ARAGA YANG ABADI

ARAGA YANG ABADI
BAB 7 | Selamat jalan Gary


__ADS_3

Gary terkejut menemukan wajah Araga di depannya.”Apakah ini mimpi? gumamnya


“Tidak Gary. Ini bukan mimpi” sahut John membuyarkan pemikiran Gary, lalu perlahan dia membuka selang bantu


pernafasan John.


Dikarenakan kesadaran pasien telah pulih, sinyal pada peralatan medis memberikan alarm kepada alat pemantau pasien dari ruang dokter dan perawat. Segera seorang dokter dan perawat menuju ruang perawatan Gary dan mendapati Gary telah membuka matanya dan semua alat yang terpasang pada tubuh Gary memperlihatkan kondisi seperti orang normal.


“Ini keajaiban” kata dokter kepada Gary.


“Iya dokter. Ini benar-benar keajaiban” sahut Gary sambil tersenyum melihat wajah John di depannya.


“Kami akan melakukan check up pada anda untuk mengecek kondisi anda tuan Gary” lanjut dokter tersebut.


“Bisakah itu dilakukan nanti. Aku pingin berbicara dulu berdua dengan orang di depanku ini. “ pinta Gary kepada dokter tersebut.


“Baiklah, nanti kami akan kembali lagi” sahut dokter tersebut seraya meninggalkan mereka berdua setelah memeriksa semua indikator medis menunjukkan tanda-tanda normal.


Setelah kepergian dokter dan perawat itu, Gary yang tetap tersenyum memandang ke arah John “Tuhan


telah mengabulkan permohonanku untuk bisa bertemu yang terakhir kalinya denganmu tuan Araga”


John hanya tersenyum mendengar kata-kata Gary.


“Aku tidak ingin pergi menyisakan penyesalan dalam hidupku ini tuan” lanjut Gary.


“Sebelum aku pergi, aku ingin mengucapkan rasa terima kasih atas semua bantuanmu selama ini tuan. Tanpa bantuan darimu, aku tidak akan pernah bisa merasakan hidup yang bahagia seperti ini.”


“Namun ada ganjalan dalam hatiku selama ini tentang kepergianmu tuan, dan ada banyak pertanyaan dalam


pikiranku yang tidak bisa aku pecahkan. Jadi aku mohon petunjuk darimu tuan Araga” lanjut Gary sambil menarik nafas perlahan.


“Aku tahu Gary. Aku akan menceritakan segala hal tentang diriku. Darimana aku harus mulai?” tanya John pada Gary


“Beritahu aku siapa dirimu tuan” jawab Gary singkat.

__ADS_1


“Namaku adalah Araga. Aku memiliki saudara kembar yang bernama Khaga. Aku tidak tahu kapan aku dan Khaga


dilahirkan. Tapi seingatku, masa kecilku berada di daerah Terrace ini yaitu di reruntuhan kuil dimana kamu pernah melihatku dua belas tahun yang lalu”


“Jadi, orang yang aku lihat di reruntuhan dua belas tahun yang lalu itu adalah dirimu tuan?” potong Gary sambil berkaca-kaca mengingat masa itu.


“Iya. Itu benar aku” lanjut John.


“Suatu saat aku dan Khaga berubah menjadi abadi, aku tidak ingat berapa usiaku yang sebenarnya, mungkin lebih dari 3000 tahun. Aku telah melalui berbagai perubahan jaman dalam hidupku.” kata John lalu berhenti sejenak memberikan Gary kesempatan untuk mencerna penjelasannya yang singkat.


“Aku dan Khaga kemudian berseteru, melakukan berbagai pertempuran selama berabad-abad. Kemudian pada


pertarungan terakhir kami sepakat menempuh jalan masing-masing. Namun apabila terjadi gesekan, maka kesepakatan itu batal” lanjut John


“Karena itulah 50 tahun yang lalu aku pergi meninggalkanmu dan melakukan penyelidikan untuk menghindari terjadinya pertempuran kembali antara aku dan Khaga setelah kejadian di kota pelabuhan Prince Rupert” kata John melanjutkan ceritanya.


Sedikit demi sedikit simpul yang mengganjal di hati Gary terbuka dengan penjelasan John. Gary pun tersenyum. “Sungguh beruntung aku ditakdirkan untuk bertemu denganmu tuan Araga” sahut Gary dengan bahagia.


