ARAGA YANG ABADI

ARAGA YANG ABADI
BAB 61 | Permata kelima


__ADS_3

“Bukan hanya kalian yang memiliki rahasia, aku juga memiliki rahasia sendiri” kata John sambil melepas topeng penutup wajahnya.


“Ka..kamu, sejak kapan kamu telah melepaskan borgolmu?” teriak salah satu laki-laki dengan panik.


Mona menggigil melihat tatapan John yang tersenyum padanya. Dia tidak menyangka John sengaja membuat dirinya ditangkap untuk bisa menemui mereka.


“Aku ingin bertemu dengan ketua Penjaga Makam. Tolong pertemukan kami. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padanya” kata John dengan santai.


“Bagaimana ini?” pikir ketiga orang itu saling memandang.


“Kalian tidak usah ragu, aku tidak bermaksud jahat. Jadi tidak usah khawatir.” kata John kembali.


“Baiklah, kami akan melaporkan pada ketua. Kamu tunggu disini” kata seorang diantaranya. Lalu mereka bertiga meninggalkan John di dalam ruang interogasi itu.


Di luar ruangan, mereka berdiskusi tentang hal ini.


“Bagaimana Mona? Apa yang harus kita lakukan?” tanya seorang lelaki.


“Hassan, kamu telepon ketua. Katakan orang ini ingin bertemu dengannya. Aku percaya dia tidak bermaksud jahat terhadap kita” sahut Mona


“Darimana kamu tahu dia tidak bermaksud jahat?” tanya lelaki disamping Hassan


“Aku percaya dengan omongannya. Kamu tidak medengar dia mengatakan posisi orang-orang kita semua di sini? Jika dia mau, tadi dia bisa saja membunuh kita di dalam ruangan itu” kata Hassan mengiyakan pendapat Mona.


“Baiklah, kamu telepon Ketua. Aku akan mengatur pasukan untuk bersiaga” kata lelaki itu.


Beberapa menit kemudian, seorang berjas dengan wibawa yang agung memasuki ruangan itu.


“Ketua” kata mereka bertiga hampir bersamaan.


“Dimana orang itu?” tanya ketua Penjaga Makam.


“Dia ada di ruang interogasi” kata Hassan sambil menunjuk ke dalam ruangan.


“Kalian ikuti aku” perintah Ketua Penjaga Makam sambil berjalan memasuki tempat John.


Melihat ketua itu memasuki ruangan, John tersenyum lalu duduk di depannya.


“Namaku Karim. Aku dengar kamu ingin berbicara denganku. Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Ketua Penjaga Makam

__ADS_1


“Perkenalkan namaku John Araga, aku ingin menanyakan beberapa hal tentang kristal darah dan senjata pembunuh mahluk abadi”


Orang-orang di dalam ruangan itu terkejut mendengar kata-kata John, mereka tidak menyangka John akan menyebut senjata pembunuh mahluk abadi. Ketua Karim melihat tatapan mata John hendak menyelidikinya.


“Bagaimana kamu mengetahui tentang senjata dan kristal darah itu?” tanya Ketua Karim.


“Aku telah lama menyelidikinya. Senjata yang berhiaskan lima permata untuk membunuh mahluk abadi pada jaman dahulu.” kata John


“Apakah kamu dari tim ekspedisi new world?” tanya Ketua Karim


“Tidak. Aku bukan dari mereka. Tapi aku memang mengenal beberapa orang dari mereka.” sahut John


“Lalu mengapa kamu ingin mengetahui hal ini?” tanya Ketua Karim kembali.


“Sejujurnya, aku telah menemukan posisi ke empat permata tersebut. Aku bisa merasakan aura nya. Dan aura itu mirip dengan aura kristal darah yang berasal dari Mesir ini. Jika tebakanku benar, seharusnya permata itu semua dibuat dari bahan batu kristal darah ini” sahut John dengan santai.


Ketua Karim dan ketiga orang yang mengikutinya di dalam ruangan itu terkejut mendengar kata-kata John telah menemukan keempat batu permata itu.


“Baiklah. Aku akan menceritakannya padamu” sahut Ketua Karim sambil menghela nafasnya.


“Memang benar, kelima permata yang menghiasi senjata itu terbuat dari kristal darah ini. Namun itu berbeda dengan kristal darah yang kita temui saat ini. Itu adalah kristal darah pertama yang terbentuk dari darah seorang dewa pada masa lalu”


“Senjata yang terbuat dari tulang manusia pertama berupa pisau juga dibuat disini.” lanjutnya.


