
Setelah menyiapkan kamar untuk Sara dan Cindy, Selena lalu mengutus bawahannya untuk mengantar mereka mengambil barang-barang dari tempat mereka menginap lalu memindahkannya kemari.
Selena kemudian mendekati John yang kelihatan sedang risau memikirkan ekspedisi tersebut.
“Tuan, apa yang sedang kamu pikirkan” tanya Selena dengan lembut saat ini.
“Kamu harus berhati-hati Selena. Tadi aku bertemu dengan bawahan Khaga, Violet. Sepertinya dia sudah mengetahui identitasku. Dan tentunya Khaga juga sudah mengetahuinya. Itulah sebabnya aku meminta Cindy dan Sara untuk tinggal disini, agar aku bisa melindunginya.” sahut John sambil menghela nafas
“Namun saat ini Khaga belum akan bergerak untuk menggangguku, sepertinya dia masih menunggu hasil dari ekspedisi ini” lanjut John kembali.
“Menurut tuan apa yang sedang Khaga rencanakan saat ini” tanya Selena kembali
“Menurut perkiraanku, saat ini sedang merencanakan dua hal”
“Yang pertama dia sedang mencari cara atau menemukan sesuatu untuk bisa membunuhku” lanjut John.
“Membunuhmu tuan? Bukankah kalian berdua abadi?” tanya Selena lebih lanjut
“Aku merasa Khaga telah menemukan sebuah petunjuk yang bisa untuk memusnahkan keabadian kami” kata John selanjutnya
“Lalu apa hal yang kedua” tanya Selena penasaran
“Aku merasa Khaga sedang mempersiapkan pasukan abadi” lanjutnya
“Pasukan abadi?” kata Selena yang terkejut.
“Iya. Sejak awal rencana Khaga adalah untuk memusnahkan seluruh umat manusia, lalu menggantinya dengan orang-orang yang bisa dia kendalikan” kata John
“Beberapa kali aku menemukan kasus dengan petunjuk yang aneh. Jejak darah, namun tidak ada mayat manusia. Dan beberapa kasus orang hilang. Anehnya orang yang hilang selalu terjadi pada malam hari” lanjut John sambil mengambil gelas teh yang telah disiapkan oleh Selena.
“Akupun mulai menyelidiki setiap malam harinya dan pada suatu tempat di masa lalu aku bertemu dengan mahluk yang mencurigakan itu, dia hendak memangsa manusia lain dengan menggigit lehernya. Mahluk itu menyerupai manusia pada umumnya, namun wajahnya putih pucat dengan taring yang menonjol keluar saat dia menyeringai. Aku tidak tahu mahluk apa itu”
“Kemudian aku bertarung dengannya saat itu, aku sudah membunuhnya berkali-kali, namun dia tidak mati juga. Saat terakhir kalinya mencoba, aku menikam jantungnya dengan tanganku, barulah kemudian dia musnah menjadi debu”
__ADS_1
“Dari sanalah aku mengetahui kelemahan mahluk itu. Tetapi mahluk itu sangat kuat dan cepat. Barulah pada abad terakhir ini aku mendengar manusia menyebutnya sebagai vampire” lanjut John sambil menghela nafasnya.
“Lalu apa rencana tuan?” tanya Selena kembali
“Jika benar sesuai dugaanku, manusia berada dalam bahaya” lanjut John.
“Bayangkan manusia musnah di muka bumi ini dan lalu bumi dihuni oleh mahluk abadi yang bernama vampire itu. Jika pun manusia masih ada, mereka akan hidup dalam ketakutan setiap saat” ujar John dengan sedih.
“Untuk itu Selena, aku ingin melatih lagi kekuatanku menjadi lebih kuat. Dan juga melatih kalian orang-orang disekitarku untuk bisa melawan mahluk tersebut.” sahut John
“Akan menjadi suatu hal yang baik jika pertarungan ini tidak terjadi, namun kita harus bersiap dalam kondisi terburuk jika terjadi pertempuran di masa depan” lanjut John kemudian dia berjalan menuju halaman belakang yang diikuti oleh Selena.
