boleh memilih, ia lebih baik melihat Thomas menghabiskan malamnya dengan minum sampai mabuk daripada harus berdiam diri seperti ini. Melihat Thomas yang hanya diam membuatnya frustasi.
"Aku tidak tahu," jawab Thomas.
Meski tak berharap Thomas menanggapi pertanyaannya, Soni cukup terkejut karena Thomas akhirnya mau membuka mulutnya. Soni berharap bisa mengorek secara detail tentang apa yang terjadi pada Thomas dan memberikan solusi terbaik untuk permasalahan yang menimpa temannya itu. Jujur saja, ia merindukan Thomas yang dulu.
"Aku melihatnya dengan perut yang membuncit, bukankah berarti Ana sedang hamil sekarang. Laki-laki itu, siapa namanya... Hmm Evan, ya, Evan terlihat seperti kekasih Ana, ia protektif pada Ana."
"Ana hamil anakku," jawab Thomas pelan namun tegas.
__ADS_1
Soni menoleh tak percaya ke arah sahabatnya karena Thomas mengakui sendiri kehamilan Ana. Ia mengenal Thomas sudah sedari kecil karena orang tua mereka berteman, ia tahu betul sudah banyak wanita yang tidur dengan Thomas dan tak ada satupun yang mengaku dihamili oleh Thomas, sahabatnya ini orang yang perfeksionis, jadi menurutnya, Thomas tak mungkin melakukan kesalahan yang menyebabkan kehamilan.
"Bagaimana bisa kamu seyakin itu, banyak wanita yang berpura-pura hamil untuk mendapat perhatian,” kata Soni menyadarkan Thomas. Banyak gadis yang berlaku demikian, ia hanya tak ingin Thomas jatuh pada perangkap.
"Aku yakin karena aku tahu Ana bukan tipe gadis seperti yang kamu katakan. Aku tahu karena akulah pria pertamanya," jawab Thomas jujur.
Soni menutup mulutnya tak percaya dengan kenyataan ini. Oh Tuhan, apa yang sedang terjadi, pantas saja Thomas begitu terguncang.
Thomas menggeleng, "Aku bahkan baru tahu hari ini bahwa Ana sedang hamil. Jika aku tak bertemu dengannya hari ini maka aku tak akan pernah tahu kalau Ana hamil anakku. Aku benar-benar brengsek! Setelah aku mengacaukan hidupnya, aku juga mengacaukan masa depannya. Aku tak tahu apakah Ana akan memaafkanku kali ini."
Soni tak tahu harus mengatakan apa lagi, ternyata Thomas menyimpan beban seberat ini. Sebagai temannya, kemana saja ia selama ini.
"Lantas apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Soni.
__ADS_1
"Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku, dan melakukan apapun yang kubisa untuk mendapatkan maafnya."
"Aku tak tahu kamu menahan beban seberat ini, aku minta maaf sebelumnya karena tidak mengetahui ini. Kalau kamu butuh bantuanku, jangan sungkan, katakan saja."
Thomas memandang Soni dengan tatapan berterima kasih, ia bersyukur Soni menemaninya ke sini. Jika tidak, ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Tapi setidaknya kali ini ia bisa bernafas lega karena sudah bisa bersua dengan Ana. Masalah selanjutnya, ia akan menyerahkannya pada Edward. Ia berharap Edward dapat membantu meyakinkan Ana agar mau bertemu dengannya.
🌷🌷🌷
Yang minta update kagak sebanding dengan follower Author. Hehehehe. Di follow ya biar semangat.
Baca juga cerita Author yang berjudul “Bulan Kesembilan” yang gak kalah bagusnya (memuji diri sendiri).
Nunggu Author beli alat tulis ya, biar bisa update banyakan, Author pegel nulisnya pake ponsel. Yang mau ditulis bejibun tapi tangannya uda pegel duluan.
__ADS_1