“Peperangan terjadi namun kekalahan sudah pasti berada dipihak kami. Dewa yang abadi tidak mungkin dibunuh. Hingga pendeta itu membuat senjata pembunuh mahluk abadi tersebut.” lanjut Ketua Karim kembali.


“Dengan adanya senjata itu, peperangan menjadi seimbang, kami bisa membunuh para dewa. Sehingga mereka pergi menyingkir meninggalkan Mesir.”


“Lalu, dimanakah senjata itu” tanya John kembali


“Pisau itu menjadi senjata pusaka kerajaan di Mesir jaman itu, hingga suatu saat berhasil direbut oleh seorang petarung dari dataran India saat itu. Sejak itu kami tidak mengetahui kembali jejak senjata tersebut. Itulah yang tertulis secara temurun diwariskan oleh kelompok Penjaga Makam kami” kata Ketua Karim.


“Terima kasih atas penjelasan ketua” kata John dengan sopan.


“Bolehkah aku melihat kristal darah yang menjadi milik kalian? tanya John


“Mengapa? Apa yang ingin kamu ketahui?” tanya Ketua Karim.


“Baiklah. Aku juga tidak akan menyembunyikan informasi.” sahut John

__ADS_1


“Sekelompok vampire telah hidup bersama kita, mereka telah menyusup di beberapa kota besar di dunia. Saat aku bertempur di Inggris dengan mereka. Mereka masih kelas vampire biasa yang lemah” lanjut John


“Vampire?” teriak keempat orang diruangan itu hampir bersamaan


“Kamu tidak mengada-adakan John?” kata Mona gugup.


“Tidak. Aku mengatakan yang sebenarnya.” sahut John


“Ketika aku di Brasil, aku menemukan sekelompok vampire yang telah bisa berjalan pada siang hari, tidak terpengaruh oleh sinar matahari. Kekuatan dan kecepatan vampire ini melebihi vampire sebelumnya yang pernah aku temui.”


“Dalam penyelidikanku, aku menemukan mereka meningkatkan tubuh mereka dengan menggunakan kristal darah” lanjut John


“Kristal darah? Darimana mereka mendapatkannya?” tanya Ketua Karim selanjutnya


“Jika tebakanku benar, saat itu para dewa yang menyingkir dari Mesir mungkin ada yang menetap di Amerika Selatan, di sekitar sungai Amazon. Sehingga disana ditemukan beberapa kristal darah dan digunakan menjadi sarang vampire”


“Jadi, bolehkah aku melihat kristal darah milikmu? Aku ingin memastikan aura nya. Karena kristal darah yang berada di Amazon berbeda dengan yang berasal dari sini. Kemungkinan di Amazon adalah darah keturunan dewa campuran yang sudah bercampur dengan manusia.”


Setelah berpikir sejenak dan melihat kesungguhan John, lalu Ketua Karim berdiri.


“Baiklah. Mari ikuti aku menuju markas Penjaga Makam kami” katanya sambil mengajak John menuju ruangan lain.


Ketua Karim diikuti oleh ketiga bawahannya mengajak John menuju ruang utama markas Penjaga makam yang cukup luas dengan dihiasi oleh ornamen serta artifak peninggalan kuno.


Mata John tertarik melihat sebuah permata yang terletak pada lukisan di dinding ruangan tersebut. Permata berwarna hitam pekat itu memancarkan aura yang dikenalinya dan bercahaya redup.


“Itu adalah gambar dari simbol Dewa Ra yang disimbolkan sebagai mata” sahut Ketua Karim.


John lalu mengeluarkan permata berwarna ungu yang diterimanya dari Luciana kemudian mendekatkannya pada permata dalam lukisan mata tersebut.


“Tepat seperti dugaanku” kata John sambil melihat aura dari permata di lukisan dinding dengan permata di tangannya bergerak saling mendekati sehingga membuat cahaya mereka lebih terang.


Keempat orang Penjaga Makam terkejut melihat kejadian itu. Mereka tidak menyangka John memiliki salah satu dari permata tersebut.


“Apakah ini salah satu dari permata pada pisau tersebut?” tanya Mona


“Benar. Permata pada lukisan mata ini dan permata yang aku miliki ini adalah bagian dari lima permata yang menghiasi pisau pembunuh mahluk abadi itu” sahut John.


“Kali ini aku telah menemukan posisi kelima permata ini.” gumam John dalam hatinya.

__ADS_1


“Permata biru dan merah berada ditangan Khaga. Permata hijau berada di tangan Sara, ungu ada padaku dan hitam berada pada Penjaga Makam ini” pikir John.


John pun bernafas lega setelah berhasil menemukan keberadaan kelima permata tersebut.


__ADS_2