ARAGA YANG ABADI

ARAGA YANG ABADI
BAB 25 | Apakah kamu membuntutiku


__ADS_3

John hanya bisa melihat wanita itu membawa lelaki setengah baya itu pergi, kemudian dia kembali beralih pada Vladimir yang telah melarikan diri dari tempat kejadian. Setelah mencari informasi tentang Vladimir di bar, akhirnya John menemukan alamat rumah Vladimir.


Sesampainya di rumah itu John melihat Vladimir yang sudah siap-siap akan pergi, lalu John menyerang Vladimir tua dan membuatnya tak berdaya.


“Kamu tahu siapa yang bermaksud membunuhmu kan. Apakah dia Dakota?” tanya John dengan geram.


Vladimir pun menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan John.


“Apakah kamu tahu kamu telah menjadi kaki tangan orang yang melakukan penembakan di Turki?” tanya John kembali


“A..Aku tahu” jawab Vladimir kemudian.


“Ceritakan dengan jelas apa yang kamu ketahui” lanjut John.


Vladimirpun mengambil tempat untuk duduk kemudian menghela nafas sebelum memulai ceritanya.


“Dakota adalah teman seperjuanganku di kemiliteran, kami sudah lama bersahabat. Namanya Sergei. Setelah pensiun dari kemiliteran, dia bekerja pada sebuah organisasi rahasia yang tidak aku ketahui, yang bertugas merekrut orang-orang sebagai tentara bayaran. Aku diajaknya untuk membantu mencari data informasi dari tentara bayaran tersebut. Kemudian dia melakukan kontak sendiri dengan mereka.”


“Aku tidak pernah menanyakan pekerjaan apa yang dilakukan oleh para tentara itu hingga suatu waktu aku mendapat berita, salah satu tentara yang aku rekomendasikan telah membuat suatu tindakan terorisme.”


“Aku pun bertanya kepadanya, dan dia menjawab jika aku ingin hidup makmur, lakukan sesuai permintaannya dan jangan banyak bertanya, atau sebaliknya aku akan dibunuh oleh seseorang yang bahkan dia sendiri takut”


“Jadi, aku hanya bisa tetap meneruskan membantunya tanpa bertanya hingga kehadiranmu di bar itu” sahut Vladimir tua dengan jujur.


“Aku melaporkan kedatanganmu padanya, namun aku tidak menyangka diriku lah yang akan menjadi sasarannya untuk di bunuh” sahut Vladimir tua dengan sedih.


John tahu bahwa Vladimir tua mengatakan yang sebenarnya, namun saat ini Sergei berada di tangan wanita itu. Jadi dia tidak bisa melanjutkan untuk mendapat informasi lainnya.


Setelah itu John meninggalkan Vladimir tua, dia menelepon Jiro untuk mencari informasi tentang Sergei tersebut. Satu jam kemudian, John mendapatkan informasi lokasi tempat tinggal Sergei, dan segera menuju kesana.


Sebuah rumah di pinggiran kota Minsk, tidak tampak ada aktifitas di dalam rumah tersebut. John kemudian mencoba masuk ke dalam rumah itu untuk mencari informasi tentang Sergei ataupun organisasinya.


Saat dia melangkahkan kaki nya ke dalam rumah, dia tiba-tiba diserang oleh seseorang. John menghindari serangan tersebut, lalu  penyerang itu kembali menyerangnya. John kembali menghindari penyerang yang berpakaian hitam yang hanya memperlihatkan matanya, ketika John meneliti sosoknya, dia menduga penyerangnya adalah seorang wanita. Lalu John bergerak lebih cepat dan menepis wajah wanita itu hingga tutup wajahnya terlepas.

__ADS_1


Tampak sosok cantik yang telah dikenalinya yang menangkap Sergei tadi. John lalu melompat menjauhinya sambil mengangkat tangannya ke depan untuk menghentikan serangan wanita itu.


“Hentikan nona” teriak John.


Wanita itu pun menghentikan serangannya, lalu menatap tajam kepada John dan bertanya “Siapa kamu. Mengapa kamu mencari Dakota?”


“Namaku John. John Araga. Aku mencari Dakota karena aku ingin tahu siapa yang berada di belakangnya” jawab John pada wanita itu.


Wanita itu pun tidak melanjutkan pertanyaannya, kemudian berbalik hendak pergi.


