
🌻🌻🌻
“Aku sudah siap, mari berangkat,” ujar Angel sambil mengunci pintu kamar.
Mereka berdua menuruni tangga asrama ke lantai basemen tempat mobil Paula terparkir.
Angel tidak pernah membawa mobil ke asrama karena ia terbiasa mengandalkan Dima yang selalu siap mengantar dan menjemputnya ke mana-mana.
"Kau yakin kita tak perlu membawa apa-apa? bingkisan atau semacamnya?" tanya Paula tak yakin.
"Ya, kita tak perlu membawa apa-apa ke sana,” ujar Angel meyakinkan temannya.
“Tapi kita sedang mengunjungi orang sakit lho,” balas Paula. Ia masih tidak yakin dengan keputusan Angel. Angel mungkin terbiasa ke rumah Dima, tapi Paula tak pernah ke sana. Menurut hematnya, mengunjungi seseorang yang sedang sakit tanpa membawa bingkisan terasa sangat aneh.
Melihat Paula yang masih bersikeras tentang bingkisan, Angel akhirnya mengalah. “Kalau kau bersikeras mari kita mampir ke toko buah. Hanya saja toko buah tidak sejalur dengan perjalanan kita," terang Angel.
Angel memang telah terbiasa bermain di rumah Dima, jadi ia tak pernah merasa harus membawa sesuatu ke sana. Terkadang Mamanya membuatkan sesuatu sebagai bingkisan. Tapi secara pribadi ia belum pernah berpikir harus membawa sesuatu ke rumah Dima.
__ADS_1
"Maafkan aku karena merepotkan, jujur aku merasa lebih baik jika kita menjenguknya dengan membawa sesuatu. Jadi tak apa jika tak searah dan harus berkendara sedikit lebih jauh. " ujar Paula sambil mengemudikan mobilnya.
"Ya, terserah padamu, sih!” jawab Angel. Tapi sepertinya ia harus memberitahu sesuatu pada temannya itu sebelum temannya membeli bingkisan untuk Dima. “Sebenarnya keluarga Dima sangat kaya. Bahkan jika kamu membawa sesuatu, itu akan menghabiskan seluruh uang saku perbulanmu hanya agar barang bawaanmu terlihat cukup pantas."
"Aku tahu Dima kaya. Tapi akan memalukan jika kita tak membawa sesuatu, kue misalnya."
"Jangan membawa kue atau sejenisnya. Dima tak akan memakannya."
"Ayolah Angel, masakan kita tak membawa sesuatu," rengek Paula. Gadis berambut merah itu melirik sebentar ke arah Angel lalu kembali fokus menyetir. Ia tahu betul bahwa kekayaan keluarganya hanya seujung kuku jika dibandingkan dengan kekayaan keluarga Dima. Tapi tetap saja ia ingin membawa sesuatu saat mengunjungi orang sakit dan ia berharap Angel paham maksudnya itu.
Angel menghela napas frustrasi. Apa ya, yang harus dibawanya? Jika kue, ia tak mungkin melakukannya karena ia tahu jika Dima menderita penyakit celiac yang membuatnya alergi gluten. Jika itu buah, harus buah apa?
"Baiklah jika kamu tetap bersikeras, ayo ke rumahku terlebih dahulu. Aku akan meminta Mamaku untuk menyiapkannya. Biar aku meneleponnya terlebih dahulu."
"Baiklah, aku setuju. Lagipula, aku juga belum pernah ke rumahmu," ujar Paula. Ia mengendarai mobilnya dengan bersemangat mengingat ini akan menjadi kunjungan pertamanya ke rumah Angel.
Sebagai teman sekamar Angel, yang mungkin ke depannya akan menjadi teman akrab, Paula sudah mengenal profil semua anggota keluarga Angel yang ke semuanya mengagumkan.
__ADS_1
Nenek Angel, Ny. Bella adalah mantan supermodel yang masih aktif di banyak kegiatan permodelan sebagai penyelenggara. Ny. Bella juga pemilik brand kosmetik Dunyan Eve yang terkenal sebagai produk kosmetik high end.
Kakek Angel, Arthur Dunyan adalah pendiri sekaligus pemilik saham terbesar bisnis perhotelan Dunyan Night.
Tante Angel, Chaterine Dunyan, yang juga ikut terjun di bisnis perhotelan adalah CEO berpengaruh yang terkenal bertangan dingin dan luar biasa cantik, Paula bahkan heran kenapa Tante Chaty tidak terjun sebagai model atau artis saja.
Suami Tante Chaty, David Wilhelm adalah seorang bangsawan yang kaya juga sangat tampan. ketampanannya menurun pada putra semata wayang mereka yang juga sepupu Angel, Richard D. Wilhelm.
Jangan lupakan adik laki-laki Angel yang juga luar biasa tampan dengan rambut pirang dan mata hazel yang indah, Hans Dunyan. Tak hanya tampan, ia juga sangat cerdas dengan jiwa sosial yang tinggi. Hal itu mungkin menurun dari Mama Angel, Annamarie Hayden, atau Anna Dunyan.
Tante Anna berperawakan mungil dengan perangai halus dan berjiwa sosial tinggi. Ia mendedikasikan dirinya membangun badan amal bagi anak-anak yatim maupun korban bencana. Pendek kata Tante Ana adalah malaikat sesungguhnya.
Jika kamu penasaran siapa Papa Angel, kamu akan langsung terkesima begitu melihatnya pertama kali. Karena Papa Angel, Thomas Dunyan adalah pria yang luar biasa tampan dan sangat mencintai keluarganya. Rumornya Om Thomas adalah playboy kakap yang bertekuk lutut pada Tante Ana. Om Thomas berkecimpung di bidang otomotif yang memang menjadi favoritnya, di samping ikut serta di bisnis perhotelan milik keluarganya.
Di antara semua anggota keluarga Dunyan, Angelina adalah orang yang paling tidak peduli pada latar belakang keluarganya. Hanya saja meski gadis cantik itu tidak peduli, gen keluarga yang mengagumkan tetaplah mengalir di dirinya. Ia tumbuh dengan rambut pirang bergelombang khas wanita keluarga Dunyan, postur tinggi semampai dan kecerdasan di atas rata-rata. Karena kecerdasannya itu tak mengherankan jika ia bercita-cita menjadi seorang dokter untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Paula tak sabar untuk bertemu dengan salah satu dari mereka, atau jika beruntung ia akan bertemu dengan semua anggota keluarga Angel yang sangat terkenal itu.
__ADS_1
🌻🌻🌻