Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
31


__ADS_3

🌷🌷🌷


Keesokan harinya, Ana melihat Thomas datang ke rumahnya lagi. Kali ini kolam yang dibuat Thomas tampak sudah hampir jadi. Ia yang sudah mulai terbiasa dengan kedatangan Thomas hanya membiarkannya. Ia berdiri tak jauh dari Thomas untuk menjemur pakaian


“Selamat pagi Ana” sapa Thomas.


“Ya, selamat pagi” jawab Ana pendek. Ia tak sedang ingin basa-basi, ia merasa tidak enak badan. Ia juga sebenarnya malas mencuci, tapi ia lebih malas lagi jika mempunyai banyak cucian.


“Apakah kamu sedang tidak enak badan?” tanya Thomas yang ternyata langsung paham hanya dari jawaban singkat Ana. Saat ia melihat Ana menjemur pakaian, ia langsung menyudahi pekerjaannya dan membantu Ana. “Kamu tidak harus melakukannya. Mulai saat ini biar aku yang mencuci pakaianmu.”


Ana tidak membantah perkataan Thomas karena ia justru sangat berterima kasih Thomas membantunya menjemur. "Baiklah, tolong jemur ini," Ia sendiri segera duduk di kursi dan membiarkan Thomas mengambil alih. Kehamilannya yang semakin besar membuatnya lebih cepat lelah, apalagi punggung dan betisnya terasa nyeri kadang-kadang. Ia juga mulai sering mendapatkan edema di kaki dan tangannya, ia membayangkan mendapat pijatan setiap hari, rasanya pasti sangat melegakan. Tentu saja ia tak berharap dapat pijatan karena memang tak ada yang akan memijatnya, masakan Thomas, anak yang manja begitu, bagaimana ia bisa menyuruhnya melakukan itu.


Ana melihat hasil jemuran Thomas, hmm, tak buruk bagi orang yang pertama kali melakukannya, gumamnya pelan.


Thomas memandang Ana yang terlihat lelah. Kira-kira apa yang bisa kulakukan untuk membuatnya lebih baik, batinnya. Ia segera meletakkan keranjang cucian dan mendekat ke arah Ana. Saat mendekat itulah ia tahu kenapa Ana terlihat kelelahan. “Kakimu bengkak,” ucapnya terkejut saat melihat kaki Ana yang tertumpu di kursi pendek. Hatinya teriris pedih melihatnya, Ana ku yang malang, sekali saja ia ingin melihat Ana tanpa merasa khawatir. Hanya saja itu tak mungkin karena semua kemalangan pada Ana bersumber padanya. Ialah yang membawa kemalangan itu.


“Biarkan aku memijit mu,” tawar Thomas. Tentunya penawaran itu hanya sekedar basa-basi karena meski Ana menolak, ia akan tetap memijit kaki Ana. “Apa kamu punya minyak esensial?” tanya Thomas lagi.


“Ada di kamar tidur. Aku biasa menggunakan minyak zaitun, kalau tidak salah aku menaruhnya di atas meja di samping ranjang, kamarku dibelakang meja tv" jawab Ana. Thomas tak menyangka Ana mau, pasti gadis itu benar-benar kelelahan.


Thomas bergegas mengambil minyak sambil membawa keranjang jemuran masuk. Saat ia melihat ranjang yang dimaksud Ana, ia benar-benar menangis. Ia hanya mendapati dipan tua dengan kasur yang keras, seprei dan selimut yang warnanya sudah memudar, hanya cover bantal dan guling yang terlihat baru. Di samping jendela ada lemari kayu dua pintu yang gagang pintunya juga sudah rusak. Segala sesuatu tampak terbatas di sini. Hatinya teriris melihatnya, ia sangat menyesal telah bermain-main dengan Ana. Gadis itu sejatinya bisa menjadi bagian keluarga Maxwell dengan segala kemewahannya, hanya karena kelakuan egoisnya membuat Ana tidak hanya merelakan kebahagiaannya tapi juga kehidupan yang nyaman. Lalu apa yang bisa diberikan olehnya? Tak ada! Kecuali hanya kesedihan dan kesakitan. Ia bertekad tak akan membuat Ana bersedih lagi. Nasi telah menjadi bubur. Ia tidak bisa memperbaiki masa lalu, tapi setidaknya ia bisa berusaha membuat masa depan yang lebih baik bagi Ana. Ia segera menghapus air mata di pipinya dan mengambil minyak zaitun, Ana pasti sudah menunggunya.


