Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
6


__ADS_3

🌷🌷🌷


Anna tergolek lemas di ranjang double size di kamar Theo yang bernuansa hitam putih. Wajah Anna memerah karena alkohol.


Theo merebahkan diri di samping Anna dan melihat gadis itu dari dekat. Ia menyibakkan rambut pendeknya ingin melihat wajah Anna keseluruhan. Tapi gadis itu langsung memegang tangannya dan mulai menggodanya. Theo langsung mencubit pipi Anna gemas.


"Kamu kenapa sangat tampan, ya," puji Anna dengan jujur, pengaruh alkohol membuat seseorang bisa mengatakan apa saja.


"Aku tampan dari lahir," jawab Theo dengan bangga. Dipuji Anna membuatnya senang. Ya, meskipun esok gadis itu pasti lupa telah mengatakannya.


"Lihat jari tanganmu, sangat panjang dan lentik bandingkan dengan tanganku, lihatlah kenapa jadi kelihatan sangat pendek," kata Anna sambil memegang tangan Theo. Theo yang mendapati tangan Anna di genggamannya balik mencium jemari Anna yang mungil.


"Lalu baumu juga harum, pakai parfum apa, pasti mahal ya ...," kata Anna sambil mengendus dada bidang Theo. Theo yang sudah dari tadi menahan nafsunya mulai hilang kendali, apakah Anna sengaja menggodanya?


"Aku ingin memelukmu, boleh..." lanjut Anna, tanpa menunggu persetujuan Theo Anna lantas memeluknya, tapi kemudian mendadak Anna menangis.


Melihat gadis itu menangis, Theo yang tadinya menggebu-gebu mendadak surut nafsunya. Tanpa disadarinya ternyata ia jauh lebih care kepada Anna daripada mengedepankan nafsunya. Padahal mudah saja baginya memaksa Anna toh esok hari gadis itu akan melupakan semua detailnya. Tapi Theo tidak melakukannya dan lebih memilih menenangkan Anna.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Theo dengan lembut.


"Aku ingat papaku, dadanya juga bidang dan sangat nyaman dipeluk. Setiap aku menangis aku akan memeluknya, pasti semua kesedihan akan langsung sirna. Tapi papaku langsung pergi tanpa berpamitan. Meninggalkanku seorang diri. Aku sangat merindukannya," Anna mulai menangis dengan lebih keras di pelukan Theo. Theo hanya bisa mengelusnya lembut.


"Bagaimana dengan mamamu?"


"Papa dan mama bercerai saat aku masih kecil. Pasti karena aku nakal mama jadi meninggalkan aku dan apa. Kenapa mama tega sekali ya? Aku jadi benci sama Mama. Tapi memang tak ada yang tersisa dari mama. Aku sudah melupakan mama. Mama sangat kejam meninggalkan kami. Dulu aku punya nenek. Sekarang setelah nenek menyusul papa aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku seorang diri."


"Kamu masih punya aku," sahut Theo. Ya, dia berjanji akan menjadi segalanya untuk gadis itu.


Anna memandang Theo dalam-dalam sambil tersenyum, meski di pipinya bercucuran air mata senyuman Anna terasa sangat tulus bagi Theo.


"Bosku, kamu sangat keren. Aku jadi ingin menciummu," ujar Anna sambil mengarahkan bibirnya ke wajah Theo, tapi karena Anna sudah sangat mabuk ciuman itu mendarat di hidung Theo, diikuti Anna yang lantas terlelap di pelukan Theo.


Theo hanya bisa menghela nafas sambil tertawa. Ya ampun betapa beruntung hidungnya mendapat ciuman dari gadis yang disukainya. Sekarang bibirnya pasti sedang cemburu berat, batinnya sambil balik memeluk Anna dengan penuh sayang.


Theo lalu merapikan posisinya dan tidur di samping Anna. Mereka berdua pun berakhir dengan tertidur saling berpelukan sepanjang malam.


🌷🌷🌷


Anna merasakan badannya sakit semua tapi ia enggan bangun. Ranjangnya sangat empuk dan nyaman.


Ehm ... tunggu dulu, empuk? Sejak kapan ranjangnya empuk? Anna langsung buru-buru membuka mata.


