
Keesokan harinya, setelah mengantarkan kepergian Sara dan Cindy ke stasiun kereta, John kemudian menerima telepon dari Jiro bahwa hari ini ada pelelangan di sebuah gedung di Rusia pada sore harinya.
Jiro juga mempersiapkan sebuah kartu hitam khusus dari sebuah bank untuk keperluan John apabila diperlukan untuk pelelangan tersebut. Segera John menelepon Sasha meminta bantuan agar bisa diikutsertakan dalam pelelangan yang akan diadakan sore ini.
Sebuah keluarga kaya di Rusia memiliki rumah lelang yang cukup terkenal di dunia. banyak para keluarga kaya dunia yang ikut serta dalam pelelangan tersebut. Pelelangan ini sifatnya tertutup, hanya untuk kalangan atas saja dimana barang-barang koleksi tingkat tinggi ditampilkan dalam pelelangan tersebut.
Salah satu benda yang akan dilelang dalam rumah lelang tersebut adalah koleksi permata dari keluarga Inggris yang legendaris. Konon permata itu pernah dijadikan hiasan pada pedang raja kerajaan Inggris, yang membuat John ingin melihat permata tersebut.
Siang itu John yang dijemput oleh Sasha menuju sebuah gedung pelelangan di pusat kota Moskow. Sasha telah mendapatkan tiket masuk pelelangan tertutup dari keluarga jauhnya di Rusia. Saat memasuki ruang pelelangan, John yang berpenampilan sederhana menjadi pusat perhatian orang-orang dari kalangan atas di sekitarnya.
“Tampaknya balai lelang keluarga Mikhelson sudah menurun sehingga anjing dan kucing bisa masuk kesini” kata Dimitri begitu melihat kedatangan John.
Mendengar sindiran Dimitri, John hanya tersenyum “Srigala kecil yang kabur cuman bisa melonglong, namun tidak memiliki taring”
Sindiran John membuat muka Dimitri merah, begitu juga lelaki yang berada disebelahnya. “Bos, ini orang yang aku ceritakan kemarin” bisik Dimitri kepada lelaki disebelahnya yang sedang menghisap cerutu.
Lelaki itu adalah Yankov, bos besar dari Srigala Merah, merupakan salah satu orang kaya dari kalangan hitam di Rusia. Dia hanya melirik ke arah John sambil mengepulkan asap cerutunya. Yankov selalu ditemani oleh salah seorang pengawalnya yang terkenal kejam dan kuat, Demian.
Saat John mulai duduk dengan Sasha di sebelahnya, tampak datang seorang wanita cantik yang berwajah latin memasuki ruang pelelangan. Luciana Lemann, usianya sekitar dua puluhan tahun yang datang bersama seorang penerjemah sekaligus sebagai pengawalnya. Lalu Luciana pun duduk di sebelah John, memperhatikannya sebentar lalu melihat sekelilingnya.
Tak lama pembawa acara pelelangan memperkenalkan berbagai benda-benda pelelangan yang tidak terlalu menarik perhatian John. Tawar menawar lelang terjadi di ruangan itu yang membuat John cukup bosan. Hingga tibalah saat puncak dari pelelangan tersebut, yaitu lelang batu permata koleksi kerajaan Inggris.
Pembawa acara memperkenalkan seorang wakil dari kerajaan Inggris yang datang dalam pelelangan tersebut.
“Tuan dan Nyonya sekalian, kami perkenalkan pada kalian Lady Amelia, dari kerajaan Inggris yang mempersembahkan beberapa koleksi batu permatanya sebagai item puncak dalam pelelangan ini” kata pembawa acara, sambil menunjuk ke arah seorang wanita cantik yang duduk di deretan vip di depan John.
“John, acara puncak segera dimulai, ada lima batu permata yang akan dilelang pada pelelangan kali ini” bisik Sasha kepada John.
John menganggukkan kepalanya, lalu matanya melihat ke arah katalog yang diberikan oleh panitia lelang sebelumnya dan menemukan kelima foto batu permata tersebut.
“Permata yang pertama, sebuah zamrud dengan pembukaan harga satu juta dolar dan dilelang dengan kelipatan seratus ribu dolar”
__ADS_1
“Bagaimana John?” tanya Sasha. John melihat ke arah permata tersebut, namun tidak menemukan aura yang dicarinya.
