Anna, Hug Me

Anna, Hug Me
7


__ADS_3

🌷🌷🌷


"Apa yang telah Mama lakukan? kenapa membicarakan hal itu di depan Ana?" Theo yang langsung memarahi mamanya, meminta penjelasan.


"Mama emosi, Mama mau kamu segera menikah tapi kamu tidak mau dijodohkan. Mama tidak ingin kamu sembarangan memuntahkan benihmu."


"Ya ampun Mama... aku sudah dewasa. Aku bisa menjaga agar tidak ada kehamilan ketika aku berhubungan. Mungkin wanita lain tidak apa-apa, tapi Mama melabrak gadis sepolos Anna. Mama tahu dia gadis terbaik yang kukenal," sungut Theo tidak kalah jengkel dengan sikap mamanya.


"Kamu yakin benar dia masih virgin?" tanya mamanya tiba-tiba.


"Ya, dia bahkan tidak menggodaku meski aku di sampingnya. Hanya dua gelas anggur sudah membuatnya mabuk. Di saat mabuk dia sangat marah dan malu padaku, karena aku telah mencuri ciuman pertamanya. Argh ... Mama. Itu ciuman terbaikku setelah sekian lama," kata Theo frustrasi sampai tak sengaja berkata jujur pada mamanya.


Mamanya hanya bisa memandang Theo menelaah kebenarannya.


"Dia berakhir di kamarku karena aku yang menggendongnya ke sana. Ma, aku menyukainya. Aku ingin tiap aku terpejam ada Anna di sampingku dan ada di sisiku saat aku terbangun," kata Theo panjang lebar. Mungkin mamanya memang keterlaluan tapi berkat mamanya, Theo jadi bisa memahami perasaannya pada Anna dan mengakui kalau ia menyukai gadis itu.


"Jika kamu merasakan hal itu. Saran Papa kejar gadis itu, Nak. Kita sudah cukup kaya untuk berdiri sendiri tanpa harus terikat pernikahan bisnis. Ingatlah cinta yang membuat kita bahagia. Dan cinta tidak bisa di beli dengan uang," ujar papanya memberi nasehat.


Papanya lebih sering diam jika mamanya sedang seperti itu tapi kali ini pasti sangat penting bagi papanya untuk memberitahunya rahasia sesama pria.


"Papa merasakan hal yang sama waktu bertemu mamamu," lanjut papanya lagi sambil memandang istrinya dengan lembut.


Emosi Mamanya langsung lumer, stabil. Hm, pasangan yang luar biasa. Kenapa papanya tidak melakukannya dari tadi ketika mamanya sibuk memarahi Anna.


"Baiklah, Mama tidak akan ikut campur lagi," ujar Mama Theo akhirnya, "asal jangan terlalu lama menikahnya," pungkas mamanya.


🌷🌷🌷


Anna meminta sopir Theo menurunkannya di stasiun kereta bawah tanah. Ia ingin pergi ke suatu tempat. Ia sudah lama tidak berkunjung ke sana.


Setelah melewati satu perjalanan menggunakan kereta Anna tiba di desa neneknya. Tempat ia menghabiskan masa kecilnya sebelum pindah ke kota. Desa yang asri ini sekaligus tempat peristirahatan nenek dan papanya.


Bau garam tercium dari udara yang berhembus. Membawa aroma lautan yang sangat dirindukannya. Ia akan ke pantai seusai mengunjungi makam papa dan neneknya.


Area perkuburan ada di atas bukit. Untung Anna mengenakan flat shoes, jadi ia tak harus melepas sepatunya. Sudah bertahun-tahun ia tidak kesini. Namun, suasananya masih tetap sama, penuh nostalgia.


Suasana cukup terik saat Anna sudah sampai bukit, kompleks pemakaman di atas sini cukup menyeramkan jika malam hari tapi jika siang-siang seperti ini pemandangannya sangat bagus. Pedesaan dan hamparan laut yang membiru. Sangat indah, apalagi jika senja hari.


