
🌻🌻🌻
"Bagaimana kabar temanmu?" tanya Anna begitu ia dan putrinya telah siap tidur. Pembicaraan di atas ranjang sebelum tidur, selalu layak dilakukan untuk melepas tekanan dan beban seharian.
"Dia telah sukses menjalani operasi, tapi untuk sementara ia harus memulihkan kesehatannya dulu. Aku berniat membantunya sampai ia bisa beraktivitas kembali."
"Jika kamu terlalu repot untuk kuliahmu, mama bisa menyewa perawat untuk membantu temannmu, jadi kamu bisa lebih nyaman nanti,," saran Anna. Meski ia tahu putrinya sangat menyayangi temannya tapi sebagai seorang ibu ia juga tak ingin putrinya kelelahan karena beraktivitas di luar kemampuannya.
"Hm, Sebenarnya itu juga bagus. Jadwal kuliahku terlalu padat. Alih-alih membantunya, aku mungkin akan membuat diriku sendiri sakit," gumam Angel membenarkan.
"Jadi kemarilah, mama akan merangkulmu. Kamu bisa tidur dengan nyenyak sekarang," ujar Anna sembari melebarkan tangannya. Angel tersenyum riang seperti anak kecil dan menghamburkan dirinya ke pelukan mamanya.
"Hari ini berat sekali," gumam Angel.
"Tenang saja kamu adalah gadis yang kuat pasti kamu bisa melewati semuanya."
"Hm, sebenarnya kali ini bukan tentang Paula tapi tentang Dima."
"Dima? kenapa dengannya?" tanya Anna terkejut. "Apa kamu bertemu dengannya? Bukankah dia sedang magang di kota lain?"
"Tadi dia meneleponku."
"Apa katanya?"
"Aku ... " Angel berhenti sejenak. Ia ragu untuk berkata jujur. Meskipun begitu ia tetap melanjutkan ceritanya. "Sepertinya aku telah membuat kesalahpahaman."
"Maksudnya?"
"Dima bertanya padaku apa aku sudah punya pacar. Padahal aku sudah bilang tidak tapi ia terus saja menanyakannya seolah aku berbohong, aku merasa marah padanya karena tidak percaya padaku jadi aku bilang iya. 'Ya, bahwa aku berpacaran dengan senior itu'. Hanya saja saat aku mengatakannya aku tidak tahu bahwa Senior kumaksudkan itu ada di sana, jadi senior itu ikut mendengar pernyataanku juga. Celakanya lagi, beberapa menit sebelumnya senior itu baru saja mengaku bahwa ia menyukaiku dan menunggu jawabanku. Akibat ucapanku yang sembrono Dima marah padaku dan senior salah paham. Aku bingung sekali bagaimana meluruskannya."
Anna mengetatkan pelukannya saat putrinya sedikit terguncang saat menceritakannya.
"Jawabannya ada di hatimu. Siapakah yang sebenarnya kamu sukai. Di manakah sesungguhnya hatimu berlabuh? Yang tahu jawaban dari semua pertanyaan itu adalah kamu. Tanyakan pada hatimu, Sayang ... "
__ADS_1
"Aku ... " Angel ingin meneruskannya tapi ia berakhir menggigit bibirnya dan meneruskan ucapannya dalam hati ... aku menyukai Dima, kurasa aku mencintainya ...
"Jauhi Dima jika kamu tidak yakin dengan hatimu!" ucap Anna saat ia melihat Angel tak menjawabnya.
"Apa!" Angel terkejut saat mamanya mengatakan itu. Pernyataan itu menohok hatinya. Belum sempat ia mengatakan isi hatinya keras-keras, ia sudah dilarang. "Tapi kenapa?" lanjutnya tak mengerti.
"Mama dan papa Dima dulunya sempat bertunangan," ujar Anna. Ia memang berencana mengatakannya saat putrinya dewasa. Pertunangan yang hanya segelintir orang yang tahu.
" ... "
Angel hanya bisa terdiam tanpa kata karena terkejut. Sungguhkah mamanya pernah bertunangan dengan papa Dima? Meski kini ia tahu alasan dari mana keakraban mamanya dan Om Theo berasal. Tapi bagaimana bisa?
"Jadi mama tolong, jangan menyakiti Dima seperti mama menyakiti Om Theo."
Angel melepaskan diri dari pelukan mamanya saat sebuah skenario buruk melintas di otaknya tentang bagaimana mamanya berakhir menikah dengan papanya bukan dengan Om Theo.
"Apa mama berselingkuh dengan papa?" tanya Angel. Ia juga terkejut dengan apa yang diucapkannya tapi ia berharap jawaban mamanya tidak seperti apa yang dipikirkannya.