John pun menggelengkan kepalanya “Bukan ini”
Pelelangan terus berlanjut dengan batu permata selanjutnya, namun tidak ada yang membuat John tertarik. Hingga akhirnya batu permata terakhir disebutkan dalam pelelangan.
“Ini merupakan koleksi permata terakhir yang akan di lelang hari ini, sebuah permata berwarna merah yang dulunya merupakan hiasan pada pedang kerajaan inggris” kata pembaca acara selanjutnya sambil mengeluarkan sebuah permata merah yang memancarkan cahaya kemilau.
John menyipitkan matanya melihat permata tersebut, namun dia tidak merasakan aura yang dicarinya pada permata itu “Ini sebuah replika, bukan aslinya. Namun aku rasa permata ini sangat mirip dengan aslinya” kata John.
Perkataan John terdengar oleh Lady Amelia di depannya yang terkejut, lalu menoleh ke arah John dengan pandangan tidak percaya.
“Bagaimana lelaki ini mengetahuinya?” kata Amelia dalam hatinya
Luciana Lemann yang juga duduk di sebelah John menoleh kepadanya “Kenapa kamu mengatakan bahwa itu replika?” tanyanya kepada John.
“Aku pernah melihat yang aslinya” kata John selanjutnya.
“Iya.” sahut John dengan serius yang membuat beberapa orang di sebelah mereka mentertawakannya.
“Orang sepertimu membual terlalu besar” kata Dimitri sambil tertawa
Pembawa acara yang mendengar hal itu merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut “Tuan, apabila anda tidak melakukan penawaran, sebaiknya jangan mengganggu jalannya pelelangan”
John lalu berdiri “Jika itu adalah permata terakhir yang ditampilkan hari ini, aku rasa pelelangan ini tidak terlalu menarik buatku”, sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Tindakan John membuat riuh ruangan tersebut, lalu Sasha pun menyusulnya keluar dari ruangan.
Luciana yang melihat kejadian tersebut, setelah memperhatikan permata itu, diapun segera ikut menyusul keluar.
“Tunggu tuan” katanya memanggil John setelah berada di luar ruang lelang.
__ADS_1
John menghentikan langkahnya kemudian berbalik melihat ke arah Luciana.
“Aku Luciana. Luciana Lemann” katanya menyerahkan kartu namanya kepada John.
John mengambil kartu nama tersebut lalu menjabat tangan Luciana “Aku John. John Araga” sahutnya.
Luciana tampak sedikit mengernyit mendengar nama John, lalu tersenyum “Tampaknya tuan cukup mengenal tentang batu permata. Bolehkah aku mengundang tuan untuk berkunjung melihat koleksiku suatu saat?”
“Baiklah, nona bisa menghubungi aku kapan saja untuk itu. Kebetulan aku memang menyukai batu permata” sahut John sambil memberikan nomor teleponnya.
“Luci, apa khabar.” terdengar suara yang cukup fasih terdengar di telinga John.
Lady Amelia, wanita yang berada di depannya tadi sedang berjalan mendekati mereka.
“Lady Amelia. Apakah pelelangan telah berakhir?” tanya Luciana padanya.
“Sudah. Tapi aku tidak melihat dirimu disana. Rupanya kamu sedang bertemu dengan laki-laki ini” kata Amelia dengan wajah dingin.
“Kamu terlalu berani membual tentang permata terakhir tadi. Kamu meragukan kredibilitas kami sebagai pemilik permata itu. Tahu kah kamu konsekuensinya?” tanya Amelia dengan ketus.
“Aku tahu yang aku katakan benar. Dan aku yakin kamu juga mengetahuinya” sahut John datar.
“Mengapa kamu yakin dengan hal itu?” tanya Amelia kembali.
“Aku sudah bilang, aku pernah melihatnya sendiri” sahut John
“Hahahaha.. hanya keluarga kerajaan yang pernah melihat langsung permata tersebut. Dan aku rasa kamu bukan bagian dari keluarga kami bukan” kata Amelia selanjutnya.
John kemudian terdiam, dia tidak mungkin menjelaskan lebih lanjut bahwa dia pernah bertemu dengan keluarga kerajaan inggris pada masa lalu dan melihat sendiri permata tersebut saat itu.
“Sudah lah, kalian mau percaya atau tidak. Bukan hal penting bagiku. Hanya bukan permata itu yang aku cari” sahut John sambil berlalu meninggalkan mereka.
__ADS_1
Luciana dan Amelia yang rupanya berteman akrab memandang kepergian John dengan wajah penasaran di wajah mereka.