Meskipun sudah lama tidak berkunjung ke makam, Anna tidak sedikit pun kesulitan menemukannya. Semua hal di sini masih tetap sama seperti saat tanah pemakamannya masih basah. Ia duduk bersimpuh di samping pusara papanya. Air mata langsung menggenangi pelupuk matanya mengingat bahwa sekarang dirinya seorang diri.


"Pa, aku datang, Papa apa kabar? maafkan Anna tidak pernah berkunjung."


"Papa, aku kangen sekali ..."


Isak tangis Anna memecah kesunyian area pemakaman. Untung saja saat ini siang hari, meski suara tangisannya terdengar seseorang, itu tidak akan terlalu menimbulkan ketakutan.


"Aku sudah hampir lulus, Pa. Aku akan tinggal di sini saja setelah lulus. Setidaknya di sini aku masih punya papa dan nenek. Siapa tahu mama masih akan pulang ke sini. Siapa tahu aku masih bisa bertemu mama meski aku sudah tidak ingat mama itu orang yang seperti apa."


"Aku tidak punya siapa-siapa di kota, hanya ada Catherine. Sayangnya, aku belum mengenalkannya ke papa, dia anak yang baik, suka membantuku. Aku sangat bersyukur bisa berteman dengannya. Papa pasti akan berterima kasih karena Cathy mau jadi temanku."


"Hari ini aku dijebak oleh seseorang, dia mengatakan akan memberiku pekerjaan, tapi ternyata itu hanya tentang mencari keturunan. Aku malu sekali mamanya marah-marah padaku. Padahal aku tidak melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak ingat aku berada di sana. Betapa congkaknya mereka ketika mereka punya uang yang banyak."


Setelah cukup puas mencurahkan isi hati dan menangis, tak terasa hari sudah menjelang sore, Anna pun kembali. Kali ini ia melewati pantai. Sebelum Anna pergi, ia memotret pemandangan dengan ponsel lama papanya. Hasilnya tidak sebagus aslinya tapi cukuplah sebagai memori tentang hari ini.


Anna harus bergegas untuk mengejar kapal terakhir yang akan kembali ke kota. Sejujurnya, ia punya teman di sini yang juga ingin dikunjunginya, tapi waktunya tidak cukup. Dan lagi, ia tidak ingin menunjukkan wajah sedihnya kepada mereka.


🌷🌷🌷


Theo bingung memikirkan Anna. Tak satu pun email-nya dibaca gadis itu. Gadis itu juga sudah pindah dari asrama, skripsi juga sudah selesai dikerjakan. Jadi akan sangat sulit mencarinya di kampus.


Apakah Anna memang dengan sengaja kabur darinya?


Argh ....

__ADS_1


Mamanya memang keterlaluan. Mamanya mungkin trauma akan Luke, keponakan Theo. Skenario bahwa seseorang menjebak Taylor, kakaknya, sehingga wanita itu hamil Luke tanpa sepengetahuan Taylor.


Cukup sulit membuktikan bahwa Luke adalah anak kakaknya, karena kakaknya telah meninggal 5 tahun yang silam sewaktu Ibu Luke meminta tebusan karena telah membesarkan Luke.


Terbersit dalam hati Theo, membuat Anna hamil anaknya sehingga tak ada alasan bagi gadis itu menjauh. Ia juga akan punya alasan untuk menjadi lebih dekat.


Hem ... itu terlalu kejam tapi bahkan sekarang Theo tidak tahu gadis itu di mana. Jika bertemu saja susah, mana mungkin bisa menghamilinya. Usahanya mencari Anna mungkin gagal, tapi tentu hasilnya akan berbeda jika yang mencarinya seorang profesional.


"Amber ... " Theo memanggil sekretarisnya. Secepat kilat Amber telah berdiri di depannya.


"Sewa seorang detektif dan cari keberadaan Anna. Secepatnya!" perintah Theo.


Amber mengangguk takdhim.