Setelah perbincangan yang cukup lama, tampak Cindy dan Sara pun telah kembali ke rumah itu dan mereka berkumpul di ruang makan untuk makan malam hari itu sambil berbincang rencana-rencana yang akan mereka lakukan selama berlibur mengunjungi Turki.
Lalu setelah larut, Cindy dan Sara pun berpamitan pada John dan Selena untuk beristirahat dan tak sabar untuk berkeliling esok harinya.
“Bagaimana menurutmu Selena, apakah aku harus mengungkapkan identitasku pada mereka berdua?” tanya John pada Selena setelah kepergian Cindy dan Sara.
“Ternyata kamu sudah dewasa Selena” kata John sambil tersenyum menggodanya
Walau Selena agak risih mendengar kata-kata itu namun mereka pun akhirnya tertawa bersama di malam yang penuh bintang.
Di pagi harinya John terbangun mendengar teriakan Sara.
“John, kamu ada dimana? kenapa jam segini belum bangun? Kemarin kamu berjanji untuk mengantar kami jalan-jalan” teriak Sara mencari-cari kamar John.
Selena yang melihat kejadian itu geli, mengingat kejadian serupa yang pernah dia lakukan di masa lalu.
Begitu melihat John yang membuka pintu kamarnya, Sara langsung menubruk pintu kamar dan masuk kedalam kamar John.
Di dalam kamar, Sara yang memaksa masuk matanya melihat John yang hanya mengenakan celana pendek di kamar itu. Dada dan perutnya yang berotot tampak jelas di depan Sara.
Waktu berhenti selama beberapa detik.
__ADS_1
“Kyaaaa” teriak Sara yang sadar sambil menutup matanya namun masih terlihat warna pipinya yang merah.
“Cepat pakai pakaianmu” bentak Sara kemudian.
Aduh, kamu sendiri yang menerobos masuk ke kamarku, pikir John. Dasar wanita ini.
John pun segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Sara lalu keluar kamar dan kembali ke ruang keluarga menunggunya.
Sara tidak sadar Cindy datang mendekatinya. Sara masih melamun memikirkan kejadian barusan. Dada. Perut. Semua bayangan itu muncul kembali membuat wajah Sara merona merah
“Melihat dari wajahmu pasti kamu sedang melamunkan hal-hal kotor” goda Cindy yang membuyarkan lamunan Sara.
“Enak aja. Siapa bilang seperti itu” tungkas Sara namun wajahnya masih terlihat rona merah itu yang membuat Cindy tertawa geli melihatnya.
“Sara, kamu ini sudah berusia 21 tahun, namun kelakuanmu masih seperti anak-anak. Dasar anak manja” sahut Cindy kembali sambil mencubit pipi Sara.
Selena melihat seluruh kejadian tersebut sambil tersenyum. Alangkah senangnya jika kita tidak mengetahui kebenaran yang terjadi pada dunia ini, pikirnya.
“Kalian jadi jalan-jalan kemana hari ini?” tanya Selena kepada mereka
“Aku ingin pergi ke tempat-tempat bersejarah di kota ini sebagai bahan penelitianku untuk tugas akhir nantinya” sahut Sara bersemangat
“Dan kebetulan aku ditemani oleh ahli arkeologi dosen pembimbingku yang cantik dan juga pemandu kota ini walaupun malas sepertinya dia akan cukup berguna nantinya” lanjut Sara
“Siapa yang malas?” tanya John yang datang menghampiri mereka.
“Siapa lagi kalau bukan kamu” sahut Sara sambil menundukkan kepalanya setelah melihat John yang kembali memunculkan bayangan kejadian hari ini.
John tertawa geli melihat kejadian itu, lalu mereka pun menikmati sarapan yang telah disiapkan oleh Selena.
“Bibi, kami berangkat dulu. Terima kasih sarapannya” kata Sara pada Selena dengan bersemangat lalu menggandeng tangan Cindy yang diikuti oleh John.
Baru kali ini aku melihat tuan Araga seperti pemuda pada umumnya, padahal usianya sudah ribuan tahun, pikir Selena.
__ADS_1