
Sore hari di Transylvania, Violet menemui Khaga yang tengah duduk di ruang utama sebuah kastil miliknya.
“Tuan, Violet datang melapor” kata Violet sambil membungkukkan badannya
“Bicaralah” sahut Khaga.
“Kami menemukan Araga di kota kecil Terrace, tempat masa kecil anda. Dia sepertinya belum mengetahui penemuan kita dan tujuan ekspedisi kita” kata Violet.
“Kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan lingkaran di kehidupan Araga dan kekuatannya untuk bersiap jika kita harus bertempur suatu saat nanti. Tapi sepertinya Araga hanya terlibat masalah sepele tentang percintaan dan hubungan antar manusia” lanjut Violet kemudian
“Cinta?” tanya Khaga
“Saudaraku itu begitu bodohnya jika terlibat cinta manusia fana, bukankah dia tahu bahwa itu hanya sementara. Semua orang disekitar kami akan pergi meninggalkan kami sendirian lagi. Tidak kah dia bosan ditinggalkan oleh orang-orang?” dengus Khaga selanjutnya
Violet tidak berani melanjutkan pembicaraannya, hanya menunggu perintah dari Khaga selanjutnya.
“Baiklah, sekarang laporkan mengenai ekspedisimu mencari senjata yang terbuat dari tulang itu” kata Khaga berikutnya.
“Kami belum menemukan senjata itu dengan jumlah peneliti saat ini yang masih kurang” jawab Violet dengan gugup.
“Bodoh” bentak Khaga
“Violet sayang, mengapa kamu begitu bodoh. Kamu bebas menggunakan sumber daya yang aku berikan padamu. Rekrut sebanyak-banyaknya ahli arkeolog di dunia, sebarkan mereka ke seluruh dunia, bahkan jika harus menggali semua tanah dan kuburan di dunia ini” lanjut Khaga melunak sambil mendekati Violet dan membelai rambutnya.
“Baik tuan. Tapi kalau boleh mengusulkan, saya juga memiliki ide lain” kata Violet.
“Katakan” sahut Khaga.
“Disamping merekrut tenaga ahli arkeolog lebih banyak dan menyebarkan ke seluruh dunia. Saya berpikir memulai dengan menggunakan pecahan permata yang ada pada kita untuk menuntun mencari pecahan lainnya” lanjut Violet
“Jika benar sesuai petunjuk pada kitab itu, ada lima pecahan permata di dunia ini. Satu ada pada kita. Tinggal mencari keempatnya lagi. Dan jika keempat pecahan permata ini bersatu maka akan menuntun kita menuju lokasi senjata tersebut” lanjut Violet yang membuat Khaga termangu.
Wajah Khaga tampak cerah, “Kamu benar-benar orang kepercayaanku yang luar biasa Violet. Sunggu briliant. Aku setuju pada idemu Violet.” sahut Khaga.
“Baiklah. Aku serahkan padamu melanjutkan masalah permata dan senjata ini.”
“Jika terkumpul seluruh pecahan permata dan senjatanya, saat itulah aku akan mengirim Araga menuju alam kematian. Hahahaha...” lanjut Khaga sambil tertawa.
Khaga tampak seperti orang gila tertawa sendiri, kemudian dia menarik Violet dan mengajaknya pergi ke kamar pribadinya. Violet kemudian mengikuti Khaga dan bermalam bersama.
__ADS_1
Di pagi hari, John yang baru saja bangun dari tidurnya di rumah tua nya di Fatih. Menghidupkan teleponnya yang sejak kemarin kehabisan baterai. John terkejut mendapati ada 27 messages, 32 miscall yang semuanya dari Cindy dan Sara.
John kemudian memutar telepon menghubungi Sara.
“Kamu pergi kemana saja tanpa khabar” celoteh Sara begitu telepon terhubung. Seolah-olah dia memarahi suaminya yang pergi tanpa khabar. John dibuat pusing oleh teriakan Sara yang selalu bersemangat itu.
Selena yang tidak sengaja muncul menguping suara telepon tersebut kemudian tertawa cekikikan.
“Siapa itu?” tanya Sara yang mendengar suara wanita samar-samar di belakang John
Aduh, mata John berkedut tambah pusing lagi dengan pertanyaan itu. Bagaimana menjawabnya ya.
“Oh itu Selena, seorang nenek kenalan yang pernah mengasuhku waktu kecil” jawab John.
Prang!
