
Mobilpun melaju ke arah pusat kota Terrace.
Di dalam mobil Jiro memulai pembicaraan “Gary dalam kondisi kritis tuan” kata Jiro.
John terkejut. “Sudah berapa lama?” tanyanya pada Jiro
“Seminggu yang lalu masuk rumah sakit tuan” sahut Jiro kembali
“Saat aku mengunjunginya, dia memohon sesuatu agar bisa bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya” lanjut
Jiro sambil menundukkan kepalanya.
John menghela nafasnya, dia berusaha untuk memejamkan matanya mengingat berapa lama dia terakhir datang ke
kota ini.
Kira-kira dua belas tahun yang lalu. Iya. Setelah bertemu dengan Gary di reruntuhan kuil yang sedang bersama Sara kecil. John sempat bermaksud untuk datang berkunjung ke kedai Newman, namun keraguan di hati membatalkan niatnya untuk bertemu dengan Gary saat itu.
Ketika John bertemu dengan Jiro di kantor Eternal Coorporation, Gary sempat berkunjung pula kesana bertemu Jiro di ruang CEO namun John bersembunyi di ruangan khusus miliknya yang hanya bisa mendengar dari dalam, namun orang lain di ruangan CEO tidak bisa mendengarkan apa yang terjadi di ruang khusus tersebut.
Dari balik ruangan khusus, John melihat Gary duduk menceritakan pertemuannya dengan John yang wajahnya mirip dengan tuan Araga yang dikenalinya di reruntuhan kuil kepada Jiro. Saat itu Gary menduga, apakah John itu kerabat tuan Araga, entah anak atau cucunya. Namun Jiro tidak mau mengungkapkannya, karena permintaan John sendiri, bahwa semakin sedikit Gary mengetahui identitasnya, itu akan lebih baik untuk hidupnya. Jadi Jiro hanya menjawab dia belum menerima khabar apapun tentang keberadaan tuan Araga.
Saat itu John merasa bersalah, melihat kepergian Gary dengan wajah sedih. Seperti ada sesuatu yang mengganjal
di hatinya.
Setelah kepergian Gary, Jiro menanyakan kepada John “Tuan Araga, kapan anda akan menceritakan yang sebenarnya pada Gary?”
“Jiro, tidak semua manusia bisa memahami keberadaanku. Dan juga demi kebaikannya, sebaiknya dia tahu lebih sedikit tentang identitasku.” sahut John selanjutnya.
Namun sekarang disaat kritisnya, Gary berharap bisa bertemu dengan Araga untuk terakhir kalinya. John pun merasa iba. Selama ribuan tahun, John telah banyak kehilangan orang-orang yang berada di dekatnya. Kehilangan merupakan suatu hal yang menyakitkan bagi manusia. Keabadian ini membuatnya merasakan hal menyakitkan ini selama hidupnya.
“Baiklah” seru John membuyarkan kenangannya.
“Mari bertemu dengan Gary” lanjut John yang membuat Jiro bernafas lega. Jiro selama ini sesuai perintah John selalu membantu Gary dalam segala hal. Jadi dirinya sangat dekat dan sudah menganggap Gary sebagai kakaknya sendiri.
Lalu mobil mereka bergerak menuju Mills Memorial Hospital yang terletak di pusat kota Terrace.
Sesampainya di rumah sakit, Jiro langsung mengantarkan John menuju ruang perawatan Gary. Dalam perjalanan menuju ruangan Gary, John dan Jiro melihat rombongan Sara, Ayah dan Ibunya yang juga mengunjungi kakeknya. Namun mereka tidak melihat John dan Jiro yang berada di belakang mereka.
__ADS_1
“Berhenti sebentar” kata John.
“Biarkan mereka menemuinya lebih dahulu. Aku akan menunggu di kafetaria rumah sakit ini. Tapi kamu bisa lebih dulu kesana. Hubungi aku jika mereka sudah pulang” kata John sambil menuju kafetaria di rumah sakit itu.
Sudah satu jam John duduk di kafetaria itu meminum kopinya. Mata John melihat ke arah jendela kafe malam itu langit penuh bintang. Kemudian John menundukkan kepalanya lalu memejamkan matanya sejenak untuk beristirahat.
“John, apakah itu kamu?” terdengar suara seseorang di sebelahnya.
John lalu membuka matanya dan mengangkat wajahnya ke arah suara tersebut. Dia melihat Sara berdiri di sebelahnya. Lalu John pun turut berdiri, dia melihat mata Sara yang sembab karena air mata, namun wajah cantiknya yang lugu masih terlihat.
Sara yang dikenalnya penuh semangat, kini sedang bersedih di depannya, John tidak tahu harus mengatakan
apa.
