
“Bagaimana perkembangan ekspedisimu?” tanya Brandon
“Semua belum sesuai dengan yang diharapkan. Masih banyak tempat yang belum di eksplorasi, aku ragu menemukan pisau tulang itu.” sahut Violet
“Kalau permatanya bagaimana?” lanjut Brandon
“Permata saat ini kita sudah memiliki salah satunya, hanya tinggal empat lagi. Ekspedisi saat ini disamping mencari pisau tulang itu, kami mengutamakan mencari permatanya terlebih dahulu. Aku punya intuisi bahwa permata akan menuntun kita mendapatkan pisau itu” sahut Violet kembali.
“Mungkinkah, permatanya sudah ditemukan oleh orang lain?” tanya Brandon
Pertanyaan Brandon ini membuat Violet tertegun, “Bisa jadi kak. Apakah kakak mempunyai petunjuk?”
“Aku ingat kakek pernah menyebutkan padaku, bahwa sekte kita telah memiliki dua buah permata, namun sebelumnya pernah terjadi pertikaian internal sekte dan salah seorang anggota berkhianat melarikan diri bersama salah satu permata”
“Mungkin kita bisa memulai penyelidikan dari sana” lanjut Brandon
“Kenapa kakak baru mengatakan ini padaku?” tanya Violet
“Karena selama ini pikiranku terfokus untuk mencari Araga saja. Aku melupakan hal tentang pisau dan permata ini” kata Brandon sambil menyalakan cerutunya.
“Kamulah yang bertugas mencari pisau dan permata itu. Jadi aku sama sekali melupakan hal itu” jawab Brandon kembali
“Setelah menemukan Araga, barulah aku sadar. Kita tidak akan bisa membunuhnya bila tidak menggunakan pisau tersebut. Maka itulah aku menghubungimu untuk memberitahukan hal ini” lanjutnya.
“Mari kita sekarang lebih fokus mencari dimana pengkhianat itu berada. Setidaknya kita bisa mendapatkan satu lagi permata tersebut.”
“Baiklah kak. Aku juga akan mencoba mengirimkan orang-orang untuk mencari tahu permata dari pelelangan dan koleksi orang-orang di seluruh dunia” sahut Violet.
“Bagus. Fokus mengejar permata dulu, jika terkumpul tentu akan memudahkan mencari pisaunya” kata Brandon
“Bagaimana dengan Khaga?” tanyanya kembali
“Tuan Khaga menyerahkan segala sumber daya nya untuk membantu menemukan barang-barang tersebut.” sahut Violet
“Hahahaha... kita memiliki musuh yang sama. Jadi tidak ada salahnya saling membantu.” kata Brandon selanjutnya
“Baiklah, pertemuan kita cukup sampai disini. Laporkan setiap penemuan yang penting padaku” kata Brandon
“Baik kak” sahut Violet sambil pergi meninggalkan kakaknya untuk kembali ke Moskow.
__ADS_1
Untuk sementara aku bekerjasama denganmu Khaga, selanjutnya kamupun adalah musuh kami, gumam Brandon sambil tersenyum.
Dendam leluhur terbalaskan, aku bisa menjadi abadi dan dunia berada dibawah perintahku, kata Brandon dalam hati
“Hahahahaha...” Brandon pun tertawa membayangkan hal itu.
Pada saat yang sama, John tengah meneliti kembali foto-foto informasi yang diberikan oleh Violet di kamarnya. Kemudian dia mengirimkan informasi tersebut kepada Jiro dan William untuk melakukan penyelidikan.
“Jiro, tolong cari informasi permata di seluruh dunia, dari museum, pelelangan, bahkan koleksi pribadi semua orang di dunia” kata John
“Baik tuan” sahut Jiro dari seberang telepon.
“Ohya, apakah ada pelelangan dalam waktu dekat di Rusia ini? Karena aku sedang berada disini, mari memulainya dari Rusia. Kirimkan informasi tentang hal yang aku minta tadi, terutama di Rusia terlebih dahulu.” lanjut John
Sekitar satu jam berikutnya, Jiro mengirimkan semua informasi yang diperoleh dari museum, koleksi pribadi dan pelelangan yang berhubungan dengan permata. John lalu mengumpulkannya dan membandingkannya dengan bentuk permata dari foto yang diberikan oleh Violet padanya.
Apakah permata ini sebelumnya satu yang pecah menjadi lima? apakah warnanya sama? apakah memiliki aura tertentu? pikiran John berkecamuk memikirkan segala kemungkinan.