"Apa yang terjadi pada mama dan Om Theo sehingga kalian berpisah? Dan mama malah menikah dengan papa alih-alih Om Theo," tanya Angel. Ia sangat penasaran. Rasanya ia tak akan bisa tidur jika malam ini ia tidak mengetahui kebenarannya.
"Ada sebuah kesalahpahaman yang tidak bisa kami luruskan sejak awal sehingga kami gagal mempertahankan hubungan kami. Jadi tuan putriku, selesaikanlah kesalahpahaman itu jangan sampai kamu menyesalinya nanti," ujar Anna menutup ceritanya.
"Apa mama menyesal?" tanya Angel. Ia mendongak ke arah mamanya. Kamar yang temaram membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi apa yang ditunjukkan oleh mamanya tapi ia bisa melihat mata itu sedikit berkilat. Apakah itu air mata? Apa mamanya sempat menyesal? ataukah sampai detik ini mamanya masih menyesal?
"Mama tak pernah menyesal memilikimu, Sayang. Mama tidak akan menyesal menjadi bagian dari keluarga ini."
"Hm, syukurlah," ujar Angel sembari memeluk mamanya sekali lagi lalu bersiap tidur. Anna pun demikian. Kesunyian lantas melingkupi seisi kamar saat ibu dan anak itu terlelap.
Namun tak lama kemudian Angel tampak membuka matanya. Rupanya ia hanya berpura-pura tidur. Ia menoleh ke arah mamanya yang telah pulas akan tidurnya.
Angel masih memikirkan perkataan mamanya tadi. Mamanya memintanya menjauhi Dima jika ia tidak serius. Tetapi hatinya baru saja mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada Dima. Namun perasaan cinta yang baru saja disadarinya apakah benar itu cinta? ia ragu untuk maju jika ternyata ia malah semakin menyakiti Dima jika ternyata perasaannya tidak setulus itu.
Angel menghela nafas panjang.
__ADS_1
Apakah Dima juga tahu jika papanya dulu bertunangan dengan mamanya?
Sepertinya Dima tidak tahu, sangkal Angel. Jika Dima tahu, mana mungkin Dima memujanya selama itu.
Angel juga harus memikirkan Ryan. Bagaimana ia bisa menghadapi seniornya besok? haruskah ia mengatakan bahwa perkataannya hanyalah kebohongan. Jika ucapannya itu hanya sebuah kebohongan, lantas betapa kejamnya ia yang telah mempermainkan perasaan seseorang. Saat senior mendengarnya mengakui itu, bukankah senior sudah berharap padanya. Apakah ia bisa memberikan penjelasan yang memuaskan pada Ryan?
Ah, kepalaku berdenyut-denyut, batin Angel seraya memijit pelipisnya. Ia mencari penutup mata di laci nakas. Setidaknya ia pasti bisa tidur jika matanya terpejam. Tak lama kemudian ia pun tertidur karena kelelahan.
🌻🌻🌻
"Jangan mengatakannya pada mama, Kak," pinta Dima saat Tonny membantunya membersihkan diri. Hari ini sangat melelahkan. Ia juga merasa bersalah pada kakaknya.
"Tenang saja! Kamu bisa percaya padaku. Lagi pula jika aku mengatakannya, maka aku yang akan dimarahi. Sudah-sudah sekarang cepat pakai kaosnya, minum obatnya dan tidurlah," perintah Tonny sembari mengangsurkan kaos untuk dipakai Dima.
Dima menurut dan memakai kaos itu tanpa protes.
"Kak, mau tidur bersamaku?" ajak Dima.
"Kenapa? apa kamu takut tidur sendirian?" gurau Tonny.
"Sepertinya iya," jawab Dima sembari memasang senyum lemah.
"Bolehlah! tunggu di sini aku akan ganti baju. Dan jangan lupa minum obatnya atau kamu akan sakit kepala keesokan harinya."
"Baik!"
Tapi saat Tonny kembali ia melihat Dima sudah tidur pulas.
Tonny mengusap rambut Dima dengan sayang. Sepupunya adalah orang yang baik dan lurus seperti pamannya. Ia takut karena sakit hati membuat Dima mejadi lepas kendali. Sepertinya ia harus mengajarkan hal yang baik pada Dima. Ya, agar tidak menjadi anak nakal sepertinya.
Sayang sekali bocah sebaik Dima harus mengalami kisah cinta yang rumit. Tapi Dima masih muda, setidaknya ia pasti bisa menemukan cinta yang sesungguhnya suatu saat nanti , semoga saja, doa Tonny dalam hati. Ia lantas berbaring di bagian sisi ranjang yang kosong dan tak lama kemudian ia pun tertidur menyusul sepupunya.
🌻🌻🌻
__ADS_1