ARAGA YANG ABADI

ARAGA YANG ABADI
BAB 17 | Aku bibinya John


__ADS_3

Disebuah restoran kecil yang tak jauh dari gedung konferensi halic, di meja pojokan restoran John berada di hadapan dua wanita yang sedang memperhatikan dirinya seperti sedang menyelenggarakan persidangan.


Tidak terasa John mulai mengeluarkan keringat dingin di sekujur tubuhnya, aura kedua wanita yang menatapnya ini melebihi aura Khaga yang pernah dia hadapi berkali-kali. Inikah yang namanya kekuatan cinta? pikirnya John yang tidak pernah merasakan hal seperti ini.


John merasa dia butuh bantuan, lalu dia mengirimkan pesan telepon kepada Selena untuk memberinya saran mengatasi situasi darurat ini. Namun saat membaca balasan pesan dari Selena, hatinya terasa mau runtuh “Hadapi saja sendiri, toh tuan tidak akan mati oleh mereka”


“Dasar anak itu, awas nanti di rumah” pikir John geram.


“Apa hubunganmu dengan wanita itu?” tanya Cindy memulai pembicaraan mereka.


“Siapa wanita itu?” sahut Sara menimpalinya


“Aku pertama kali bertemu dengannya saat makan malam bersama keluargamu Cindy, namanya Violet kan. Kamu juga tahu itu. Aku tidak pernah bertemu dengannya sebelum itu” sahut John dengan jujur.


“Ah” Cindy mendesah


“Baiklah, aku akan menyelidikinya sendiri. Aku sudah mendaftar untuk bergabung dengan tim ekspedisi mereka” lanjut Cindy sambil meminum gelas airnya.


“Apa? Kamu bergabung dengan tim ekspedisi mereka?” tanya John.


Sara pun hendak menanyakan hal yang sama.


“Kenapa? Apakah tidak boleh aku ikut? Ada apa memangnya?” tanya Cindy menyelidiki John sambil menatap matanya.


John tidak tahu harus berkata apa, dia hanya tidak ingin Cindy terlibat dalam perseteruan pribadi dengan saudaranya Khaga. John berusaha untuk mencari alasan yang tepat, namun tidak menemukannya.


“Aku mendengar bahwa ekspedisi ini cukup berbahaya. Sebagai teman, aku tidak ingin kamu terluka” sahut John kemudian.


“Kenapa kamu perhatian kepadaku?” tanya Cindy dingin selanjutnya yang juga membuat Sara memandang John dengan pandangan ketus.


“Ekspedisi ini bertujuan mulia, akupun ingin segera lulus kuliah untuk ikut dalam ekspedisi ini bersama kak Cindy” sahut Sara menimpalinya.


Kepala John tambah pusing mendengar kata-kata Sara, memikirkan kenapa begitu mudah para wanita ini terbius oleh kata-kata mulia dari ekspedisi ini. Namun dirinya ingat akan sesuatu, bahwa dirinya tidak ingin ikut campur urusan manusia lainnya.

__ADS_1


Kemudian John akhirnya menghela nafasnya, “Baiklah, kita semua sudah dewasa. Kita bisa memutuskan sendiri jalan apa yang kita pilih.” sahut John kemudian.


“Sara, tentu saja kamu harus secepatnya menyelesaikan tugas akhirmu kan. Agar bisa menyusul Cindy mengikuti ekspedisi itu” lanjut John dengan tenang sambil meminum teh yang dia pesan.


Cindy dan Sara merasa aneh dengan perubahan sikap dan kata-kata John yang tadinya bersikeras melarang, namun sekarang mengijinkannya.


Di saat mereka sedang bersitegang kembali, tiba-tiba terdengar sebuah suara wanita mendekati mereka.


“Wah, ternyata kamu ada disini John” kata wanita tersebut yang berpakaian seksi nan anggun mendekati mereka.


John merasa mengetahui pemilik suara ini, lalu perlahan dia menoleh dan melihat Selena menghampirinya lalu duduk di sebelah John. John pun gugup dengan sikap Selena yang tiba-tiba seperti itu.


Giliran mata Sara dan Cindy kali ini berkedut melihat kedatangan wanita setengah baya itu yang langsung duduk disebelah John.


“Perkenalkan aku Selena, bibi nya John yang tinggal di kota ini.” kata Selena


“John adalah keponakan tersayang keluarga kami” lanjutnya sambil mendekatkan tubuhnya dan mengusap dagu John yang membuat John merinding. Sedangkan Sara dan Cindy mukanya memerah melihat hal itu.


“Dasar anak nakal” pikir John dalam hatinya.


