
🌻🌻🌻
Keesokan harinya, Angel berusaha mencari informasi tentang buku yang dirusaknya. Ternyata memang seperti yang dirumorkan, buku-buku perpustakaan kebanyakan memang susah didapatkan. Dan itu termasuk buku yang dirusaknya.
Tak peduli semahal apa buku itu, ia pasti sanggup membelinya. Tapi jika itu sulit didapatkan rasanya percuma saja punya banyak uang. Angel menghela nafas berkali-kali.
Paula yang sedang yoga di lantai merasa terganggu dengan helaan nafas yang terdengar putus asa itu.
“Angel, kau membuat moodku ikut jelek meski aku tengah melakukan yoga. Ada apa denganmu sampai menghela nafas berkali-kali? Apa sesuatu tentang Dima lagi?”
“Iya dan tidak,” jawab Angel sembari merebahkan dirinya di atas ranjang.
“Andai Dima bisa dihubungi,” keluh Angel.
“Apa lagi?”
“Aku merusak buku perpustakaan!”
“Gampang, kan. Kamu tinggal menggantinya dengan buku yang baru atau uang.”
“Andai semudah itu!”
“Buku itu langka!”
“Kalau begitu ganti saja dengan uang. Atau kalau kamu mau sedikit nakal, sobek bagian coretan itu lalu kembalikan. Tidak akan ada yang tahu kalau ada bagian yang hilang dalam buku itu. Lagian itu tak seperti kamu kehilangan bukunya,” terang Paula.
“Aish, itulah kenapa usulmu ngawur. Kamu tidak tahu betapa pentingnya buku kedokteran.”
“Ya, makanya karena aku tidak tahu.”
“Hari ini Senior Ryan memergokiku merusak bukunya. kurasa aku memang harus menggantinya. Ya ampun, hari ini aku sial sekali,” keluh Angel.
“Coba minta tolong Sissy.”
“Sissy? Itu tak membantu. Aku jadi makin merindukan Dima. Ia pasti tahu apa yang harus kulakukan. Ia juga akan membereskan semua hal untukku.”
“Kamu memanfaatkan Dima untuk kepentinganmu sendiri. Kau ternyata kejam, ya ... “ ujar Paula sambil geleng-geleng.
“Aish, kamu ini. Itu kan gunanya teman!”
“Memang Dima temanmu? Dima itu budakmu?”
“Coba katakan sekali lagi kalau tidak mau ku .... “
“Apa coba?” tantang Paula.
Angel kembali menghela nafas. Percuma berdebat. Itu tak membantunya menghilangkan rasa rindunya pada Dima.
“Jika kamu begitu merindukannya, coba pasang di media sosialmu. Katakan jika kamu merindukannya. Taruhan, Dima pasti akan pulang.”
“Kau yakin?”
__ADS_1
“Tentu saja! Aku masih punya foto yang waktu itu. Foto kamu dan adik-adikmu.”
“Sepertinya bagus. Coba sini!”
🌻🌻🌻
Seorang pria bertubuh tegap dengan tato separuh sayap di punggung kanannya tampak sedang berolahraga di taman samping rumahnya. Sinar mentari pagi membuat tubuhnya yang basah berkeringat berkilat indah mempertontonkan siluet kekar tubuhnya. Otot bisep dan trisepnya bergerak bergantian saat ia mengangkat beban. Rambut hitam panjang membingkai wajah tampannya yang berkarisma.
Pria itu masih muda, baru berusia pertengahan 20-an. Wajahnya tampan dengan hidung mancung dan kulit yang putih. Pria itu bernama Tonny T. Maxwell. Dari namanya kita bisa mengetahui bahwa Tonny berasal dari keluarga Maxwell.
Meski Tonny tengah sibuk dengan barbelnya. Mata hitamnya sibuk memandang sosok lain yang tengah bermalas-malasan di kursi panjang kolam renang.
“Hey, mau sampai kapan kamu bermuram durja seperti itu?” tegur Tonny.
Pemuda yang ditegur itu hanya menghela nafas.
“Secantik apa gadis itu sampai membuatmu seperti ini, Dima.”
“Sial! Tutup mulutmu itu, Kak!”
“Uh, adik sepupuku mengumpatku! Sepertinya kamu tengah bosan, bagaimana jika aku mengirimmu tinggal dengan Oma.”
“Aku akan lebih sopan, jangan mengirimku ke Oma,” jawab Dima dengan nada yang dipelankannya sedikit. Baginya, Omanya sangat menakutkan. Selain kata-katanya yang tak bisa dilawan, orangnya juga pemaksa. Tak ada satu pun cucunya yang betah hidup dengannya, meski itu hanya sekedar saat liburan.
Tonny hanya bisa tertawa keras. Ia suka menggoda Dima.
“Bagaimana kabar Daniel?”
“Kenapa tidak memberitahu Daniel yang sebenarnya? Dia kan adikmu?”
“Daniel berteman sangat akrab dan dekat selayaknya saudara dengan dua adik Angel. Aku tak ingin Daniel memberitahunya di mana aku saat ini.”
“Kau ini, kayak di dunia ini tak ada gadis lain saja selain dia. Tapi itu juga berlaku untuknya juga, sih! Di dunia ini cowok tak hanya kamu seorang. Taruhan, sebentar lagi gadis itu pasti punya pacar.”
Dima memilih kembali ke dalam rumah daripada mendengar ocehan Tonny.
Ucapan kakak sepupunya itu cukup membuat Dima jengkel. Bukannya menghiburnya malah bicara yang tidak-tidak. Tapi sungguhkah tanpa kehadirannya di sisi Angel, maka Angel akan dengan mudahnya menggandeng pria baru?