Sebelum John sempat berkata, Sara sudah menubruknya dan memeluk John dengan erat. John merasakan kehangatan yang mengalir di dadanya. Sara menangis tersedu-sedu dalam pelukan John.
“Ada apa Sara?” tanya John berpura-pura tidak mengetahui situasinya.
Sara menghapus air matanya lalu berkata “Kakekku, dia dalam kondisi kritis tidak sadarkan diri. Kata dokter, kakek sudah tidak memiliki harapan hidup lagi. Selama ini kakek yang selalu menjaga dan merawatku, tapi aku tidak berada disampingnya saat dia sakit. Aku sedih, John.” sahut Sara kembali terlinang air mata.
John memahami perasaan Sara, lalu berkata “Setiap manusia punya waktunya masing-masing Sara. Apapun yang
Sara pun sesenggukan menangis dan memeluk John kembali. John tidak menolaknya, saat ini John tahu Sara
membutuhkan sebuah pelukan.
Biarkan waktu berhenti sejenak.
Kemudian mereka disadarkan dengan dering telepon di saku celana John. Sara pun melepaskan pelukannya.
“Maaf, aku harus mengangkat telepon ini” jawab John kemudian sambil menjauh dari Sara.
“Halo, tuan Araga. Ayah dan Ibu Sara sudah kembali. Namun aku tidak melihat dimana Sara” terdengar suara
Jiro diseberang telepon.
“Baiklah. Dia ada disini bersamaku” sahut John sambil menoleh ke arah Sara yang masih terpaku menundukkan
kepalanya kemudian dia menutup teleponnya.
__ADS_1
“Sara, antarkan aku menemui kakekmu” sahut John kemudian.
“Kamu mengenal kakekku?” tanya Sara.
“Iya, kakekmu adalah seorang dermawanku selama ini. Aku pun datang kesini karena mendengarnya sakit” jawab John yang sebagian benar.
Sara menatap John, menyeka air matanya kemudian menarik tangan John mengajaknya menuju ruang perawatan
kakeknya.
Di depan ruang perawatan, tampak Jiro berdiri menunggu John yang datang. Sara tidak mengenalinya bertanya “Anda siapa?”.
“Saya teman kakekmu dan John.” sahut Jiro
Kemudian Sara mengantarkan John masuk ke ruang tempat perawatan kakeknya. Tampak peralatan medis terhubung ke tubuh Gary. Detak jantungnya lemah, terlihat dari layar EKG. Wajah Gary ditutupi oleh selang bantu pernafasan. Kesadarannya tidak ada. Gary terlihat seperti sedang tertidur.
Sara duduk pada kursi disebelah kakeknya sambil memegang tangannya lalu menciumnya. Air matanya mengalir lagi seperti tiada habisnya.
“Kakek, Sara ada disini. Bangunlah kek” kata Sara berusaha untuk menyadarkan kakeknya.
John perlahan mendekati Sara, lalu memegang pundaknya. Sara merasakan kehangatan tangan John di pipinya saat dia menggelengkan kepalanya menyentuh punggung tangan John.
“Sara, makanan atau minuman apa yang paling disukai kakekmu?” tanya John pada Sara.
“Kakek paling suka minum anggur putih. Kenapa John?” tanya Sara penasaran.
“Jiro, antarlah Sara membeli anggur kesukaan kakeknya” lanjut John sambil mengedipkan matanya pada Jiro.
Jiro pun mengerti akan maksud John.
“Nona Sara, John ingin berdua bersama kakekmu. Mari kita belikan dia anggur putih agar nanti saat kakekmu terbangun bisa menikmatinya.
Sara tidak mengerti maksud John dan Jiro, namun saat Sara melihat John sedang memandang kakeknya dengan mata berkaca-kaca, Sara tidak berani bertanya lebih lanjut. Lalu dia pun keluar bersama Jiro, dan membiarkan John memiliki waktu berdua dengan kakeknya.
Saat di ruang perawatan hanya tinggal John dan Gary, kemudian John melangkah mendekatinya, meletakkan tangan kanan nya di atas dada Gary. John lalu memejamkan matanya, menyalurkan auranya ke dalam tubuh Gary. Aliran semangat memasuki tubuh Gary memberikannya rasa hangat yang mengalir ke seluruh tubuhnya, kemudian menuju ke kepala Gary dan menstimulasi otaknya untuk membangkitkan kesadaran Gary.
Tak berapa lama, John mengangkat tangannya dan Gary mulai membuka matanya. Pertama kali dia melihat bayangan yang samar-samar kemudian semakin jelas memperlihatkan wajah John di depannya.
“Tuan Araga”
__ADS_1