
Sebuah gedung di tengah padatnya kota Beijing, Khaga bertemu dengan para jendral vampirenya bersama Violet dan Drake.
“Anak-anakku waktu penantian telah tiba, kita akan memulai revolusi di dunia ini. Kehidupan manusia yang menyedihkan akan kita sucikan dengan darah kita, bersiaplah. Dalam seminggu ini, persiapkan semuanya. Minggu depan saat purnama, kita mulai dari China yang penduduk terpadat di dunia ini.” kata Khaga.
Para jendral vampire bersorak mendengar keputusan dari Khaga termasuk Drake. Wajah Drake meringis dingin merasa senang dan siap untuk bertempur menginvasi ras manusia.
\======
Sementara itu di tempat lain di kota Cheng Du, John Araga sudah berkumpul bersama para pimpinan pasukannya. Dia mengadakan pertemuan mendadak untuk membahas langkah antisipasi terhadap serangan Khaga.
“Perintahkan pada seluruh kamp pasukan kita untuk mulai menyerang sarang-sarang vampire di wilayah masing-masing. Kita harus mendahului menyerang mereka sebelum mereka menginfeksi manusia lainnya” kata John
“Benar, jika mereka telah menginfeksi manusia lain. Akan lebih sulit mengatasi penyebarannya” sahut Selena
“Lakukan segera!” perintah John
“Siap laksanakan” semua pemimpin pasukan berteriak semangat menerima perintah dari John.
Malam itu seluruh pasukan Araga di berbagai wilayah dunia mulai pergerakan melakukan pembasmian sarang-sarang vampire di daerah masing-masing.
“Lakukan pemantauan terus. Bantu pasukan yang kekurangan sumber daya untuk bisa cepat menghabisi vampire di wilayah masing-masing” kata John di pusat komando Cheng Du memberikan instruksinya.
Berita tentang pembasmian sarang vampire telah sampai ke telinga Khaga. Hal ini membuatnya menjadi marah besar. Dia segera bertemu dengan Drake dan para Jendral.
“Bagaimana situasinya” tanya Khaga pada mereka dengan menggertakkan giginya menahan amarah.
“Lapor, sarang kita di daerah amerika dan kanada sudah mulai hancur, tinggal dua sarang yang masih belum di basmi. Pasukan kita yang bersembunyi ketakutan oleh pembasmian ini” sahut jendral dari amerika.
Kepala Khaga serasa mau pecah mendengarnya.
“Lapor, di amerika selatan, semua sarang kita telah terbasmi. Aku kehilangan kontak dengan mereka” lapor jendral dari amerika selatan
“Apa? Kurang ajar kamu Araga!” teriak Khaga sambil melempar gelas minumannya ke lantai.
“Lapor, di Rusia hanya tersisa satu sarang yang kini masih melakukan pertempuran dengan mereka” sahut jendral dari Rusia gugup ketakutan.
Mata Khaga menjadi merah, wajahnya menggelap dengan emosi yang sangat tinggi mendengar setiap laporan dari para jendralnya masing-masing.
“Ternyata aku meremehkanmu Araga” kata Khaga mengeringai
__ADS_1
“Aku tidak menyangka, dalam seminggu ini kamu mendahuluiku melakukan serangan” lanjutnya.
“Sekarang masih berapa sisa sarang kita?” tanya Khaga pada Drake.
“Melihat dari laporan masing-masing wilayah, sarang kita hanya tinggal 5 di luar China. Sedangkan di China kita masih ada 8 sarang.” sahut Drake yang juga geram melihat data laporan tersebut.
“Tuan, besok malam purnama” lanjut Drake.
“Iya. Sesuai jadwal, kita akan melakukan serangan besok malam” sahut Khaga.
Tiba-tiba, seseorang datang memberikan laporan pada Drake.
“Lapor, beberapa orang telah melakukan serangan di salah satu sarang kita di kota Tianjin sebelah timur kota Beijing” orang itu dengan gugup melaporkan
“Apa? Apa mereka juga telah berada di China?” Drake terkejut mendengarnya
“Tidak tuan, beberapa orang yang menyerang ini adalah orang lokal. Mereka berjumlah 16 orang menyerang sarang kita di Tianjin” lanjut orang itu
“Orang lokal? Maksudmu orang dari daratan China ini?” Khaga tiba-tiba bertanya.
