
Setelah mengantar Luciana dan Amelia ke bandara, sekarang hanya tinggal John bersama Mona.
“Mona, kamu sebaiknya memperingati kelompok Penjaga Makammu. Bersiaplah terhadap serangan vampire yang mungkin akan mengincar kalian.” kata John
“Vampire. Benarkah apa yang kamu katakan ini John?” tanya Mona dengan khawatir.
“Seorang pria keturunan Mesir telah mati terbunuh kehabisan darah bersama keluarganya di Peru. Disamping para wanita yang menghilang, barang koleksi Akins termasuk permata dan batu kristal darah dari Mesir juga hilang.” sahut John
“Aku takut pihak vampire ini telah melacak keberadaan kristal darah di Mesir dan membantai kelompok Penjaga Makam kalian” lanjutnya
“Apa yang harus kami lakukan John?” tanya Mona.
“Persiapkan diri kalian terhadap kemungkinan terburuk” sahut John dengan nada serius sambil memasuki hotel setelah diantar oleh Mona.
Mona lalu menelepon Hassan dan menceritakan kata-kata John yang membuat Hassan sedikit tertawa di seberang telepon.
“Hahaha.. vampire?” katanya
“Tenang saja Mona, markas kita sudah bertahan dari sejak jalan pada dewa di Mesir, dan sangat sulit ditembus. Kita akan aman jika berada di dalam markas bersama puluhan pasukan.” lanjutnya berusaha menenangkan Mona.
“Syukurlah kalau begitu. Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu” sahut Mona.
Selama dua hari, penyelesaian tim ekspedisi sudah berakhir. Namun disaat pertemuan terakhhir, Violet menceritakan bahwa situs makam di Damietta sudah dibuka kembali. Dia akan pergi kesana untuk terakhir kalinya sebelum membubarkan ekspedisi ini.
“Kalau ada yang mau ikut ke Damietta, mari ikut bersamaku. Jika tidak, kalian bebas untuk pergi kemana saja” kata Violet.
“Nona Violet, aku dan Sara akan ikut kesana” sahut Cindy yang membuat mata Ken berkedut mendengarnya.
Ken merasakan suatu yang tidak biasa dari tim ekspedisi belakangan ini dan merasa keputusan yang dibuat oleh Cindy dan Sara tidak baik untuk terus mengikuti penelitian tim ekspedisi ke Damietta. Meskipun demikian, tugasnya adalah untuk melindungi mereka jadi diapun memutuskan untuk menyertainya.
“Nona Violet, aku juga ingin pergi kesana. Konon kabarnya disana telah ditemukan makam yang umurnya sangat tua” kata Ken yang juga dibarengi oleh beberapa orang yang ingin pergi ke Damietta.
Hari berikutnya Violet bersama 12 orang dari tim ekspediri termasuk Cindy, Sara dan Ken bepergian menuju Damietta untuk meneliti makam tersebut. Ken sudah mengirimkan informasi itu pada John sebelum keberangkatannya. John memerintahkannya untuk terus mengawasi dan melindungi Cindy dan Sara.
__ADS_1
Sementara itu, John yang sedang menikmati sarapannya di hotel tiba-tiba mendapat telepon dari Mona.
“Ada apa Mona?” tanya John
“Tuan Araga, telah terjadi sesuatu di markas Penjaga Makam. Aku tidak bisa menghubungi teman-teman dan Ketua di markas. Tolong bantu kami” kata Mona dengan gelisah.
“Baiklah. Jemput aku di hotel, kita berangkat bersama-sama kesana” kata John sambil kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.
“Apa yang terjadi di Markas Penjaga Makam? Kematian Akins. Lenyapnya kristal darah di Peru. Tim Ekspedisi yang berubah. Apakah vampire sudah berada di Mesir?” pikir John
“Astaga, Sara dan Cindy sedang berada di markas mereka. Aku harus segera kesana” gumam John
Tak lama Mona sudah berada di lobby hotel melihat kedatangan John lalu bergegas mengajak ke mobilnya.