Satu-satunya cara adalah melihat sendiri permata tersebut, lalu dia menelepon Violet yang dalam perjalanan kembali ke Moskow.
“Ada apa tuan Araga?” tanya Violet diseberang telepon sambil mengendarai mobilnya
“Bukankah tuan tidak peduli dengan permata dan pisau tersebut?” sindir Violet sambil tersenyum diseberang telepon.
“Setelah aku membaca kembali informasi darimu, aku berpikir harus memulai dari permata ini. Aku harap intuisiku ini tidak salah” kata John selanjutnya
“Baiklah tuan Araga, kita memiliki intuisi yang sama. Aku akan menemuimu dengan membawa permatanya” kata Violet sambil menutup teleponnya.
Setelah menutup telepon, kamar John diketuk oleh seseorang.
“John, ayo kita makan malam” kata seseorang wanita dari luar pintu.
John pun membuka pintu dan melihat Sara yang cantik berdiri disana sambil tersenyum. Dia pun memeluk John “Aku kangen denganmu John” sahutnya.
Mata John berkedut melihat sikap Sara yang blak-blakan seperti itu. Tidak tahu harus menjawab apa, John hanya tersenyum melihatnya. Lalu Sara mengambil tangan kanan John dan melingkarkan seutas tali yang dia untai berhiasakan sebuah giok kecil. “Ini untukmu” katanya.
John melihat gelang sederhana itu, hatinya tertegun sejenak, ini pertama kalinya dia menerima hadiah dari seseorang wanita. Dia pun tersenyum, “Aku menyukainya” yang membuat hati Sara berbinar.
Lalu Sara pun menarik tangan John dan mengajaknya ke restoran hotel itu untuk makan malam bersama Cindy dan Sasha yang sudah menunggu di restoran.
__ADS_1
“Aku pikir kamu pergi kemana Sara, baru aku mau meneleponmu dan John” kata Cindy dengan senyuman cemburu.
“Kamu tidak melakukan hal yang aneh-aneh dengan Sara kan John” timpal Sasha kemudian.
Mengapa setiap bertemu mereka bertiga, kepalaku jadi pusing, pikir John.
“Kalaupun ada apa-apa juga tidak masalah buatku” sahut Sara genit sambil merangkul lengan John yang membuat kepalanya tambah berat.
Cindy dan Sasha menatap Sara dengan wajah menyeramkan, melihat sikap Sara tersebut.
Kemudian mereka berempat pun duduk dan bersantap bersama.
“Alangkah menyenangkan ditemani oleh tiga wanita cantik seperti itu” bisik seorang pria yang iri diseberang meja John dengan temannya.
John yang mendengarkan bisikan itu menoleh tajam ke pria itu yang membuat mereka memalingkan wajahnya “Menyenangkan apanya” kata John dalam hati.
Saat santapan mereka sudah berakhir, mereka akhirnya berbincang santai. John mendengarkan pengalaman mereka masing-masing selama ekspedisi dan jalan-jalan hari ini.
Kemudian dia mendengar langkah kaki mendekati mereka, Violet datang dengan anggun sambil membawakan sebuah kotak, lalu mengambil kursi dan duduk dengan mereka.
“Sialan, sekarang ada empat wanita cantik bersamanya” lelaki di seberang meja itu berbisik kembali
Kali ini John terlalu malas mengomentari omelan para lelaki yang berada di restoran itu yang pada menatap iri kepadanya. Matanya terfokus pada kotak hitam yang dibawa oleh Violet.
“John, aku ingin memberikanmu hadiah” goda Violet dengan mata nya genit yang membuat ketiga wajah wanita di depan John memerah. Kemudian dia menyerahkan kotak itu kepada John.
Ketika John hendak membukanya, “Jangan dibuka disini John, aku malu dilihat oleh orang-orang” sahutnya dengan wajah sendu kemudian berdiri hendak pergi.
John pun mengurungkan niatnya untuk membuka kotak tersebut.
“Setelah tuan puas mengamatinya, aku akan kembali untuk mengambilnya lagi” bisik Violet ke telinga John sambil mengedipkan matanya lalu berlalu meninggalkan mereka berempat.
John merasakan hawa sekitarnya membuatnya gerah kepanasan, dia perlahan menoleh ke arah ketiga wanita itu yang mengeluarkan wajah yang menyeramkan.
“Dasar playboy” kata Cindy ketus.
Sasha tidak tahu harus berkata apa, hatinya pun sedih bercampur marah dan iri.
Sara yang duduk di sebelah John penasaran dengan isi kotak itu “Kamu tidak ingin membukanya John?”
__ADS_1