Anna langsung merasa berada di tempat yang asing. Ia berada di ruangan yang didominasi warna hitam dan putih. Terlihat familier. Ia merasakan pelukan hangat melingkar di perutnya. Wajahnya langsung diliputi kepanikan. Tidur dengan siapakah Anna semalaman? tapi begitu Anna melihat siapa pemilik tangan yang memeluknya, ia langsung tersentak.


Oh My God! Theo!


Anna lantas memindahkan tangan Theo dengan hati-hati takut membangunkannya. Rupanya semalam ia berakhir tidur di apartemen Theo dalam keadaan mabuk. Dan mereka tak hanya tidur mereka bahkan berpelukan.


Ya ampun! Anna langsung mengingat-ingat lagi. Apa ada yang terjadi selain hanya tidur? apakah keperawanannya sudah hilang tanpa setahunya? meski Anna mencoba mengingat dengan keras tapi ia tidak ingat apa-apa.


Tapi begitu Anna ingin melepaskan diri dari pelukan Theo, Theo malah mengetatkan pelukannya. Rupanya Theo masih ingin dalam posisi seperti ini bersama Anna.


"Pak Theo ... " panggil Anna membangunkannya. Ia tahu diri pasti Theo akan menyesal dengan kesalahpahaman ini. Anna tidak bermaksud menggoda Theo sampai mereka harus berakhir tidur di ranjang yang sama. Alih-alih menjawab Theo malah makin mengetatkan pelukannya.


"Please, biarkan seperti ini lebih lama. Aku ingin memelukmu lebih lama," gumam Theo dengan mata terpejam. "Aku sudah lama tidak tertidur dengan nyenyak, biarkan aku memelukmu," lanjutnya.

__ADS_1


Anna lalu diam dan tidak lagi memaksa Theo melepas pelukannya. Sekedar berpelukan seperti ini sepertinya tidak masalah. Ia juga sudah lama tidak tertidur nyenyak seperti ini.


Anna melirik Theo yang ada di sampingnya, wajahnya tenang. Seakan tidur dengan damai. Entah kenapa Anna tidak takut. Ia juga merasakan kedamaian itu. Aura pria ini membuatnya nyaman. Karena masih mengantuk, akhirnya Anna pun kembali terlelap dan tertidur lebih lama.


Ketika Anna tidur, giliran Theo yang membuka matanya. Ia ingin terus seperti ini, bisakah. Gadis ini membuatnya tidur dengan nyenyak padahal mereka belum kenal lama tapi rasanya sangat nyaman. Untunglah hari ini hari minggu, ia jadi punya waktu seharian dengan Anna.


Kruuukkk...


Perut Theo berbunyi. Jam berapa sekarang sampai perutnya sudah lapar. Ia harus menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Meski malas mau tak mau Theo bangun, ia harus mandi dan menyiapkan sarapan.


Theo hanya memakai bokser ketika menyiapkan sarapan, perut sixpacknya terpahat indah di hiasi happy trail yang tumbuh beberapa, menggoda siapa saja untuk merabanya. Hanya saja Theo sedang tidak ingin menggoda siapa-siapa, ia terbiasa seperti itu di pagi hari. Bertelanjang dada menyiapkan sarapan sehabis mandi dan gym. Tentu saja hari ini ia melewatkan gym karena bangun terlambat.


Bau harum makanan membangunkan Anna. Dicarinya Theo di sampingnya. Ternyata pria itu sudah tidak ada, rupanya Anna tak sengaja tertidur lagi.


Lamat-lamat Anna mendengar Theo sedang berbicara dengan seseorang. Mungkin sedang menerima telepon, maklum orang sibuk, pikirnya. Anna mencari kamar mandi di kamar Theo. Dalam kamar ini ada beberapa pintu, dan ia tidak tahu pintu kamar mandi di bagian mana.


ada beberapa pintu di sini, dicobanya membuka sebuah pintu. Ternyata sebuah closet yang sangat besar, seperti sebuah butik yang pindah di sini. Closet yang full terisi banyak pakaian. Setelan jas berjejer rapi, kemeja, sepatu, ikat pinggang, celana dalam, bokser, dan semua hal tentang pria, parfum mahalnya pun ikut berjejer rapi.


Anna membaui sebentar, hm, ini yang dipakai Theo saat bertemu dengannya di asrama.