Terdengar suara piring jatuh yang sengaja di jatuhkan oleh Selena mendengar kata-kata John sambil memelototinya dengan mata merah tajam.
John pun langsung pergi ke kamarnya dan menutup pintu melanjutkan pembicaraannya dengan Sara.
“Oh, jadi kamu lagi di Turki yah. Kenapa gak ngajak-ngajak?. Kamu liburan sendiri kesana meninggalkanku tanpa kabar” dengus Sara yang memarahi John setelah mendengar penjelasannya yang membuat John bertambah pusing.
“Janji yah” kata Sara yang kemudian bersemangat lagi.
“Iya. Sudah dulu ya, nanti aku hubungi lagi” kata John selanjutnya.
“Ok. Jangan matikan telepon lagi” sahut Sara kembali kemudian mematikan teleponnya.
Setelah itu John pun merebahkan dirinya di tempat tidur. Kepalanya pusing memikirkan Sara, wanita yang dia kenal sangat bersemangat namun kadang berubah-ubah perasaannya dengan cepat. Ini karenamu Gary, gumam John selanjutnya.
Oh hampir lupa, kemudian John kembali memutar teleponnya menghubungi Cindy.
“Halo, kamu ada dimana John” sahut Cindy lebih ramah
“Maaf aku pergi tanpa memberikan kabar padamu” kata John.
“Aku berada di Turki, sedang mengunjungi kerabat dan menyelesaikan sesuatu disini” lanjut John menjelaskan.
“Turki?” tanya Cindy.
__ADS_1
“Kebetulan sekali, aku besok lusa ada pertemuan arkeolog di Istanbul, Turki. Tadi profesor universitasku mengajak untuk pergi. Dikatakan pertemuan lusa akan dihadiri oleh banyak arkeolog dari seluruh dunia” lanjut Cindy
“Pertemuan arkeolog di Turki?” tanya John. Pikiran John menduga ini pasti berhubungan dengan ekspedisi yang dilakukan oleh Khaga.
“Bisakah aku ikut serta dalam pertemuan itu?” tanya John
“Bisa saja aku mengajakmu, tapi..” kata Cindy
“Tapi apa?” tanya John penasaran.
“Tapi kamu harus berjanji mentraktirku makan nanti karena pergi begitu saja tanpa kabar. Bagaimana?” lanjut Cindy dengan tersenyum sendiri di seberang telepon
Lagi-lagi mata John berkedut, lalu dengan pasrah dia menjawab “Baiklah”
“Ok. Kalau begitu aku akan berbicara dengan profesorku dan menyebut kamu sebagai arkeolog kenalanku. Sampai jumpa disana” lanjut Cindy yang kemudian menutup teleponnya.
Pertemuan arkeolog dunia di Turki, sepertinya informasi yang kamu sampaikan pada saat makan malam itu bukan isapan jempol belaka Violet, gumam John.
Kampus Universitas Harvard, tampak Sara sedang berseri-seri setelah menerima telepon dari John. Kemudian dia mencari Cindy untuk segera menceritakan telepon itu.
Dari kejauhan Sara melihat Cindy sedang menemui profesor arkeologi di ruangannya, Sara pun menunggu Cindy diluar ruangan dengan hati bersemangat.
Tak lama kemudian, Sara melihat Cindy keluar dari ruangan tersebut dengan senyuman gembira.
“Ada apa, kak? tanya Sara yang melihat Cindy tersenyum puas keluar dari ruangan profesor dengan curiga.
“Oh itu, anu, lusa profesor, aku dan beberapa dosen arkeolog universitas akan berangkat ke Turki untuk menghadiri pertemuan arkeolog dunia disana” sahut Cindy kemudian.
“Apa? Berangkat ke Turki? Lusa?” kata Sara terkejut. Perasaannya campur aduk cemburu dan curiga. Apakah Cindy tahu kalau John ada di Turki? Mengapa kebetulan sekali ada pertemuan disana? Terlalu banyak pertanyaan di pikiran Sara.
Sara lalu melipat tangannya di depan dada, memandang curiga pada Cindy yang sedang berbunga-bunga hatinya.
“Kamu kenapa?” tanya Cindy yang geli melihat tingkah Sara yang seperti anak kecil.
“Ceritakanlah” kata Sara.
“Ok.Ok.” sahut Cindy
“Tapi kita sambil makan dulu ya” lanjutnya kemudian mengajak Sara menuju sebuah kedai kecil dekat kampus.
__ADS_1