
🌷🌷🌷
Theo memasuki ruangan sambil membawa nampan berisi makanan dan dua gelas kosong. Ia biasa menyimpan beberapa botol wine di lemari yang ada di balik pintu bioskop mininya. Jadi ia tak perlu bersusah payah membawa minuman dari dapur. Lagi pula di sana persembunyian wine yang sempurna dan pastinya membuat stok minumannya tetap aman.
Ditaruhnya nampan di meja, Theo lalu menuangkan wine yang di ambilnya dari lemari ke dalam gelas yang sudah disiapkannya. Theo sedikit berharap Anna akan mabuk hari ini. Ia ingin melihat Anna rileks dan nyaman di sampingnya.
Anna belum memilih film apa pun. Ia hanya duduk di sofa menunggunya.
"Kenapa belum memilih filmnya?" tanya Theo.
"Biar kamu saja, aku tidak pernah menonton film, aku tidak tahu film mana yang bagus," kata Anna.
"Kartun, action, dan film romantis," Theo sengaja mengatakan film semi sebagai film romantis berharap gadis itu memilih film romantis.
"Romantis, boleh."
"Tentu saja," Theo langsung menyetel film, meredupkan lampu, menyerahkan segelas wine kepada Anna lalu duduk di samping Anna.
Belum lima menit film berlangsung Anna langsung menenggak habis minumannya. Bukan karena filmnya terlalu vulgar untuk Ana, tapi duduk berdampingan dengan Theo di tempat yang remang dengan hanya memakai sehelai baju membuatnya malu.
Anna butuh alkohol untuk menutupi rasa malunya itu. Theo dengan sigap mengisi kembali gelas Anna yang kosong. Dalam hitungan detik gelas tersebut kembali kosong, tandas diminum Anna. Theo lalu mengambil gelas kosong dari tangan Ana karena Theo tahu cukup 2 gelas wine untuk membuat Anna mabuk, 3 gelas akan membuat Anna lupa yang terjadi hari ini. Tapi Theo menginginkan Anna cukup sadar untuk mengingat momen saat bersamanya. Theo merapatkan duduknya ke arah Anna sembari melingkarkan tangannya di atas pundak gadis itu.
Anna yang sudah terpengaruh alkohol mulai berani melakukan hal yang tak akan pernah berani dilakukannya dalam keadaan sadar. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Theo sembari melingkarkan tangannya ke tubuh Theo.
Theo bisa merasakan hangat tubuh gadis itu di dadanya. Ia menjadi penasaran tentang pengalaman percintaan gadis itu.
__ADS_1
"Apakah kau pernah berkencan?" tanya Theo sembari mengelus punggung Ana dengan lembut.
Ana menggeleng, "tidak pernah, tidak ada yang mau berkencan denganku."
"Tidak ada yang mau atau kamu yang tidak mau," gurau Theo.
"Aku sangat sibuk sampai lupa berkencan," jawab Ana jujur.
"Bagaimana dengan ciuman pertama?" tanya Theo sembari menyentuh bibir Anna.
"Kamu mencurinya," jawab Anna pura-pura cemberut. Meskipun ciuman curian tapi ciuman pertamanya dengan Theo sangat berkesan. Romantis meski mereka melakukannya tidak sengaja.
"Benarkah, apa seperti ini?" Theo yang dengan spontan menunduk sambil mencium bibir Anna cepat.
Anna memukul dada Theo pelan, jengkel karena digoda terus.
"Apakah rasanya nikmat?" tanya Theo. Dilihatnya Anna mengangguk.
"Mau merasakan yang lebih nikmat?"
Anna menggeleng. Ia tak ingin melakukan sesuatu yang akan disesalinya nanti.
Theo mengangguk mengerti. Ia juga akan menjaga komitmennya untuk tidak menodai gadis ini. Ia tulus menyayanginya. Ia telah dewasa untuk tidak melakukan hal-hal terlarang.
Sikap Theo yang gentle membuat perutnya di penuhi kupu-kupu, hati Anna mengembang di penuhi hasrat dan cinta. Ia tak peduli lagi bahwa Theo bukanlah level yang bisa diraihnya. Ia ta]k peduli jika Theo adalah bagian dari orang kaya yang membuatnya tak ingin berurusan dengan sebagian besar mereka.
__ADS_1
Anna sudah terjerat pada pesona Theo. Pada perlakuannya yang sopan, pada pribadinya, pada pengertiannya, pada semua tentangnya. Anna jatuh cinta, ia tak ingin berpisah dengannya.
Theo memandang penuh arti pada Anna. Melihat Anna, rasa ingin melindungi tumbuh di hati Theo. Ia ingin sekali memiliki Anna, mencintainya dan menjaganya.
"Anna," panggil Theo dengan lembut.
"Ya," jawab Anna singkat sambil balik memandangi Theo.
"Maukah kau menikah denganku?"
"Ya," jawab Anna cepat tanpa berpikir.
"Maukah kau menjadi Ibu dari anak-anakku?" tanya Theo lagi, kali ini matanya berkaca-kaca.
"Ya."
Theo langsung mencium bibir Anna begitu gadis itu menerima lamarannya. Theo sangat bahagia sampai air mata tak kuasa dibendungnya. Ia tidak menyangka Anna menjawabnya tanpa berpikir. Theo tidak peduli meski Anna menjawabnya karena mabuk. Ia memeluk Anna dengan erat, tak ingin melepaskannya lagi.
"Terima kasih, Ana. Aku janji akan selalu menyayangimu," ucap Theo sambil membelai wajah Anna dan mengusap rambutnya.
Belaian Theo yang lembut membuai Anna, membuatnya terlelap.
Theo memindahkan Anna ke kamarnya, menyelimutinya dengan penuh kasih. Theo menengadah, melihat jam dinding yang ada di kamarnya. Masih cukup waktu untuk bergegas ke kantor, menyelesaikan keperluannya dengan cepat dan kembali pulang sebelum malam.
Theo lantas bersiap-siap. Sebelum pergi Theo menuliskan sebuah pesan pada secarik kertas lalu meletakkannya di samping tempat tidur. Ia meminta Anna menunggunya untuk makan malam. Tak lupa Theo mengatasnamakan dirinya sebagai tunangan plus emoticon hati.
__ADS_1
Puas dengan catatan kecilnya, Theo lalu mendaratkan ciuman ke kening Anna, tapi begitu Theo menyibak sebagian kening Anna yang selalu tertutup poni, ia melihat ada bekas luka di sana. Mungkin kah ini yang membuatnya ketakutan selama ini? ia harus mencari tahunya nanti
🌷🌷🌷