Puas melihat-lihat. Anna membuka pintu yang lain. Ini pintu menuju kamar yang lain. Sebuah kamar tidur yang lebih kecil, dengan ranjang yang lebih kecil pula. Entah untuk apa Theo menyimpan kamar tidur di dalam kamar tidurnya.


Kali ini Anna membuka pintu terakhir dan ia menemukan kamar mandi yang dicarinya. Ia langsung tergoda mandi di kamar mandi mewah Theo. Nuansa abu-abu manly-nya menghiasi semua sudut kamar mandi.


Pancuran yang sangat besar menggantung di dinding, membuat siapa pun betah berdiri di bawah pancuran. Terakhir yang luar biasa mewah berada di balik pintu transparan, terdapat bathtub yang besar seperti kolam, bathtub ini memang sangat cocok untuk orang setinggi Theo. Anna membayangkan Theo berendam di sana, pasti menyenangkan bisa berendam bersama. Anna senyum-senyum membayangkannya.


Hanya saja Anna tidak ingin berlama-lama di kamar mandi sehingga ia hanya mandi memakai pancuran. Tentu saja ia memakai sabun dan sampo milik Theo. Ya, semoga Theo tidak marah jika ia menggunakannya. Terakhir Anna memakai bathrobe abu-abu yang pasti juga punya Theo saking besarnya.


Berjalan keluar sambil memakai bathrobe tentu saja membuat Anna malu, tapi ia hendak meminta Theo meminjaminya baju ganti. Ia perlu membersihkan bajunya semalam yang berbau alkohol.


Anna terpaku saking speechless nya. Memakai bathrobe keluar dari kamar pria, apa yang dipikirkan orang atas tindakannya yang keterlaluan.


Untung saja Theo langsung menyelamatkannya. Theo berjalan ke arahnya dan mengajaknya masuk lagi ke kamar. Anna sangat malu. Ya Tuhan, apa yang telah ia lakukan di rumah seorang pria. Papanya di atas sana pasti sangat malu dengan kelakuan putrinya.


"Aku ..." kata Anna tergagap. Ia kini duduk di tepi ranjang di kamar Theo. Theo berjongkok di depan Anna menenangkan.


"Mereka hanya orang tuaku dan keponakanku, tidak apa, jangan takut."


"Orang tua?"


Ya Ampun, Anna ... kasihan sekali kamu... batinnya mengasihani diri sendiri. Ia pasti di tuntut ke pengadilan ketika pulang dari sini. Ia telah merusak citra putra kesayangan mereka. Pasti sudah ada yang memergokinya tidak keluar dari sana sampai pagi.


"Kamu pasti ingin pinjam baju ketika keluar dengan pakaian seperti itu kan" Tebak Theo.


Anna mengangguk, ia terlalu terkejut sampai tidak tahu harus merespons apa.


"Aku sudah punya beberapa pakaian yang cocok denganmu. Masih ingat kan ukuran badan yang tertulis di surat lamaran pekerjaan. Kupikir kamu akan di sini nanti. Jadi aku beli beberapa."


Theo lalu mengambilkan pakaiannya. Ada beberapa tapi Anna memilih celana jin dan baju lengan panjang warna putih. Dari baunya dan label yang masih terpasang, sepertinya memang pakaian baru dan tentunya mahal.


"Terima kasih, aku akan menggantinya nanti," jawab Anna.


"Hem pakai saja. Anggap saja sebagai hadiah dariku," jawab Theo. Sepertinya Anna terlalu memperhitungkan uang. Bagi Theo uang bukanlah masalah untuknya.


"Kamu ganti baju di sana," kata Theo sambil menunjuk closet. "Dan aku di sini," lanjutnya.

__ADS_1


Theo masih bertelanjang dada saat ini. Yang tentunya memang menimbulkan salah paham. Seorang pria hanya dengan bokser dan seorang wanita dengan bathrobe terciduk oleh orang tua. Apa yang menurutmu mereka pikirkan? Anna berharap orang tua Theo cukup berbaik hati melepasnya nanti.


🌷🌷🌷


Theo dan Anna duduk berdampingan di berhadapan dengan orang tua Theo. Keponakannya yang lucu dan menggemaskan itu sedang menonton kartun tak jauh dari mereka.