“Benar tuan, demikian laporan dari pertempuran di Tianjin” sahutnya.
“Drake, kirim dua orang jendral pergi ke Tianjin. Selidiki siapa mereka” perintah Khaga.
“Baik tuan” sahut Drake yang segera mengirim dua orang jendral vampire ke kota Tianjin untuk menyelidiki penyerangan tersebut.
\======
Kota Tianjin, Xiao Min bersama teman-temannya telah berhasil membasmi sebuah sarang vampire di salah satu tempat di kota tersebut.
“Xiao Min, apakah sekarang kamu percaya ada mahluk abadi seperti ini?” tanya kakak seperguruannya Shi Jiang.
“Tapi mereka tidak abadi, mereka masih bisa di bunuh dengan menusuk jantung mereka menggunakan benda tajam lainnya” sahut Xiao Min.
“Ah, benar juga. Jika mahluk abadi tidak akan bisa di bunuh kecuali dengan benda pusaka dari perguruan” kata Shi Jiang kembali sambil tersenyum
“Benar kak, tetapi harus dengan senjata perguruan yang sempurna” kata Xiao Min.
“Iya, pisau milik perguruan yang dihiasi dengan lima batu permata. Barulah sempurna kan” sahut Shi Jiang
__ADS_1
Xiao Min tersenyum, baginya itu hanya sebuah cerita yang menurut dirinya hanya mitos. Selama ini dia tidak pernah percaya ada mahluk abadi diantara manusia.
Tiba-tiba Wen Cun datang berlari melaporkan pada Shi Jiang.
“Ada apa kamu berlari seperti itu Wen?” tanya Shi Jiang pada Wen Cun
“Kakak, aku menerima telepon dari kakak Jingwen. Mereka menemukan lagi satu sarang di kota Cheng Du” sahut Wen Cun
“Apa? Mereka masih ada lagi?” tanya Xiao Min tidak percaya.
“Baik, mari kita segera menyusul mereka ke sana” kata Shi Jiang.
Tepat ketika mereka hendak pergi, dua orang jendral vampire segera tiba di tempat itu dan menghadang Shi Jiang bersama teman-temannya.
Salah satu jendral itu langsung mencengkeram salah satu anak buah mereka dan menghisap darah dari leher mereka.
“Gila, kekuatan dan kecepatannya berbeda dengan yang kita bunuh di kota Tianjin ini” gumam Shi Jiang.
“Xiao Min, kamu pergilah bertemu dengan Jingwen di kota Cheng Du. Aku dan Wen Cun akan menghadang dua orang vampire ini” bisik Shi Jiang
“Tapi kakak..” belum sempat Xiao Min menyelesaikan kata-katanya
“Jangan membantah. Kekuatan dua orang ini melebihi vampire yang kita bunuh sebelumnya. Pergilah! Kamu sangat penting dalam misi ini” perintah Shi Jiang.
Dengan berat hati Xiao Min meninggalkan Shi Jiang dan Wen Cun yang bertarung dengan kedua jendral vampire tersebut.
Selama perjalanan menuju kota Cheng Du, Xiao Min terlihat sedih. Demi menyelamatkan dirinya, Shi Jiang dan Wen Cun menghadang dua jendral vampire yang sangat kuat itu.
“Kakak, kalian jangan mati ya” gumam Xiao Min dalam hatinya mengingat Shi Jiang dan Wen Cun
Akhirnya Xiao Min tiba di kota Cheng Du dan segera bergabung dengan Jing Wen bersama pasukannya.
“Xiao Min, dimana Shi Jiang dan Wen Cun?” tanya Jing Wen melihat Xiao Min datang sendirian.
“Mereka menyuruhku pergi kemari saat mereka melawan dua jendral vampire yang lebih kuat” sahut Xiao Min sedih menundukkan kepalanya.
“Apa? Dua jendral vampire datang ke sana?” teriak Jing Wen sambil menggertakkan giginya.
“Satu jendral saja sudah sulit menghadapi, apalagi dua?” gumamnya merasa kesal dan marah.
__ADS_1
“Kalian, pergi cari informasi mengenai Shi Jiang dan Wen Cun” perintah Jingwen pada dua orang bawahannya.
“Baik kakak” sahut dua orang itu yang segera pergi ke kota Tianjin.