
🌷🌷🌷
Thomas merasa tidurnya sangat nyenyak. Badannya terasa ringan, sudah lama Thomas tidak tidur sedamai ini. Semua perasaan nyaman melingkupinya. Namun begitu Thomas terjaga dari tidurnya kilasan kejadian yang barusan terjadi membuat Thomas spontan bangun dari tidur nyamannya.
"ANA..... " Teriak Thomas panik. Thomas tak sengaja tertidur sebelum berbicara dengan Ana. Thomas baru saja mengambil hal paling berharga milik Ana dan dia dengan damainya tertidur. Thomas tak menduga ia benar-benar pria brengsek.
"Oh tidak, kemana Ana pergi"
Thomas mencari cari di sudut kamar. Namun Ana sudah raib. Semua barang-barangnya ikut hilang. Ah, Jam berapa sekarang batin Thomas sambil mencari handphonenya.
"Aku telah tidur kurang lebih dua jam." Pastinya Ana belum pergi cukup jauh. Thomas lantas menelfon Ana. Ia ingin tahu dimana gadis itu sekarang.
"Nomer yang Anda tuju sedang sibuk"
Dia sedang menelfon siapa? Theo kah! Ah, brengsek. Thomas mencoba lagi dan lagi sambil tergesa-gesa memakai pakaiannya. Thomas mencoba lagi Sampai pada percobaan terakhir. Telfonnya berdering. Ah syukurlah.
"Ayolah angkat... " Gumam Thomas. Namun hanya dalam satu deringan. Telfon itu terputus.
Thomas menelfon lagi.
"Nomer yang Anda tuju sedang tidak aktif"
Ah, sial. Apakah Ana menghindariku sekarang sebelum aku bisa memberi penjelasan.
Thomas lantas berlari ke arah kantor keamanan hotel. Untunglah Thomas melakukannya di hotel milik keluarganya. Jadi tak masalah jika ia minta tolong untuk mengecek CCTV tanpa alasan yang jelas sekalipun.
Thomas menelfon Chaterine dalam perjalanan ke bagian keamanan. Handphone adiknya berdering berkali-kali namun tidak kunjung di angkat Thomas mencobanya sekali lagi dan ketika telfon tersambung, sudah bisa di tebak reaksi adiknya.
"Wtf... Kamu gila ya! Buat apa menelpon ku sepagi ini" Umpat Chaty.
Thomas mengabaikan umpatan adiknya dan lantas menanyakan tentang Ana.
"Apakah Ana menghubungimu? " Tanya Thomas to the point.
"Ana... Kenapa dengan Ana? " Chaty balik bertanya.
"Kalau Ana menlfonmu beritahu aku. " Ucap Thomas lantas memutuskan sambungan telfon dengan segera karena saat ini Thomas telah berada di depan kantor bagian keamanan.
"Tn muda, ada apa sepagi ini" Sambut petugas jaga yang sudah terkantuk-kantuk. Meski kaget dengan kedatangan Thomas tapi tak urung rasa kantuk nya tetap mempengaruhinya lebih dari rasa keterkejutan nya.
"Aku butuh mengecek CCTV. " Perintah Thomas. Dengan masih mengantuk petugas itu mencari rekaman yang di maksud Thomas. Thomas melihat Ana menaiki taksi.
"Bisakah ini di zoom, dan perlihatkan nomor polisinya."
Petugas itu melakukannya. Meski bagi Thomas tulisan itu terlihat buram tapi petugas keamanan itu tetap bisa membacakannya. Tak sia-sia mereka di bayar mahal untuk itu.
"Terimakasih, kirim CCTV pas kedatanganku dan kepergian gadis ini. Kirim padaku. Langsung ke alamt emailku dan hapus segera, jangan beritahu siapapun." Perintah Thomas sambil memberikan alamat emailnya. Tak lupa Thomas memberi tatapan penuh arti, jika kamu melakukannya maka siap-siaplah untuk jadi pengangguran.
Selesai dengan ini Thomas berlari ke bagian resepsionis untuk melakukan sambungan telfon. Thomas hendak mencari arah yang di tuju taksi yang membawa Ana. Begitu tahu taksi itu membawa Ana ke taman, Thomas lantas bergegas pergi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untung jalanan sedang sepi dan lengang.
__ADS_1
Jalanan masih cukup sepi, taman kota juga masih sepi, tak banyak terlihat orang yang lalu lalang karena jam masuk kerja masih lama. Thomas hanya melihat beberapa orang yang tengah berolahraga. Thomas tak tahu dimana harus mencari Ana. Thomas berlari mengitari taman yang luas dengan berlari. Matanya nanar mengawasi taman yang masih sedikit gelap.
"Ayolah Thomas coba berfikir.... Kira-kira dimana gadis itu akan pergi setelah dari taman." Hmmm Thomas mencoba menghitung nama-nama tempat di sekitar taman kota. Akhirnya tempat yang paling memungkinkan tunjuk di tuju Ana adalah
"Kereta bawah tanah. Tidak, tidak mungkin ini" Sangkal Thomas. Tapi meskipun Thomas menyangkalnya Thomas tetap berlari ke arah stasiun kerata.
