
🌻🌻🌻
“Sial aku kangen banget sama Dima!” umpat Angel sembari mencoret-coret buku di pangkuannya dengan gemas. Ia telah lelah membaca. Rasanya semua buku di perpustakaan telah habis dilahapnya dan tetap saja ia tak bisa mengusir bayang-bayang Dima.
Tiba-tiba seorang menyodorkan sekaleng kopi padanya.
“Thanks,” ucap Angel sembari mendongak.
Tapi begitu ia melihat siapa yang memberinya minuman, ia tertegun sejenak. Ternyata bukan Paula atau Sissy, melainkan seniornya, Ryan Eagle.
“Hm, ini untukku?” tanya Angel setelah sadar dari keterkejutannya. Senior Ryan memberinya minum sungguhkah? Tak bisa dipercaya. Senior yang populer itu?
Ryan Eagle adalah senior sekaligus asisten dosen di kelasnya. Bisa ditebak pria ini sangat pintar dan populer. Hampir semua gadis di fakultasnya mengidolakannya, tak terkecuali Angel.
“Bisa kau lihat, aku membeli dua,” ujar Ryan sembari menunjuk satu kaleng kopi. “Aku biasa meminumnya dengan temanku. Tapi saat aku melihatmu, sepertinya kamu lebih membutuhkannya.”
“Uh, terima kasih,” jawab Angel malu. Apa seniornya melihat ia bertindak kekanak-kanakan tadi? Uh, sungguh memalukan!
“Boleh aku duduk, Angel?” pinta Ryan sambil menunjuk bangku kosong berisi buku-buku di samping Angel.
Angel mengangguk sambil buru-buru merapikan bukunya.
“Apa kau membaca semuanya?” tanya Ryan terkejut. Ia tahu Angel sangat pintar tapi membaca literatur kedokteran tak semudah membaca novel.
Angel mengangguk.
“Senior tahu namaku?” tanya Angel begitu ingat barusan Ryan menyebut namanya.
“Tentu saja aku tahu. Aku asisten dosen di kelasmu.”
“Begitu, ya?”
“Ya, omong-omong makalahmu bagus sekali. Pasti kau membuatnya dengan bersungguh-sungguh. Aku sampai mengingat namamu saking bagusnya pekerjaanmu.”
“Ah, Senior terlalu memujiku,” ucap Angel malu-malu.
“Jangan panggil senior, namaku Ryan Eagle, ingat! Panggil aku Ryan.”
“Ah ... “ Angel hanya bisa ber-ah ria karena ia masih dilanda keterkejutannya.
“Aku harus pergi,” ucap Ryan. “Jangan lupa meminumnya,” lanjutnya sambil berdiri.
Angel memandang wajah tampan Ryan tanpa bisa mengontrol mimik kecewa di wajahnya saat Ryan langsung pergi.
Meski ramah, Ryan memang terkenal dingin pada gadis-gadis. Jadi bisa mengobrol sebentar saja sudah termasuk kesempatan yang langka.
Namun sebelum benar-benar pergi, Ryan berbalik menghadap Angel.
Angel menautkan alisnya seolah berarti ‘apa ada yang tertinggal?’
Ryan memicingkan mata birunya pada buku yang ada di pangkuan Angel. “Buku yang kau coret itu, bukankah itu buku perpustakaan?”
Angel terkejut saat menyadari kebenarannya, “astaga!”
__ADS_1
“Jika kau butuh bantuan, hubungi aku ... “ ujar Ryan sembari tersenyum manis. Tak lupa ia menunjuk kaleng yang dipegangnya.
Angel memandangi punggung lebar pria terpopuler di fakultasnya itu. Ia tak menyangka senior yang hanya bisa dilihatnya di depan kelas barusan menyapanya. Tapi bisa-bisanya pertemuan mereka berakhir memalukan.
Angel menahan napas saat membolak-balik buku yang dicoretnya. “Oh My God! ini benar buku perpustakaan! Celaka 12! Aku harus menggantinya.” Angel mendesah. “Sepertinya senior benar. Aku butuh kopi!”
Saat hendak meminumnya, Angel baru sadar. Ternyata ada kertas memo tertempel di sana. Memo itu bertuliskan ‘cheer up’, emoticon senyum dan id insta.
“Oh, wow! Serius!” ujarnya senang.
🌻🌻🌻
“Senior Ryan memberimu sekaleng kopi dan ini?” tanya Sissy tak percaya sembari memegang kertas memo seolah memegang jimat.
“Ya,” ucap Angel dengan wajah berbinar.
“Aku iri padamu,” ujar Sissy sembari duduk di samping Angel.
“Jangan iri padaku. Seharusnya kamu kasihan. Lihatlah buku ini ... Aku telah merusaknya. Mana buku di perpustakaan terkenal mahal dan langka.”
“Astaga!” Sissy terpengarah. “Sungguhkah kau yang melakukan ini? Aku tahu kamu kaya, tapi kelakuanmu? Duh duh ... ” tanyanya sambil geleng-geleng. Luar biasa! mana ada orang dewasa yang mencoret buku saat sedang kesal.
Angel lantas menceritakan kronologi saat senior Ryan memergokinya mencoret buku itu.
“Kau pasti malu sekali.”
“Luar biasa malu! Dan lagi aku harus menggantinya.”