“Nona, bolehkah aku tahu siapa namamu.” tanya John selanjutnya


“Jika kita ditakdirkan untuk ketemu lagi, aku akan memberitahumu” jawab wanita itu sambil berlalu.


John hanya bisa terpaku melihat kepergian wanita itu. Sungguh wanita yang sulit dihadapi, pikir John. Kemudian dia segera menggeledah rumah Sergei untuk menemukan petunjuk. Tapi Sergei benar-benar bersih, tidak meninggalkan petunjuk apapun di dalam rumahnya. John hanya bisa menghela nafas, semua kembali ke awal.


Kemudian John kembali ke hotelnya, lalu menyeduh kopi setibanya dia di kamarnya. Sungguh hari yang melelahkan, gumam John. Lalu dia duduk di sofa memikirkan keseluruhan kejadian hari ini berusaha menemukan petunjuk.


Semuanya buntu, John pun memejamkan matanya untuk beristirahat. Tak lama setelah menutup matanya, telepon John berdering “Halo” sahut John.


“Aku baik-baik saja Sara. Bagaimana dengan kalian disana?” tanya John kembali.


“Kami baik-baik saja disini.” sahut Sara


“Kamu tidak sedang bermain-main dengan wanita lain kan?” tanya Sara selanjutnya yang terdengar curiga.


Mata John berkedut mendengar pertanyaan Sara, dia menghela nafasnya.


“Aku sibuk akhir-akhir ini, jadi mana sempat untuk bermain-main” sahutnya


“Awas kalau kamu berani main-main dengan wanita lain” ancam Sara di seberang sambil menutup teleponnya yang membuat John menggigil.


Kepala John tiba-tiba jadi pusing memikirkannya, kemudian dia melanjutkan istirahatnya.

__ADS_1


Malam harinya, John kembali berkeliling kota Minsk untuk bersantai sekaligus berharap menemukan petunjuk lain. Kemudian dia memasuki sebuah bar lain yang padat oleh pengunjung.


Sesampainya di dalam bar, mata John melihat sekelilingnya. Tiba-tiba dia melihat sosok wanita tadi siang lagi yang sedang menari mendengarkan musik di dalam bar itu. John pun berjalan perlahan mendekatinya.


“Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bertemu” bisiknya ke telinga wanita itu yang terkejut lalu berusaha untuk membanting John karena refleknya.


Namun John bukan sembarang orang yang dengan mudah bisa dibanting. Mereka pun bergumul hingga wanita itu hampir terjatuh namun kemudian dipeluk oleh John untuk menahannya agar tidak jatuh.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi John yang tidak bisa dia hindari karena kedua tangannya tengah memeluk pinggang wanita itu. Wajah wanita itu merona merah, sedangkan wajah John juga merah namun bengkak yang membuat John sadar lalu reflek melepaskan pegangannya yang membuat wanita itu terjatuh ke lantai.


Wanita itu mendengus, lalu pergi meninggalkan bar tersebut dengan kesal di wajahnya. John pun mengejarnya lalu memanggilnya.


“Nona, berhentilah” teriak John yang kemudian menghentikan langkah wanita itu.


“Aku minta maaf atas kejadian tadi yang membuatmu terkejut” kata John dengan lembut.


Wanita itu pun menoleh dengan wajahnya yang ketus mendekati John. John pun reflek mundur sambil memegang pipinya yang bengkak melihat kedatangan wanita itu ke arahnya. Belum pernah dia melihat seorang wanita yang marah dengan wajah seganas itu.


“Baik. Aku akan memaafkanmu. Tapi kamu harus mentraktirku makan” sahutnya.


“Baiklah” jawab John dengan lega.


Mereka pun mencari tempat makan terdekat, kemudian mulai memesan makanan. John yang duduk di depan wanita itu, merasa risih karena wanita itu sejak tadi terus menatapnya dengan tajam.


“Apakah ada yang salah nona?” tanya John kepadanya.


“Tidak. Aku hanya heran, kenapa dalam sehari ini nasibku sial tiga kali bertemu denganmu” sahut wanita itu.


Mata John berkedut, dia tidak menyangka dirinya membawa sial bagi orang lain.


“Apakah kamu membuntutiku?” tanyanya kembali

__ADS_1


“Ah tidak nona, aku tidak pernah bermaksud membuntutimu. Ini hanya kebetulan” sahut John sambil menyeringai.


Udara sekitarnya terasa membeku, John tidak tahu apa yang harus dikatakan untuk mencairkan suasana ini.


__ADS_2