“Apa yang membuatmu lama berada di dalam? Apakah tidak ada di atas meja?” tanya Ana.

__ADS_1


Thomas tersenyum, “ya, begitulah.” Ia mulai memijit kaki Ana.


Tapi baru beberapa pijatan, Ana langsung menyuruhnya berhenti. “Tunggu-tunggu! berhenti sebentar. Kamu keliru melakukannya, kamu harus menghelanya ke arah berlawanan. Kemari kan tanganmu, biar ku contohkan,” kata Ana sembari memegang tangan kiri Thomas. “Kamu harus menghela ke atas seperti ini,” ujar Ana mencontohkan. Ia memijit tangan Thomas dengan mengarahkan pijatannya ke arah lengan.


Thomas memandang Ana tanpa sedikit pun mengindahkan instruksi yang diberikan. Ia sungguh takjub Ana mau memegang tangannya. Sentuhannya lembut menelisik masuk ke sanubarinya. Ia merindukan sentuhan ini. Ia tak pernah berpikir dapat merasakannya lagi. Wajah tampannya mengulas senyum, Ana aku mencintaimu, ingin sekali Thomas mengucap kata itu. Tapi tentu saja ia tak memiliki keberanian untuk mengatakannya.


“Apakah kamu mengerti?” tanya Ana membuyarkan lamunan Thomas. Thomas sedikit malu ditatap seperti itu sehingga ia segera melepas tangan Thomas.


Thomas tergagap, ia merasa bersalah melihat Ana tak nyaman oleh tatapannya, “Ya, apakah seperti ini?”


“Ya, lakukan seperti itu,” ujar Ana. “aku akan memejamkan mata sebentar, bangunkan aku jika aku tertidur.”


Thomas hanya mengangguk. Ana langsung terlelap dengan cepat begitu ia memejamkan mata. Thomas melihatnya dengan kasihan karena posisi tidur Ana dengan duduk, sama sekali terlihat tidak nyaman. Tapi Thomas memilih membiarkan Ana dan terus memijit, jika ia telah menyelesaikan pekerjaannya dan Ana masih belum terjaga maka ia akan memindahkan gadis ini ke dalam.


🌷🌷🌷


Hening, tak ada jawaban. Ia lantas membuka mata, “hmmm aku sudah di kamar,” gumamnya bingung. Ia lantas kembali memejamkan matanya sebentar dan membuka matanya lagi. Namun tetap saja ia berada di kamar. “Aku tak merasa tidur di kamar. Mungkinkah Thomas yang memindahkan ku ke dalam? jam berapa sekarang?” ia melihat ke luar jendela. Cuaca telah beranjak siang. Thomas pasti telah pergi bekerja. Ia segera bangun dari tidur karena merasa lapar. Tapi sebelum keluar kamar, ia mendapati secarik kertas di atas meja. Pasti ditinggalkan Thomas untuknya. Ia lantas membacanya.


“Kolam ikan hampir siap, bagaimana jika menemaniku membeli beberapa ikan dan hiasannya. Jika iya, aku akan menunggumu besok pagi," begitu bunyi secarik kertas yang ditinggalkan Thomas.


Ana menimbang-nimbang apakah ia akan ikut atau tidak, “ah, yang penting makan dulu saja.”


Ana segera ke dapur mencari sesuatu yang bisa di makan. Saat ia membuka pintu kulkas, ia dibuat terkejut dengan isinya. Ia sampai tak yakin bahwa kulkas ini miliknya karena isi kulkasnya sama sekali bukan apa yang dibelinya. Banyak buah-buahan yang sudah dikupas dan diiris kecil tersusun rapi di dalam kotak-kotak bening, ada sekotak puding buah, beberapa botol susu siap saji, roti tawar dengan beberapa selai buah. Ia langsung merasa lapar begitu melihatnya.

__ADS_1


“Pasti Thomas yang melakukannya,” mulutnya mengulas senyum, ia merasa bahagia. Begini kah rasanya jika seseorang memerhatikan kita? gumam Ana sambil mengambil sekotak buah. Thomas sudah mengelompokkan masing-masing sesuai jenisnya tinggal ia mengambil beberapa dan menempatkannya pada satu piring. Mungkinkah ia sedang menyogok ku karena akan mengajakku keluar besok? hm bisa jadi. Tapi ini enak, gumamnya saat mencobanya.