“Tuan, semalam aku menerima telepon dari Hassan yang mengatakan ada sesuatu yang aneh dalam kelompok penjaga Makam. Aku memintanya untuk terus menyelidiki dengan berhati-hati. Tetapi hari ini aku tidak bisa menghubunginya kembali. Aku takut telah terjadi sesuatu di markas kami” kata Mona dengan ketakutan.
“Tenanglah, aku akan melindungi kalian apabila terjadi sesuatu” kata John menenangkan Mona.
Kelompok ekspedisi Violet telah lebih dahulu tiba di situs pemakaman Damietta, segera mereka memasuki areal pemakaman kuno itu. Ken merasakan gerak-gerik orang-orang di sekitar pemakaman sangat janggal.
Walaupun hari masih belum siang, tetapi areal pemakaman yang biasanya ramai saat itu tampak sepi pengunjung, hanya ada petugas pemakaman di dalam ruang makam tersebut.
Violet mengajak rombongannya masuk jauh ke dalam area pemakaman. Di dalam ruang makam tampak beberapa peti mati berderet. Violet lalu bersama rombongan mencoba membuka peti mati tersebut. Didalamnya tampak mayat yang telah diawetkan dengan pakaian khas jaman dulu.
Hal yang aneh adalah di tubuh mayat tersebut yang tadinya ada kristal darah saat John membukanya, kini tidak terlihat kristal darah pada mayat tersebut.
Setelah membuka hampir semua peti mati itu, tidak tampak adanya kristal darah pada mayat-mayat tersebut. Sepertinya kristal darah itu sudah dipindahkan oleh orang lain.
Tiba-tiba Hassan, seorang anggota penjaga makam muncul mendekati rombongan Violet.
“Tuan dan Nyonya, ketua kami mengundang kalian untuk masuk ke dalam ruang utama” kata Hassan dengan intonasi datar.
Ken curiga melihat gerak gerik Hassan yang sangat aneh, wajahnya pucat seperti kekurangan darah.
__ADS_1
Violet setelah melihat penampilan Hassan menghela nafasnya “Ah, apa yang telah kamu lakukan Drake” katanya di dalam hati
“Kamu telah mengubah beberapa tim ekspedisiku menjadi vampire dan sekarang kamu mengubah orang-orang di makam ini menjadi vampire juga. Apakah kamu mencari sesuatu di makam ini?” pikir Violet kembali
“Baiklah, mari kita menemui ketua kalian” sahut Violet.
Hassan lalu mengantarkan tim peneliti Violet ke ruang utama di dalam makam tersebut.
Begitu memasuki ruang utama, tampak seseorang duduk di kursi ketua yang ada lebih tinggi didepan lukisan mata yang berada di dinding ruangan. Sedangkan ketua penjaga makam, Karim berdiri disamping orang itu.
Ken melihat wajah orang yang duduk di kursi itu, dia pun mengigil ketakutan, namun berusaha untuk menutupinya.
“Drake, apa yang kamu cari disini. Kamu telah merusak tim ekspedisi dan penelitianku, sekarang apalagi rencanamu.” tanya Violet.
“Oh Violet, bukankah aku sudah memberitahumu bahwa aku ingin membantu mempercepat penelitianmu.” sahut Drake sambil berdiri.
“Kamu terlalu lambat, lihatlah ini.” kata Drake sambil memberikan Violet sebuah permata berwarna merah tua kehitaman.
“Permata pusaka?” pikir Violet lalu diapun mengeluarkan permata lainnya yang dimilikinya.
Ketiga permata itu, yang berwarna biru, merah dan merah kehitaman bersinar lebih terang dan bergetar agak kencang.
Cindy dan Sara yang penasaran berjalan mendekati Violet untuk melihat lebih jelas.
Tiba-tiba ketiga permata itu bergetar lebih kencang dan semakin bersinar, membuat Violet terkejut.
“Apakah ada permata lain disekitar sini? Apakah John berada disini?” pikirnya
“Ternyata, kalian telah mengubah penjaga makam menjadi anggota kalian” kata John yang tiba-tiba datang dari pintu masuk ruang utama.
“John!” teriak Sara yang melihat kedatangannya.
Mata Drake berkedut tidak menyangka akan bertemu dengan Araga di dalam makam ini.
__ADS_1