🌷🌷🌷


Ternyata sekarang Anna bekerja sebagai perawat lansia di sebuah Panti Jompo. Tugasnya menemani Opa-Oma yang sudah sepuh dan menghabiskan banyak waktu bercengkerama. Mengajarkan banyak hal yang mulai mereka lupakan. Juga mendengarkan banyak kisah yang masih mereka ingat.


Banyak hal menyenangkan di sini. Kebanyakan Anna akan menjadi pendengar kisah hidup para opa-oma juga tentang kisah cinta mereka. Anna tersenyum semua kisah cinta mereka terdengar sangat romantis.


Anna berdoa dalam hati, semoga ia bisa bertemu jodoh yang tepat dan memiliki keluarga yang banyak, paling tidak Ana harus punya 3 anak. Kalau suaminya kelak tidak keberatan Anna maunya punya 5 anak. Biar tidak pernah merasa kesepian seperti dirinya saat ini yang sebatang kara.


Selesai shift jaga Anna mematut dirinya di cermin, bersiap-siap pulang ke tempat kosnya. Pipinya terlihat tirus.


Sepertinya ia butuh es krim. Dia akan membeli es krim di perjalanan pulang nanti.


🌷🌷🌷


Anna duduk di kursi taman memandang orang lalu lalang sambil makan es krim. Saking khusuknya sampai ia merasakan seseorang telah duduk di sampingnya.


Anna tidak menoleh, ini kursi umum siapa saja bisa duduk di sana.


"Sengaja menghindar dariku?" sebuah suara familier mengejutkan Anna.


"Bagaimana kamu tahu aku di sini?" tanya Anna.


"Hanya kebetulan," jawab Theo bohong.


"Berikan satu alasan kenapa kamu menghindari dariku," ucap Theo to the point'.


"Aku tidak menghindar, aku hanya sangat sibuk."


"Kamu keluar dari asrama, memilih sewa kamar padahal seharusnya kamu berhemat, apalagi alasannya kalau bukan menghindar dariku."


"Aku menyewa karena lebih dekat dengan tempatku bekerja."


"Aku minta maaf atas nama mamaku, aku tahu aku sedikit berbohong padamu soal pekerjaan itu. Mamaku hanya tidak mau kejadian seperti almarhum kakakku terjadi padaku, itu menyakiti hati mereka."


Mendengar kata kakaknya Anna menoleh ke arah Theo. Ia sedikit tertarik dengan topiknya.


Merasa Anna mendengarkan, Theo lantas melanjutkan ceritanya.


"Lima tahun setelah kakakku meninggal, seorang wanita memeras orang tuaku sebagai biaya membesarkan cucunya. Ya, anak kecil yang kamu lihat di apartemenku adalah putra kakakku. Sebenarnya bukan masalah uangnya, keluarga kami cukup berkecukupan untuk membayar itu. Tapi mengetahui ada darah daging keluarga yang sengaja dijauhkan sampai selama itu membuat orang tuaku sakit hati. Apalagi mereka sangat bersedih atas kematian kakakku. Itulah kenapa orang tuaku memaksaku menikah dengan sistem perjodohan dan itu membuatku frustrasi. Jadi aku hanya bisa berjanji tidak akan ceroboh saat berhubungan dan menghamili anak orang. Makanya niatku mengenalmu supaya kita bisa lebih dekat sebelum ya, sebelum aku bisa melamarmu." Theo mengakuinya. Awalnya mungkin Theo ingin mencoba-coba, tapi Anna di luar jangkauannya untuk sekedar main-main.


"Tapi Mama malah memergoki kita sekamar. Aku rasa mama salah paham. Aku minta maaf soal mama memarahimu," lanjut Theo akhirnya, menyudahi penjelasan panjang lebarnya.


Ana mangut-mangut, cukup masuk akal. Tapi ada yang aneh.


"Kenapa kamu memilihku? Kamu tampan dan kaya, banyak yang antre untukmu, dari artis, model, sampai putri konglomerat. Semua orang tua pasti juga ingin kamu jadi menantunya. Aku berpikir kamu sedang membuat lelucon dengan mengatakan ingin melamar ku," kata Anna tak kalah pedas.