“Kau tinggal minta tolong Dima, gampang kan! Apa yang tidak bisa dilakukannya? Tak peduli mahal atau langka, selalu ada jalan baginya.”
“Kenapa?” tanya Sissy. Kedua alis hitamnya menaut.
“Dia ikut program transfer semester ini.”
“Kau dapat info dari siapa? Bukannya kamu juga tidak bisa menghubunginya?”
“Dari sumber terpercaya tentu saja! Meski aku tidak bisa menghubungi Dima, apa kamu pikir aku selevel dengan anak-anak yang lain?” sungut Angel.
Sissy tertawa kencang, “apa kau sedang PMS? Kau menjadi pemarah sejak tak ada Dima.”
“Sebenarnya kamu temanku bukan?”
“Teman sih, tapi jika boleh memilih, aku pilih berteman dengan Dima saja,” goda Sissy.
“Aish!”
“Meski bukan sefakultas, Dima sangat royal dan suka mentraktir. Dia baik hati, murah senyum dan tampan. Sedangkan kamu? Jujur saja kamu hanya modal cantik.”
“SISSY!” jerit Angel.
Sissy kembali tertawa, tapi kali ini ia merangkul temannya, “Aku hanya bercanda ....”
Sissy mencubit kedua pipi Angel dan melebarkan mulutnya agar temannya tertawa. Kalau boleh jujur, Angel adalah teman pertamanya di kampus ini. Ia yang memiliki warna kulit cokelat cenderung kurang populer dan dijauhi. Hanya Angel yang mengulurkan tangan padanya waktu itu. Angel yang menjadi perantara baginya berteman dengan banyak orang. Jadi apa pun yang terjadi ia akan selalu kembali kepada Angel, ia akan selalu menjadi temannya.
__ADS_1
“Apa Dima sungguhan tidak kuliah semester ini?” tanya Sissy menegaskan. Ia sedikit sedih tak bertemu Dima karena menurutnya Dima adalah teman yang baik, sayang sekali Angel tak cocok dengan Dima.
Angel mengangguk, wajahnya sedih. “Aku merindukannya, mungkinkah karena terbiasa dengannya atau aku mulai menyukai Dima sekarang?”
“Aku juga merindukannya. Tentu saja aku merindukannya hanya sebatas teman,” ujar Sissy.
“Dan tentunya itu berbeda denganmu. Perasaanmu bisa jadi rindu selayaknya teman sepertiku atau rindu selayaknya sepasang kekasih. Jika kamu tak yakin, kamu bisa mencoba dengan pria lain untuk mengetes hatimu. Dengan senior Ryan misalnya, kelihatannya kalian cocok!” goda Sissy. Matanya berkedip nakal. “Btw, Senior Ryan hot sekali!”
“Jangan meledekku. Senior Ryan tak mungkin mau denganku.”
“Senior bahkan sudah tahu namamu, ayolah senior Ryan pasti tertarik padamu.”
“Uh, kesimpulan mu itu tak membantu,” jawab Angel.
“Aku tahu Dima lebih tampan daripada senior Ryan. Tapi masakan kamu tidak berdebar begitu di depan senior Ryan. Senior Ryan sangat atletis dan seksi. Kau bisa bayangkan saat ia menjadi dokter dengan jubah putihnya. Tampan sekali! Aku rela sakit berkali-kali agar bisa diobati olehnya.”
Angel menjentikkan jarinya di depan Sissy yang tengah melamun membayangkan visual Senior Ryan. “Tutup mulutmu yang menganga itu, kamu mulai ngiler,” tegur Angel.
“Haha ... aku hanya membandingkan visual Dima yang kurus, tinggi, menjulang dengan visual Senior Ryan yang tinggi, tegap, dan seksi.”
“Jangan membandingkan Dima dan Senior Ryan. Mereka punya gap 5 tahun, tentu saja tubuh mereka berbeda. Asal kamu tahu, Dima tak kalah seksi!”
“Uwuw ... apa kamu pernah melihatnya?”
Angel memutar bola matanya sambil membenahi buku-bukunya, jika ia melanjutkan obrolannya, Sissy akan bertanya terus dan terus dan mengulitinya.
“Bagaimana kalau makan malam? Aku akan mentraktirmu asal kamu memberitahuku ... “
“Aku sudah janji dengan Paula!”
“Apa yang kamu janjikan padaku, Angel?” tanya Paula yang tahu-tahu sudah mendekat ke arah mereka.
“Angel mau mentraktir kita,” jawab Sissy.
“Sungguh! Uh, senangnya ... Dalam rangka apa, nih!”
“Angel baru dapat surat cinta dari Senior Ryan.”
“Senior Ryan yang itu? Calon dokter itu. Woah! Sungguh!” Paula takjub dibuatnya. Bahkan di jurusannya, Senior Ryan cukup terkenal.
“Ditinggal Dima sebentar, teman kita sudah mampu menarik hati Senior Ryan,” goda Sissy lagi.
“Aw ... Senior Ryan!” Paula ikut menggoda Angel.
“Traktirannya dong!”
“Asik ... Makan-makan.”
“Aku akan mentraktir kalian jika kalian berhenti menggodaku,” jawab Angel.
“Aw ... Kita ajak senior Ryan juga, yuk!” Sissy mulai lagi.
“Ugh kalian ... “ Angel lantas berlalu meninggalkan kedua temannya yang sibuk menggodanya.
__ADS_1
🌻🌻🌻