“Apakah aku harus mengucapkan terima kasih? Aku tidak punya nomor teleponnya. Tapi sudahlah, ia memberiku makan berarti memberi anaknya makan juga, kewajibannya, kenapa aku harus berterima kasih,” ucapnya lagi mencari alasan untuk menolak berterima kasih.


“Aduh aku kebelet kencing,” ucap Ana sambil buru-buru ke kamar mandi. Namun karena terburu-buru ia tidak hati-hati.


“BRUK...” tubuh besarnya jatuh ke lantai yang keras. “ADUH...!” pekik Ana, tahu-tahu ia sudah ada di lantai. Ia segera menarik nafas keras dan panjang untuk menenangkan diri. Apalagi saat ia mendapati ada cairan merah merembet di sela pahanya, ia semakin panik. “baik, aku tidak boleh panik,” kata Ana sambil berusaha bangun, namun naas kakinya ternyata keseleo.


"Baik, jika aku keseleo aku harus mencari pegangan untuk bisa bangun.” Namun yang ada di kamar hanya bak kamar mandi dan bak itu terlihat terlalu rapuh untuk menyangga tubuhnya. Jika tidak bisa berpindah paling tidak aku harus menyumbat pendarahan ku, batinnya sambil meraih handuk yang ada di kamar mandi, melipatnya dan menempatkannya pada mulut rahim berharap itu bisa menghambat darah yang keluar. “Baiklah, aku bisa tenang sekarang” ujarnya lega.


Kali ini apa yang harus kulakukan? pikir Ana ingin sekali berteriak tapi ia harus menjaga tubuhnya tetap tenang kalau ia berteriak pasti pendarahannya akan semakin banyak, salah-salah ia akan kehabisan darah. Saat ini ia masih bisa tenang karena ia tidak merasakan kontraksi keras di perutnya. Baiklah, aku harus menghubungi seseorang, di mana aku menempatkan ponselku? pikirnya mencoba mengingat-ingat. Apakah di kamar? Sepertinya tidak? Ah, aku lupa di mana aku menaruhnya, batinnya frustasi. Ia berada di kamar karena Thomas yang menggendongnya, pastinya ponsel itu ia menaruhnya sebelum mencuci. Oh, Tuhan! Sungguh kah aku melupakannya? Ia tak bisa gegabah berpindah tempat dan menghabiskan energinya jika ternyata ponselnya tak ada di sana.


Ana akhirnya putus asa. Ia memilih berdiam di lantai yang dingin sambil mengetuk gayung berkali-kali berharap ada seseorang yang mendengarnya. Atau seseorang mungkin bertamu ke rumahnya. Evan mungkin akan ke sini, Lily? Thomas? Tetangganya? Atau siapa saja.


Namun satu jam telah berlalu dan tidak ada yang datang, Ana pun menangis. Apakah sungguh terlarang baginya merasakan cinta, baru beberapa waktu yang lalu ia bahagia merasakan perhatian dari seseorang, sekarang ia mendapatkan kesusahan sebagai gantinya. Jika aku memang tidak bisa mengandalkan orang lain, berarti aku harus mengandalkan diriku sendiri, pikirnya yang lantas menyeret tubuhnya sedikit demi sedikit ke arah pintu depan. Rasa nyeri di hati dan perutnya ditahannya dengan sekuat tenaga. Hatinya sakit mengingat tak ada seorang pun di sini saat ia membutuhkan, baru ia menyadari ia tak bisa hidup sendirian. Ia istirahat di setiap langkah yang dilaluinya. Namun setengah jalan kemudian, ia berhenti. Ia tak sanggup lagi, perutnya mulai terasa menyakitkan. Air mata tumpah ruah membasahi pipinya. "Oh, Tuhan! Kirim seseorang untukku, aku berjanji akan melakukan apapun untuknya untuk menebus pertolongannya. Tolonglah hamba mu ini, kirim seseorang untukku," doanya sambil menangis.


🌷🌷🌷


Terima kasih atas ucapan selamat tahun barunya up kali ini spesial untukmu, terima kasih telah mendukung Author.


Selamat Natal dan tahun baru.


__ADS_1



__ADS_2