Ah, aku bisa gila! Keluh Dima dalam hati.
Sejak malam itu, mamanya memberinya usul untuk transfer kuliah. Satu semester atau lebih tergantung suasana hatinya. Hanya saja keluarga Dima adalah pemilik yayasan Maxwell University, meski tanpa transfer ia masih bisa melanjutkan kuliahnya tanpa kendala.
Jadi di sinilah ia sekarang. Bukannya kuliah, ia malah magang di perusahaan baru sepupunya. Kalau boleh jujur, saat ini ia bukannya magang tetapi lebih seperti meminta Tonny untuk menemaninya dan menjaganya dari melakukan hal yang tidak-tidak.
“Ngomong-ngomong, apa kamu tidak ingin mengubah penampilanmu?” tanya Tonny. Ia menyusul ke dalam untuk menyiapkan sarapan.
Tonny terbiasa mandiri. Meski ia memperkerjakan seseorang untuk membersihkan rumahnya secara berkala tapi ia tetap mempersiapkan makanannya sendiri. Ya, ia memang terbiasa sendiri, ia yatim yang ditinggal mati papanya dan digadaikan oleh mamanya, ia hanya suka mengandalkan dirinya untuk tetap hidup. Meski ia tak menampik rasa sayang yang ditunjukkan oleh Om Theo dan juga Oma dan Opanya. Tapi rasanya tetap berbeda bukan?
“Apa menurutmu aku kurang tampan, eh?” balas Dima setengah meledek. Ia cukup percaya diri dengan wajahnya.
Tonny menautkan alisnya sembari mengambil air minum.
__ADS_1
“Jujur saja. Hanya wajahmu yang lumayan. Maksudku lihatlah tubuhmu? Pantas saja gadis itu menolakmu.”
“Jangan gadis itu-gadis itu, namanya Angelina,” ujar Dima setengah bersungut-sungut. “Aku saja yang masak. Aku benci masakanmu yang setengah matang.”
“Baiklah, terserah kau saja!” Tonny mengiyakan apa usul Dima. Lumayan menghemat waktu jika ada orang yang membantunya menyiapkan sarapan. Lagian bukan berarti selera makan Dima buruk tapi ia memang harus diet tersendiri untuk mempertahankan massa ototnya. “Aku akan mandi dan bersiap ke kantor.”
Dima mengangguk sembari meneruskan proses memasaknya. Meski berbeda selera tentang makanan metah dengan Tonny tapi Dima berpikir pola makannya tidak jauh berbeda dengan sepupunya itu. Sepupunya juga menghindari tepung demi diet ototnya sedangkan ia menghindari tepung karena alerginya. Untung saja sudah banyak modifikasi tepung gluten free jadi ia masih bisa mencoba pasta sesekali.
“Sepertinya lezat,” ujar Tonny yang tahu-tahu sudah berpakaian rapi. Rambut panjangnya juga sudah disisir rapi. Rambut itu tidak sepanjang rambut perempuan, tapi cukup panjang karena ia adalah pria.
“Kapan kamu mulai magang? Aku bosan ditanya Tante Wendy tentang kamu yang bermalas-malasan.”
“Kamu bisa kan berbohong.”
“Tapi aku tidak suka berbohong. Jadi kapan?”
“Minggu depan,” jawab Dima sekenanya.
“Minggu lalu kamu juga menjawab ‘minggu depan’.”
“Kali ini janji beneran.”
“Oke!”
Mereka lalu mulai sarapan bersama. Menu yang dimasak Dima cukup beragam. Sepertinya Dima memang belajar memasak untuk menyiasati kondisi spesialnya itu.
“Oia, bagaimana dengan saranku tentang penampilan? Kamu perlu mengubah tubuh kurusmu lebih berotot. Siapa tahu saat kamu kembali Angel akan terpesona,” ujar Tonny.
“Aku akan memikirkannya,” jawab Dima sekenanya. “Oia, dan satu lagi. Jangan membawa perempuan dan berbuat tidak senonoh saat aku ada di rumah.”
“Haha ... “ Tonny tertawa kencang. Ia malu mengakuinya tapi semalam memang ia khilaf. Ia lupa bahwa saat ini ia tidak tinggal sendiri. “Aku janji tidak ada lain kali. Aku hanya sedang lupa bahwa sekarang aku tidak lagi tinggal sendiri.”
“Oke! Sebelum aku lapor Papa tentang kelakuanmu.”
“Aish, aku ini pria muda dewasa. Apa yang kamu harapkan?”
“Ya, pokoknya bilang saja dulu. Aku akan tidur di hotel agar tidak melihatnya,” ujar Dima.
Sungguh tidak bisa dipercaya, semalam saat memergoki kakak sepupunya bermesraan dengan teman wanitanya, rasanya seperti ia sedang menonton film panas secara live.
“Aku tidak akan melakukannya lagi, sungguh!” ujar Tonny. “Baiklah aku minta maaf soal semalam. Aku harus berangkat sekarang. Nanti malam kutraktir minum.”
“Aku tidak minum.”
“Mulailah,” ujar Tonny sembari mengedipkan sebelah matanya. Ia menyambar kunci mobil di tempat biasa dan berlalu pergi.
Dima memandang punggung kakak sepupunya.
“Apa aku harus mengganti penampilan? Apa sungguh Angel akan memandangku dan tidak menganggapku anak kecil jika penampilanku berubah? Aih, semakin jauh darinya aku semakin merindukan Angel. Aku harus apa?” gumamnya dengan sedih.
🌻🌻🌻
__ADS_1