"Ma, Pa, kenalkan ini Anna," ujar Theo membuka percakapan.


"Salam kenal, nama saya Anna, Annamarie Hayden," Anna memperkenalkan diri dengan sopan.


Papa Theo, mengangguk dengan ramah, tampan berkarisma dan terlihat sangat tenang pembawaannya. Tapi Mama Theo, Wanita yang luar biasa cantik itu hanya tersenyum tipis. Anna langsung pucat. Sepertinya ini tidak mudah. Ini pasti akan seperti interogasi.


"Kurasa kita harus cepat melakukan upacara pernikahan. Bagaimana bisa kalian terpergok bangun tidur di kamar yang sama."


Pernikahan, apa Anna tidak salah dengar. Apa yang telah Anna dan Theo lakukan sampai harus menikah. Mereka tidak sedekat itu. Juga bukan pasangan kekasih.


"Mama, kita tidak melakukan apa-apa," bantah Theo.


Wanita berambut coklat gelap itu memegang kepalanya sedikit, mungkin menahan emosi. Rambut panjangnya sangat indah dengan gelombang ikal di bawahnya. Anna yang tidak pernah punya rambut panjang sampai iri melihatnya. Mama Theo masih sangat cantik dan energik.


"Coba beri penjelasan yang lebih masuk akal" todong Mama Theo


"Theo, ada apa? kenapa mereka membahas pernikahan?" tanya Anna pada Theo.


Theo memegang tangan Anna menenangkan. "Biar aku yang atasi ini. Oke, kamu tenang saja."


"Kuberi kamu tenggat waktu untuk mendapatkan calon pengantin. Apakah ini gadis itu betul."


Theo mengangguk.


"Lalu kenapa kamu menolak membicarakan pernikahan. Apa karena gadis ini belum layak?"


"Ma, namanya Anna bukan gadis ini. Bukan itu, kami baru kenal, belum sedekat itu. Aku ingin semua berjalan sesuai prosesnya. Tidak bisa tergesa."


Sebuah skenario melintas di benak Anna. Mungkin kah ini bukan tentang pekerjaan asisten rumah tangga tetapi mencari pasangan. Apakah berarti dirinya telah di tipu? Ah, apa ini. Dirinya lapar dan pusing.


"Lalu bagaimana kalau gadis ini membawa kabur calon cucuku." tunjuk Mama Theo ke arah Anna.


Astaga, apa ini? Saat seseorang lapar dan ada yang mengusik pikirannya, siapa pun pasti marah tak terkecuali Anna. Di provokasi hal yang membingungkan membuat Anna naik pitam.


"Maaf Nyonya, pembicaraan apa ini?"


Mama Theo pun melihat ke arah Anna.


"Kamu pasti memanfaatkan putraku, bersedia ditiduri lalu kabur membawa cucuku dan memeras kami."


"Cucu, cucu yang mana? Asal tahu saja Nyonya, saya masih perawan. Kami tidak melakukan apa pun. Kalau Anda mau menasihati putra Anda , tidak usah bawa-bawa saya. Saya permisi," kata Anna yang langsung berdiri dan berjalan pergi, keluar dari apartemen Theo.


Theo mengejarnya sambil membawa tas selempang yang dibawanya semalam. Theo meminta maaf sambil meminta Anna berpikir jernih. Tapi air mata telah menetes di pipinya yang putih. Theo sangat sedih melihatnya. Diusapnya air mata itu. Theo pun urung memberi penjelasan. Theo hanya minta Anna mau di antar oleh sopirnya. Anna mengangguk mengiyakan.


Gadis itu masih sempat mengucap terima kasih sebelum berlalu pergi. Theo sangat berat melepasnya seakan ini akan menjadi akhir pertemuan mereka. Seakan Anna tidak akan kembali begitu Theo melepasnya. Theo memandang sekali lagi sebelum Anna memasuki lift.


"Good bye," gumam Anna pada Theo yang memandangnya dari kejauhan. Ia harus kuat untuk tidak menangis. Tapi begitu pintu tertutup Anna tak kuasa meneteskan air matanya. Ingin sekali Anna bertemu Theo lagi, tapi tampaknya ini akan menjadi terakhir kali baginya melihat Theo. Selamat tinggal, Theo.


🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2