"Tolonglah semoga kamu tidak pergi kesini. Kumohon jangan menghilang." Gumam Thomas sambil terus berlari. Untungnya ia terbiasa workout, jadi Thomas bisa berlari lebih cepat. Namun sebelum mencapai stasiun Thomas melihat Ana, Ana berada di seberang jalan.
Gadis itu tengah duduk di bangku yang banyak di sediakan di beberapa tempat sebagai tempat istirahat untuk para turis. Ana terlihat diam sperti patung, gadis itu duduk dengan memangku tasnya tanpa melihat sekitar. Thomas lantas meneteskan air mata melihatnya. Hatinya sangat sakit. Thomas mengusap air mata yang tak sengaja menetes di pipinya sembari berjalan menuju ke arah Ana.
Thomas berlutut di depan Ana. Namun Ana tak melihatnya karena gadis itu tengah sibuk menangis.
"Ana... " Panggil Thomas pelan.
Gadis itu menoleh ke arah Thomas dengan wajah terkejut. Namun cuma sebentar, detik berikutnya Ana kembali menangis dan tak menghiraukan kedatangan Thomas.
"Maafkan aku... " Ucap Thomas sembari memeluk Ana. Ana ingin memberontak, tapi tangisan Thomas menghentikannya. Thomas menangis sambil berucap maaf berkali-kali. Mereka berdua berakhir dengan saling menangis tanpa kata-kata. Air mata penyesalan dan rasa bersalah menyelimuti keduanya. Apalah daya kesalahan yang telah terjadi tak bisa di perbaiki lagi. Apa hendak di kata nasi telah menjadi bubur.
🌷🌷🌷
T
homas memberikan segelas air minum pada Ana yang masih saja termenung. Kali ini Thomas membawa Ana ke rumahnya, bukan rumah besar yang di tempati keluarganya. Tapi seperti rumah tempat Thomas mengerjakan semua proyek modifikasi mobilnya. Ini serupa bengkel besar miliknya. Ana pernah kesini beberapa kali saat menemani Chaty tapi Ana tidak pernah masuk ke rumah.
Ana memandang Thomas untuk kedua kalinya sebelum meminum air yang di berikannya. Terakhir Thomas berhasil memperdayainya. Ana tak yakin apakah Thomas tak akan melakukannya lagi.
Melihat keraguan Ana, Thomas lantas mengambil gelas itu dan meminumnya sampai habis tanpa berbicara. Thomas kembali ke dalam membawa air minum yang masih di segel.
Kali ini Ana meminumnya. Matanya yang sembab terlihat memerah dan kelopak matanya sudah membengkak. Thomas merasakan dadanya sakit kala melihat itu.
"Aku akan menjelaskannya pada Theo. " Ucap Thomas tiba-tiba.
"Tak perlu, Theo sudah tahu" Jawab Ana pendek. Matanya nanar melihat ke luar cendela. Suasana di sini sangat tenang meski berada di kawasan perkotaan yang padat, rumah ini punya halaman yang luas.
Mendengar perkataan Ana batin Thomas tercekat. Dirinya tak hanya mengambil mahkota milik Ana, tapi juga masa depan pernikahannya. Apa yang bisa ia lakukan untuk menebusnya.
"Menikahlah denganku" Pinta Thomas. Thomas yakin lamarannya pasti akan di tolak tapi Thomas tak bisa berfikir lagi.
"Tidak! Terimakasih" Jawab Ana tegas. Ia tak mungkin menikah dengan Thomas. Cukup sudah ia merusak pernikahannya. Ana tak mau masa depannya berakhir dengan menikahi pria ini. Pria dengan trofi bergilir. Bercinta dengan banyak gadis seperti orang gila.
"Aku akan bertanggung jawab"
Ana menggeleng.
"Cukup! Jangan bicarakan omong kosong" Teriak Ana.
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu ana." Kata Thomas putus asa.
"Tolong! mulai saat ini tinggalkan aku sendiri. Aku muak sekali" Ujar Ana marah.
__ADS_1
"Ana, aku sungguh mencintaimu" Ucapan Thomas mungkin terdengar seperti gombalan. Tapi Thomas tak peduli. Ia akan mencoba semuanya.
"Ku bilang berhenti bicara omong kosong. Cinta macam apa yang tega merusak masa depan orang yang di cintainya. Kamu sungguh sakit!" Air mata mulai menetes lagi di pipi Ana.
"Ku mohon, jangan menangis. Jika itu maumu. Aku berjanji akan menjauh darimu. Jika kamu begitu muak denganku, Aku akan pergi ke luar negri bila perlu" Ucap Thomas putus asa. Seumur hidup Thomas tak pernah seputus asa ini.