“Iya. Aku bibinya John” kali ini sikap Selena menjadi lebih sopan.


“Kenapa kalian makan disini? Mari mampir ke rumah kami” sahutnya.


“Kita akan makan enak di rumah, karena John baru sekali ini datang lagi kemari setelah sekian lama apalagi ada teman-temannya ikut berkunjung” lanjut Selena dengan sopan yang membuat suasana kembali menjadi santai.


“Ayo, kita berangkat” sahut John yang ingin segera keluar dari situasi ini.


Kemudian mereka pun bangkit dan berangkat bersama menuju mobil Selena yang parkir di dekat sana. Dalam perjalanan ke mobilnya, Selena berbisik kepada John “Kamu berhutang padaku untuk yang satu ini tuan” yang membuat John menggigil dengan rapi mendengarnya.


Kemudian mobil pun melaju menghilang di keramaian kota Istanbul.


Tanpa mereka sadari, Violet muncul bersama dua orang bawahannya yang sejak awal sudah mengamati mereka disana.

__ADS_1


“Apakah kita akan melapor kepada tuan, nona?” tanya salah seorang bawahannya.


“Belum perlu saat ini. Kita butuh lebih banyak informasi tentang wanita bernama Selena itu” sahut Violet kemudian sambil berbalik pergi.


Setibanya mobil Selena di rumahnya, mereka berempat turun lalu mengikuti Selena menuju ruang keluarga. Sepanjang perjalanan dari luar rumah mata Cindy dan Sara melihat sekeliling rumah itu. Dengan intuisi seorang arkeolog, mereka bisa menebak bahwa kondisi rumah itu sudah sangat tua seperti peninggalan sejarah.


Setelah mereka berempat duduk, para pelayan rumah pun datang menyiapkan makanan dan minuman untuk para tamu.


“Bibi, rumah ini kelihatan sangat tua, apakah ini milik keluarga bibi?” tanya Sara sambil terus melihat sekelilingnya


“Benar, rumah ini peninggalan keluargaku. Aku memiliki ayah yang keras kepala, jadi dia tidak pernah mau menjual rumah ini walaupun sudah sangat tua” sahut Selena yang membuat mata John berkedut karena sindiran pedasnya.


“Ohya, bagaimana kalian mengenal John? Dia tidak pernah cerita kepadaku tentang teman-temannya” tanya Selena.


“Oh Tuhan, jangan lagi” pikir John yang ingin menghindari pembicaraan tentang hal itu. Jadi sebelum mereka menjawab, John lalu memotongnya “Kalian tinggal dimana di kota ini?”


“Jika berkenan kalian bisa tinggal disini selama berada di kota ini. Rumah bibiku ini cukup luas kok” sahut John membalas perlakuan Selena.


Kali ini Selena yang matanya berkedut, tentunya dia tidak bisa menolak permintaan tuannya ini. Jadi dia hanya pasrah dan berharap mereka berdua tidak mau untuk tinggal di rumah ini.


Tentu saja John memiliki pemikiran lain yaitu agar lebih mudah baginya melindungi keselamatan mereka berdua dari orang-orang Khaga yang kemungkinan bisa mengincar mereka setiap saat. John merasa Khaga sudah mengetahui keberadaannya dan juga orang-orang yang berada didekatnya dengan menilai perilaku Violet di ruang perjamuan tadi.


“Baiklah dengan senang hati. Aku akan segera pindah kemari” sahut Sara dengan gembira karena bisa selalu dekat dengan John.


Cindy yang tadinya akan menolak untuk merepotkan tuan rumah, merasa bingung untuk menjawab. Satu sisi dia juga ingin pindah kemari untuk berada didekat John, tapi sisi lain dia merasa sedikit risih dengan Sara dan Selena.


“Kamu bagaimana Cindy, aku juga ingin kamu pindah kesini” lanjut John.


“Baiklah. Aku juga akan pindah kemari” sahut Cindy pasrah mendengar bujukan John.


“Ok, karena kalian teman-teman John. Tentu dengan senang hati kami menerima kalian untuk tinggal disini” sahut Selena dengan berat hati namun berusaha tersenyum


“Mari ikut aku untuk menuju kamar-kamar kalian, kemudian kita akan mengambil barang-barang kalian dari tempat tinggal kalian sekarang” lanjutnya sambil mengantarkan mereka melihat kamar tamu di rumah itu.

__ADS_1


John hanya tertawa geli dalam hati membaca pikiran dan hati Selena dan melihat mereka bertiga pergi. Kemudian John kembali pikirannya tertuju kepada Violet dan ekspedisinya.


__ADS_2