"Alasannya cukup sepele, karena kamu tidak tertarik padaku," ungkap Theo.


"Kata siapa aku tidak tertarik."

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu menolak jas-ku."


"Jas apa?" tanya Anna tidak mengerti.


"Ingat saat seseorang tidak sengaja menumpahkan wine di gaun mu saat pesta ulang tahun."


"Bagaimana kamu tahu, apa kamu memata-mataiku, atau ... saat itu kamu lah orangnya," tebak Anna.


"Well, aku minta maaf soal itu."


"Tak masalah, aku sudah melupakannya."


"Lalu kenapa kamu menolak waktu aku menawarkan jas. Kamu bahkan menolak memandangku."


"Aku tidak tahu, aku hanya tidak ingin berurusan dengan pria tampan dan kaya yang setelan jasnya saja seharga sewa rumah setahun," kata Anna jujur.


"Hm, bukankah sebuah kesempatan. Kamu bisa menuntutku karena menumpahkan wine sehingga kamu bisa menyewa rumah setahun," tantang Theo.


"Aku bukan orang yang seperti itu," jawab Anna ketus. Makin lama ia makin jengkel dengan sikap Theo. Sepertinya pria itu sengaja membuat topik agar Anna harus menemaninya mengobrol.


"Aku suka kamu karena kamu bukan yang seperti itu," jawab Theo tegas. Ia sangat suka prinsip Anna.


Anna mencibir Theo karena ia sangat pintar merayu. Tapi ia menegaskan bahwa itu tak mempan padanya. Butuh usaha ekstra untuk meluluhkan hatinya.


"Gombalan yang bagus, tapi aku harus pulang, ini sudah larut malam."


"Bagaimana kalau kubelikan es krim lagi. Aku masih ingin mengobrol," Theo memohon.


"Aku sudah makan es krim," ucap Anna sambil berdiri.


"Bagaimana kalau kutraktir minum?"


"Aku tidak akan minum. Aku tidak mau berakhir di kamarmu lagi malam ini," Anna mulai berjalan ke kosannya. Theo membuntutinya dari belakang.


"Bagaimana kalau kutraktir makan?"


"Maaf, aku sudah kenyang."


"Hm ... apa ya?" Theo keki sendiri dicuekin Anna.


Anna tertawa kecil melihat Theo. Apa saja yang dilakukan pria itu.


"Boleh aku meminta nomormu?"


"Buat apa?"


"Ya, siapa tahu aku kangen. Mau aku antar sampai ke tempat kos-mu?"


"Oke, aku kasih nomorku tapi jangan membuntuti ku. Jangan datang ke tempat kos-ku. Jangan memata-mataiku," jawab Anna tegas sambil mengeluarkan ponselnya.


Ponsel lamanya sangat kontras dengan milik Theo. Ponsel Theo keluaran terbaru yang password-nya saja scan wajah. Sedangkan punya Anna, syukur-syukur bisa dipakai. Ponsel lama yang harusnya segera dimuseumkan.


Ana menyebut nomornya. Theo lantas menyimpannya dengan antusias. Dicobanya menelepon. ponsel Ana langsung bergetar. Senyum di wajah Theo pun mengembang akhirnya ia punya nomor gadis itu. Bukan hanya sekedar alamat email.


"Oke, sekarang kamu sudah punya nomorku. Jadi, cukup di sini, jangan mengikutiku," perintah Anna pada Theo.


"Baiklah. Jangan lupa, besok kita bertemu lagi di bangku itu. Aku akan membawakan es krim yang banyak," janji Theo.


"Terserah ..." jawab Anna sambil berlalu.


Tapi Theo cukup keras kepala. Dari jauh ia tetap membuntuti gadis itu. Memastikan bahwa gadis itu aman sampai kosnya. Ingin sekali ia menggenggam tangan Anna, tapi untuk saat ini cukuplah seperti ini. Ia tak ingin memaksakan diri. Tak apa, pelan-pelan saja.


🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2