Ana menggeleng. Ana cukup lama mengenal Thomas untuk bisa melihat sifatnya. Thomas tengah putus asa. Ana tak ingin menghukumnya lagi. Ana memandang Thomas yang masih berlutut di depannya. Ana menggapai wajah Thomas dengan tangannya yang bergetar. Ana menghapus air mata yang mengalir di pipinya Thomas. tak pernah sekalipun Ana melihat Thomas menangis. Sebagai kakak dari sahabatnya. Thomas telah berkali kali membantunya. Ana sudah menganggap Thomas sebagai saudaranya. Hanya saja kenyataan demikian kejamnya. Thomas telah merenggut ikatan persaudaraan itu.
"Tak perlu menangis. Apa yang bisa di sesali jika semua telah terjadi. Aku akan pulang kampung dan melupakan semua yang ada disini. Hiduplah dengan baik. Jadilah kakak yang baik. Jadilah pria yang baik. Kumohon. Cukuplah aku sebagai korban terakhirmu" Pinta Ana. Ana tak tahu apa ia bodoh dengan berusaha bertindak bijak. Tapi, Thomas telah banyak berbuat baik padanya. Apalgi saat Ana mengingat kebaikan Chaty, mereka bertiga punya kenangan yang manis di setiap liburan mereka.
"Jangan pergi" Ujar Thomas sambil memandang Ana dengan air mata yang bercucuran. Thomas tidak tahu sejak kapan rasa sukanya pada Ana berubah jadi cinta. Cinta buta yang membutakannya.
"Aku harus pergi. Kita lupakan semua sampai disini. Jangan menghubungiku lagi. Jangan ada ikatan lagi di antara kita."
"Ana jangan begini. Aku janji akan menjadi pria yang baik. Tetapah tinggal, jangan pergi. Biar aku yang pergi.
"Hatiku... " Ana menepuk dadanya. "Hatiku sakit sekali. Bisakah kamu mengerti itu. Milikku yang berharga telah di renggut olehmu, tunangan ku yang berharga telah meninggalkanku, sahabatku juga adikmu. Apa yang tersisa di sampingku. Hanya tinggal aku. Aku ingin kembali pulang dan mengobati hatiku, tolong jangan mempersulit ku lagi. " Pinta Ana dengan wajah memelas.
Thomas hanya bisa menangis. Ana selalu tahu bagaimana bersikap dengannya. Selalu tahu bagaimana menyentuh hatinya. Itulah yang membuat Ana spesial dari kebanyakan wanita di luar sana.
"Baiklah. Namun ... " Thomas lantas mencari sesuatu di dompetnya dan meletakkannya dalam genggaman Ana. "Terimalah ini dan hiduplah seperti apa yang kamu inginkan. Jika kamu mau menerima ini aku janji, aku tidak akan mengganggumu lagi."
Ana melihat apa yang ada di tangannya yang tenyata sebuah kartu ATM. Ana melihat Thomas lagi. Apa maksudnya ini, apakah Thomas tengah membeli malam pertamanya. Ana merasa sakit hati. Tapi Ana ingin lepas dari semua ini. Hanya jika membawa ini membuat semuanya menjadi mudah. Ana tak akan menolaknya.
"Aku akan bekerja keras sehingga aku bisa mengirimimu uang hasil kerja keras ku sendiri. Habiskan saja tak apa. Kamu hanya harus hidup dengan baik." Kata Thomas dengan wajah yang serius dan tulus.
"Apa dengan ini kamu tak akan mengganggumu lagi?"
"Ya"
"Baiklah" Hanya membawa saja. Tak akan ada masalah dengan itu.
"Nomer pinnya adalah hari ulang tahunmu." Aku Thomas dengan malu-malu. "Kamu bisa menggantinya tentu saja".
Ana memandang Thomas tak percaya. Cinta yang seperti apakah yang dimiliki Thomas untuknya. Ana tak bisa menebaknya. Yang pasti sekarang Ana harus segera pergi dan memulai hidupnya yang baru. Persetan dengan semua masa lalu.
" Bisakah kamu mengantarku ke dermaga"
Thomas mengangguk. Tapi terlebih dulu Thomas mengambil beberapa bungkus roti dari dapur dan menyerahkannya pada Ana.
"Makanlah dalam perjalanan."
Ana mengambilnya. "Terimaksih. bisakah aku minta tolong satu hal lagi"
Thomas mendengarkan.
"Jangan katakan apa pun pada Chaty. Katakan saja aku pulang ke kampung halaman."
Thomas memandang Ana lagi, untuk terakhir kali sebelum keluar dari rumah. Thomas merasa hatinya sangat sedih melepas Ana pergi dan adiknya pun pasti tak kalah sedih. Tapi semua ini memang kesalahan Thomas. Dan ia pantas menerima apapun keputusan Ana. Sakitnya lagi, meski Thomas telah menyakiti Ana dengan sedemikian rupa, tapi Ana tetaplah gadis yang baik hati. Meskipun kemarahannya, kesedihannya, sakit hatinya sudah di ubun-ubun, tapi Ana memberinya maaf dan mendoakan yang terbaik baginya. Oh Tuhan, berikanlah kesempatan kedua untukku bisa bersama Ana. Aku berjanji tak akan membuatnya menangis lagi.
__ADS_1
🌷🌷🌷