“Jika berkenan, aku ingin memohon satu hal padamu tuan. Tolong kabulkan lah tuan” pinta Gary.


“Tuan Araga, aku mohon padamu untuk menerima cucu tersayangku Sara. Jadikanlah dia istrimu sekaligus pelayanmu yang selalu melayani dan mendampingimu selama hidupnya. Sebagai balas budiku padamu dalam kehidupan ini” pinta Gary pada John yang membuat mata John berkedut.


John tidak tahu harus menjawab apa. Selama ini John selalu menghindari untuk dekat secara emosional dengan


wanita dalam hidupnya, karena John tahu akhirnya hanya hal yang paling menyakitkan yang tersisa karena kehilangannya.


“Tolonglah tuan Araga, kabulkanlah permohonanku untuk terakhir kalinya. Aku tahu waktuku sudah tidak lama lagi”


pinta Gary pada John kembali.


“Baiklah jika itu permintaanmu” jawab John untuk memberikan ketenangan dan kebahagiaan pada Gary sebelum akhir hayatnya.


“Kakek” teriak Sara bahagia begitu melihat kakeknya telah bangun dan sedang berbicara dengan John sambil membawa sebotol anggur putih ditangannya.


Gary menoleh ke arah cucu yang sangat dia sayangi ini. Hatinya sudah tenang karena dia percaya tuannya, Araga akan selalu menjaga cucunya dengan baik.

__ADS_1


Sara pun duduk disamping kakeknya dengan hati gembira sambil berkata “Kakek, aku membawakanmu sebotol anggur putih untukmu”


Gary tertawa mendengar kata-kata cucunya, lalu membelai penuh kasih rambut Sara dengan tangannya.


“Dengarkan kakek Sara” kata Gary perlahan.


“Kakek ingin menjodohkanmu dengan John. Apakah kamu bersedia dan melayaninya sampai akhir hayatmu?” tanya Gary pada Sara.


Seperti disambar petir, Sara mendengar permintaan kakeknya. Ada rona merah di kedua pipi Sara yang membuat kakeknya tersenyum.


Sebelumnya siang ini dia berpikir menolak perjodohan jika seandainya dia berada pada posisi seperti Cindy yang


dijodohkan oleh orang tuanya. Tapi ini kakeknya, orang yang paling dia sayangi. Dan ini bisa jadi permintaannya yang terakhir. Bisakah aku mengabulkannya? Belum lagi ini John. Semakin dia memikirkannya, rona merah di wajahnya semakin bertambah.


“Hahahaha. Cucuku sudah dewasa” lanjut Gary menggoda cucu tersayangnya.


Mendengar godaan dari kakeknya, Sara tersadar. Dia segera mendekatkan wajahnya ke wajah kakeknya sambil memeluk kakeknya lalu berbisik “Sara bersedia kek”


Oh betapa malunya, satu sisi menolak perjodohan tapi kini menerimanya. Untung hanya hatiku yang mengetahuinya, pikir Sara.


John tersenyum, Sara belum mengetahui ternyata John bisa membaca pikiran dan hati manusia.


“Kalau begitu mari kita buka anggur putih ini dan bersulang” lanjut Gary yang kemudian Jiro segera menuangkan anggur pada gelas dan memberikannya pada semua orang di ruangan itu.


“Untuk kedamaian dan kebahagiaan kita. Mari bersulang” ucap Gary dengan bahagia. Jika sekarang saatnya dia harus pergi, dia sudah tenang dan iklas meninggalkan cucu yang sangat dia sayangi.


Kemudian dokter dan perawat muncul kembali bersiap untuk mendiagnosa Gary lebih lanjut. John dan Jiro pun


berpamitan kepada Gary dan Sara. Walau berat hati atas kepergian John, tapi Sara harus berada di sisi kakeknya dan merawatnya. Jadi dia hanya bisa memandang punggung John yang berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


Di lorong rumah sakit Jiro bertanya pada John “Tuan, apa yang terjadi dengan Gary.?”


“Aku hanya bisa memperpanjang waktu buat mereka berdua bersama selama satu atau dua hari ini. Tapi simpul di


hati Gary sudah terbuka, dia bisa pergi dengan tenang” sahut John sambil berjalan keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


Setelah berada diparkiran mobil, John membalik badannya melihat ke arah rumah sakit “Selamat jalan Gary, aku yakin kamu akan mendapatkan tempat yang layak disana bersama istrimu”.


__ADS_2